Kimora seorang gadis penyakitan yang jiwanya terjebak ditubuh seseorang setelah meninggal akibat penyakitnya. Tuhan memberinya kesempatan untuk hidup, tapi Tuhan juga memberinya ujian yang sangat berat.
Kimora harus terjebak dalam tubuh seorang gadis antagonis, ia sangat suka membuli dan itu sangat kebalikannya dari sifat asli Kimora. Tapi entah kenapa dari sifat Rivera yang buruk ini, Kimora merasa banyak sekali rahasia yang Rivera simpan sendirian.
"Jauhi Alastar atau gua bikin hidup lo gak tenang?."
"Lo cuma sampah, gak usah belagu jadi berlian."
"Hidup lo hidup gua."
"Jika takdir tidak membiarkan aku bahagia, kumohon biarkan takdir membuat ku tenang."
"Jika takdir ku dan takdirmu bukan diriku, akan aku pastikan lo dimiliki orang yang tepat."
"jangankan mencintai lo, mencintai diri sendiri aja susah."
"lo gak usah sok drama baik dihadapan aki aki itu bangsat."
"Gua minta maaf ra. Maafin gua."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang melelahkan
Matahari mulai terbenam, akhirnya ekskul dance nya telah selesai. Rivera memutuskan untuk segera pulang sebelum matahari benar benar tenggelam. Ia segera menghubungi pak Wawan untuk menjemputnya.
"Ra lo gak ada niatan ngafe sama kita dulu?" ajak Dina sambil memakai jaketnya.
"Ah engga terimakasih. Takutnya nanti kalau pulang malam malam papah marah" jawab Rivera.
"Yaudah kalau gitu kita duluan ya." pamit Dina sambil naik mobil dan diikui beberapa teman lainnya.
Semua orang sudah pulang kerumah masing masing, kini tinggal Rivera yang masih menunggu jemputan dihalte bus.
Menit demi menit telah berlalu akhirnya pak Wawan sampai tepat didepan Rivera menunggu. Tanpa sepatah kata lagi ia langsung saja masuk kedalam mobil.
Hari ini benar benar melelahkan, tubuhnya capek semuanya. Mungkin ini baru pertama kali bagi tubuh ini untuk melakukan gerakan berlebihan seperti menari. Jadinya tubuh Rivera capek capek semuanya.
Hembusan nafas berat terdengar dari mulut Rivera, pak Wawan pun bisa mendengar hembusan nafas lelah dari Rivera. Ia melihat Rivera dari spion.
"Non gak biasanya non pulang sore sore gini" ucap pak Wawan memecahkan keheningan.
"Ah iya nih pak, soalnya tadi aku ikut ekskul dulu" jawab Rivera sambil senyum tipis.
"Non Rivera ikut ekskul? Ekskul apa?" tanya pak Wawan menelisik, ia sedikit terkejut saat melihat Rivera dengan senang hati mengikuti kegiatan yang ada di sekolahnya.
"Ekskul dance" jawab Rivera sambil memejamkan mata, sungguh matanya sangat mengantuk. Mungkin ini efek terlalu capek hingga membuat tubuhnya merespon untuk tidur dan istirahat.
"Wahh keren dong non, pasti capek ya"
"Iya nih pak, tubuhku capek semuanya rasanya"
"Semangat ya non" ucap pak Wawan dengan tulus.
"Terimakasih banyak pak" kata Rivera sambil tersenyum lebar, ia baru pertama mendengar seseorang memberinya semangat.
......................
Tak disangka mobil yang ia tumpangi telah parkir tepat dihalaman mansion nya.
"Terimakasih pak Wawan" ucap Rivera dan langsung berlari, dalam pikirannya ia sudah mendamba dambakan betapa nikmatnya tidur di kasur yang sangat empuk.
Hari ini ia lebih memilih menaiki lift saja, benar kakinya sudah tak tahan lagi dibuat jalan jalan. Akhirnya pintu lift terbuka, ia melangkahkan kakinya masuk kedalam lift.
Tapi untuk sesaat ia mendengar suara berat seseorang hingga menghentikan langkah pertamanya.
"Dari mana aja kamu?" tanya pria tersebut
Rivera tergejolak kaget, ia langsung memutarkan badanya. Tepat didepan matanya ia melihat sang papah dengan ekspresi tak menyenangkan. 'Dia marah?'
"Saya tanya dari mana kamu! Jam segini baru pulang, mau jadi apa kamu?!" ucap Diandra dengan nada yang tinggi.
Rivera melihat Diandra begitu marah ia hanya mengedipkan matanya berkali kali, baru kali ini ia melihat sang papah begitu marah denganya. 'Ngeri cuy'
"Saya dengar dari satpam akhir akhir ini kamu sering pulang malam malam! Kemana aja kamu ha?!" tanya Diandra penuh penekanan, kali ini nadanya naik satu oktaf lagi.
"Maaf pah" Rivera menundukkan kepalanya tak berani menatap sang papah nya itu.
"Maaf maaf! Emangnya maaf bisa mengubah semuanya! Lihat Evelyn, dia pulang sekolah langsung belajar sampai malam malam. Kamu apa?! Pulang udah terlambat, tidak tahu malu lagi" gertak Diandra, rahangnya mengeras hingga otot ototnya terlihat ia bahkan mengepalkan kedua tangannya erat erat menahan amarah yang semakin meluap.
"Kau sungguh tak berguna jadi anak! Minimal bisa sepintar Evelyn baru main sesuka mu."
"Ternyata perubahan sifat mu hanya untuk pengalihan isu sebagai wanita malam! Kurang ajar banget kamu"
Rivera yang sedari tadi menunduk langsung menegakkan kepalanya seketika, bagaimana mungkin papahnya menyebut dirinya sebagai wanita malam. Bukti apa yang membuatnya sampai berspekulasi seperti itu.
"Pah! Rivera tidak seperti yang papah pikirkan" bela Rivera, ia tak terima disebut yak tidak tidak.
"Tidak usah ngeles kamu! Saya tahu semuanya"
'Kenapa sih dia, keluar kan sifat aslinya. Papah kandung bukan sih dia, banggain terus tuh Evelyn.'
"Maaf pah, tapi Rivera benar benar tidak berbuat seperti itu. Rivera pulang terlambat hari ini karena habis ikut ekskul"
"Banyak alasan" dengan gerakan cepat Andara melangkah maju dan menampar Rivera amat sangat keras.
Rivera begitu terkejut, pipinya sangat panas. Tamparan dari Andara benar benar tak main main.
Rasa sakit terus terasa, ia berusaha menahannya. Mata Rivera berkaca kaca hingga akhirnya tak lagi bisa terbendung dan mengalir membasahi pipi mulus Rivera.
"PAH! TERSERAH PAPAH SEBUT RIVERA APA, TERSERAH PAPAH NGATAIN RIVERA SEPERTI APA, TERSERAH PAPAH BANDINGIN RIVERA SEPERTI APA. TAPI TOLONG PAH, JANGAN MAIN TANGAN SEPERTI INI" emosi Rivera akhirnya meluap, ia sudah tak tahan lagi selalu disudutkan.
"Ngelawan kamu! Pergi ke kamar mu sekarang sebelum papah pukul kamu! BELAJAR! AWAS KALAU MALU MALUIN PAPAH! JADI ANAK GAK BERGUNA" bentar Andara sebelum melengos pergi meninggalkan Rivera sendirian.
'Dia menangis?' batin Andara sambil melirik sekilas kearah Rivera sebelum akhirnya benar benar jauh dari tempat Rivera berdiri.
Sedangkan didepan lift Rivera masih menangis sesenggukan, ia memegangi pipinya yang masih memerah dan terasa sakit. Ia tak menyangka papahnya akan melakukan seperti itu kepadanya.
Ini kali kedua Rivera ditampar dikehidupan ini, papah yang sempat ia anggap baik tapi malah begitu kejam terhadap dirinya. Kenapa semua orang selalu menutup matanya dan selalu menganggap Rivera sebagai sampah yang sangat busuk hingga mereka enggan untuk menerima keberadaan nya bahkan kebaikannya.
Akhirnya ia memilih untuk menaiki tangga, ia langsung lari menuju kamarnya. Sesampainya dikamar ia langsung membanting dirinya di kasur dan menangis sambil menutup kepalanya dengan bantal.
Tok tok tok Suara pintu terdengar diketok oleh seseorang, Rivera enggan sekali untuk bangkit dan membuka pintu tersebut.
"Nak, Rivera ini mamah" ucap Auretta dibalik pintu sambil mengetuk pintu.
Tak ada jawaban dari Rivera, Auretta merasa khawatir terhadap anaknya itu. Ia iseng memasukkan sandi password nya dengan tanggal lahir dirinya dan ternyata itu berhasil, akhirnya pintu terbuka.
Melihat Rivera yang masih menangis ditutupi bantal, Auretta langsung berjalan sambil mengelus lembut punggung Rivera.
"Sayang, kamu gapapa?"
"Masih sakit? Sini cerita sama mamah, mamah ga marah kok"
"Maafin papah ya, papah khawatir sama kamu walaupun caranya salah"
"Pipinya siniin biar mamah kompres, udah jangan nangis lagi nanti cantiknya luntur loh" Auretta berusaha keras untuk menenangkan Rivera yang masih setia menangis bahkan terisak-isak.
"Kamu ga capek nangis terus? Nanti matanya bengkak ga malu pas sekolah besok? Ayo bangun mamah bawain coklat nih" bujuk Auretta akhirnya dengan jurus bujukan terakhir dirinya Rivera sedikit tenang dan mau duduk menghadap Auretta.
"Coklat" pinta Rivera sambil menyodorkan tangannya walaupun dengan nada masih sedikit terisak.
Melihat putrinya dengan mudah terbujuk hanya menggunakan coklat Auretta terkekeh, ada ada saja tingkah Rivera.
"Senyum dulu baru coklat" ucapnya sambil mencubit pelan pipi Rivera.
Awalnya Rivera cemberut karena harus ada sesuatunya dulu sebelum menerima coklat kesukaannya tapi akhirnya ia tersebut dengan sangat lebar.
Auretta mengompres pipi Rivera yang masih meninggalkan jejak merahnya, sedangkan Rivera malah asik memakan coklat itu.
"Masih sakit?" tanya Auretta
"Tidak" jawab Rivera sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau begitu kamu istirahat aja, capek kan habis pulang sekolah? Biar bi Wati bawa makanan ke kamar kamu" ucap Auretta sambil mengelus rambut Rivera dan mencium pucuk kepalanya.
"Mamah turun dulu, buatin kamu makanan spesial buat anak mamah ini" kata Rivera sambil membuka pintu kamar.
"Makasih maaah"
Auretta tersenyum sambil mengangguk sebelum akhirnya menutup pintu dan pergi.
'Seenggaknya mamah baik banget sama aku'
nanti up 2 bab sekaligus ye thor
maaf tu hnya pendapatku sja, aku gemes klo peran utamanya kurng maximal, klo bisa rivera mndri aja kluar dr rmh & bls dendam dgn cara yg cantik gtu
anak pungut dipuji2,anak kandung berasa anak pungut...
kalau q digituin,tinggal pergi trus hapus nama marga keluarga.
anggap aja mereka mati
up lagi yaaaa
Aku tunggu lanjutannya