Mengisahkan seorang perempuan yang bernama Alea, dengan pekerjaan sebagai seorang tukang parkir. Alea, tomboy dan pemberani serta tukang rusuh, seperti layaknya lelaki. Tiba-tiba menyukai Aliando yang seorang kondektur Bus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shizi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Ali Alea bersatu (End)
Beberapa minggu kemudian. Ali dan Alea menjalani hubungan yang lebih baik lagi. Ali pun yang sudah memantapkan hati untuk menyatakan perasaan, pada gadis yang selama ini mengisi di ruang hatinya.
"Ma, apa Mama akan merestui hubungan aku dan Lea?" tanya Ali pada Mama Nilam.
"Tentu dong, Mama seneng kalau kamu akhirnya bisa bersatu dengan Alea." Jawab mama Nilam antusias pada Ali.
"Syukurlah kalau Mama mau memberi restu pada kita, tapi ... apa kira-kira nanti akan diterima sama Lea?" Ali bertanya dengan pikiran kalut, takut jika dirinya akan ditolak oleh Alea.
"Kamu kamu kam belum mencoba, kenapa yang belum terjadi harus menyerah terlebih dulu!" kata mama Nilam menasehati Ali yang sedang dilema. Akan pikirannya terhadap Alea, yang takut jika nantinya akan mendapat penolakan.
"Apa kamu sudah membuat janji untuk mengungkapkan akan perasaanmu?" ujar mama Nilam.
"Sudah Ma, sebentar lagi kita akan berjumpa. Aku memintanya menunggu karena nantinya akan aku jemput," ucap Ali pada Mama Nilam.
"Baiklah, semoga ada kabar baik. Lagian Mama yakin kok kalau Alea pasti menerima karena mama tahu, jika dia juga mempunyai perasaan suka sama kamu." Ada perasaan lega pada saat mama Nilam berkata seperti itu. Seakan menghilangkan akan kekuatan di hati Ali, tapi bagaimana bisa mama Nilam seyakin itu dengan ucapannya?
"Apa Mama yakin?" seakan Ali meragukan perkataan Mama Nilam, karena ia tahu bahwa kedua wanita tersebut tidak mengenal cukup lama, jadi wajar jika Ali mempunyai pikiran seperti itu.
"Mama dan Lea sama-sama wanita, jadi tahu jika di matanya tengah menyimpan rasa. Mungkin saja ada sesuatu yang kita gak tahu, makanya memilih diam dan cukup memendamnya." Ucapan mama Nilam membuat Ali terdiam.
"Semoga saja apa yang dikatakan oleh Mama, adalah benar." Ali membatin dengan perasaan tidak sabar. Untuk segera bertemu dengan Alea, dan mengungkapkan akan perasaannya.
"Yuk, kita sudah sampai." Ali tiba-tiba saja mengajak Alea turun, dan siapa yang tidak tahu dengan restoran mewah, dan di sinilah mereka berdua berada.
"Al, kita—."
"Jangan banyak bicara, lebih baik kita masuk." Alea yang belum sempat bertanya, tapi Ali sudah memotong pertanyaan Alea dengan cepat.
Di
..........
Menit kemudian, Ali sudah berada di rumah Alea.
Tidak sabar untuk segera mengajaknya pergi, dan ini kali pertama jantungnya berdegup lebih dari biasanya.
Entah apa yang terjadi pada jantungnya, sedangkan dulu saat bersama kekasihnya tidak merasakan getaran apapun. Berbeda dengan sekarang, antara gugup, senang bercampur aduk menjadi satu.
"Yuk, kita jalan!" Alea terpaksa mengeraskan suaranya, karena Ali sedari tadi hanya melongo.
"Eh iya, yuk." Dengan suara gugup dan hati yang bergetar akhirnya Ali membukakan pintu mobil untuk Alea.
Alea terlihat sangat anggun dengan dress yang sempat berikan tadi siang oleh Ali, dan tanpa disadari lelaki yang sekarang tengah menyetir. Mengambil kesempatan untuk memandangi wajah Alea, lewat pantulan kaca yang ada di atasnya.
"Memangnya kita akan ke mana, dan kenapa gue harus menjadi orang lain kek gini?" tanya Alea pada Ali.
"Nani juga kamu bakal tahu." Jawab Ali dengan senyumannya yang membuat Alea tak bisa melupakan sosok yang ia kagumi.
Alea tidak bertanya lagi dan memilih diam, karena hal itu sangatlah percuma.
"Apa Ali akan menyatakan cinta, sepertinya itu tidak mungkin." Alea berbicara dalam hati, akan ajakan Ali yang tak tau ke mana.
Di dalam, keduanya sudah disajikan oleh menu yang selama ini. Belum pernah dimakan oleh Lea, menu yang sangat lezat sehingga membuatnya tidak sabar untuk segera melahapnya. Namun, panggilan Ali membuat Alea harus sedikit sopan.
"Alea! Apakah mau mau menjadi istriku?" sebuah permintaan membuat Alea seketika tertegun.
"Al, jawab!" ulang Ali karena Alea masih saja diam.
"Gue harap lo gak demam Al, kasta kita berbeda dan tentunya kamu tahu kalau kita itu ...."
"Gue gak perduli! Lagian Mama sudah merestui kita, lantas lo nunggu apa lagi." Ali berujar dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Alea, jadilah teman hidupku. Aku pastikan jika nantinya lo akan bahagia," ucap Ali penuh permohonan.
Alea tidak menjawab, tapi dengan sebuah anggukan membuat Ali bersorak bahagia. "Apa itu tandanya elo mau, dan bersedia menjadi ibu dari anak-anakku kelak?"
"Aku tidak akan mengulangnya Al, jawabanku sudah lebih dari cukup."
Akhirnya, cinta yang sempat tertunda. Kini bisa dipersatukan oleh pertemuan yang tak pernah disangka.
Alea yang pernah memendam rasa, kini sudah bisa merasa lega karena rasa itu telah telah ia dapatkan.
....
Bersambung.