Aqila tidak pernah menyangka hubunganya dengan Alden harus berakhir di tangan sahabatnya sendiri.
Gadis itu melihat dengan mata kepalanya sendiri Alden berhubungan dengan Viona sahabatnya di kamar hotel.
Tidak kuasa menahan sesak di dada, Aqila memilih pergi dari kehidupan Alden.
Namun, apa yang dilihat Aqila tidak sepenuhnya benar. Alden tidak sepenuhnya mengkhianati Aqila, tapi apa daya gadis itu telah pergi dengan membawa kesalahpahaman.
Akankah Alden dapat menyakinkan Aqila? Dan melurusku kesalahpaham yang terjadi?
Novel ini collab bareng SUSANTI 31
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Selamat Datang di Bali
Aqila menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Wanita itu sedang berdiri di tengah-tengah batu besar dengan pasir lembut yang dia pijak.
Tangan Aqila terkepal hebat, matanya terpejam hanya untuk menikmati dinginnya air pantai Suluban yang terdapat di Bali.
Beberapa jam yang lalu, Aqila telah sampai di Bali dan menyewa tempat tinggal berupa Villa di sekitar pantai Suluban.
Pantai ini menjadi tujuan awal Aqila saat meninggalkan Seoul, karena keindahan yang mungkin saja bisa menghilangkan rasa sakit yang ada di dalam hatinya.
"Aaaaaakkkkkkkkkkkkk!" teriak Aqila sekencang mungkin hingga suaranya sedikit mengema karena batu-batu sangat besar yang berada di sekitarnya.
Rasa lelah tidak Aqila hiraukan setelah perjalanan jauh dari korea ke Indonesia hanya karena rasa sakit dan sesak di dada.
"Aku membenci perpisahan, tapi aku tidak ingin egois!" Aqila kembali berteriak tanpa memperdulikan pengunjung lain yang mungkin memperhatikannya.
Dipikiran gadis itu hanya menenangkan diri agar tidak stres setelah berpisah dengan pria yang sangat dia cintai. Pria yang pernah menjadikannya seorang ratu dan merasa sangat beruntung hidup di dunia.
"Pada akhirnya sebuah pertemuan akan menjumpai perpisahan," lirih Aqila dengan air mata yang kembali menetes membasahi pipinya.
Gadis itu berjongkok dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa sakitnya berkali-kali lipat daripada luka pertama yang Alden berikan untuknya.
"Andai saja bunuh diri akan menjamin aku mati, maka sudah kulakukan saat ini," guman Aqila mengusap air matanya kasar.
Terlalu fokus pada ombak dan kesakitan hatinya, Aqila tidak sadar jika sejak tadi sedang diperhatikan oleh pria yang usianya cukup jauh dari Aqila. Mungkin usia mereka memiliki perbedaan 6 tahun.
Pria yang sejak tadi memperhatikan Aqila segera mendekat, tidak lupa mengeluarkan sapu tangan sebab tahu gadis yang akan dia hampiri sedang menangis.
Pria itu berdiri tepat di hadapan Aqila yang masih setia berjongkok, mengeluarkan sapu tangan dengan senyuman di wajahnya.
"Berisik!" imbuh pria bernama Varo tersebut.
Aqila yang mendengar seseorang menegurnya, segera mendongak dan terkejut melihat seorang pria yang tidak asing untuknya.
Dia mengerjapkan matanya perlahan, sedikit tidak percaya akan bertemu dengan Varo, kakak dari temannya dahulu.
"Kak Varo?" lirih Aqila tanpa mengambil sapu tangan yang diberikan pria itu. Aqila berdiri dan melangkah mundur sebab jarak mereka terlalu dekat.
"Ambilah dan hapus air matamu itu. Kau terlihat jelek dengan air mata," ucap Varo tanpa ingin menyahuti pertanyaan Aqila. Pria itu masih mengulurkan tangannya menunggu Aqila mengambil sapu tangan.
"Biaya rumah sakit sangat mahal, apa kau akan membayarnya jika tangan aku patah karena ini?" Vero melirik tangannya.
Aqila dengan sigap mengambil sapu tangan tersebut dan langsung menghapus air matanya yang mulai mengering.
"Terimakasih kak Varo," lirih Aqila mengenggam sapu tangan itu. "Aku akan mengembalikannya setelah dicuci."
"Tentu saja kau harus mengembalikan sapu tangan itu, tapi pertanyaannya. Apa kita akan bertemu lagi setelah pertemuan ini berakhir?" tanya Varo. Pria itu memasukkan salah satu tangannya pada celana panjang berbahan kain yang dia gunakan.
Aqila terdiam sambil sesekali melirik Varo yang tampak berbeda dari beberapa tahun yang lalu. Pria di hadapannya terlihat lebih tampan dan berkharisma, belum lagi jas warna hitam mengkilap ditubuh pria itu, membuat dia sangat tampan.
"Aqila Khaleesy?"
"Ah ya tentu saja kita akan bertemu lagi, kecuali kak Varo akan pulang ke ibu kota hari ini," sahut Aqila sedikit gugup.
Meski sudah kenal cukup lama, rasanya masih canggung karena sudah lama tidak bertemu. Sejak lulus sekolah, Aqila tidak pernah lagi bertemu dengan Varo karena kesibukan masing-masing.
Terlebih dia dan temannya Vira adik dari Varo kuliah di universitas berbeda.
"Aku bekerja di kota ini Qila, kita bisa bertemu kapan saja kalau kau butuh. Ah iya apa kau sedang liburan?"
Aqila mengangguk ragu. "Liburan sekalian tinggal untuk beberapa waktu yang tidak bisa di tentukan," jawab Aqila. Gadis itu tersenyum ramah dan berjalan meninggalkan Varo seorang diri.
Matahari hampir terbenam, dimana saat-saat terindah untuk menikmati senja.
...****************...