Sekelompok preman datang setelah acara pernikahan sederhana digelar oleh Aditya dan Syahnaz. Mereka mengancam akan menyita rumah itu jika Aditya tidak mampu melunasi hutang dalam waktu tiga hari.
Mendengar masalah yang menimpa menantunya, ibu Syahnaz jatuh pingsan. Ternyata dia terkena serangan jantung. Dokter menyarankan agar segera melakukan tindakan operasi agar penyakit ibu Syahnaz tidak semakin parah.
Aditya teringat perbincangan atasannya di kantor yang sedang mencari seorang wanita untuk dijadikan simpanan dan melahirkan seorang anak. Aditya dengan gilanya memaksa Syahnaz menjadi PSK demi melunasi hutangnya dan biaya perawatan ibu di rumah sakit.
Akibat tidak punya jalan keluar lain, Syahnaz terpaksa menyetujui. Ia dijual kepada Jendra, pengusaha kaya yang menginginkan seorang wanita untuk menjadi penghangat ranjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Milik Siapa?
"Halah, akhirnya juga begini, aku yang susah," gerutu Regi sembari menyetir mobilnya.
Ia menoleh ke kursi samping, Jendra tergolek tak berdaya dalam kondisi mabuk. Sahabatnya itu memang keras kepala, sudah diingatkan untuk berhenti minum tapi malah terus lanjut. Terpaksa Regi yang membawanya pulang.
Dalam kondiai mabuk berat seperti itu, Regi merasa khawatir jika meninggalkannya sendiri di apartemen. Ia memutuskan untuk mengantar Jendra pulang ke rumah. Ia tak peduli jika nanti Jendra protes, yang terpenting ia tidak khawatir karena di rumah ada banyak orang yang bisa mengurus Jendra, terutama Syahnaz.
Regi membelokkan mobilnya ke arah rumah Jendra. Ia diperiksa oleh penjaga gerbang untuk memastikan orang yang akan masuk ke dalam. Setelah tahu dirinya bersama Jendra, pintu dibuka dan Regi bisa melajukan kembali mobilnya sampai di depan pintu utama rumah.
"Pak, tolong bantu aku memapah Jendra ke dalam!" pinta Regi kepada salah satu pekerja lelaki yang ada di sana.
Regi dibantu orang tersebut memapah tubuh Jendra yang lemah untuk masuk rumah.
"Kenapa dengan Tuan Jendra?" tanya Mamita yang tampak khawatir.
"Dia hanya mabuk, kebanyakan minum-minum. Aku akan membawanya ke kamar atas. Tolong Mamita panggilkan Syahnaz," pinta Regi.
"Baik, Pak," kata Mamita.
Regi dengan susah payah membantu Jendra ke kamar atas. Meski sudah dibantu oleh satu orang, tetap saja ia merasa keberatan.
"Ah, ternyata orang mabuk sangat merepotkan!" gerutu Regi.
Padahal, ia juga ikut minum cukup banyak. Namun, memang daya toleransi tubuhnya terhadap alkohol cukup tinggi, sehingga ia sama sekali tidak merasa mabuk.
Setelah bersusah payah, akhirnya mereka berhasil membaringkan Jendra di atas ranjang.
"Terima kasih, Pak. Kamu boleh pergi dulu," ucap Regi.
Pelayan pria yang tadi membantunya segera keluar setelah melaksanakan tugasnya.
Regi memandangi Jendra yang masih memejamkkan mata. Sepertinya Jendra sampai hilang kesadaran akibat mabuk.
"Baru jadi normal sebentar sekarang sudah gila lagi, Jendra, Jendra ...."
Tok tok tok
Pintu kamar diketuk. Regi mengalihkan pandangan ke arah pintu. Ia tertegun melihat Syahnaz ada di sana mengenakan pakaian pelayan.
"Kamu ... Kenapa kamu berpakaian seperti itu?" tanya Regi penasaran.
"Tuan Jendra yang meminta," jawab Syahnaz. Dengan langkah perlahan ia berjalan mendekat.
Arah matanya memandang Jendra yang terbaring di sana. Ia menatapnya dengan sendu. Sudah lama rasanya mereka tidak saling bicara. Bahkan Jendra seperti sengaja menghindarinya meskipun sudah menghukumnya seperti itu."
Regi mengerutkan dahi. Ia heran mendengar Syahnaz memanggil Jendra dengan sebutan Tuan. Seingatnya mereka punya panggilan yang mesra.
Ia memperhatikan kembali penampilan Syahnaz dengan seragam barunya. Meskipun itu pakaian pelayan, namun memang pesona Syahnaz tidak hilang. Ia rasa Jendra punya keinginan yang aneh meminta Syahnaz berpenampilan seperti itu.
"Ya sudah kalau begitu, aku serahkan Jendra padamu. Tadi dia banyak minum, makanya jadi seperti ini," kata Regi.
Syahnaz hanya tertegun di tempat memandangi Jendra. Ia bingung dengan apa yang harus dilakukan. Mungkin saja lelaki itu akan marah jika ia menyentuhnya.
"Baiklah, aku pulang dulu. Urusi dia baik-baik, jangan lupa kunci pintunya," ucap Regi sebelum pergi dari kamar itu. Bahkan ia dengan perhatiannya mau menutup kembali pintu itu.
Suasana di dalam kamar mendadak sepi, hanya ada Syahnaz dan Jendra di dalam sana. Syahnaz berjalan mendekat, duduk di tepian ranjang sambil memperhatikan lelaki itu. Jendra sepertinya sudah tidur.
Syahnaz melepaskan sepatu dan kaos kaki yang masih Jendra kenakan secara perlahan. Ada sedikit gerakan dan suara yang lelaki itu keluarkan saat Syahnaz menyentuhnya.
Jendra terlihat tidak nyaman dengan pakaiannya yang masih melekat. Tubuhnya berkeringat meskipun AC di kamar sudah menyala.
Buru-buru Syahnaz mengambil bak kecil dari kamar mandi dan mengisinya dengan air hangat serta membawakan handuk untuk menyeka tubuh Jendra.
Perlahan-lahan Syahnaz melepaskan jas yang masih Jendra kenakan. Bau alkohol menyeruak, apa yang Regi katakan ternyata benar. Jendra seperti itu karena mabuk.
Jas dan kemeja Jendra berhasil dilepaskan. Syahnaz mengambil handuk kecil yang telah dicelupkan ke dalam air hangat untuk menyeka tubuh kokoh nan atletis itu.
Baru kali ini ia benar-benar melihat betapa indahnya tubuh lelaki itu dengan jelas. Tubuh yang biasa merengkuhnya setiap malam dengan kehangatannya. Terkadang, ia masih tidak percaya lelaki setampan dan segagah itu bisa memiliki kaitan takdir dengannya.
"Ah!" pekik Syahnaz.
Jendra memegangi erat tangan Syahnaz ketika wanita itu hendak melepaskan sabuk yang melilit di pinggangnya. Jendra membuka matanya dan memandangi Syahnaz yang ada di sampingnya.
"Kamu mau apa?" tanyanya dengan nada dingin.
"Maaf, Tuan ... Saya mau mengganti pakaian Anda," ucap Syahnaz. Ia sedikit merasa takut. Sorot mata Jendra seperti orang marah.
Jendra menyeringai. "Apa itu bukan alasanmu saja? Kenapa? Kamu sangat ingin menyentuh tubuhku?" sindirnya.
Syahnaz menjauhkan tangannya. Ia menunduk tak berani memandangi Jendra yang sudah bangun dan terduduk di atas ranjang.
"Saya tidak bermaksud seperti itu, Tuan. Saya hanya ingin membantu mengganti pakaian anda supaya lebih nyaman," kata Syahnaz.
Jendra meraih dagu Syahnaz dan mendongakkannya agar tatapan mereka bertemu. Ia mengulaskan senyumannya. "Ternyata kamu cocok melakukan peran ini. Kamu pantas menjadi pelayan," katanya.
"Saya ... Memang bekerja untuk Anda, Tuan," ucap Syahnaz.
"Bagus ... Tahu kan, kamu milik siapa?" tanya Jendra dengan sorot mata tajamnya.
"Saya milik Anda, Tuan Jendra." Syahnaz menjawab di bawah perasaan tertekan. Ia tidak tahu lagi apa yang akan Jendra lakukan jika perbuatannya tidak disukai.
"Hanya aku yang boleh menyentuhmu, hanya aku yang boleh memilikimu. Apa kamu mengerti?" Jendra seakan berusaha untuk menegaskan.
Syahnaz mengangguk.
ribet aja 🥺 bener mm Rania 😲
😡