NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Kembali ke Kokpit

Tujuh hari setelah meninggalkan apartemen itu, Anindya menempelkan kartu identitas Adiwijaya Airlines di dada kirinya.

Tulisan di bawah fotonya tercetak jelas.

ANINDYA WICAKSANA

FIRST OFFICER

“Selamat datang di Adiwijaya Airlines.” Pak Bimo menyerahkan map biru kepadanya. “Pemeriksaan latar belakang, lisensi CPL, medical certificate, dan catatan jam terbang Anda sudah kami verifikasi. Tidak ada masalah.”

“Terima kasih, Pak.”

“Jangan berterima kasih dulu.” Kepala HRD itu mengangkat kacamata ke pangkal hidung. “Saya tidak peduli siapa keluarga Anda atau siapa yang merekomendasikan Anda. Begitu memakai kartu itu, kesalahan kecil pun bisa membuat Anda dilarang terbang.”

“Itu juga yang saya harapkan.”

Pak Bimo menatapnya selama satu detik lebih lama, lalu mengangguk. Mungkin ia menyukai jawaban tersebut. Mungkin juga tidak. Wajah pria yang terkenal keras terhadap calon pilot itu terlalu datar untuk dibaca.

Anindya membawa mapnya menuju ruang persiapan awak. Suara roda koper kru beradu dengan lantai, diselingi pengumuman perubahan gerbang dan percakapan singkat tentang cuaca. Bau kopi mesin dan kertas briefing membangkitkan sesuatu yang selama ini ia kunci rapat.

Tiga tahun lalu, di dalam pesawat latih yang diguncang udara buruk, tangannya pernah memegang kendali sementara awan cumulonimbus tumbuh seperti dinding gelap di depan kaca.

“Jangan lawan guncangannya,” suara Arka terdengar melalui headset. Tenang, tegas, nyaris dingin. “Jaga sikap pesawat. Lihat instrumenmu, bukan ketakutanmu.”

Anindya mengikuti arahannya. Mereka keluar dari tepi awan dengan telapak tangan basah, tetapi jalur terbang tetap stabil.

Saat itulah Arka pertama kali benar-benar menatapnya.

Bukan sebagai putri keluarga Wicaksana. Bukan sebagai perempuan yang kelak disembunyikan di sebuah apartemen. Sebagai pilot.

“Bu Anindya?”

Panggilan Pak Bimo mengembalikannya ke lorong.

“Ruang briefing domestik di sebelah kanan. Jadwal awal Anda masih menunggu penetapan kapten penguji.”

“Baik, Pak.”

Anindya melangkah masuk.

Beberapa kepala langsung menoleh. Seragam putih dengan tiga garis di bahunya masih terlalu baru bagi ruangan itu, tetapi cara ia membawa flight bag membuat dua orang pilot senior saling bertukar pandang. Bukan cara orang yang baru belajar terlihat pantas. Ia tahu persis ke mana harus berjalan, di mana meletakkan berkas, dan layar mana yang menampilkan cuaca keberangkatan.

Seorang kopilot pria yang berdiri dekat mesin kopi tersenyum kepadanya.

“Orang baru?”

“Kelihatannya begitu.”

“Reza.” Ia menunjuk tiga garis di bahunya sendiri. “Kalau Pak Bimo sudah memasang wajah lebih seram dari biasanya, berarti berkasmu bagus.”

“Atau beliau sedang menyesal menerima saya.”

Reza terkekeh. “Saya suka jawaban kedua.”

Belum sempat percakapan berlanjut, suara sepatu hak terdengar dari lorong.

“Arka, nanti setelah mendarat, jangan lupa Mama sudah pesan tempat untuk makan malam.”

Tawa kecil di ruang briefing menghilang.

Amara masuk dengan seragam awak kabin berwarna gelap yang pas di tubuhnya. Rambutnya tersanggul rapi. Satu tangannya melingkar di lengan Arkana, seolah seluruh lantai kru perlu melihat bahwa ia boleh menyentuh pria itu.

Arka mengenakan seragam kapten yang sama seperti tujuh hari lalu. Empat garis di bahunya lurus sempurna.

Kali ini bukan Anindya yang merapikannya.

Pandangan Arka menemukan Anindya di antara kru lain. Langkahnya berhenti begitu tiba-tiba hingga Amara ikut tertahan.

Warna di wajah pria itu menghilang sesaat.

“Kamu?”

Satu kata. Bukan sapaan, bukan pula pertanyaan yang layak.

Anindya menutup map birunya. “Selamat pagi, Kapten Arkana.”

Panggilan resmi itu membuat garis rahang Arka menegang.

Amara mengikuti arah tatapannya. Senyum manisnya membeku sebelum segera dipasang kembali, kali ini lebih lebar.

“Kak Anindya?” Ia melepaskan lengan Arka dan berjalan mendekat. “Ya ampun, kamu benar-benar di sini. Aku dengar ada pilot baru, tapi aku enggak menyangka...”

Ia memegang tangan Anindya di depan semua orang.

“Kamu baik-baik saja, kan? Setelah keluar dari apartemen, aku khawatir banget. Kalau butuh uang atau tempat tinggal, bilang saja. Aku dan calon suamiku pasti bantu.”

Sejumlah awak kabin menahan napas. Seorang petugas operasi menunduk ke tabletnya, pura-pura tidak mendengar.

Anindya menarik tangannya. Dari saku celana seragam, ia mengambil tisu basah, menyeka punggung tangan yang baru disentuh Amara, lalu menjatuhkan tisu itu ke tempat sampah.

“Maaf,” ucapnya ringan. “Kita kenal?”

Sudut bibir Reza bergerak. Seseorang di belakangnya gagal menyembunyikan bunyi batuk yang mirip tawa.

Mata Amara berkedip cepat. “Kak, jangan begitu. Aku tahu kamu masih marah soal Arka. Tapi membawa urusan perasaan ke perusahaan bukan keputusan yang bijak.”

“Urusan perasaan?” Anindya melihat sekeliling, seakan sungguh mencari sesuatu. “Di sini?”

“Maksudku, menjadi pilot itu bukan seperti melamar pekerjaan biasa.” Suara Amara melembut, tetapi cukup keras agar satu ruangan mendengar. “Butuh lisensi, jam terbang, kesehatan yang lolos pemeriksaan. Jangan karena ingin dekat dengan Arka, kamu sampai memakai dokumen yang...”

Ia menggantung kalimatnya dengan rapi.

Tak perlu menyebut kata palsu. Semua orang sudah diarahkan ke sana.

Anindya memandang pin sayap di dada Amara, lalu tiga garis di bahunya sendiri.

“Kamu bekerja di bagian pemeriksaan lisensi sekarang?”

“Aku cuma khawatir ada yang tertipu.”

“Kalau begitu, kekhawatiranmu salah alamat.”

“Cukup.”

Suara Pak Bimo memotong dari pintu. Ia masuk sambil membawa tablet dan satu bundel berkas. Wajahnya lebih dingin daripada saat mewawancarai Anindya.

“Nona Amara, apakah Anda bagian HRD penerbangan?”

“Bukan, Pak. Saya hanya...”

“Apakah Anda memiliki kewenangan mengakses data lisensi pilot?”

“Tidak.”

“Lalu atas dasar apa Anda menuduh dokumen yang sudah diperiksa tim saya sebagai dokumen palsu?”

Pipi Amara memerah. “Saya tidak menuduh. Saya bilang saya khawatir.”

“Kekhawatiran yang disampaikan di depan satu ruangan bisa menjadi fitnah kalau tidak memiliki dasar.”

Pak Bimo meletakkan bundel berkas di meja tengah. Halaman teratas memperlihatkan salinan lisensi, hasil pemeriksaan kesehatan penerbangan, dan rekap jam terbang Anindya.

“CPL diterbitkan secara sah. Catatan jam terbang cocok dengan logbook dan data operator sebelumnya. Pemeriksaan kesehatan masih berlaku. Dua referensi instruktur sudah kami hubungi.” Tatapannya menyapu seluruh ruangan. “Adiwijaya tidak merekrut pilot karena hubungan keluarga. Adiwijaya juga tidak menggugurkan pilot karena gosip keluarga.”

Keheningan berubah bentuk.

Tadi orang-orang memandangi Anindya dengan rasa ingin tahu. Sekarang dua kapten senior di sudut ruangan mengangguk tipis ke arahnya. Seorang awak kabin yang berdiri di belakang Amara perlahan mundur setengah langkah.

Amara menoleh kepada Arka. “Aku hanya ingin melindungi perusahaanmu.”

Arka tak menjawab. Sejak masuk, tatapannya tidak pernah benar-benar meninggalkan Anindya.

“Kenapa saya tidak menerima pemberitahuan soal perekrutan ini?” tanyanya kepada Pak Bimo.

“Karena proses rekrutmen pilot berada di bawah komite operasional dan HRD, Pak Arkana. Seluruh tahap administratif sudah selesai sesuai prosedur.”

“Siapa kapten pengujinya?”

“Belum ditetapkan. Rencananya Kapten Surya untuk penerbangan observasi pertama, tetapi jadwalnya berubah pagi ini.”

Arka mengalihkan mata ke kartu identitas di dada Anindya.

“Anda melamar ke perusahaan saya tanpa memberi tahu saya.”

Anindya mengangkat alis. “Lowongannya dibuka untuk umum, Kapten. Saya tidak melihat syarat harus meminta izin CEO.”

“Anda tahu maksud saya.”

“Saya takut menebak. Baru seminggu lalu, Anda meminta saya mengikuti semua perkataan pengacara. Hari ini saya sedang mengikuti prosedur HRD Anda.”

Beberapa orang segera menundukkan wajah. Mereka telah mendapat cukup bahan untuk dibicarakan di grup WhatsApp kru selama sebulan.

Amara menggenggam ujung blazer seragamnya. “Arka, jangan terpancing. Kalau memang kemampuannya asli, kapten penguji mana pun bisa membuktikannya.”

“Benar,” sahut Anindya. “Jadi tak perlu takut.”

“Aku tidak takut.”

“Bagus.”

Senyum Amara retak.

Pak Bimo membuka jadwal penerbangan pada tabletnya. “Saya akan mencari pengganti Kapten Surya.”

“Tidak perlu.” Arka mengambil map biru dari tangan Anindya.

Gerakannya cepat, tetapi Anindya tidak berusaha merebutnya. Ia hanya menatap tangan pria itu di atas namanya sendiri.

“Pak Arkana?”

“Saya yang menguji.”

Pak Bimo mengernyit. “Penerbangan Anda pagi ini sudah memiliki kopilot terjadwal.”

“Pindahkan kopilot itu ke kru cadangan. Masukkan Anindya ke penerbangan saya. Catat sebagai line observation dan evaluasi awal.”

“Perubahannya harus disetujui operasi penerbangan.”

“Hubungi mereka sekarang.”

Pak Bimo menatap Anindya, memberinya kesempatan untuk menolak.

Anindya mengambil kembali mapnya dari tangan Arka. “Saya siap terbang selama perubahannya tercatat resmi.”

“Baik.” Pak Bimo mengetik sesuatu. “Saya urus dokumennya. Kalian briefing lima belas menit lagi.”

Ruangan langsung dipenuhi bisik-bisik.

CEO Adiwijaya Airlines tidak sekadar meninjau pegawai baru. Ia sendiri akan duduk di kursi kiri dan menguji mantan istri rahasianya di kursi kanan.

Amara berdiri kaku. “Arka, aku juga bertugas di penerbanganmu. Kita seharusnya berangkat bersama.”

“Kamu ke briefing awak kabin,” jawab Arka tanpa menoleh. “Kru kokpit punya urusan sendiri.”

Wajah Amara kehilangan warna.

Arka berbalik menuju pintu, seolah keputusan itu telah menutup semua percakapan. Anindya tidak segera mengikutinya. Ia memeriksa perubahan jadwal di aplikasi kru, memastikan nomor penerbangan, rute, cuaca, serta nama kapten yang baru muncul di layar.

ARKANA ADIWIJAYA.

Reza mendekat sambil membawa cangkir kopi.

“Hari pertama yang lumayan tenang,” katanya dengan wajah serius palsu.

Anindya hampir tersenyum. “Begini standar ketenangan di sini?”

“Biasanya lebih membosankan. Semoga betah.” Reza mengulurkan tangan. “Kalau butuh info soal rute atau sistem laporan, tanya saja.”

“Terima kasih.”

Anindya menerima uluran tangannya.

Baru satu detik telapak mereka bersentuhan, Arka sudah kembali. Jarinya melingkar di pergelangan tangan Anindya dan menariknya menjauh dari Reza.

Anindya langsung menghentakkan tangannya sampai lepas.

“Jangan sentuh saya tanpa izin, Kapten.”

Kalimat itu jatuh di tengah ruangan yang kembali senyap.

Arka menatap tangannya sendiri, seolah baru menyadari apa yang ia lakukan. Sesuatu yang gelap bergerak di matanya, tetapi suaranya tetap rendah.

“Waktu briefing tinggal sedikit.”

“Saya bisa berjalan sendiri.”

“Kalau begitu, jalan.”

Ia berbalik. Anindya mengambil flight bag dan mengikutinya dengan jarak dua langkah. Saat melewati Amara, ia mencium parfum manis yang dulu tidak pernah ada di lorong menuju penerbangan Arka.

Amara tidak berkata apa-apa. Kukunya menancap ke telapak tangan, sementara seluruh kru melihat Anindya berjalan menuju gerbang bersama satu-satunya pria yang baru seminggu lalu membuangnya.

Di depan pintu menuju garbarata, Arka menempelkan kartu akses. Lampu berubah hijau.

Ia menoleh setengah wajah kepada Anindya.

“Naik ke pesawat saya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!