NovelToon NovelToon
Bahagia Di Atas Lukaku

Bahagia Di Atas Lukaku

Status: tamat
Genre:Poligami / Cerai / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:81.9k
Nilai: 5
Nama Author: Shizi

Harap kebijakannya. Tidak suka skip, jangan boom like sesuka hati.

Salwa, wanita berusia 30 tahun, di mana harus berjuang seorang diri untuk menghidupi orang tua dari suaminya beserta anak semata wayangnya. Yang mana sudah lebih dari setahun tidak kunjung pulang, bahkan walau sekedar mengirimi uang sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Salwa yang diambang kebingungan dan dengan cara mencari suaminya di kota, berharap bisa bertemu. Akankah pertemuan mereka mempersatukan sebuah hubungan atau justru sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shizi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keadaan Alfi

“Kamu sendiri ngapain di sini?” tanya Putra.

“Kamu ini aneh deh, Mas. Aku ke sini ya cari paman lah,” ujar Mira merasa aneh dengan tingkah suaminya.

“Lalu, kamu sendiri ngapain di sini?” tanya balik Mira ketika melihat suami berdiri diambang pintu.

“tidak ada, kebetulan lewat dan melihat keduanya saling berpelukan.” Jawab Putra dengan sebisanya untuk menyembunyikan jika dirinya sekarang, memang sengaja untuk mendatangi kamar Salwa, tapi sayangnya hal itu membuatnya merasa sakit hati juga.

“Sepertinya paman dan Salwa cocok deh, Mas.”

Uhuk.

Uhuk.

Seketika Putra tersedak karena sebuah kalimat yang membuatnya semakin kebakaran jenggot.

“Mas."

“Tidak perlu khawatir, lagian kamu tuh aneh-aneh saja.” Putra sengaja menampilkan rasa ketidaksukaannya pada ucapan tersebut.

“Memangnya kenapa?” tanya Mira yang merasa aneh dengan sikap suaminya akhir-akhir ini.

“Kenapa kamu justru balik bertanya dan tidak mengerti dengan kalimatku,” kata Putra yang sengaja ingin membuat Mira tidak suka dengan hubungan mereka berdua, jika hal itu memang benar adanya.

“Sungguh aku memang tidak mengerti,” kata Mira dengan kerutan di kening.

“Sayang, Salwa itu seorang pembantu. Sedangkan paman, kamu tahu sendiri seperti apa perannya.” Untuk sejenak Mira terdiam, tertegun dengan perkataan suaminya karena dengan begitu, Bahwa Putra tidak setuju dengan hubungan antara Salwa dan pamannya saat ini.

“Mas, di dalam keluargaku tidak pernah memandang kasta, meski orang itu dari kalangan bawah pun, kami semua akan menghormatinya, Jadi, kalau seandainya memang mereka berjodoh maka aku akan mengikuti pilihan paman.”

Jawaban yang tidak ingin didengar oleh Putra, karena harapan untuk memisahkannya tertunda. Apalagi paman dan istrinya terlihat baik-baik saja, jadilah lelaki itu semakin murka.

“Terserah, aku hanya mengingatkan, jangan sampai harta paman akan jatuh ke tangan wanita itu.” Sebuah peringatan diberikan pada Mira, berharap jika istrinya akan berpikir dua kali untuk merestui hubungan pamannya.

“Sudahlah, Mas. Itu kita bahas nanti ketika semua sudah membaik.”

Akhirnya mereka berdua pergi dan membiarkan dua orang berada di ruangan sendiri.

Sedangkan di ruang ICU, Alfi yang saat ini tengah berjuang sendiri dan hanya ditemani, peralatan yang terpasang di tubuhnya. Membuat siapa pun tidak akan tega melihat pemandangan tersebut.

Lantas seorang dokter ingin segera menyampaikan akan kondisi Alfi, tapi … melihat keadaan Salwa membuat dokter muda itu pun mengurungkan niatnya. Mungkin nanti jika keadaan orang tua Alfi sudah cukup membaik maka akan mengatakannya. Di samping itu, masih ada stok darah satu kantong dan cukup untuk sementara waktu.

Keesokan paginya. Meski keadaan Salwa Belum pulih, tapi wanita itu begitu ingin sekali melihat keadaan Alfi, anak semata wayangnya yang mana sekarang terbujur tidak berdaya.

“Mas, aku mau lihat Alfi!” kata Salwa dengan penuh permohonan.

“Memangnya kamu sudah kuat? Luka di badan kamu saja masih sulit untuk digerakkan.” Hans pun langsung angkat bicara, ketika Salwa ingin melihat keadaan Alfi.

“Percayalah Mas, kalau saya sudah cukup kuat. Saya hanya ingin tahu keadaan Alfi, seperti apa dan apa anak itu baik-baik saja.” Jawab Salwa yang terus mendesak Hans, hingga lelaki itu akhirnya luluh juga.

“Baiklah, saya akan mengambilkan kamu kursi roda dulu. Agar memudahkan kamu,” kata Hans yang mana lelaki itu keluar untuk mencari kursi roda.

Setelah menyusuri ruangan, akhirnya sampai juga di man Alfi berada.

“Mas, jika Tuhan mengizinkan, biarkan saya yang menggantikan, asal Alfi bisa pulih dan dapat tersenyum kembali.” Sebuah tangis kian menyayat hati, ketika seorang ibu tengah menatap sang anak dengan penuh kesedihan.

“Mungkin saja kalau mobilnya tidak rem blong, semua ini tidak akan terjadi.” Dengan penuh penyesalan Hans berkata dengan pangannya menatap bocah lelaki tersebut lewat kaca.

“Tidak, saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa karena memang semua ini sudah takdir saya.” Hati Hans semakin tercabik ketika Salwa berkata seperti itu, sungguh mulia bukan, tapi tak ada orang yang tahu bahwa jiwanya sekarang ikut terbawa lara.

“Maaf.” Hanya itu yang terus dikatakan oleh Hans, merasa bersalah karena penyebabnya adalah mobil yang ia kendarai.

“Jangan meminta maaf, karena saya sudah ikhlas. Meski hati saya hancur ketika melihat saya kehilangan seluruh kekuatan.” Berusaha tegar. Namun, sejatinya rapuh dan terus berusaha berdiri walau Salwa sendiri tidak sanggup untuk menopang berat badannya.

Saat keduanya dengan keadaan bersedih, datanglah satu orang perawat beserta dokternya juga.

“Selamat siang Bu, Pak!” sapa dokter muda tersebut.

“Siang juga, Dok.” Hans pun balik menyapa.

“Ada yang perlu saya bicarakan perihal anak Ibu,” ucap dokter dengan menatap sosok Salwa yang kini masih terlihat cantik. Walau wajahnya terlihat pucat dan hal itu tidak mengurangi pesonanya, itulah yang dirasakan oleh dokter muda yang bernama Surya.

“Memangnya kenapa dengan Alfi?” dengan rasa takut yang luar biasa, Salwa mencerca Dokter Surya Aditama.

“Alfi butuh transfusi darah.”

Seketika tubuh Salwa lemah dan hatinya semakin hancur, ketika mendengar semua itu.

“Dok, ambil saja darah saya!” kata Salwa sambil mengangkat tangannya.

“Tidak Salwa, tubuhmu terlalu lemah, jadi biar saya saja yang melakukannya.” Salwa menolak karena Hans sudah terlalu banyak untuk membantunya.

“Dia anak saya, seharusnya bukan kamu, tapi ibunya, Mas.” Salwa terus menolak karena tidak mau jika dirinya dianggap ibu yang tidak berguna.

“Salwa, bukankah Alfi tidak mau melihatmu lemah. Apa mau kamu ketika dia sadar kamu justru sakit?” sejenak Salwa terdiam, ia berpikir kenapa majikannya bisa tahu dan dengan sedetail itu tahu tentangnya.

“Jika memang Anda setuju, segera ikut suster untuk melewati pemeriksaan untuk mencocokkan.” Akhirnya dokter angkat bicara perihal pendonor tersebut.

“Baik, Dok. Saya akan ikut dan berharap akan cocok,” kata Hans dengan penuh harapan.

Tidak lama kemudian, Hans kembali dengan wajah lesu dan hal itu membuat Salwa ingin segera bertanya.

“Mas!” sapa Salwa.

“Tidak cocok, sedangkan di rumah sakit ini tidak ada stok dengan golongan darah o.” Bukan hanya Hans, tapi Salwa kini tertunduk lesu kala mendengar kenyataan pahit itu.

Salwa semakin terisak, karena tidak tahu harus bagaimana lagi. Golongan darahnya dengan Alfi tidak sama, sedangkan darah itu dibutuhkan segera.

“Saya harus bagaimana Mas, saya tidak tahu harus berbuat apa disaat seperti ini, saya juga adalah ibu yang tidak berguna sama sekali.”

“Hiks … Hiks … “ Salwa tidak sanggup lagi hingga tak mampu untuk berkata-kata.

Lalu, tidak jauh berada, ada Mira yang melihat dua orang saling memberi semangat, hingga membuat Mira mengurungkan niatnya guna menghampiri.

“Putra!” kata Hans.

“Apa, Mas Haikal,” timpal Salwa.

“Iya, bukankah dia adalah–.”

“Putra, Haikal, apa maksud kalian?”

1
Komsiyah Komsiyah
knp bab sebelumnya di ulang lg
neng ade
ingin tau reaksi nya si Putra alias Haikal saat bertemu dngn Salwa
neng ade
rasa nya adil klo akhir nya Salsa bisa menikah dngn Hans .. toh laki2 yg bernama Haikal / Putra itu juga menikah dngn Mira yg ponakan nya Hans
neng ade
suatu saat keserakahan dan kesombongan mu itu akan menghancurkan mu .. anak istri dan ibu nya aja di tinggal dan dia ga pernah perduli sampai ga tau klo ibu nya itu udh tiada ..
Shizi🦁🦁: bener phi, ah kok jadi mellow denger kata-kata kakaknya.
total 1 replies
neng ade
Innalillahi wa innallaihi roji'uun ..
neng ade
jalan tercepat cari uang ya mau ga mau ke rentenir .. meski pun resiko nya tinggi.. ta apa boleh buat .. lalu itu tlp dari RS .. apa yg terjadi dngn mak Sarah..
neng ade
dia itu pasti lah si Haikal yg pergi meninggalkan anak dan istri nya serta ibu nya ..
neng ade
hadir thor .. tega banget itu si Haikal .. kasihan ibu nya dan juga istri serta anak nya ..
Shizi🦁🦁
🙏🙏🙏🙏🙏😇😇😇😇
Hera sasuwe
👍👍👍
@Kristin
Iklan mendarat semangat 💪
@Kristin: gak ada lagi malas. Kamu gimana?
total 2 replies
Rini Antika
karen nya kurang A, 🤭✌️
Rini Antika
hello, di sini Salwa istri pertama yang tersakiti, tp seakan" s Mira yg jadi korban. bikin esmosi aja
Shizi🦁🦁: wkwkwk
total 1 replies
merry jen
Mira gk sdr drii yy klo driy itu pelkorr y wlpun gk cr ngerbut ibliss it dr Salwa si tp ttp ajj jtuh pelkorr jdi istri kedua disaat putra atau Haikal itu UD pyn ank istrii dikmpungg ...Mira UD tau BKN y mnt pishh msh ajj mau bareng ibliss itu ....trs dsnii pmn Mira jg klo ngmg bnyk telah teki yy hrs jujur UD jlsin smuyy agr Salwa dislhn .miraa
Sri Winda
smg cepat sembuh anaknya thor🤲🤲🤲
Shizi🦁🦁: makasih bunda buat doanya🥰
total 1 replies
merry jen
knp gkk jjurr aj klo lki y kira UD bunuh ank kndungy sndrii bodoh Mira mau. SM lkii modell kyk gt UD ngelntrin ibu istri dan ankyy trs skrg bunuh anky dan tukar darah y dgn harta y Hans
Shizi🦁🦁: mau dibuat kejutan kak, ketika nanti haikal pulang2 cacat😁
total 1 replies
mama oca
lanjut kak
Shizi🦁🦁: siap kak
total 1 replies
Rini Antika
Semangat terus untuk Salwa, selamat sudah resmi bercerai
Shizi🦁🦁: hooh wkwkwk
total 1 replies
Rini Antika
dasar lelaki tidak tau diri, 😠
Rini Antika
nyesek bgt sih
Rini Antika: enggak, aku kan Cucu nya Ultraman, 🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!