Veynana Anggraeni Wardana, siswi kelas XI SMA sejahtera. gadis manis manja, biang onar, dan hoby bolos sekaligus telat🤣🤣🤣
Justin Ervando Bramasta, siswa kelas XII SMA sejahtera. cowok tampan, tinggi, dan memiliki gen bule. Yang memiliki jiwa otoriter sebagai panglima perang namun memiliki otak yang cerdas yang tak pernah tergeser dari singgasana peringkat satu.
mereka di satukan dalam pernikahan sah secara agama. Namun di kenal oleh teman2nya sebagai kakak adik bersaudara jauh.🤣ribet banget yak!!
mari kita lihat bagaimana perjalanan cinta setengah sahh ini. cuzzz😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sweetyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 Melepas untuk Meraih
“Lo??” Nana Syok karena ternyata dia belum terlepas dari lelaki gila yang memaksanya menjadi gadisnya.
“Hai,, sayang apakah kau sudah baikan?” kata Rangga sambil meletakkan makanan di meja.
“Yaa tadi baik-baik saja, namun kembali memburuk setelah kedatanganmu.” Jawab Nana.
“Nana mau pulang.” Nana beranjak turun dari ranjangnya. “Au..” namun pening itu hampir membuatnya terjatuh, namun dengan sigap Rangga menangkapnya dan menggendong Nana agar kembali berbaring.
“Apa yang kau lakukan? Turunin gue. Lepas,,, turunin gue cowok aneh.” Nana meronta dan memukul-mukul Rangga semampu yang dia bisa.
HAHHAHAHAHHAH “Lo bener ga, dia unik. Sekarang gue percaya kalo dia bisa hancurin pertahanan pasukan lo.” Kata Roy sambil tertawa dan memakan makanan yang di bawa Rangga.
“Ya begitulah.” Jawab Singkat Rangga.
“Apa sebenarnya yang lo mau dari gue?” Nana mulai merendahkan suaranya, karena percuma dia mengeraskan suaranya.
Rangga menatap lurus pada Nana. Sebenarnya dia pun tak yakin dengan apa yang diinginkannya saat ini. Ya, gadis ini memang manis tapi itu tidak lebih dari cewek-cewek yang sering di kencaninya. Bahkan cewek yang lebih di atas segalanya dari Nana pun dengan mudah ia dapatkan.
Rangga tersenyum, namun takkan ada yang mampu mengartikan apa yang ada difikirannya.
"Gue nggak butuh apa-apa dari lo. Gue udah punya segalanya disini.” Jawab Rangga.
“Trus ngapain lo nyulik gue kesini?”
“Lo harusnya bilang makasih sama gue, gue udah nyelametin lo. Kalo pas tawuran gue biarin lo disana habis lo sama anak sekolah gue.” Jelas Rangga.
“Trus kenapa lo nyekap gue disini, kenapa nggak biarin gue pulang, trus lo bilang tadi apa? Kenapa lo bilang gue harus jadi cewek lo, apa lo udah gila?” Tanya Nana lagi.
“Ya mungkin sedikit gila, tapi gue sungguh-sungguh.” Rangga mendekatkan wajahnya pada Nana. “Lo mungkin akan pulang dari sini, tapi lo nggak akan bisa jauh dari gue, kenapa?? Karena lo sudah memaksa masuk dan dia yang sudah masuk dalam jarring gue nggak akan bisa keluar. Paham??” Jelas Rangga.
“Nggak, lo salah. Gue nggak selemah itu. Sampai lo ngusik hidup gue awas saja. Gue bisa bikin lo hilang dari muka bumi ini.” Jawab Nana tak kalah menantang.
“Oke baby, ini akan menyenangkan. Dan harus lo tau selama ini gue belum pernah kalah akan pertempuran besar sekalipun. Begitupun pertempuran kita, lo akan menyerah secara sukarela ke dalam pelukan gue.” Jawab Rangga.
WIIIIIIIIUUU WIIIUUUU WIIIUUUU
Suara sirine membut Roy dan rangga terkejut. Rangga mengeluarkan ponselnya. “Ada segerombolan curut masuk bang.”
Rangga mengeluarkan ponselnya yang lain karena ada panggilan masuk.”Bukan apa-apa dad, Rangga akan bersihkan bentar lagi. Daddy lanjutkan saja istirahat.” Rangga mematikan ponselnya dan menekan tombol panggilan. “Kalian siap-siap, tapi jangan keluar dulu sebelum ada intruksi dari gue.
Ada polisi di antara mereka.” Rangga sangat familiar dengan salah satu polisi, dia Adi yang hampir membawa mereka dalam kesulitan dengan hukum.
Mendengar kata polisi Nana beranjak berlari, namun dengan sigap Rangga menarik tangannya. “Lo mau kemana? Tenanglah, lo akan keluar dan pulang. Aku tak berencana menyekapmu selamanya disini. Tapi keluarlah denganku. Diluar berbahaya.”
Mereka keluar bersama, dan Nana kaget melihat orang yang sedang berkelahi dan adu senjata. Nana menangkap sosok-sosok yang tidak asing baginya. Dan salah satu dari mereka melihat Nana.
“VEY..” ya, dia adalah Ervan. Seketika semua hilang konsentrasi dan lawan melumpuhkan mereka. Ervan beranjak melangkah pada Nana.
DOORR
Rangga menembakkan peluru di lantai dekat sekali dengan langkah kaki Ervan. “Sabar dulu bro, lo pasti abangnya Nana kan. Berarti calon kakak ipar dong.” Semua orang disana terkejut.
“Apa maksud lo?” Tanya Ervan.
“Gue bawa Nana kesini Cuma buat ngindarin dia dari tawuran. Malah kalian buat keributan disini. Dasar nggak tau terimakasih.” Ejek Rangga.
“Lalu apa yang lo perbuat itu hingga dia terluka.” Teriak Ervan.
“Itu salah dia sendiri, udah di kasih tempat enak malah lari-larian ke hutan. Nyungsruk deh, dan kedua kalinya gue nyelametin dia. Pakek dokter pribadi pula.” Rangga tersenyum mengejek.
“Pinter banget lo ngarang, dasar cowok gila.” Nana melepaskan tangan Rangga dan pergi menjauh darinya dan mendekat pada teman-temannya.
“Sayang, apakah kau tak ingin mengenalkanku pada teman-temanmu dan kakak ipar?” Tanya Rangga pada Nana yang menjauh darinya.
Nana berbalik. “Nggak usah ngimpi lo.” Teriak Nana penuh penekanan.
HAHAHAHAHHA “Lo inget kata-kata gue kemaren. Nggak ada yang bisa mencegah keinginan gue. Tunggu aja apa yang bisa gue lakuin buat dapetin lo.” Kata-kata Rangga lebih terdengar seperti ancaman.
Ervan menghampiri Rangga dan mencengkeram kerah kemeja Rangga. “Jangan pernah ganggu Veynana lagi atau lo berhadapan sama gue.”
Rangga mengisyaratkan anak buahnya untuk menurunkan senjatanya.”Santai bos, gue nggak akan ngapa-ngapain adek lo. Gue Cuma mau bahagiain dia doang.”
“Ervan, cukup. Sebaiknya kita pulang.” Kata Adi.
Ervan melepaskan cengkeramannya. “Kalo sampai lo gangguin Vey lagi habis lo sama gue.”
“Santai bos, dedek ini anak baik-baik mana tega dedek liat Gadis semanis Nana sedih.” Jawab Rangga dengan senyum mengejeknya.
Ervan Cs bersama dengan Nana pergi meninggalkan istana Rangga. “Kali ini lo gue lepasin Veynana Anggraeni Wardana. Tapi tunggu kejutan-kejutan berikutnya.” Batin Rangga.
**
“BOOOSSSS amis yu comad.” Rangga memeluk Nana dengan eratnya.
“Apaan sih lo onyet, lepasss.” Nana berontak.
“Yaelah bos, lo nggak ngehargain gue banget. Gue bos yang nyelametin elu.” Randi merengut dan melepaskan pelukannya pada Nana.
“Apaan, tadi gue lihat lo diem aja di pojokan. Bukan malah bantui malah nyusahin kan lo.” Ejek Nana. Bukannya Nana tak tau kawan-kawan karibnya itu berjuang mati-matian. Buktinya terlihat beberapa lebam di beberapa bagian wajah mereka.
“Itu gue ngaso bos, bentaran doang.” Jawab Randi.
“Jangan percaya lu Na, dia bukan nyelametin elo. Dia itu nyelametin sumber jajan tambahan dia.” Timpal Martin dengan seringai manisnya. Wkwkkw
“Bener tu.” Davi membenarkan ucapan Martin.
“Brengsek, kenapa kalian jadi musuhin gue? Apa salah anak kecil ini ya Tuhan. Tolongkah bantu hamba menghadapi penindas-penindas ini.” Randi memasang muka memelas.
“Hei, yang ngebiarin gue dibawa sama mereka emangnya siapa? Gue dibawa malah lo asik-asikan makan jajan di depan toko.” Bilang Nana.
“Bos, lo lupa. Lo yang nyuruh gue jagain anak-anak ya. Gue bukan superhero yang bisa lari cepat, merangkak, dan ngeluari jarring laba-laba y abos.” Jawab Randi.
“Nana ini kesalahanmu, jadi jangan menyalahkan orang lain. Nanti setelah sampai rumah abang ingin bicara sama kamu.” Adi yang sedari tadi diam mengemudi ikut nimbrung pembicaraan grup sengklek itu.
Berbeda dengan Ervan yang duduk disamping Adi. Ervan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Entah apa yang ada difikiran lelaki itu.
“Apaan sih bang, emang apa salah Nana coba? Yang salah noh cowok gila si Rangga. Gila aja penculik nembak tahanannya.” Nana merengut kesal karena dimarahi oleh nadai. Tanpa sadar ucapannya membangunkan macan dalam bentuk suaminya itu.
“APA MAKSUD KAMU? MEMANG APA SAJA YANG KAMU LAKUKAN DISANA?” suara Ervan meninggi.
“ih kamu apaan sih Van teriak-teriak. Tambah pusing nih kepala aku. Aku nggak ngapa-ngapain.” Jawab Nana.
“Trus apa nembak-nembak segala. Lo pacaran sama cowok nggak jelas itu? Iya?” mulai timbul kecemburuan dimata Ervan, pasalnya Ervan melihat ada yang berbeda dari cara Rangga memandang Veynana nya.
“Tuduhan kamu nggak berdasar ya Van, ya kali gue diculik bisa pacar-pacaran.” Nana mulai kesal dengan tuduhan Ervan.
Semua yang ada di mobil itu diam tanpa kata. Tak ada yang berani masuk dalam lingkaran hitam pertengkaran suami istri setengah-setengah itu. Urusannya akan panjang nanti. Kalau Adi lebih pada tak mau tau. Karena memang dia juga melihat apa yang dilihat Ervan. Dia tau akan ada badai yang lebih besar nanti. Dia berkelana dalam pikirannya sendiri. Bagaimana ia ikut menjaga tuan putri kecilnya itu
si pak pol temen masa kecil nya Nana lagi . psti dah knal akrab
suka kisahnya veinana.. 😩
tapi lumayan konyol lah... lanjut ah..