"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."
"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."
Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan pahit dan sedikit penyiksaan.
BUGH
Satu pukulan mendarat di pipi Rio dari Hexa yang kaget sekaligus emosi mendengar jawaban Rio.
“Jadi cewek yang lo sakitin enam tahun lalu itu Black? Orang yang lo beri harapan palsu, orang yang lo tinggalkan tanpa kabar dan lo undang ke pernikahan lo dengan berdalih itu undangan pernikahan temen lo? Orang yang dulu sering lo selingkuhi tapi tetap memaafkan lo, tapi pada akhirnya lo tetap meninggalkannya dengan pernikahan lo?” Rio diam dan menerima semua ocehan Hexa yang memang itu kenyataannya.
“Lo sadar gak sih, sejahat apa lo dulu? Lo juga sadar gak seberapa jahat Helena sama Black dulu, LO SADAR GAK?”
“Iya gue sadar gue salah, gue juga sudah minta maaf sama Black, meskipun dia gak pernah jawab.”
“Itu karena dia gak mau memaafkan lo, apa yang gue sebutkan tadi belum semua dari apa yang lo lakukan sama Black, banyak hal lebih sakit lagi dari apa yang gue katakan tadi, sampai sini lo tahu seberapa besar kesalahan lo?”
“Tanpa lo ingatkan gue sudah tahu akan kesalahan gue tapi, dibandingkan dengan gue, lebih besar kesalahan Bintang. Dia sampai main fisik.”
“Kalian berdua sama saja, Bintang main fisik sedangkan lo mainnya psikis. Black pernah cerita kalau dia sampai harus pergi ke psikiater saat dia disakiti sama seseorang, kalian berdua itu sama saja. Kenapa gue harus punya kakak yang sama-sama menyakiti orang yang sama dengan status yang hampir sama?”
Hexa mengacak rambutnya frustasi, Black dulu memang sering bercerita tentang mantannya yang paling dia benci, tapi Black dulu tak pernah mau menyebutkan namanya, jadi Hexa sangat tau perbuatan apa saja yang sudah Black alami dan dia juga tahu sebenci apa Black sama Rio.
“Kak, mending sekarang lo pergi, gue gak mau lihat lo, PERGI!” usir Hexa sambil mendorong Rio keluar.
“Xa, gue bisa jelasin semuanya, tolong biarkan gue tetap disini, gue mohon, Xa. Bintang biarkan gue disini.”
Bintang diam dan memalingkan wajahnya karena Bintang ingat dia dulu pernah bertanya pada Rain, siapa orang yang paling Rain benci dan jawabannya sama. “Gue sangat benci sama mantan gue, mau sejahat apapun lo sama gue, kebencian gue tetep paling besar sama mantan gue.”
Sedikit banyak tanpa disengaja saat mereka berdua akur Black sempat bercerita tentang dirinya yang sekarang kembali teringat di pikiran Bintang, kecewa itu sangat Bintang rasakan meskipun dia juga sama-sama pernah menyakiti Black.
“Tang, kita ini sama, gak sepatutnya lo benci dan kecewa sama gue sedangkan sikap lo sama saja. Ingat Tang, sakit yang lo berikan pada Black akan dikembalikan dengan sakit yang lebih sakit lagi.” Rio berhasil di dorong keluar tapi tak bisa dipungkiri ucapan terakhir Rio sekarang terngiang di kuping Bintang.
“Xa, lo paling dekat sama Black, rasa sakit apa saja yang kak Rio sudah lakukan sama Black?” bukannya menjawab, Hexa memilih diam sambil menatap keluar jendela, dia masih mengontrol emosinya agar tidak melimpahkan amarahnya sekarang pada Bintang yang sekarang sedang tak berdaya.
Bintang tak melanjutkan pertanyaannya, dia memilih ikut diam untuk memberi ruang pada Hexa mengatur emosinya.
‘Pantes sekarang lo benci banget sama keluarga gue, setelah kak Rio yang menyakiti lo dilanjut gue sebagai adiknya dan dibantu sama papa dan mama sebagai mertua lo, masih adakah maaf lo buat gue, Black?’ batin Bintang, bayangannya terbang kesaat dia dan kedua orang tuanya menyiksa Black.
Sementara di sebuah gedung yang gelap, terdengar teriakan dari dua wanita yang sekarang tangannya terikat ke atas dan badan yang sudah penuh darah. Siapa lagi kalau bukan Luna dan Helena.
“Bunuh aja gue daripada lo siksa gue seperti ini terus, gue sudah gak sanggup,” Pinta Luna yang merasakan seluruh badannya sakit.
“Bunuh lo bilang? Dengan semua penyiksaan dan sakit yang sudah lo gores buat Black, dengan seenaknya lo minta gue bunuh sebelum gue puas menyiksa lo. Ingat rasa sakit lo sekarang gak ada apa-apanya dibanding sakitnya Black dulu dengan penyiksaann lo.” Dirga sudah sangat emosi sampai sayatan yang dia berikan di badan Luna semakin membabi buta.
Setelah nenek Ayu datang ke rumah sakit, Dirga pergi menuju markasnya, tempat dimana Luna dan Helena sekarang disekap.
“Kalau lo gak bisa melepaskan dia ataupun membunuh dia, harusnya lo bisa kan melepaskan gue, kesalahan gue gak seberapa dibanding kesalahan Luna,” Ucap Helena menumbalkan Luna berharap jika Dirga akan melepaskannya.
“Kesalahan lo gak seberapa dari pada kesalahan dia? Lo itu pikun atau amnesia, selama ini yang selalu memfitnah sampai mertua lo percaya dan berbalik ikut membenci Black siapa? Yang waktu itu ada niatan mau nabrak Black siapa? Siapa orang yang selalu membandingkan Black dengan diri lo dalam urusan keturunan? Masih banyak kesalahan lo yang sudah sangat menyakiti Black, andai dia gak mau jadi wanita normal, gue yakin lo sudah berada di dalam tanah dari dulu.”
“Ma-maksud lo?”
“Makanya kalau mau menyakiti seseorang cari tahu dulu siapa orang itu, kalau hal sekecil ini saja gak tahu, itu menandakan kalau lo gak takut bahaya.” Dirga memeraskan lemon ke luka Helena sampai Helena menjerit kesakitan.
“Gimana? Enak kan lemonnya, ini juga kan yang dulu lo lakukan saat kaki Black terluka? Dengan muka duanya lo didepan Doni dan Melisa lo berpura-pura baik untuk menjaga Black di rumah sakit, tapi pada kenyataannya lo malah yang menjadi luka tersakit Black.” Dirga tertawa sangat keras sampai menggema di ruangan itu membuat wajahnya dimata Helena semakin menyeramkan.
Sementara Luna sudah pingsan karena banyak kehabisan darah dan sekarang sudah dibawa ke ruangan dokter yang ada di markas itu.
“Sudah, gue mohon berhenti, gue sudah gak kuat.” Helena sudah sangat lemas dan hanya bisa merintih merasakan sakit disekujur badannya.
“Makanya kalau mau menyakiti orang cari tahu dulu seberbahaya apa orang itu dan seberbahaya apa orang yang ada di belakangnya, PAHAM?”
Helena mengangguk sebelum akhirnya dia pingsan dan dibawa ketempat yang sama dengan Luna.
“Lemah, baru sebentar sudah pada pingsan.” Dirga ikut keluar dan pergi menuju ruangannya.
“Sudah puas?”
“Ta-tante kapan datang?” Saking kagetnya Dirga sampai menabrak pintu melihat seorang perempuan paruh baya sedang duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
“Barusan.”
“Bukannya kata Alvin tante baru pulang nanti sore, paling sampai besok? Kok sekarang sudah disini?”
“Kamu mau aja dibohongin Alvin.”
“Terus tante kesini mau ngapain, mana cuma sendiri gak sama om Harun?”
“Itu semuanya gak penting, sekarang tante mau tanya, kenapa kamu gak ngajak saya buat nyiksa mereka, saya sudah bawa alatnya nih tinggal eksekusinya aja mau kapan.”
Dirga kaget melihat semua peralatan yang dibawa wanita di depannya.
“Saya harus membalaskan dendam Black, sebelum akhirnya dia sadar dan balasan itu jauh lebih menyakitkan dibanding balasan yang saya berikan.”
BERSAMBUNG.