Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Efek Ubi Cinderella
"Terima kasih banyak, Cu. Berkat kebaikanmu, akhirnya Nenek bisa makan kenyang hari ini. Kamu memang gadis yang baik dan tulus," ucap Nenek Tari dengan suara parau yang gemetar.
Matanya yang mulai kabur menatap lekat ke arah gadis bermasker di hadapannya.
Linzy Alexius, yang kini duduk di seberang meja makan marmer panjang di dalam paviliun mewahnya yang baru, hanya mendengus pelan dari balik masker hitamnya. Ia memperbaiki posisi kacamata hitam besarnya yang sedikit melorot, seolah takut cahaya dari lampu kristal mahal di ruangan itu akan menembus pertahanan penyamarannya.
"Tidak perlu berterima kasih secara berlebihan, Nek. Dan saya tidak sebaik yang Nenek kira. Saya hanya sayang pada makanannya karena porsinya terlalu banyak dan tidak akan habis saya makan sendiri. Daripada dibuang jadi sampah, mendingan saya kasih saja ke Nenek," sahut Linzy dengan nada bicara yang sengaja dibuat angkuh, dingin, dan berjarak.
Semenjak tragedi kebakaran maut satu tahun lalu, Linzy bukan lagi gadis remaja ceria yang dulu hobi bercanda dengan kakaknya. Luka bakar parah yang meninggalkan bekas cacat permanen di separuh wajah dan tubuhnya telah merampas seluruh rasa percaya dirinya, mengubahnya menjadi sosok pengidap agorafobia yang sangat tertutup.
Ia selalu mengurung diri, mengasingkan diri dari dunia luar yang menurutnya terlalu kejam untuk dihadapi dengan rupa wajahnya yang sekarang. Masker kain tebal dan kacamata hitam telah bertransformasi menjadi "kulit kedua" yang tak pernah ia lepas sepeser pun, bahkan di dalam rumahnya sendiri.
"Kalau begitu, sebagai gantinya Nenek ingin memberikan hadiah berharga untuk kamu. Tolong diterima ya, Cu? Jangan ditolak," ucap Nenek Tari, merogoh buntalan kain kumalnya dan menyerahkan sebuah kantong kain hitam kecil yang tampak kusam berlumur tanah kering.
"Apa ini? Kelihatan kotor begitu. Sebaiknya Nenek bawa saja kembali. Saya tidak butuh hadiah-hadiah murah seperti itu," ujar Linzy ketus.
Ia mendorong kantong kain kusam itu menjauh menggunakan ujung jarinya yang lentik, seolah barang itu mengandung virus beracun.
Nenek Tari tersenyum misterius, kerutan di wajah tuanya semakin dalam. "Coba kamu buka dan lihat sendiri isinya, maka kamu akan tahu. Benda ini bisa mengubah seluruh jalan kehidupan kamu yang menyedihkan sekarang. Bukankah... kamu sangat ingin kembali cantik dan normal seperti dulu lagi, Linzy?" tanya sang nenek dengan suara rendah yang tiba-tiba terdengar berwibawa, sukses mengirimkan gelombang kejut ke punggung Linzy.
Linzy tersentak hebat di kursinya. Jantungnya berdegup kencang di balik hoodie longgar raksasanya. Bagaimana... bagaimana nenek pengemis ini bisa tahu nama dan keadaanku yang sebenarnya?! batinnya berkecamuk panik.
"Apa maksud Nenek?! Bagaimana Nenek bisa tahu detail tentang keadaan pribadi saya?!" cecar Linzy, suaranya naik satu oktav.
"Pertanyaan itu tidak penting untuk dijawab, Cu, karena Nenek tahu segala hal tentangmu. Sekarang, bawa dan terimalah hadiah ini! Keajaiban kosmik tidak akan datang untuk kedua kalinya. Ingat itu! Gunakan ini dengan bijak, jangan sampai kau menggunakannya untuk hal buruk. Benda ini bisa membuat siapa saja berubah wujud menjadi secantik dewi khayangan," bisik Nenek Tari penuh misteri, auranya mendadak terasa magis.
Rasa penasaran yang membakar akhirnya mengalahkan ego tinggi sang nona muda. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Linzy menarik kantong hitam itu mendekat, lalu membuka ikatan kainnya. Sepasang matanya membelalak sempurna di balik lensa kacamata hitamnya.
"Apa maksudnya ini, Nek?! Ini... ini cuma sebutir ubi jalar?!" bentak Linzy, merasa harga dirinya sedang dipermainkan oleh pengemis tua. "Di supermarket premium bahkan di pasar tradisional pun banyak yang menjual ubi boled begini! Untuk apa Nenek memberikan saya ubi kotor?! Saya tidak butuh karbohidrat murahan! Kalau saya mau, saya bahkan bisa membeli seluruh kebun ubi beserta petaninya sekalian pakai uang saya! Jangan bicara omong kosong di depan saya!"
Nenek Tari tidak marah, ia hanya tersenyum tipis sarat arti. "Kamu belum mencobanya, jadi jangan sombong dulu, Cu. Dengar baik-baik aturan mainnya: ubi jalar misterius ini harus kamu rebus terlebih dahulu hingga matang sempurna. Setelah matang, kamu hanya boleh memakannya SEPARUH BAGIAN saja. Maka khasiat magisnya akan bekerja mengembalikan wujud aslimu. Namun ingat, kecantikan itu tidak akan bertahan lama. Sihir ubi ini bertipe Cinderella Effect, hanya bertahan sampai tengah malam saja. Tepat pukul dua belas malam, wujudmu akan kembali ke setelan pabrik."
Nenek Tari memajukan tubuh tuanya, menatap lurus ke arah kacamata hitam Linzy dengan sorot mata yang mengunci pergerakan. "Ingat satu larangan keras ini: jangan sampai kamu serakah dan menghabiskan seluruh ubi itu sekaligus! Hanya separuh saja. Sisa setengahnya akan otomatis berubah wujud lagi menjadi ubi mentah berlumur tanah tepat jam dua belas malam, dan kamu harus merebusnya kembali besok jika ingin cantik lagi. Jika kamu melanggar dan menghabiskannya dalam satu hari, kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan kecantikan itu kembali seumur hidupmu! Dan satu lagi... jangan pernah biarkan orang lain ikut memakannya, apalagi jika orang itu adalah seorang LELAKI! Sekarang, apakah otak pintarmu sudah mengerti?!"
"Terserah... aku masih menganggap ini dongeng fiksi ilmiah yang tidak masuk akal. Simpan saja omong kosong mistismu itu, Nek," sahut Linzy sambil membuang muka ketus, meskipun jemari tangannya justru menggenggam erat kantong kain berisi ubi misterius itu di bawah meja.
"Kalau begitu, boleh Nenek minta sebotol air mineral dingin, Cu? Untuk bekal di perjalanan pulang bila Nenek mendadak haus di jalan."
"Ckk!! Udah dikasih makan gratis, masih aja ngerepotin dan banyak permintaan!" gerutu Linzy sarkas. Ia bangkit dari kursi marmernya, langkah kakinya terdengar berdentum keras di atas lantai granit saat ia berjalan menuju kulkas dua pintu berukuran besar di sudut dapur untuk mengambil sebotol air mineral dingin.
Namun, hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh detik saat Linzy berbalik membawa botol air, kursi makan di seberangnya sudah kosong melompong. Sosok Nenek Tari telah menguap hilang tanpa jejak dari dalam paviliun yang terkunci rapat.
"Lho? Cepat banget hilangnya?! Padahal tadi pas aku papah masuk ke sini, jalan nenek itu pelan banget mirip siput buntung. Mana mungkin dia bisa lari secepat kilat dengan tubuh tua renta begitu tanpa memicu sensor alarm rumah?!" gumam Linzy bingung setengah mati. Ia menoleh ke kiri dan kanan dengan cemas, namun ia hanya menemukan piring kosong bekas makan dan kantong kain hitam berisi ubi "ajaib" yang masih tertinggal rapi di atas meja.
Didorong oleh rasa penasaran yang mendidih dan obsesi terpendamnya untuk sembuh, Linzy membawa kantong kain itu ke area pantry belakang dan memanggil kepala pelayannya.
"Bi Susi! Tolong rebus ubi jalar ini sekarang juga! Kalau sudah matang, langsung bawa ke dalam kamar saya di lantai dua! Dan ingat... jangan sampai ada pelayan lain yang menyentuh atau memakannya!" perintah Linzy tegas dengan nada otoritasnya yang dingin, sebelum kembali melangkah naik dan mengunci diri di kamarnya.
Bi Susi hanya mengangguk patuh dengan kening berkerut heran. Sebagai satu-satunya orang kepercayaan yang merawat Linzy, ia sudah terbiasa dengan segala macam tingkah dan permintaan aneh dari nona mudanya pasca-trauma kebakaran. Bi Susi juga bertindak sebagai perisai, menjaga ketat privasi Linzy dari gosip pelayan lain seperti Tata yang bermulut tajam dan suka nyinyir.
Dua puluh menit kemudian, Bi Susi mengetuk pintu kamar Linzy yang gelap, sunyi, dan beraroma terapi lavender penenang saraf.
Tok! Tok! Tok!
Cklek!
"Permisi, Nona Linzy. Ini ubi jalar pesanan Nona sudah matang direbus," ucap Bi Susi dengan sopan sambil meletakkan sepiring ubi rebus yang mengepulkan asap tipis di atas meja rias yang tertutup kain penutup.
"Taruh saja di meja, Bi. Terima kasih," sahut Linzy yang duduk meringkuk memeluk lutut di atas tempat tidur King Size-nya yang megah.
Begitu Bi Susi melangkah keluar dan menutup pintu rapat, Linzy segera beranjak turun mendekati piring tersebut. Indra penciumannya langsung menangkap keanehan; aroma ubi rebus ini sama sekali tidak bau tanah, melainkan memancarkan wangi manis bunga mawar premium yang sangat menenangkan pikiran.
Sesuai dengan instruksi ketat Nenek Tari, Linzy mengambil pisau kecil dan memotong ubi rebus itu menjadi dua bagian yang sangat presisi. Dengan rasa ragu dan skeptis yang membumbung, ia mulai menggigit separuh bagian ubi tersebut. Nyam.
Mata Linzy membelalak. Rasanya luar biasa enak, manis melebihi madu terbaik yang pernah ia cicipi. Namun, baru lima menit berselang setelah ubi itu meluncur sukses ke lambungnya, perut Linzy mendadak bergejolak hebat layaknya dihantam badai tornado. Ada tekanan gas yang sangat masif berputar-putar di dalam sana.
"Duh... kenapa perutku mendadak mules pelintir begini sih?! Sialan, jangan-jangan ubi ini beracun!"