NovelToon NovelToon
LUKA YANG MENGANTARKAN KU PULANG

LUKA YANG MENGANTARKAN KU PULANG

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: NATstory

Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIKA HAMIL

pagi itu, sesuatu terasa berbeda,Sejak bangun tidur, tubuhku terasa lemas,Perutku mual,Kepalaku pusing,Awalnya aku mengira hanya kelelahan karena jadwal yang padat,Tetapi ketika kondisi itu berlangsung hampir dua minggu, aku mulai merasa ada yang tidak beres,Aku mencoba mengabaikannya.

Sampai suatu pagi aku hampir pingsan,Dokter memeriksaku cukup lama,Kemudian tersenyum.

"Selamat ya,Aku tampak bingung.

"Selamat untuk apa, Dok?"

Dokter menyerahkan hasil pemeriksaan.

"Anda hamil."

Dunia seolah berhenti berputar.

"Apa?"balasku terkejut

"Kurang lebih delapan minggu."

Tanganku langsung gemetar.

Aku menatap hasil pemeriksaan itu berkali-kali.

Berharap aku salah membaca,Namun tulisan itu tetap sama,Positif Hamil,bukan karena tidak bahagia,Melainkan karena aku tidak pernah membayangkan ini akan terjadi,Di tengah semua perpisahan,Di tengah semua usaha untuk melupakan.

Allah justru menitipkan sebuah kehidupan baru di dalam rahimku,Anak Dharma,Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku kacau,Aku memegangi perutku yang masih rata,Di sana ada kehidupan kecil yang belum pernah kulihat.

"Ya Allah..."

Malam itu aku tidak bisa tidur,Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiranku.

Haruskah aku memberi tahu mas Dharma?

Atau membiarkan semuanya tetap menjadi rahasia?Aku memandang surat yang selama ini kusimpan.

Mengingat semua perjuangan yang telah kami lalui,Namun jika aku diam, apakah aku berhak menyembunyikan keberadaan anak ini dari ayahnya?setelah sekian lama, aku kembali berada di persimpangan,Hari-hari berikutnya kulewati dalam kebimbangan,Di satu sisi aku ingin menjaga ketenangan keluarga Dharma,Di sisi lain, aku tahu seorang anak berhak mengenal ayahnya.

Perut yang kini menyimpan rahasia terbesar dalam hidupku,Cepat atau lambat, kebenaran ini akan menemukan jalannya sendiri,Karena takdir yang pernah mempertemukan aku dan Dharma, kini meninggalkan jejak yang hidup,Jejak kecil yang setiap hari tumbuh di dalam rahimku,Seorang anak,Anak yang kelak akan menjadi bagian dari kami berdua.

Pagi itu,entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang hidup diperut ini,Sesuatu yang kini bergantung sepenuhnya padaku,Selama ini aku selalu merasa hidupku sudah cukup rumit.

Terlahir dari hubungan yang dipandang salah oleh banyak orang,Tumbuh dengan berbagai luka keluarga,kehilangan orang-orang yang kusayangi,Kemudian mencintai Dharma dengan seluruh hatiku,Lalu melepaskannya.

Aku pikir ujian itu sudah cukup,Ternyata Allah masih menuliskan babak lain dalam hidupku,Babak yang sama sekali tidak pernah kubayangkan.

Menjadi seorang ibu,Hari-hari berikutnya mulai berjalan berbeda,Aku mulai memperhatikan apa yang kumakan,minum vitamin,Mulai mengurangi pekerjaan yang terlalu berat,rasa mual tetap datang tanpa permisi,Kadang pagi,Kadang siang,Kadang tengah malam saat aku sedang mencoba tidur.

Suatu malam, setelah selesai salat Isya, aku duduk sendiri di ruang tamu,Di depanku terletak hasil USG pertama,Belum terlihat jelas,Hanya sebuah bayangan kecil,Aku mengusap gambar itu perlahan,tanpa sadar tersenyum."Apa kamu sehat di sana?"

Pertanyaan sederhana,Aku tidak tahu apakah bayi ini laki-laki atau perempuan,Aku tidak tahu seperti apa wajahnya kelak,Aku bahkan belum tahu bagaimana masa depannya,yang pasti,Aku sudah mencintainya,Bahkan sebelum ia lahir.

_________________________________________________

Waktu berlalu, bukan berganti,Kehamilanku memasuki bulan ketiga,Suatu sore aku kembali melakukan pemeriksaan,Saat itulah dokter memperdengarkan suara yang selama ini hanya kubaca dalam buku-buku kehamilan.

Detak jantung bayi.Degup.Degup.Degup.

Aku terpaku.

"Itu detak jantung bayi nya,"

kata dokter sambil tersenyum,Aku menatap layar di depanku,semua ini terasa nyata,Sangat nyata.

sebuah pesan masuk ke ponselku,Nomor yang sangat kukenal,Nomor yang sudah berbulan-bulan tidak pernah muncul.

Mas Dharma,Jantungku langsung berdebar.

Tanganku gemetar saat membuka pesan itu.

Hanya satu kalimat.

"Apa kabar?"

Sesederhana itu.

Namun berhasil menghancurkan seluruh benteng yang selama ini kubangun.Aku menatap layar ponsel cukup lama,Tidak langsung membalas.

Karena aku tahu,Begitu percakapan ini dimulai, mungkin hidupku akan berubah lagi.

Di hadapanku ada dua pilihan,Tetap diam,atau mengatakan semuanya,Tentang bayi yang kini tumbuh di dalam rahimku,Tentang detak jantung kecil yang baru saja kudengar,Aku menarik napas panjang.

esok hari aku kembali kerumah sakit, untuk menanyakan kondisi perutku yang semalam tidak baik baik saja,Aku berjalan perlahan menyusuri koridor rumah sakit sambil memegang hasil USG di dada,Pikiranku masih dipenuhi bayangan tentang bayi kecil itu.langkahku tiba-tiba terhenti,Di ujung koridor berdiri seseorang yang sangat kukenal.

Mas Dharma,Aku membeku di tempat,Begitu pula dirinya,kami sama-sama tidak percaya dengan apa yang sedang kami lihat.

Waktu terasa berhenti,Berbulan-bulan tidak bertemu,Berbulan-bulan hanya menjadi kenangan,dan kini kami berdiri di tempat yang sama,Saling memandang dalam diam.

"Tika.."

Suara Dharma terdengar pelan,Aku menunduk gugup,Entah mengapa, seluruh keberanian yang selama ini kukumpulkan mendadak hilang.

"Apa kabar?" tanyanya.

Aku mengangguk kecil.

"Baik."

Namun pandangan Dharma perlahan turun ke arah tanganku,Ke arah map pemeriksaan yang sedang kugenggam.

Lalu ke arah perutku,Meski belum terlalu terlihat, perubahan itu mulai tampak,Keningnya berkerut.

Seolah sedang berusaha memahami sesuatu,Aku menggigit bibir,Jantungku berdetak semakin cepat,Dharma melangkah mendekat.

Matanya tak pernah lepas dariku.

"Kamu..."

Kalimatnya menggantung,Aku tahu ia mulai menyadarinya,Aku tahu cepat atau lambat ia akan bertanya,Dan aku tidak lagi memiliki alasan untuk bersembunyi,Dengan tangan gemetar, aku menyerahkan hasil USG yang sedari tadi kugenggam.

Dharma menerimanya perlahan,Matanya membaca lembar demi lembar,Lalu berhenti pada Lalu berhenti pada satu tulisan.

Usia Kehamilan: 12 Minggu.

Aku melihat wajah Dharma berubah dalam hitungan detik,Awalnya bingung,Kemudian terkejut,lalu membeku,Matanya berpindah dari lembar pemeriksaan itu ke arahku.

Lalu kembali lagi ke tulisan yang baru saja dibacanya,Seolah ia sedang memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat.

"mas dharma mengembuskan napas panjang.

Dharma menutup wajahnya dengan kedua tangan,Kemudian tertawa pelan,Bukan karena lucu,Melainkan karena terlalu terkejut.

"Aku jadi ayah?"Pertanyaan itu terdengar seperti seorang anak kecil yang baru mendapatkan hadiah terbesar dalam hidupnya.

Aku hanya mengangguk,Dharma tertawa lagi sambil mengusap sudut matanya,Untuk pertama kalinya sejak mengetahui kehamilan ini, aku merasa tidak sendirian.

Dharma mengusap foto USG itu dengan sangat hati-hati,seolah benda itu adalah sesuatu yang sangat berharga.lalu mas dharma memeluk ku erat.

"Aku minta maaf.Dharma tersenyum pahit,Karena aku tidak ada saat kamu melewati semua ini."

Kami akhirnya duduk di taman rumah sakit.Angin bertiup lembut, setelah sekian lama, tidak ada pertengkaran,Tidak ada kesalahpahaman,Tidak ada luka masa lalu, kami berdamai, kamu melupakan semuanya.

Dharma tiba tiba tersenyum,ia kembali mengusap perutku perlahan.

"Papa tunggu kamu lahir."

Apa pun yang terjadi di masa depan.

Anak ini tidak akan pernah kekurangan cinta.🙂Amin.

_________________________________________________

Sejak pertemuan di rumah sakit itu, hidupku terasa berubah,aku tidak lagi memikul semuanya sendirian,Lantas apa yang akan terjadi setelah ini?Apakah semuanya akan menjadi rumit lagi?Apakah keluarga Dharma akan menerima kenyataan ini?Apakah kehadiran anak ini justru akan membuka luka lama yang selama ini berusaha kami tutup?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggangguku.kenapa sperti momok yang terus terpatri di otakku, dan akhirnya aku tertidur menjelang subuh.

esok harinya aku terbangun karena suara bel rumah berbunyi,Awalnya aku mengira hanya kurir atau tetangga,Jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi,Tubuhku masih terasa lemas karena mual yang belum sepenuhnya hilang,Begitu pintu kubuka,aku terdiam.

mas Dharma berdiri di sana,Mengenakan kemeja biru muda yang sederhana,Di tangannya ada beberapa kantong belanja,Dan di wajahnya terdapat senyum canggung, ia takut kalau kedatangan nya tidak diterima.

"M-Mas?"

Dharma menggaruk tengkuknya.

"Maaf."Aku masih belum memahami situasinya,"Aku datang tanpa bilang dulu."

Dharma mengangkat kantong yang dibawanya.

"Aku beli buah,"Ada susu ibu hamil,Ada vitamin juga."pokoknya semua nya lengkap,"

Aku menatapnya beberapa detik,Kemudian tanpa sadar tertawa,Dharma ikut tertawa.

"Boleh masuk?"Aku mengangguk pelan.

Dharma masuk ke rumah yang dulu begitu akrab baginya,Rumah yang pernah berkali-kali ia datangi,Namun kini terasa berbeda,Ia meletakkan semua barang di atas meja makan,Kemudian mulai mengeluarkan satu per satu isinya.

Buah apel,Jeruk,Pir,Kurma,Biskuit,Susu khusus ibu hamil,Bahkan ada buku tentang kehamilan.

Aku sampai terdiam melihatnya.

"Mas serius beli sebanyak ini?"

Dharma tersenyum."Iya."

suasana terasa begitu ringan,Beberapa saat kemudian kami duduk di ruang tamu.

Aku membuatkan teh hangat,ia terlihat baca buku seperti mahasiswa yang sedang belajar untuk ujian.

"Kamu tahu nggak?"nih liat,Kamu harus makan lebih teratur."Nggak boleh telat,jangan terlalu capek,"Jangan stres."!

Aku mengangkat alis.

"Mas ini ayahnya atau dokternya?"balasku menatapnya.

Dharma langsung tertawa,tak lama aku berdiri untuk mengambil air minum,namun tiba-tiba kepalaku terasa sedikit pusing,tubuhku limbung,Belum sempat aku menyeimbangkan diri, Dharma sudah berdiri lebih dulu.

"Aku nggak apa-apa mas "Hanya sedikit pusing."

Dharma terlihat panik,Sampai aku sendiri hampir tertawa melihat reaksinya.

_________________________________________________

Suatu sore, saat usia kehamilanku memasuki bulan keempat, aku kembali melakukan kontrol rutin,Kali ini, tanpa perlu diminta, mas Dharma sudah menunggu di depan rumah sejak pagi,saat membuka pintu, aku langsung terkejut.

"Mas?"

Dharma tersenyum.

"Ayo."

"Ayo ke mana?"

"Kontrol."

Aku mengerutkan dahi.

"Mas tahu jadwalnya?"

Dharma terlihat salah tingkah,Dharma tertawa kecil,ia memang berubah menjadi pria yang selalu khawatir untuk segala hal.

"Sudah masuk bulan keempat,,Alhamdulillah.

Aku mengusap dada lega,Dokter mulai menggerakkan alat USG di atas perutku.

Layar hitam putih itu kembali menampilkan sosok kecil yang kini terlihat jauh lebih jelas,Aku menahan napas

"Nah, ini kepala bayinya."

Dharma langsung mendekat.

"Wah..."

Dokter tersenyum."Ini tangan,"Ini kaki,setiap kali dokter menjelaskan sesuatu, respons Dharma hanya satu.

"Wah."😄

Saat pemeriksaan selesai,kami pun dalam perjalanan pulang, Dharma tiba-tiba menghentikan mobil di depan sebuah toko perlengkapan bayi.

Aku menatapnya bingung.

"Mas ngapain?"

Dharma terlihat sangat serius memperhatikan berbagai perlengkapan bayi,Mulai dari baju,Botol susu,Selimut,Mainan,Sampai kereta bayi.

"Lima bulan itu cepat."ujar dharma serius.

Aku sampai tidak tahu harus menjawab apa.

malam itu,Udara terasa dingin,Rumah begitu sunyi,Aku duduk di ruang tamu sambil memegang perut yang kini mulai membesar.

Pelan,Namun nyata,"Ya Allah..."

Tanganku gemetar menyentuh perutku.

"Ini kamu?"Aku tersenyum haru,Aku merasakan anakku bergerak,Perasaan itu sulit dijelaskan.

Seolah ada seseorang yang sedang menyapaku dari dalam sana.

_________________________________________________

Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat,Kehamilanku memasuki bulan kelima,Perutku semakin terlihat.

dokter menjadwalkan pemeriksaan kembali,Sejak itu kami gelisah, dan Dokter menyatakan"Bayinya perempuan."

mendengar kalimat itu membuat dadaku terasa Penuh rasa syukur,Dharma menunduk sambil tersenyum sendiri,ada cinta baru yang tumbuh di hatinya,Cinta seorang ayah kepada putrinya.

Bulan berganti,Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari,aku terbangun karena rasa nyeri yang tidak biasa,Awalnya aku mengira hanya kontraksi palsu seperti beberapa hari sebelumnya,Namun kali ini berbeda,Jauh lebih kuat,aku mencoba duduk perlahan di atas tempat tidur,rasa sakit itu kembali datang.

"Ya Allah..aku menarik napas panjang,Kemudian mengambil ponsel,tanganku sedikit gemetar saat menghubungi Dharma.

Telepon bahkan belum berdering dua kali ketika langsung diangkat.

"Mas..."aku...

Beberapa detik hening.

Kemudian suara kursi bergeser terdengar dari sana.

"Aku berangkat sekarang."!!

"Mas..."

sambungan langsung terputus,kurang dari dua puluh menit kemudian,akhirnya suara mobil berhenti di depan rumah..

setibanya di rumah sakit,dokter tersenyum.

"Sudah mulai pembukaan."

Jantungku langsung berdetak lebih cepat,ini benar-benar terjadi.

"Aku takut."

Dharma menggeleng pelan.

"Aku di sini."tatap mas dharma.

Dokter dan perawat mulai mempersiapkan semuanya,Sementara aku mencoba mengatur napas,Dharma masih menggenggam tanganku,Dokter mulai memberi instruksi.

Aku Menahan rasa sakit,Mengumpulkan tenagaku,Lalu akhirnya...tangisan itu terdengar,Nyaring,Kecil,tangisan pertama putri kami,dalam sekejap, semua rasa sakit yang kualami seolah terbayar lunas,"Selamat."Suara dokter terdengar di antara isak tangisku.

"Putrinya lahir sehat."🙂

'seorang perawat membawa bayi kecil itu ke hadapanku,Aku langsung menahan napas,Wajahnya masih merah,Matanya masih terpejam,tubuhnya sangat kecil,sangat sempurna.

tidak sampai beberapa jam, keluarga besar mas dharma datang,suasana yang dulu sempat dipenuhi jarak dan kesalahpahaman perlahan mencair.

melihat bayi kecil itu, semua orang seolah melupakan konflik yang pernah ada,Mereka hanya melihat seorang anak,bayi yang tidak membawa kesalahan apa pun,bayi yang hadir membawa kebahagiaan.

Mbak Asti berdiri cukup lama di dekat tempat tidurku,matanya terus menatap putri kecil kami,Kemudian perlahan ia menggendongnya,Tangannya sedikit gemetar,Namun senyumnya begitu hangat.

"Cantik sekali."

Aku menunduk,Tidak tahu harus berkata apa,Namun beberapa detik kemudian, beliau menatapku,lalu tersenyum,Bayi kecil itu berpindah dari satu pelukan ke pelukan lain,Menjadi pusat perhatian semua orang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!