Shen Dazhi, seorang pengembara yang berhasil mengumpulkan 10 pusaka legendaris yang diturunkan oleh Dewa. Bukan hanya itu, dirinya juga berhasil mengalahkan pemimpin sekte aliran hitam terbesar dan menjadi salah satu orang terkuat di dunia.
Namun rasanya semua itu tidak sepadan karena banyak sekali rekan-rekan serta orang tersayangnya yang mati dimasa lalu karena ulah sekte hitam tersebut.
Sampai akhirnya, dirinya diberikan kesempatan kedua oleh Dewa untuk kembali ke masa lalu dan menyelamatkan orang-orang berharganya.
Inilah cerita sang Pengembara dari masa depan yang kembali ke masa lalu untuk menulis ulang takdirnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dazhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Menangkap Pencuri
Dazhi mengepalkan tangannya, dirinya ingin sekali mengejar si pria dari aliran hitam yang telah mencuri itu. Namun kalau Dazhi menangkap pencuri tersebut, ia takut Xiao Qingxuan akan curiga padanya.
Dazhi melirik sebentar pada Xiao Qingxuan. Pria itu masih asyik membicarakan sesuatu dengan Ning Ruo. Seharusnya kalau Dazhi pergi diam-diam, dia tidak akan sadar bukan?
"Ah sudahlah... Paman tak mungkin sadar. Lagipula aku cuma sebentar."
Anak itu berlari tanpa menimbulkan suara agar Xiao Qingxuan tidak melihatnya. Setelah sudah cukup jauh dari kedai teh, Dazhi menggunakan teknik langkah ringan agar bisa berlari lebih cepat dan mengejar pencuri itu.
Untungnya si pencuri berlari tidak terlalu jauh dari sana. Dazhi masih punya kesempatan untuk mengejarnya.
"CK!! Siapa orang ini!!"
Pencuri tersebut menyadari kehadiran Dazhi yang mengejarnya dari belakang. Ia mempercepat langkahnya walau itu sia-sia karena Dazhi lebih cepat darinya.
Setelah jarak diantara dirinya dan sang Pencuri tinggal beberapa langkah lagi, Dazhi melompat dan menghantamkan tinjunya kepada punggung pencuri.
"Teknik tingkat 1, Penguatan Tubuh!!"
Bruk!!!
"Ugh!!" Si pencuri terjatuh ketanah. Dazhi segera memegangi salah satu tangan pencuri, tak membiarkan dia untuk kabur.
"Lepaskan aku!!"
Dia meronta-ronta agar Dazhi melepaskannya, namun tentu saja Dazhi tak akan membiarkannya lepas begitu saja. Sebenarnya ingin sekali dirinya membunuh pria dari aliran hitam itu ditempat, namun banyak orang disini.
"Ada apa ini?"
Suara serak seorang pemuda terdengar. Dazhi menoleh dan mendapati Tuan muda yang tadi liontin gioknya dicuri berdiri menatap kearahnya.
"Pria ini mencuri liontin giok, bukankah ini adalah milik anda?"
Dazhi mengambil liontin giok yang dicuri, dia lalu menyodorkannya pada si Tuan muda.
"Terimakasih... Eh?"
Tepat sebelum si Tuan muda mengambil liontin giok miliknya, tangan Dazhi ditarik kembali. Ia juga tersenyum kepada pemuda dihadapannya.
"Paman... Saya yakin kalau anda adalah tuan muda dari keluarga besar. Nah... Kalau tidak keberatan, bisakah anda memberikan sedikit saja koin untuk saya. Anggap saja ini balas Budi karena saya telah menangkap pencuri yang mencuri liontin giok anda."
Dazhi menjelaskan panjang lebar. Wajahnya dibuat seramah mungkin kepadanya. Ingat, misi Dazhi adalah mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar nanti bisa menyewa Kultivator untuk melindungi orang tuanya.
Tuan muda itu terkekeh pelan. Ia lalu merogoh sesuatu dari kantongnya, setelah itu dirinya menyodorkan 3 koin emas yang langsung dicomot oleh Dazhi.
"Wah~ terimakasih tuan! Semoga anda sehat selalu!!"
"Iya, kalau begitu kau boleh pergi. Aku yang akan mengurus pencuri ini."
Dazhi membungkuk sebelum akhirnya pergi dari sana. Anak itu tersenyum sembari memandangi Koin emas yang ia dapat. Ia lalu memasukkan koin emas itu kedalam kantong bersama koin perak hasil jarahan pendekar aliran hitam yang kemarin menyerang kereta kuda Xiao Qingxuan.
Sebelum benar-benar pergi, Dazhi menyempatkan diri untuk berbalik dan menatap Tuan Muda yang ia tolong tadi.
"Padahal Tuan muda itu dari ranah ke-5. Tapi bisa-bisanya dia tidak sadar kalau ada yang mencuri barangnya." Gumam Dazhi.
"Ah sudahlah... Setidaknya aku mendapat koin emas dari dia~"
Dazhi akhirnya berjalan pergi menuju kedai teh. Pasti Xiao Qingxuan sedang mencari keberadaannya sekarang.
***
"Ya ampun Zhizhi. Darimana saja kau?"
Perkiraan Dazhi benar, baru saja dirinya sampai didepan kedai teh, Xiao Qingxuan sudah menginterogasinya.
"Maaf paman... Tadi aku berkeliling sebentar. Lagipula paman terlalu sibuk berbicara dengan bibi Ning Ruo."
Xiao Qingxuan menghela nafas singkat, ia lalu berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan tinggi anak itu.
"Lain kali izin dahulu sebelum pergi."
"Baik."
Xiao Qingxuan kemudian mengajak Dazhi masuk ke kedai teh. Didalam, mereka berdua duduk pada salah satu bangku yang kosong. Ning Ruo yang sedari tadi sedang mempersiapkan teh untuk pelanggan lain langsung menghentikan kegiatannya untuk menghampiri mereka.
"Apakah ada teh khusus yang ingin kalian pesan?" Tanya Ning Ruo.
"Aku ingin yang seperti biasa." Balas Xiao Qingxuan.
"Baiklah. Kalau adik Zhizhi mau apa?"
"Aku ingin teh hijau saja bibi."
Ning Ruo mengangguk, ia lalu kembali ke dapur untuk menyiapkan tehnya.
Sembari menunggu Ning Ruo menyiapkan teh mereka, Dazhi memikirkan cara untuk menjadi lebih kaya. Ia tidak terlalu ingat mengenai kota Jinling karena dirinya sudah banyak menjelajahi kota-kota besar lainnya. Yang dirinya ingat hanyalah penyerangan siluman ular dimasa depan nanti, dan ini adalah informasi yang kurang berguna untuk sekarang.
Dazhi menggaruk kepalanya. Ya ampun, sepertinya untuk sementara ini akan sulit untuk mengumpulkan uang, mungkin Dazhi hanya bisa mengumpulkan uang dengan menjadi tukang bersih-bersih atau tukang angkat barang dari nyonya-nyonya pejabat diluar sana.
Anak itu menghela nafas, dirinya berharap agar sang Paman tidak terlalu lama di kota Jinling karena tidak ada apapun yang bisa Dazhi lakukan disini.
"Ini dia teh nya, maaf lama."
Setelah 15 menit menunggu, akhirnya Ning Ruo kembali dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh.
"Terimakasih Ruo'er."
"Terimakasih Bibi."
"Tidak masalah. Kalau kalian butuh sesuatu, panggil saja diriku. Aku akan melayani pelanggan lain dahulu."
Xiao Qingxuan dan Dazhi mulai menyeruput teh mereka masing-masing ketika Ning Ruo pergi. Aroma teh yang harum masuk kedalam lubang hidung Dazhi. Anak itu menutup matanya saat meminum teh.
Di kehidupannya dahulu, teh adalah minuman favorit Dazhi, terkhususnya teh hijau. Kepala Dazhi akan terasa sangat jernih ketika menyeruput tehnya.
"Hm... Sepertinya Bibi Ning Ruo memberikan lebih banyak gula pada teh milikku." Gumam Dazhi ketika merasakan kalau teh miliknya terasa lebih manis daripada teh hijau yang biasanya.
Dikala dirinya sedang menyeruput teh hijau miliknya, tiba-tiba sudut mata Dazhi menangkap sesuatu.
Ada seorang pemuda berambut putih panjang dan mengenakan baju serba putih yang sedang membayar tehnya kepada Ning Ruo. Tetapi yang membuat perhatian Dazhi teralihkan adalah benda yang dibawa Pemuda tersebut.
Pemuda itu membawa sebuah buku Dengan sampul bermotif akar tanaman merambat. Ditengah-tengah buku, terdapat batu permata berwarna merah yang sungguh indah.
Ciri-ciri buku itu mirip sekali dengan salah satu dari sepuluh pusaka legendaris yang diturunkan dewa. Pusaka yang bisa menjawab seluruh pertanyaan dari pemiliknya.
Kitab Mata Dewa, Ti.
Dazhi hendak bangkit untuk memastikan apakah itu benar-benar pusaka legendaris. Namun suara Xiao Qingxuan menghentikan aksinya.
"Kau mau kemana Zhizhi?"
"Ah... Aku mau mengembalikan cangkir ini kepada Bibi Ning Ruo karena isinya sudah habis."
"Baiklah... Sekalian cangkir milikku juga."
Dazhi mengambil cangkir miliknya dan milik sang Paman. Ketika dirinya berbalik, ternyata sosok Pemuda tadi sudah tidak ada. Dazhi memasang wajah murung.
"Ck... Padahal aku belum memastikan apakah itu benar-benar Kitab Ti atau bukan."