NovelToon NovelToon
Annanta

Annanta

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:325k
Nilai: 4.5
Nama Author: Aquilaliza

Setelah menerima 300 juta dari seorang wanita, saat itulah Anta tahu, dia bukan milik dirinya lagi. Untuk melakukan transplantasi ginjal, Anta membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Anta harus mengorbankan diri juga masa depannya agar bisa membiayai rumah sakit adiknya.

Dia harus menikahi sorang lelaki yang tidak pernah ia kenal sama sekali. Lelaki yang terkenal arogan dan begitu dingin pada wanita. Dia seorang CEO terkenal, Elvano Prasetya.

Gadis dengan nama Annanta Ayudia itu harus menjadi Ibu sambung dari anak sang CEO.

Bagaimana kehidupan Anta bersama Elvano?

Ayo, ikuti kisah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selembar Foto

"Anta," panggil Elvano sembari melambaikan tangannya di depan wajah Anta. Namun, gadis itu tak ada pergerakan. Dia sepertinya sudah sangat terlelap.

Elvano menarik sudut bibirnya membentuk senyum. Ia bergeser mendekati Anta. Matanya tak lepas dari wajah cantik itu.

"Nggak nyangka kamu udah cinta sama aku," ucap Elvano pelan. Tangannya mengusap lembut pipi Anta. Tatapannya lalu jatuh pada bibir Anta. Spontan ia mendekatkan wajahnya. Saat bibir mereka hampir bersentuhan, Elvano segera menjauhkan wajahnya. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali, mencoba mengenyahkan pikiran kotornya.

"Belum saatnya Elvano!" gumam Elvano pelan.

Laki-laki itu kemudian membaringkan tubuhnya. Seperti bisa, ia menarik Anta ke ranjang bagiannya dan memeluk gadis itu. Sebelum memejamkan matanya, Elvano mengecup lama puncak kepala Anta.

"Mimpi indah istriku."

Sejak malam awal dia melakukan hal tersebut, itu mejadi kebisaan dia sebelum tidur.

***

Semenjak bisa berjalan dengan benar dan lancar, Evan menjadi anak yang aktif. Dia lebih suka kesana kemari dibanding berdiam diri dengan mainannya. Anta jadi ekstra hati-hati menjaga putranya itu. Ia bahkan mengikuti Evan kemana pun anak itu pergi.

"Evan sayang, disana aja nak mainnya." Anta menahan tangan Evan yang terus memukul-mukul pintu ruangan kerja Elvano. Sepertinya ia ingat jika itu ruangan Elvano. Papanya itu sering membawanya ke ruangan tersebut.

"Paa... Paa...." Anak itu menunjuk ke arah pintu.

"Papa nggak ada di dalam, sayang. Papa masih di kantor."

"Paa... Paa...."

"Papa masih kerja ya, Nak. Bentar lagi Papa pulang. Evan bisa main sama Papa." Anta membawa Evan menjauh. Ia kembali ke ruang bermain. Ruangan itu dipenuhi dengan minan Evan yang berserakan. Anak itu melempar sembarang semua mainannya karena tidak suka bermain. Dia hanya ingin jalan-jalan menyusuri rumahnya.

Drrttt... Drrttt...

Getaran handphone yang Anta biarkan tergeletak di karpet membuat gadis itu mengalihkan pandangannya. Yang semula menatap Evan beralih menatap handphone.

"Kita angkat telpon dulu."

Anta bersama Evan yang berada dalam gendongan nya meraih handphone tersebut. Keningnya mengerut melihat nama "Mas El" tertera di layar handphonenya.

Mas El telpon? nggak biasanya.

Saat Anta hendak menjawab telpon tersebut, panggilan tersebut terputus. Tapi beberapa detik kemudian telpon dari Elvano kembali masuk.

"Hallo, Mas?"

"Kenapa lama sekali jawabnya?" tanya Elvano dingin.

"Ma-maaf, Mas."

"Kamu sud—maksud saya Elvano sudah makan?" Elvano langsung meralat ucapnnya.

"Sudah, Mas."

"Sudah mandi?"

"Belum, Mas."

"Sudah minum susu?"

"Sudah, Mas."

Ck. Kenapa singakat sekali jawabnya? Anta ini, bikin aku kesal saja.

"Paa...." Evan memegang handphone yang Anta tempelkan di telinganya.

"Iya, nak. Iya, ini Papa," ucap Anta. Gadis itu menjauhkan handphone dari telinganya dan membiarkan Evan memegangnya.

Anak itu menatap layar handphone yang sudah menggelap. "Paa...." celetuknya.

"Ini sama anak Papa, ya? Evan?"

"Taa... Taa... Paa...."

"Evan belum mandikan? Evan mandi, ya? biar pas Papa pulang Evan udah wangi."

"Maa... Maa...."

Iya Mama kamu juga wangi.

"Iya, Evan mandi sama Mama, ya?"

Evan tak menjawab lagi. Fokusnya hanya pada layar yang kini menampilkan wajahnya sendiri. Ia lalu tersenyum. Anta yang melihatnya jadi gemas sendiri. Dengan tak sabarnya ia mengecup pipi balita itu.

"Anta?"

"Iya, Mas."

"Kenapa Evan diam?"

"Evan lagi main, mas."

"Oohh. Kamu kalau udah mandiin Evan bersihin ruang kerja saya."

"Iya, Mas."

"Ya sudah. Saya tutup dulu."

"Iya, Mas."

Apa dia nggak ada kata-kata lain selain "iya mas, sudah mas, belum mas?" nggak bisa apa tanyain aku atau kasi semangat aku buat kerja? kesal sekali aku dengarnya.

"Mas?"

"Hmm."

"Kenapa belum dimatiin?"

"Kamu matikan dari situ."

"Tapi ak—"

Tuutt... Tuutt... Tuutt...

Elvano dengan sengaja mematikan telponnya. Membuat ucapan Anta terpotong.

Anta menarik nafasnya lalu mengulas senyum. Berusha untuk tidak perlu merasa sakit hati. Namun, sebarapa pun ia berusaha. Tetap saja terasa sakit.

***

Setelah Anta memandikannya, Evan yang super aktif itu tertidur. Dia mungkin kelelahan kesana kemari hampir seharian. Anta juga kelelahan, namun dia teringat pesan Elvano untuk membersihakan tempat kerjanya.

"Nak Anta mau kemana? kenapa nggak istirahat, Nak? mumpung tuan mudanya lagi tidur," ucap Bi Ijah.

"Anta mau bersihin ruang kerja Mas El dulu, Bi. Setelah itu baru Anta istirahat."

"Biar Bibi saja, Nak."

"Enggak, Bi. Biar Anta saja. Bibi udah capek ngurus rumah sendiri. Anta bantunya cuman dikit. Biar Anta saja yang bersihin ruang kerja Mas El."

"Ya sudah kalau Nak Anta maunya gitu. Bibi mau lanjut kerja yang lain dulu. Nak Anta kalau butuh apa-apa, panggil Bibi saja."

"Iya, Bi. Bibi juga kalau capek istirahat dulu. Jangan terlalu di paksain, Bi."

"Iya, Nak. Bibi pamit kerja lagi." Anta mengangguk.

Setelah Bi Ijah pergi, Anta bergerak menuju ruangan kerja Elvano. Dia sempat mengirim chat pada Elvano, menanykan kunci ruangan tersebut. Ternyata lelaki itu menyimpannya di laci paling bawah lemari kecil di depan ruangan tersebut, tepatnya di samping pintu.

Anta mendorong pelan pintu tersebut saat berhasil membukanya. Ia lalu masuk dan langsung mulai membersihkannya.

"Ruangan Mas El masih bersih dan rapih. Aku cukup menyapu dan berbenah di bebrapa bagian yang masih berantakan." Gumam Anta.

Gadis itu terus fokus menyapu dan merapihkan ruangan sang suami. Sampai akhirnya ia berhenti di depan meja kerja Elvano. Ia menatap laci meja yang sedikit terbuka. Tangannya menarik laci itu hingga terbuka lebar. Terdapat beberapa dokumen di dalamnya. Namun, tatapan Anta fokus pada bingkai foto yang tergeletak di atas dokumen-dokumen tersebut. Anta meraihnya dan membalik hingga bisa melihat jelas siapa yang ada dalam foto tersebut.

"Ini, Mas El sama siapa?" gumam Anta. Tatapannya jatuh pada gadis yang di rangkul Elvano dan laki-laki di sebelah kiri gadis itu. Senyum ketiganya mengembang, seolah sangat bahagia.

"Sedang apa kamu?"

Prak...

Anta terkejut dan tak sengaja menjatuhkan foto tersebut. Sontak Elvano yang melihatnya mendekat dengan rahang mengeras menahan emosi.

"Apa yang kamu lakukan? Hah!" Elvano berteriak keras di depan wajah Anta. Membuat gadis itu memejamkan matanya karena takut.

"M-Mas—"

"Saya minta kamu bersihkan ruangan saya! bukan untuk berbuat lancang seperti ini!" tatapan Elvano tajam. Bibir Anta gemetaran, dan wajahnya pucat menyaksikan itu.

Mengabaikan Anta, Elvano berjongkok hendak meraih selembar foto tersebut.

"Ma-Mas aku—"

"Apa!!"

Anta meneguk kasar ludahnya. Matanya sudah berkaca-kaca karena terus dibentak Elvano. Sementara Elvano, dia tidak peduli dengan Anta. Fokusnya saat ini hanya pada foto tersebut. Ia meraihnya dan memeluknya erat. Seolah foto itu sangat berharga dan tidak dapat ia miliki lagi ketika rusak.

Elvano berdiri dan kembali menatap tajam Anta. "Jangan melewati batas! Jangan karena saya baik padamu, kamu ngelunjak!"

Setelah mengucapkan itu, Elvano keluar dan menutup pintu dengan keras. Membuat Anta yang masih di dalam ruangan tersebut terlonjak.

Anta tertunduk dan memejamkan matanya. Tes. Air matanya menetes. Ia lalu berjongkok dan memungut potongan-potongan kaca yang berserakan. Sengaja dia tak menggunakan pelindung tangannya agar tidak tergores. Dia ingin goresan di tangnnya mejadi alasan ia menangis, bukan karena Elvano.

Bakhan selembar foto pun lebih berharga daripada kamu di mata Mas El, Anta. Apa yang kamu harapkan dari hati Elvano yang dingin itu? Sadarlah Anta. Batinnya.

1
Sandisalbiah
𝚠𝚊𝚑.. 𝙳𝚒𝚗𝚍𝚊.. 𝚒𝚝𝚞 𝚖𝚊𝚑 𝚎𝚗𝚊𝚔 𝚍𝚒 𝚅𝚊𝚗𝚘 𝚝𝚙 𝚋𝚞𝚊𝚝 𝙰𝚗𝚝𝚊 𝚒𝚝𝚞 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚒𝚔𝚜𝚊
Sandisalbiah
𝚜𝚞𝚜𝚊𝚑 𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚎𝚛𝚑𝚊𝚍𝚊𝚙𝚊𝚗 𝚍𝚐𝚗 𝚖𝚊𝚗𝚞𝚜𝚒𝚊 𝚕𝙰𝚋𝚒𝚕 𝚢𝚐 𝚙𝚞𝚗𝚢𝚊 𝚙𝚛𝚒𝚕𝚊𝚔𝚞 𝚙𝚕𝚒𝚗 𝚙𝚕𝚊𝚗...
Sandisalbiah
𝚌𝚎𝚖𝚋𝚞𝚛𝚞 𝚋𝚒𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚘𝚜... 𝚐𝚎𝚗𝚐𝚜𝚒 𝚊𝚓𝚊 𝚍𝚒 𝚐𝚎𝚍𝚎'𝚒𝚗
Sandisalbiah
𝙰𝚗𝚝𝚊 𝚝𝚎𝚛𝚕𝚊𝚕𝚞 𝚕𝚎𝚖𝚊𝚑..
Sandisalbiah
𝚍𝚊𝚜𝚊𝚛 𝚖𝚊𝚗𝚞𝚜𝚒𝚊 𝚖𝚞𝚗𝚊𝚏𝚒𝚔 𝚔𝚊𝚞 𝙴𝚕𝚟𝚊𝚗𝚘... 𝚔𝚊𝚜𝚊𝚛 𝚍𝚊𝚗 𝚝𝚍𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚑𝚊𝚛𝚐𝚊𝚒 𝚒𝚜𝚝𝚛𝚒𝚖𝚞 𝚝𝚙 𝚎𝚖𝚘𝚜𝚒 𝚜𝚊𝚊𝚝 𝚘𝚛𝚐 𝚕𝚊𝚒𝚗 𝚖𝚎𝚖𝚙𝚎𝚛𝚕𝚊𝚔𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚒𝚜𝚝𝚛𝚒𝚖𝚞 𝚍𝚐𝚗 𝚋𝚊𝚒𝚔...
Maria Mahdalena Manalu
Luar biasa
Aquilaliza: makasih udah mampir ☺🙏
total 1 replies
Susi Akbarini
😀😀😀😀❤❤❤❤❤
Aquilaliza: Makasih ya udah mampir. Jangan lupa baca novelku yang lainnya juga.
total 1 replies
Susi Akbarini
😀😀😀😀❤❤❤❤
Rieka Mawon
Biasa
Kartini
cerita dika sm tiara berjodoh thor
unknown
Biasa
My atee
Luar biasa
Sativa Kyu
👍👍👍
Catcold
gk ada crita dika gt kak
Anita Danun
cuekk tp butuhh
pisces
gak bikin cerita dika gitu thor
mksh suguhan ceritanya thor, ttp semangat berkarya jaga kesehatan jgn lupa minum vitamin dan istirahat yg banyak
Ummi Maya
bani jangan terlalu benci nanti bucin🫢😁
Ummi Maya
pengorbanan tulus seorang kakak,
moga annta sentiasa bahagia 🥹
Aquilaliza
Luar biasa
Aquilaliza
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!