NovelToon NovelToon
The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Tamat
Popularitas:787.7k
Nilai: 5
Nama Author: Alana Kanaya

Kerelyn howard seorang artis papan atas yang sedang naik daun, dimana kisah percintaannya dengan Daniel Winchester selalu menarik perhatian publik. Sampai akhirnya masa lalu yang hampir membuatnya kehilangan nyawa kembali hadir dan mengancam nyawanya.

Di sisi lain kepolisian New York tengah dihadapkan dengan kasus pembunuhan berantai yang terlalu sulit untuk dipecahkan. Tidak pernah ada bukti ataupun jejak apapun, selain si pelaku selalu menaruh bunga tulip putih dnegan bercak merah di atas korbannya. Jenis bunga yang sama yang selalu Kerelyn terima darisalah satu penggemar rahasianya.

Akankah Kerelyn selamat dari ancaman masa lalunya? Ada hubungan apakah antara Kerelyn dengan sang pemilik tulip berdarah? Dan bisakan Daniel menyelamatkan kekasuhnya dari semua itu?

-THE SECRET ADMIRER-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

“Seharusnya tadi aku langsung keluar dari sini... seharusnya tadi aku tidak cereboh mengikuti para penjahat itu... seharusnya aku...”

Gerard langsung memeluk tubuh Raina yang berguncang hebat, “Stt... ini bukan salahmu.” Dia berusaha menenangkan gadis itu.

“Tapi...”

“Dengarkan aku... ini bukan salahmu ok? Kau tak tahu apa yang sedang terjadi saat ini dan sekarang bukan saatnya mencari siapa yang salah... kita harus tetap tenang dan mencari jalan keluar, apa kau paham?” ucap Gerard sambil menatap langsung mata hitam Raina yang perlahan mulai bisa mengendalikan emosinya kembali, dia mengangguk sebagai jawaban.

“Good Girl,” ucap Gerard sambil mengecup bibir Raina lalu tersenyum karena melihat gadis itu kini memerah, “Ingat, kau yang pertama menciumku tadi.” Raina membelalakan matanya, pipinya semakin memerah dan tersenyum malu.

“Bagus, sekarang kau sudah bisa tersenyum kembali,” bisik Gerard sambil menatapnya lembut.

“Boleh aku meminjam klip dasimu lagi?” tanya Raina setelah ia kembali bisa berpikir jernih, ini bukan saatnya untuk panik, ia harus tenang dan mencari cara untuk menyelamatkan sepupunya. Gerard merogoh saku jasnya lalu menyerahkan klip dasi yang sudah bengkok, raina mengambilnya lalu berjalan lalu mengunci pintu ruangan itu.

“Setidaknya ini akan menghambat mereka untuk menangkap kita.” Gerard mengangguk setuju, “Apa yang kita lakukan sekarang?” lanjutnya sambil menatap Gerard yang sedang berpikir.

“Kita harus keluar dari sini, Daniel sedang menunggu kita di bawah.”

Mereka saling menatap dengan mata berbinar ketika mendengar iring-iringan suara sirine mobil polisi yang semakin mendekat, “Polisi sudah datang!” Raina berlari ke arah jendela dan dalam kegelapan malam ia bisa melihat kerlap-kerlip lampu mobil polisi yang beriringan mulai parkir di depan kediaman Simon Javier.

“Apa menurutmu ini bisa sampai bawah?” Tanya Gerard sambil memegang gordin yang menutupi pintu kaca ruangan itu.

“Kau benar!” Seru Raina dengan mata berbinar, “Bantu aku membukanya!”

Gerard langsung menarik kain itu dengan sekuat tenaga, sekali-dua kali percobaannya gagal dan akhirnya mereka menariknya bersama hingga terlepas dan menimbulkan suara cukup kencang ketika besi penyanggah gordin itu ikut terlepas, mereka terdiam mematung saling pandang beberapa saat dalam hati berdoa kalau para penjahat itu tak mendengarnya.

“Ayo cepat!” Seru Gerard sambil membuka pintu kaca yang menuju balkon, ia menatap ke bawah di dalam bayangan pohon ia bisa melihat Daniel tengah bersembunyi, Gerard memberikan kode suara yang membuat kakak si kembar itu keluar dari persembunyiannya.

“Gerard, masukkan kain itu ke dalam celah pagar!” Perintah Raina yang berjalan di belang Gerard sambil mengangkat besi penyanggah gordin.

“Kenapa kau tak melepaskannya?” Bisik Gerard tak percaya apa yang dilakukan gadis itu.

“Percayalah padaku, cepat masukan kain itu sekarang! Aku yakin salah satu dari mereka akan memeriksa semua ruangan.”

“Sial!” umpat Gerard sambil menatap ke arah pintu, lalu mengikuti perintah Raina ia menjadikan kain gordin itu menjadi satu lalu memasukkannya ke dalam salah satu celah pagar, “Kainnya tidak sampai bawah!” lanjutnya sambil menatap ke bawah dan dia bisa melihat kain gordin itu menggantung di tengah-tengah tembok.

Raina ikut menjulurkan kepalanya dan melihat seberapa jauh jaraknya dari tanah, “Tidak masalah, kita bisa melompat,” ujar Raina dengan penuh keyakinan yang membuat Gerard terdiam beberapa saat.

“Ya... tentu saja... melompat,” bisik Gerard yang membuat Raina yang sedang melepas sepatu hak tingginya menatapnya sambil menaikan alis.

“Jangan katakan kau takut.”

“Ti-tidak... aku tidak takut,” jawab Gerard sambil tergagap yang membuat Raina terdiam beberapa saat lalu melemparkan sepatunya ke bawah dimana Daniel tengah menunggu mereka.

“Bagus!” ucap Raina, dia berjongkok untuk membetulkan posisi besi yang dijadikan pengait sehingga mereka tak perlu mengikat kain gordin itu, “Aku akan turun terlebih dahulu,” lanjut Rainan sambil mengatur napasnya, menghilangkan segala ketakutan di dalam dirinya. Gerard mengangguk memberikan dukungan yang membuat gadis itu tersenyum lalu ia menyobek belahan gaunnya hingga setengah paha agar lebih leluasa, dan bersiap-siap hendak melangkah melewati pagar ketika Gerard memegang bahunya.

“Tunggu!” serunya sambil kembali menarik bahu Raina, lalu tanpa peringatan ia mencium gadis itu yang kini terbelalak kaget, “Hati-hati,” ucapnya setelah melepaskan ciumannya. Raina yang belum sembuh dari ketekejutannya hanya bisa mengangguk sambil tersenyum.

“Sial, Gerard kau membuatku hilang konsentrasi,” ujar Raina menggunkan bahasa Indonesia sambil melangkahkan kaki melewati pagar, tangannya memegang kain gordin yang telah menjuntai ke bawah.

“Tidak usah khawatir aku akan mengawasi semuanya,” ucap Gerard sambil melihat sekeliling, dan sepertinya ia kembali salah mengartikan kata sial menjadi see all lagi, tapi kali ini Raina tak mau susah-susah menjelaskan hal itu, ia mulai melilitkan gordin itu ke kaki kanannya dan dengan perlahan mulai turun.

Dadanya berdetak hebat, tangannya mencengkram kain itu dengan sangat kuat, untung saja hobi panjat tebingnya selama ini sedikit banyak membuatnya menguasi hal-hal seperti ini, mungkin kalau kondisinya saat ini tidak dalam kondisi berbahaya ia bisa santai menuruni balkon rumah ini tanpa ada perasaan takut seseorang akan melihat lalu menembaknya. Raina kini telah sampai di ujung gordin lalu menatap ke bawah dimana Daniel telah menunggunya sambil merentangkan tangan untuk menangkapnya, dia terayan-ayun kurang lebih 3 meter di atas tanah, ia menatap ke atas dimana Gerard tengah mengawasinya dan terlihat cemas sambil menatap ke arah belakang.

Raina memejamkan matanya kuat-kuat, mengambil napas panjang, kakinya mulai melepaskan lilitannya, ia kembali menatap Daniel lalu mengangguk untuk memberi tanda kalau ia akan melompat, dengan keberanian yang tiba-tiba muncul ia melompat ke arah pelukan Daniel yang sigap menangkapnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Daniel dengan wajah cemas dan dijawab anggukan oleh sepupunya itu, mereka menatap ke atas dan melihat Gerard mulai merayap turun, dan akhirnya dia melompat dan mendarat dengan berguling di atas tanah dan alhasil menghasilkan bunyi gedebug yang lumayan keras. Daniel dan Raina membantunya berdiri kemudian berlari menuju balik pohon berharap bayangan gelapnya malam pohon itu bisa menyembunyikan mereka bertiga.

Mereka bisa mendengar seseorang memaki karena mengetahui ada sandera yang lolos, tak lama kemudian mereka mendengar pengeras suara dari kepolisian New York yang sedang meminta para penjahat itu untuk menyerahkan diri karena sudah terkepung. Daniel menyerahkan high heel milik Raina tapi gadis itu hanya menentengnya, “Aku sering melihat di film-film kalau ini hanya menghambat saja,” ucapnya sambil mengangkat high heel bertali merah itu dengan meringis.

“Aku rasa sekarang mereka tak akan berani mengejar kita mengingat polisi sudah mengepung tempat ini,” ucap Daniel sambil menatap ke balik pohon memeriksa keadaan sekitar.

Rumah ini memiliki halaman luas yang di kelilingi pagar tembok tinggi dia bisa melihat pendaran cahaya merah dari mobil polisi di balik tembok itu, beberapa pohon besar seperti red cedar sengaja di tanam untuk membuat teduh lingkungan, rumput hijau menutupi sebagian halaman itu, beberapa tanaman yang di tanam dan di atur oleh para ahli membuat halaman itu terlihat asri pada siang hari.

“Dasar baj*ngan kaya,” bisiknya ketika melihat helipad di sebelah bangunan yang terpisah dari bangunan utama lengkap dengan sebuah heli yang terparkir di sana, dia mengerutkan alis matanya ketika mengingat sesuatu tentang bangunan yang memiliki ukuran lebih kecil itu, melihat bentuknya Daniel menebak kalau itu adalah garasi yang Kerelyn sebutkan waktu itu. Dan tebakannya benar ketika pintu itu terbuka, seketika ia terbelalak melihat pemandangan di hadapannya, Gerard dan Raina yang penasaran dengan perubahan ekspresi Daniel ikut mengalihkan pandangan mereka ke arah pandang pria berambut hitam itu, dan seketika wajah mereka pucat pasi.

Mereka melihat Alex keluar dari ruangan itu dengan todongan senjata di punggungya, pakaiannya terlihat berantakan, bercak darah dan debu mengotori kemeja putihnya, rambutnya berantakan, mereka bahkan bisa melihat darah yang mengalir di kepala dan juga ujung bibirnya.

“Ya Tuhan!” Raina menutup mulutnya menggunakan telapak tangan, Daniel dan Gerard memaki dalam diam, amarah mereka kini tak terkendali melihat sahabat baik mereka seperti itu, perlahan mereka merunduk maju dalam kegelapan mendekati kerumunan para penjahat dimana Alex menjadi sandera.

Kini mereka sudah berada di samping garasi bersembunyi di balik dinding, Daniel berada paling depan, Raina di tengah dan Gerard paling belakang. Daniel mengintip untuk melihat situasi, tubuhnya gemetar karena amarah, ia mengepalkan tangannya kencang-kencang untuk menahan emosinya ketika melihat salah seorang dari mereka kembali memukul perut Alex hingga ia memuntahkan darah. Alex melap darah itu menggunakan punggung tangannya dengan santai, lalu menatap pria yang memukulnya dengan tatapan tajam, bibirnya tersenyum miring mengejek, membuat pria itu kembali mengangkat tinjunya tapi terhenti ketika Simon Javier keluar dari ruangan itu.

“Cukup!” serunya sambil mendekati anak buahnya, stelan putihnya tampak tak ternoda berbanding terbalik dengan Alex yang terlihat berantakan. Simon mendekati Alex dengan santai, ia memasukan tangannya ke dalam saku celana, matanya menatap mata tajam berwarna biru itu yang kini menatapnya dengan sorot penuh amarah.

“Kau pikir kau bisa mengelabuiku?” Tanyanya sambil tersenyum mengejek, “Kau harus berpikir ulang untuk melakukan itu... anak buahku sudah membereskan semua rekan polisimu yang memasuki pesta ini tanpa undangan.”

“Baj*ngan, aku akan membunuhmu! Ingat itu aku akan membunuhmu!” Teriak Alex yang langsung dapat pukulan dari bandar narkoba itu. Simon melap tangannya yang ia gunakan untuk memukul Alex tadi menggunakan sapu tangan yang ada di saku jasnya.

“Sekarang bukan saatnya kau berlaku sombong... mereka tak akan berani menerobos ke sini,” ucap Simon santai sambil menatap cahaya lampu sirine mobil polisi, “Kau tahu kenapa?” tanya Simon, “Karena semua orang-orang penting bodoh yang ada di dalam rumahku itu kini menjadi sanderaku,” lanjut Simon dengan sombong, “Aku akan membunuh mereka satu persatu, kalau mereka tak mau mengabulkan permintaanku.... termasuk kekasihmu yang cantik.”

“BAJ*NGAN!!” Alex berhasil menerjang Simon, lalu memukulinya tanpa ampun, tapi anak buah Simon yang terlihat kaget karena serangan tiba-tiba detektif NYPD itu langsung menariknya, Alex memaki, ia berontak berusaha melawan tapi ia kalah jumlah hingga akhirnya ia kembali roboh dan menjadi bulan-bulan mereka.

“Cukup!” seru Simon setelah ia berdiri dan membersihkan stelannya, “Bawa dia ke dalam, dan bawa kekasihnya ke sini lalu bunuh, biarkan dia melihat ketika kekasihnya meregang nyawa.”

*****

1
cimski
kaaak aku belum baca cerita alex alexa katanha ada yah? belum baca tapi katanya udah dihapus
lala
kereeeen bangetttt
Bundanya Anaia
kykny si Eddy..soalny si villain selalu bilang kl dia yg selama ini ngejagain kerelyn...yg ngurus artis ya pasti manajerny..ditambah ngga boleh buang bungany...trus ketemu diparkiran..sotoy mode in y
yuliati sumantri
Luar biasa
MoonChild7
Cerita lain yg luar biasa 🥰
Sofi Saja
kak, lanjutan cerita alex san alexa nya dimana ?
YaRouhii
Thor cerita si double A kemana?? Kok gak ada 😭😭
ida: iya menghilang asli kangen sama cerita double A ...
total 1 replies
YaRouhii
Thor kok yg 3 dihapus thor??? Aku baru baca sampe ep 35.. sedih banget di hapus padahal itu bagus banget ceritanya..
Evi Nopianti
seru banget ceritanya Thor /Kiss//Kiss//Kiss/
Lenni Namora
ed
Lenni Namora
Luar biasa
Renesme
Bagus n seru 👍👍👍
Renesme
Xixixiii seru
Murni Aneka
makin tegang bacanya kenapa ngak minta bantuan wrga sekitar itu sih walaupun jauh rumahnya
Murni Aneka
tuh kan benar dugaan ku kalau si psikopat itu melindungi kerelyn karna dia merasa mirip ibunya
Murni Aneka
bisa jadi matt dan si robert itu
Murni Aneka
matt pasti orgnya
Murni Aneka
mungkin sepertinya kerelyn mirip ibunya yg juga berambut merah jdi dia melindungi kerelyn yg dianggapnya seperti ibu nya?
Murni Aneka
mungkin psikopat ini anak yg di part pertama yg melihat ibunya di bunuh didepan dia, makanya dia jdi psikopat begitu
Murni Aneka
lh kenapa bisa papa nya kerelyn? apa papa ny jahat ya?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!