Ini cerita antara Nick, Moza, dan sebuah kesepakatan.
Kesepakatan yang lahir di antara mereka mengikat satu sama lain. Moza dengan sakitnya jika menjauhi Nick secara sengaja dan tidak mau membantunya, juga dengan Nick yang memberi syarat pada Moza isinya:
Saat kau sedang membantuku, kau tidak boleh jatuh cinta.
Siapa sangka, kesepakatan tersebut membuat hidup Moza--
Nyok, kita baca saja cerita ini biar tahu hidup Moza berakhir menangis di atas kebahagiaan atau tertawa pilu di atas kesedihan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih perang!
DUAR!!!
GEDEBUM!!!
Angjay, calon ayah mertua ternyata punya meriam. Mantap!
Baru beberapa detik Moza berbangga, meriam yang seharusnya meledakkan pasukan Gunzo malah meledak di tempat akibat Gunzo meluncurkan pedang yang bercampur mantra kemulut meriam tersebut. Ini rencana Gunzo jauh-jauh hari sebab aki-aki itu sudah tahu pertahanan apa yang di miliki Alga. Rahasia keamanan Alga sudah bocor ke telinganya.
Senjata makan tuan membuat Nick, Hugo, dan Moza memekik tidak percaya. Sebagian kecil pasukan Alga di sekeliling meriam gugur dalam tugas. Nick mengambil komando untuk tidak menggunakan meriam tersebut dan mengarahkan moncongnya ke bawah agar tidak disabotase kembali oleh Gunzo. Sedangkan Hugo terlihat mengerahkan zhyier, menyerbu dengan senjata tak terlihatnya.
Cring.. cring.. cring.. sreek..
Tung.. tung.. bletak..
Wush...
Jrassshh!
Terpantau Zhyer mengungguli pertarungan dengan tiga puluh persen tumbangnya pasukan Gunzo. Aki-aki mengigit bibirnya, memikirkan cara bagaimana lagi siasat menumbangkan Zhyier.
"Div, kau seranglah Moza agar Hugo sibuk melindunginya. Aku tidak mungkin mebereskan gadis itu karena dia adalah kehancuran ku!"
"Baik tuan."
Yang di panggil Div meluncur ke arah Moza yang sedang lihai menumpas dengan pedang. Perlahan-lahan mendekat, tiba-tiba Moza terlihat begitu cantik di mata Div bagai seorang dewi. Pria itu menggeleng, segera mengambil kesadaran untuk menculik Moza sebagai tawanan.
Jleeb
"Aaaaa...tidak!"
Suasana perang seperti berhenti berputar. Mendengar teriakan Moza, Hugo tidak berpikir panjang terbang ke arah gadis tersebut dengan cemas. Kesempatan emas bagi Gunzo, di balik kepergian pemuda itu Gunzo menyeringai dengan bola mantra di tangan siap meluncurkan menghabisi Hugo. Namun semua tidak terjadi, sebab Nick datang menghadang dengan pedangnya.
Tring..
"Menantu tidak punya sopan santun! beraninya menyerang ayah mertua dari belakang!" teriak Gunzo, memuakkan Nick sampai lelaki itu tidak mampu merangkai kata.
Nick langsung menyerang bertubi-tubi.
Sementara itu,
Hugo memeriksa keadaan Moza ternyata ia baik-baik saja. Yang tidak baik-baik saja adalah Rexton terkena tusukan pedang di bahu.
Sambil bertanya, Hugo juga tidak lepas mengibas-ibaskan pedang berperang.
"Moza, kamu baik-baik saja kan sayang?"
Sring.. sring..
Hugo merapatkan jarak, habis menebas musuh lalu dia memeriksa keadaan gadisnya, terus perang lagi, lalu memeriksa Moza kembali. Dia periksa dari ujung kepala sampai ujung kaki. Begitu terus sampai lelaki itu puas memeriksa keadaan gadis tersebut.
"Aku tidak apa-apa. Yang terluka adalah pangeran Rexton, dia tertusuk pedang!"
"Rexton? aku pikir kau yang terluka. Sebab aku mendengar suaramu yang berteriak kesakitan."
"Iya kah? aku berteriak bagaimana?"
Sring.. sring.. perang lagi, terus lanjut ngobrol lagi.
"Kau berteriak, aaaaaa tidak!" Hugo mempraktekkan.
"Aku hanya berteriak 'aaaaaa' sedangkan kata 'tidak' Jorrel yang telah mengatakannya."
"Iya, aku juga ikut berteriak." Jorrel mengakui. Alih-alih menggubris Jorrel, Hugo balik bertanya pada Moza di luar nalar.
"Kamu se-khawatir itu sama Rexton?"
Mampuus! kalau aku jujur teriak kaget karena Rexton apakah dia terbakar api cemburu lagi? aku harus bagaimana?
Sring.. sring..
"Maaf ketua, di situasi genting seperti ini biasanya angin ikutan bicara. Mungkin yang anda dengar seperti teriakan cemas itu bukan milik Moza, tapi angin yang teriak. HAH MOZA? Ngomong-ngomong Moza itu siapa? apa putri Aurora nama lengkapnya Aurora Mozaria?"
"Ah iya itu, benar apa yang dikatakan Jorrel. Aku teriak aaaaa karena semangat bertarung." Moza menambahkan. Padahal gadis itu mati-matian menelaah perkataan Jorrel yang tak masuk akal. Soal nama kepanjangan Moza, tidak terjawab sama sekali oleh gadis tersebut maupun Hugo.
"Aku baru tahu udara bisa bicara!" desis Hugo.
Sreek..
Fokus Jorrel pecah dia pun mendapat luka sobekan.
"Aaaaa.. tidak!!! aku berdarah hiks hiks hiks." Jorrel histeris. Rexton cedera tidak ada pawang menghadapi Jorrel. Untuk itu Hugo membawa keduanya keluar dari pertarungan.
...*****...
Hari sudah mulai gelap tapi perang belum kunjung usai. Siasat Gunzo mampu merobohkan stigma Nick akan menang lebih cepat mengingat pasukannya membludak, juga para pendukungnya yang tidak kaleng-kaleng.
Kenyataan kadang berbeda dari prediksi. Sampai saat ini hasil peperangan belum berakhir meskipun Nick sudah menghabisi tujuh puluh persen jumlah pasukan Gunzo. Tetap saja ketuanya belum mati maka belum di anggap selesai.
Nick sudah berdarah-darah bersama Oris dan juga guru Hong menghadapi Gunzo dan para antek-anteknya. Hugo tidak ikut bertarung melawan Gunzo karena dia tidak bisa melepas Moza, maka ia bersama gadis itu melawan Div dan panglima terbaik milik Gunzo di atas kuda.
Hugo tahu, pandangan Div pada Moza tidak bisa diremehkan. Div tumbang setelah menerima satu gerakan Hugo membunuh tanpa menyentuh. Tapi sebelum Div gugur, lelaki itu sempat membocorkan rahasia pada Gunzo.
"Tuan, Moza akan kembali ke bangsanya jika tangan kanannya berjabat dengan tangan kaisar Alexander. Masing-masing tangan mereka memiliki tanda lingkaran merah."
"Baiklah, lakukan apa yang harus kau lakukan. Dan beritahu informasi ini kepada yang lain."
"Baik tuan."
Div gugur pun informasi itu sudah terlanjur tersebar pada orang-orang Gunzo. Situasi terpantau pelik. Moza terdesak, Hugo memakai seluruh kekuatannya untuk membunuh tanpa menyentuh-- yang artinya dia memforsir tenaga dalam, Nick kelelahan, guru Hong dan Oris terluka. Sedangkan Gunzo... sudah tinggal sendirian. Sulit untuk menumbangkannya karena lawan imbangnya adalah Moza.
Tetapi,
"Hugo, aku lemas." Lirih Moza pada sang kekasih. Padahal gadis itu dengan Nick belum berjabat tangan.
Zaman modern.
Tim dokter berbondong-bondong masuk ke ruang tempat Moza terbaring. Pasien atas nama Moza menunjukkan tanda-tanda kondisi membaik.
"Kondisi pasien mulai stabil. Ia sudah melewati masa kritisnya."
Paman dan bibi Moza tak kuasa mengucap syukur atas apa yang terjadi setelah satu bulan lamanya Moza tak sadarkan diri.
.
.
.
Bersambung.
moza dan aurora mendapatka jodohnya..
aahh aku padamu thorr🫰