Namanya Charlotte, seorang Putri dari keluarga Rosewell, pewaris istana Highgarden, dan anak dari ramalan kuno "bilamana ratu melahirkan tuan putri yang buta, dunia akan diambang keruntuhan dan kegelapan akan kembali".
Di era ke 3 pada Tahun 1211, terjadi sesuatu yang tak terduga, perang sipil meletus di kekaisaran dan Putri Charlotte mendapatkan pengelihatannya atas bayaran keruntuhan keluarga Rosewell. "Semua ada harganya" kata-kata terakhir dari sosok misterius yang memberikan penglihatan kepada Putri Charlotte.
Hidup dalam pengasingan, Charlotte berusaha mencari dalang di balik keruntuhan keluarganya tersebut serta siapa sosok misterius yang memberikannya penglihatan itu. Sementara jauh di timur Kekaisaran, kegelapan perlahan-lahan muncul.
*****
Jangan bom like!!! :(
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ripley, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8.1
Estella melangkah mundur seiring Tur'gor berjalan mendekat. Semakin dekat sang faun, semakin dekat tangan Estella memegang belati perak, siap kalau-kalau terjadi sesuatu.
"Kukira kau ingin bertanya, bukan ingin melakukan pertarungan kan?"
"Benar," ucap Tur'gor ramah, langkahnya mendekat. "Kau mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui?"
"Tidak, tidak sama sekali,"
"Lalu siapa kah kau sebenarnya? Bagaimana kau mendapatkan Buku Kematian dari kami?"
"Um, aku adalah Estella, orang-orang memanggilku penyihir." Estella terus bergerak mundur, tangannya sudah siap menghunuskan belati perak. "Itu saja," ucapnya lagi tapi tetap tak membuat Tur'gor berhenti mendekatinya. "Dan mengenai Buku Kematian."
Kata-kata si Jahe agak bergetar, namun kali ini langkah kaki Tur'gor berhenti. Matanya menerawang Estella, mengerling si jahe dari ujung kaki hingga ujung rambut. Wajah Estella terlihat sedikit lega.
"Aku tak ingin memberitahukan padamu," ucap Estella.
"Well, dilihat-lihat matamu yang tak menunjukkan keraguan sedikit pun, dan kuda-kudamu itu, aku yakin kau akan melawanku jika aku terus memaksamu untuk menceritakannya." Tur'gor menyorongkan tongkatnya, mengarahkan ujungnya kepada Estella. "Apalagi jika aku berusaha mengambil paksa Buku Kematian darimu, belati itu sudah akan menyerangku kapan saja."
"Kau cepat tangkap, dan ya aku akan melakukannya jika terdesak. Ku yakin kali ini aku yang akan menang karena kondisimu sekarang saja tak mampu berdiri dengan benar," ucap Estella, suaranya terasa kecut seperti biasanya.
Mereka saling pandang, saling mengerling satu-sama lain. Gerakan kecil lawan bicara akan membuat reaksi awas. Diiringi dengan keheningan yang menyelimuti di antara mereka, tampaknya pertarungan akan pecah kalau situasi terus dibiarkan begini. Tapi untungnya tidak terjadi.
Dari arah mulut lorong, terdengar dentang suara pedang yang saling beradu, yang kemudian suara itu diikuti dengan debam suara tubuh seseorang membentur tanah. Langkah kaki mendekat kemari dari arah sana. Estella berpaling.
"Tolong jangan memberontak, sudah cukup wanita ini yang menyerangku." Suara itu muncul dari sana, sangat dekat terdengar dan kemudian sosoknya muncul dari bayang-bayang bersama sosok lain.
"Musuh atau teman?" Estella bersiap menghunuskan belati perak, tapi lelaki yang tengah mencengkeram Leclerc itu menatap serius.
"Teman bisa dibilang," ucapnya ramah sembari melepaskan cengkeramannya yang mengunci pergerakan Leclerc. Si mata belang kembali berada di sisi Estella. "Tolong jangan melawan."
"Buktikan kalau kau memang teman, aku tak mempercayaimu!"
"Bosku yang membayarkan semua biaya penginapan dan juga pengobatanmu, apa itu saja kurang?" lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari balik jaket kulitnya. Secarik kertas.
"Aku masih tak percaya padamu."
"Kalau begitu ikutlah aku, bertemu orang yang membayarkan semua biaya penginapan dan pengobatanmu itu," ucap Lelaki itu lagi, dia berputar di tempat dan kemudian melangkah pergi, kembali ke tempat dia semula muncul.
Estella masih menatap tak percaya, pandangannya berganti, pertama Leclerc kemudian ke belakang, ke arah sang faun berdiri. Dan anehnya, sang faun itu sudah tak ada, hanya lorong gelap berbayang-bayang yang menanti. Terbelalak Estella mendapati hilangnya sang faun tanpa tanda-tanda, seperti sebuah bayangan.
"Dia bagaima—Dia, ke mana dia?"
"Jangan buang waktumu, ikuti aku segera." Lelaki itu berhenti sejenak untuk mengatakan kata-katanya, lalu kemudian mulai berjalan lagi. "Di sini berbahaya, dinding dan bayang-bayang memiliki pendengaran yang baik." Kata-kata selanjutnya terdengar agak samar oleh Estella.
"Menurutmu Leclerc?"
"Kita ikuti saja maunya, kalau ada sesuatu tinggal gunakan cara kuno." Leclerc bangkit dan langsung berjalan mengikuti lelaki itu menuju cahaya remang-remang dari mulut lorong.
*****
Lidah-lidah api merah bergerak menari-nari di kotak perapian di tengah aula kecil. Sebuah aula kecil seperti buatan para Viking di dunia kita, bedanya di sini diisi dengan beberapa elf dan Qualanari, juga beberapa perkumpulan manusia dan Breaton.
Estella melewati aula itu dengan mata awas melihat gerak-gerik kecil para penghuni aula. Dia berjalan cukup cepat mengikuti lelaki yang tadi, melewati perkumpulan orang-orang aneh itu dan kemudian menuju lorong belakang aula. Behenti seketika mereka tiba di depan pintu yang diukir di tengah atasnya, sebuah nama, 'Konrad'.
"Sebelum masuk, berikan semua benda tajam yang kalian bawa bersama. Pedang, belati, pisau atau apa pun yang bisa menggorok leher." Lelaki itu berhenti di depan pintu, mengulurkan tangan kepada Estella. Matanya tertuju kepada Leclerc yang berada di sebelah Estella. "Dan kau tak boleh masuk, hanya si merah yang boleh."
"Aku akan membeli minuman, kau tinggal berteriak memanggilku jika ada sesuatu terjadi di dalam sana," ucap Leclerc si mata belang.
"Ambil ini bersamamu." Estella melemparkan senjata tajam yang biasa ia bawa setiap saat, belati perak tersarung dan pisau kecil. Dia juga menarik lepas tudung jubah yang menutup separuh wajahnya itu, melepaskan jubah coklat lalu melemparkannya bersamaan juga dengan buku bersampul hijau itu kepada Leclerc. "Jangan sampai hilang," ucapnya sembari melirik ke arah lelaki yang berdiri di depan pintu. "Aku tak mempercayakan barangku kepada orang sepertimu."
Daun pintu menjeblak terbuka, ruangan kecil yang diterangi lampu lilin terlihat menyambut Estella masuk. Estella menemukan wajah yang familiar di dalam sana. Seorang pria yang dia temui lima tahun lalu di Riverrun, dan seorang pria yang memberikannya Buku Kematian beberapa waktu silam. Sang Kondektur duduk menyandar di kursi berlengan.
"Sang Kondektur, jadi itu kah dirimu? S.K, inisial yang kau gunakan untuk menuliskan surat padaku." Estella menutup pintu rapat-rapat. "Tak ku sangka kita akan berjumpa lagi di tempat seperti sel tahanan."
"Keadaan terpaksa jadinya harus membuat kita bertemu lagi di tempat gelap remang-remang."
"Terima kasih sambutanmu yang 'hangat', tapi aku yakin kau menginginkan sesuatu dariku? Jadi apa yang kau inginkan sekarang?"
"Kau sudah bertemu sang faun?"
"Baru saja tadi aku selesai bertemu dengannya, saling bercerita dan kemudian dipotong oleh orangmu." Estella berjalan mendekati dinding, mata merah rubinya terpantul dari bilah pedang berbentuk seperti sabit. Pedang itu terpajang di dinding beserta koleksi pedang lainnya.
"Dan?"
"Dan?" tanya Estella balik pada sang kondektur, menegaskan apa yang ingin sang kondektur tanyakan.
Sang kondektur berdeham, dia melipat tangan di atas meja. Wajahnya riang terlihat, penasaran dan bersemangat secara bersamaan. Estella memandang balik sang kondektur, memandang jijik Sang Kondektur.
"Mengenai siapa dirimu yang sebenarnya tentunya, aku kan sudah memberikan pertanyaan itu lewat surat padamu." Sang Kondektur berkata dengan penuh semangat.
"Pertanyaan aneh, kau juga tahu persis sebenarnya siapa diriku ini." Estella berjalan ke arah tropi yang berada di samping pedang berbentuk seperti sabit itu. Wajahnya terpantul dari sana, namun sangat kecil seperti bayangan cermin cekung. "Aku adalah Estella," ucap Estella.
"Bukan Char—"
"Estella, sudah kubilang aku adalah Estella," tukas Estella. Pandangannya terasa terpanggil ketika nama itu hampir disebutkan.
"Oh ayolah, jangan malu, kau juga sadar bukan bahwa dirimu itu tak biasa? Seorang terpilih bila aku bisa menyebutkannya, jadi—"
"Seorang terkutuk lebih tepatnya," ucap Estella cepat tak membiarkan Sang Kondektur menyelesaikan kalimatnya.
Harapan yang terpancar pada mata sang Kondektur itu seketika lenyap. Dirinya kembali menjadi pria yang Estella temui 5 tahun lalu. Lebih terlihat berwibawa lelaki itu sekarang.
"Dengar, aku bukan orang biasa, aku sudah mendapat cerita lengkapnya mengenai kesaktian dirimu ketika Riverrun diserang. kau sungguh luar biasa, di saat para kesatria dan faun itu hampir diambang kematian, kau melakukan sesuatu yang tak terduga."
"Iya kah? Yang ku ingat hanyalah aku terjatuh dan pingsan, lalu cerita pun berakhir dan aku kemudian berada di Rattay," cemooh Estella. Suaranya benar-benar terasa kecut.
"Cahaya emas terbang tinggi ke langit, meledak di ketinggian tertentu. (Meliuk-liuk) jatuh lah setelahnya bubuk keemasan yang memberikan ketenangan kepada jiwa. Dan kau tau apa yang terjadi ketika semua itu berlangsung?" tanya sang Kondektur, dia bangkit dari duduk, berjalan mengelilingi ruangan. Ia berhenti tepat di tengah ruangan. Bertepatan dengan itu, sebuah petir terdengar menggelegar, menyambar di langit sana.
Estella memandangnya lekat-lekat. Kelakuan pria itu mirip seperti anak kecil yang mendapatkan sebuah mainan baru. Meski wibawa pria itu, dan karismanya yang tinggi terpancar, tetap masih terkalahkan dengan gelagat kecilnya seperti anak-anak. Bersemangat, riang, penuh keceriaan, dan harapan terlukis di matanya. Mirip seperti Roebart.
"Berikutnya, para gargoyle tersilaui cahaya emasmu, mereka meliuk-liuk jauh seperti butiran kapas yang melayang jatuh dari langit-langit. Dan para makhluk darat yang berdiri di tepi desa, mereka kepanasan oleh sinarmu. Dan selanjutnya kau tau apa yang terjadi."
"Apa yang terjadi?" tanya Estella tak peduli. Dia memang tak tahu apa-apa mengenai hal itu, yang dia tahu hanyalah kehangatan dan tempat kosong hampa sepanjang mata memandang.
"Kabut mimpi buruk berhembus menutupi langit desa, tapi kabut itu terhalangi oleh cahaya emasmu yang melingkupi desa seperti kubah. Bisa dibilang siang di tengah malam, di dalam sihirmu semua terang benderang dan di luar sana gelap gulita."
"Jangan bercanda, itu tak mungkin."
"Ya, namun faktanya hal itu memang benar-benar terjadi."
Mata mereka saling bertemu, Estella dan Sang Kondektur saling bertukar tatap beberapa saat. Sang kondektur tersenyum lebar, selebar-lebar yang mulutnya bisa. Namun Estella melihatnya seperti senyuman jahat.
"Aku baru saja diceramahi oleh tuan berbulu itu, dan katanya tak ada yang namanya sihir. Bagaimana cara kerja magi tidak seperti itu."
"Bagaimana kalau memang ada sihir? Seperti misal membuat orang mati hidup kembali, mengembalikan penglihatan seseorang yang buta atau sebaliknya." Sang Kondektur melangkah mendekat. Lantai kayu berdecit seiring langkah berat pria itu. "Benarkan tuan putri?"
"Jadi ini alasanmu memberikan Buku Kematian padaku, untuk menjadi bawahanmu sekaligus seorang bahan eksperimenmu?"
"Berat kuakui, tapi bisa disimpulkan kasar seperti demikian. Kau kecewa?" nada suara Sang Kondektur berganti, lebih membuat agar terkesan peduli pada Estella.
Kesunyian mengikuti sejenak. Estella membanting tangannya ke tembok, memukul keras-keras sekeras yang dia bisa lakukan. Suara hantamannya terdengar memekakkan telinga.
"Berhentilah main-main, lihat kerusakan yang kau perbuat."
"Kerusakan yang kuperbuat? Bukankah harusnya kerusakan yang kau perbuat, wahai tuan putri?"
"Aku sudah membuang itu jauh-jauh, jangan biarkan aku membunuhmu!"
"Sudah kuduga." Sang kondektur berdeham, dia berjalan bolak-balik ke sisi kiri dan kanan ruangan. Terdengar decitan lantai kayu, kemudian diiringi lagi gelegar petir di luar sana. Pria itu berhenti lagi di tempat semua dia berpijak. "Kau cocok sekali jadi bawahanku, atau mungkin lebih baik menyebutnya rekan, lalu mari kita bersama-sama dengan kekuatanmu dan serikat Freja ini menghancurkan Kekaisaran."
"Aku bukan orang seperti perkiraanmu, bukan itu yang aku inginkan!"
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Aku—Aku—" Bola mata Estella berputar, dan ketika Estella hendak berkata sesuatu, Sang Kondektur menyelanya.
"Jangan malu-malu, kau ingin sekali bukan membuat Kekaisaran hancur, Faksi Namin terbakar di balik istana mereka-mereka itu, dan juga sekaligus kau ingin mengembalikan keluargamu? Setelah itu kembali lagi ke Highgarden di mana kau seharusnya berada."
Petir di luar sana terus terdengar saling sahut menyahut, semakin keras suaranya sekarang. Sebentar lagi bisa dikatakan akan hujan deras.
"Kau memang menyebalkan."
"Itu juga berlaku untukmu, sangat keras kepala, tidak memiliki hati, tidak pernah mendengarkan orang lain. Jangan buat uangku habis sia-sia untuk membayar perawatanmu dan penginapan mewah keluargamu itu jika kau tak mendengarkan kata-kataku."
"Aku akan mengembalikan segala yang sudah direnggut dariku, mengembalikan semua menjadi seperti semula. Aku akan menggunakan Buku Kematian untuk itu, untuk membuktikan kebenaran di Malam Bulan Merah, lalu menyembuhkan Ibu, memberi pelajaran kepada faksi Namin dan mengubah takdirku ini. Akan aku lakukan semua dengan caraku sendiri!" suara Estella semakin menaik. Dia berjalan meninggalkan ruangan, membanting daun pintu. "Aku –"
"Pembohong."
Kata itu membuat Estella terdiam membisu. Langkah kakinya terhenti tepat di jendela pintu. Roebart rupanya sedari tadi mendengarkan semua percakapan di dalam ruangan.
"Roebart?"
"Dasar pembohong!" teriak Roebart sekuat-kuat tenggorokannya mampu melepaskan suara. Dia berlari di tengah kerumunan berbagai ras itu. Pergi keluar di tengah badai petir menyambar.
Estella masih berdiam di tempat, syok berat akan apa yang terjadi. Dia tak mengerti bagaimana Roebart bisa ada tempat ini. Apa mungkin sebetulnya inilah yang diinginkan Sang Kondektur?
"Silahkan nikmati waktu bersama keluargamu," kata Sang Kondektur lembut.
"T-tidak! Romeo, kamu jangan kemari!"