NovelToon NovelToon
Ritual Bunga Kantil

Ritual Bunga Kantil

Status: tamat
Genre:Spiritual / Horor / Tamat
Popularitas:203k
Nilai: 5
Nama Author: Meylani Putri Putti

Keling, begitulah orang menyebut Lastri. Bukan hanya itu, kata hinaan kerap terlontar untuk Lastri rasa sakit, kecewa, serta merasa tidak berguna.
Hal itu membuatnya menerima ajakan Nilam untuk memasang susuk serta ritual agar ia bisa menjadi cantik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meylani Putri Putti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tabrak lari.

Ting! chat masuk di HP Lastri

“Lastri kamu lagi apa?” tulis Ayu.

“Lagi nonton TV Yu,” balas Lastri.

“Oh iya ... Maaf banget kemarin aku pulang duluan Lastri. Harusnya aku nungguin kamu.”

“Enggak apa-apa Yu, aku ngerti kok.”

“Lastri. Aku lihat kamu dekat ya sama Azlan.”

“Azlan? Kalau dibilang dekat gak sih Yu. Biasa aja.”

“Gitu ya. Tapi jarang banget Azlan mau dekat sama cewek. Menurut kamu aku cocok nggak sama Azlan?”

Membaca balasan dari Ayu, Lastri pun terdiam rupanya sahabatnya itu menyukai Azlan pria yang sebenarnya ia sukai juga. Namun, ia merasa kurang pantas jika di bandingkan Ayu dengan jabatannya yang sekarang.

“Tentu aja pantas Yu. Kamu cantik dan baik, kamu juga memiliki karir yang bagus,” balas Lastri.

“Masa sih Lastri,” balas Ayu dengan menambahkan beberapa emoji tersipu malu.

“Iya masa aku bohong.”

“Lalu kamu dan Emir gimana?”

“Kami itu cuma teman Ayu.”

“Aku kita kalian jadian. Ya sudah aku mau beres-beres kamar dulu ya Lastri.”

Mereka pun mengakhiri percakapan. Mengetahui sahabatnya menyukai pria yang sama, ia berpikir untuk menjaga jarak dengan Azlan mulai dari sekarang ia tidak ingin persahabatannya bersama Ayu menjadi rusak walaupun dalam benaknya yang terdalam ia juga menyukai Azlan.

***

Keesokan harinya Lastri bersantai di depan TV sembari menikmati secangkir teh hangat kebetulan saat ini hari libur dan Lastri biasa menghabiskan waktunya di dalam rumah.

Saat duduk sendiri ia masih terbayang suara panggilan Minah ketika pagi hari yang biasa menyiapkan sarapan untuknya sembari berbincang santai di meja makan. 

Lastri berdiri dari tempat duduknya dan bergegas mandi serta berpakaian kemudian Lastri memesan ojek online untuk pergi menuju makan Minah. Tidak lupa Lastri membeli serangkaian bunga sedap malam dan mawar putih untuk dibawa ke makam Minah.

Lastri turun dari ojek online, ia berjalan perlahan masuk ke dalam kompleks pemakaman umun itu terlihat makam Minah yang masih belum mengering itu.

Lastri meletakkan bunga tersebut di atas makam Minah sembari membacakan doa untuk Minah. Usai membacakan doa Lastri mulai bercerita dengan apa yang sekarang ia alami.

“Bu. Sekarang Lastri punya teman baru. Namanya Azlan, dia baik selalu membantu Lastri Bu. Lalu Emir juga sangat baik.”

“Sebenarnya Lastri suka bu sama Azlan, tapi ....”

“Tapi Ayu juga suka bu sama Azlan,” ucap Lastri tersenyum kecil.

Lastri tersenyum sembari menunduk. “Dulu Lastri di hina karena wajah Lastri, sekarang saat Lastri sudah berubah malah dihadapkan dengan banyak masalah.”

“Tapi Lastri akan berusaha untuk menjalani hidup sebaik mungkin,” ucapnya dengan air mata yang turun perlahan ke pipinya.

“Lastri pamit pulang ya bu. Semoga ibu tenang dan mendapatkan tempat terbaik.” Lastri mengusap nisan ibunya.

Lastri berjalan perlahan meninggalkan makam Minah dengan hati dan perasaan yang campur aduk. Saat Lastri keluar dari kompleks pemakaman ia mengeluarkan HP-nya ia berencana memesan ojek online saat ia keluar dari jalan sepi di area kompleks pemakaman tersebut.

Saat Lastri sibuk menatap layar Hp sambil terus berjalan, tiba-tiba terdengar raungan mesin sebuah mobil dari arah belakang yang melaju kencang dan menabrak Lastri yang sedang berjalan santai di pinggir jalan. Seketika Lastri terpental jatuh tertelungkup dan kepalanya membentur aspal.

Beberapa penziarah yang saat itu tidak sengaja melintas untuk menuju pemakaman pun berlarian menghampiri Lastri, mobil yang menabrak Lastri melarikan diri dengan kecepatan tinggi. 

Lastri masih sadarkan diri, terdengar jeritan beberapa orang karena melihat Lastri yang bersimbah darah. Tidak lama mobil ambulan datang dan mengangkat tubuh Lastri untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.  

Saat dibawa ke rumah sakit Lastri sudah tidak sadarkan diri, sesampainya di rumah sakit Lastri langsung dilarikan ke UGD. 

Di sisi lain Azlan mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenal. 

“Halo,” ucap Azlan saat mengangkat telepon. 

“Selamat siang, apakah Anda kerabat dari wanita yang bernama Lastri?” 

“Iya. Ada apa? Apakah terjadi sesuatu pada Lastri?”

“Kami dari pihak kepolisian. Ibu Lastri sekarang berada di rumah sakit, dia menjadi korban tabrak lari. Saya akan memberikan alamat rumah sakitnya kepada Anda.”

Azlan dengan cepat berdiri berlari mengambil kunci mobilnya, ia menyalakan mobilnya lalu melaju. Sebelumnya pagar tinggi miliknya sudah terbuka, mobilnya melesat melaju menuju alamat rumah sakit yang diberikan oleh pihak polisi. 

Sesampainya di rumah sakit Azlan berlari bergegas mencari ruangan Lastri, hingga ia melihat sejumlah orang serta polisi berdiri di salah satu pintu ruangan. 

 Azlan berusaha masuk namun di tahan oleh beberapa polisi. 

“Maaf Anda siapa?” tanya salah satu polisi. 

“Saya kerabat Lastri Pak,” sahut Azlan. 

“Saat ini Anda belum bisa masuk, Dokter sedang menanganinya.”

Azlan menghela nafas, kecemasan terpancar jelas di wajahnya. 

“Pak. Saya minta usut masalah ini sampai tuntas! Saya ingin si penabrak itu tertangkap.”

“Kami harus mendalaminya dulu dan juga menanyai ibu Lastri. Tapi kami sudah menanyai beberapa saksi,” sahut polisi itu. 

‘Apa aku harus menghubungi Emir? Sepertinya aku butuh bantuannya,’ pikirnya.

Azlan mencoba menghubungi nomor Emir. 

“Emir datang ke rumah sakit sekarang. Aku sudah mengirimkan loasinya.”

“Rumah sakit?”

“Sudah jangan banyak tanya cepat datang!”

Azlan mematikan teleponnya. 

Ting! (pesan masuk dari Emir).

“Sialan! Tunggu aku ke sana!” umpat Emir dalam pesan. 

Sekitar 30 menit Emir datang dan menghampiri Azlan dengan wajah kesal. 

“Buat apa kamu manggil aku ke sini? Menganggu kesenangan orang aja!” ucap Emir kesal. 

“Kamu lihat siapa di dalam.”

Emir mendekatkan wajahnya ke kaca yang ada di pintu ruangan. Netranya membesar  tak kala melihat orang yang tengah di tangani Dokter serta perawat itu adalah Lastri. 

“Lastri. Itu yang di dalam beneran Lastri?”

“Memangnya Lastri ada berapa?” sahut Azlan. 

“Aku nanya serius!”

“Ya ... aku juga serius.”

“Sudah! Ini rumah sakit. Jangan berdebat di sini!” tegur salah satu polisi. 

“Ini sebenarnya ada apa?” tanya Emir. 

“Lastri jadi korban tabrak lari.” 

“Aku harus cari tahu siapa yang menabrak!” Emir berlalu pergi. 

“Memangnya kamu mau cari tahu dengan cara apa? Polisi saja masih menunggu kesaksian dari Lastri.”

“Kamu bodoh ya. Di tempat kejadian pasti salah satunya punya CCTV. Kita harus cari tahu.”

“Orang bodoh mana yang mau memasang CCTV di depan area kompleks pemakaman umum?”

“Y-ya siapa tahu aja ada,” sahut Emir. 

Azlan terkekeh tertawa mendengar jawaban Emir. Emir akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi dan memilih duduk di kursi tunggu bersama Azlan. 

Setelah menunggu lama Dokter dan para perawat pun keluar dari ruangan. Azlan dengan cepat berdiri dan menanyai Dokter tersebut. 

“Dok bagaimana keadaannya?” tanya Azlan dengan penuh rasa khawatir. 

“Untungnya benturan di kepalanya tidak terlalu parah, tapi dia mendapat emat jahitan di atas pelipis kanannya serta luka lebam di wajahnya.”

“Tapi kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, karena saya melihat sepertinya tulang lengannya tidak pada tempatnya.”

“Saya mohon lakukan yang terbaik Dok,” ucap Emir. 

Dokter itu pergi meninggalkan Emir dan Azlan. Salah satu perawat pun menanyakan tentang pembayaran administrasi rumah sakit. 

“Permisi. Karena akan di lakukan pemeriksaan lebih lanjut mohon ikuti saya untuk pengisian data serta administrasinya.”

“Baik suster.” Sahut Azlan dan Emir bersamaan. 

“Biar aku yang menyelesaikannya,” ucap Azlan. 

“Kamu pikir aku tidak punya uang? Biar aku yang menyelesaikannya!”

“Kamu sadar sedang bicara dengan siapa?” Azlan mengeluarkan sikap arogannya. 

“Hei ... di kantor kamu bisa berkuasa namun tidak di luar!”

“Sudah begini saja. Kalian patungan saja biar adil. Ayo ikut saya! Jangan membuat keributan di rumah sakit!” Suster itu berpaling dan berjalan menuju sebuah ruangan.

“Ide suster itu bagus juga,” ucap Emir dengan mengeluarkan cengiran kudanya. 

Azlan berlalu sambil memandangi wajah Emir dengan tatapan aneh. Usai mengisi data serta administrasi mereka berdua berpikiran untuk memindahkan Lastri ke ruang VVIP. 

Lastri pun di pindahkan, sedangkan Azlan dan Emir memutuskan untuk menunggu Lastri di sofa yang ada di ruangan. 

Emir juga mencoba menghubungi Ayu, karena ia tahu jika Ayu adalah sahabat Lastri.

Tuuut! (telepon tersambung)

“Apa lagi Emir” ucap ayu di telepon. 

“Yu kamu sekarang di mana?”

“Di jalan, kenapa memangnya?”

“Lastri jadi korban tabrak lari. Aku kirim alamat rumah sakitnya ya.”

“Apa? Ya sudah tapi aku harus pulang dulu. Mobilku punya sedikit masalah dengan mesinnya,” sahut Ayu. 

“Ya sudah kalau begitu.” 

Emir menutup teleponnya lalu bersandar di sofa sambil menatap Lastri yang terbaring di kasur.

“Apakah ini murni kecelakaan atau di sengaja?” ucap Azlan.

“Entah lah ... kita tunggu saja perkembangannya dari polisi.”

Sekitar setengah jam Ayu masuk ke ruangan Lastri dengan wajah cemasnya ia berlari menghampiri Lastri. 

Dengan tangan gemetar ia menggenggam erat tangan Lastri. 

“Lastri kenapa kamu bisa kaya gini,” ucapnya terisak. 

“Emir gimana ceritanya Lastri bisa jado korban tabrak lari?”

“Polisi masih mendalami kasusunya,” sahut Azlan. 

“Azlan kamu juga di sini?”

“Ya polisi menghubungiku dan mengabarkan jika Lastri di rumah sakit, lalu aku menghubungi orang ini juga,” Azlan menunjuk Emir. 

‘Sok keren banget sih si Azlan! Pengen aku patahin rasanya jarinya itu,’ gumam Emir dalam hati. 

“Azlan kita harus cari tahu siapa pelakunya!” ucap Ayu terisak sambil memegang pergelangan tangan Azlan. 

“Aku dan Emir akan mencari tahu, secepat mungkin kami akan menemukannya.”

‘Tuh kan sok keren. Memangnya dia detektif yang bisa nyelesaiin kasus dengan mudah,’ omel Emir dalam hati. 

Alis Azlan berdenyit ketika Ayu terus memegangi pergelangan tangannya. 

“Tangan kamu dingin banget,” ucap Azlan,

“Oh ya ... ini karena aku kaget mendengar Lastri di rumah sakit, Aku fobia darah. Jadi jika mendengar sesuatu yang berdarah aku langsung lemas,” tutur Ayu.

Ayu menunduk sambil menyembunyikan wajahnya di balik rambut panjangnya, ia menghentikan tangisnya sambil terus memegang erat tangan Azlan.  

“Mau sampai kapan kamu pegangi tanganku terus?” 

“Oh ... maaf aku terbawa suasana,” sahut Ayu yang langsung melepaskan tangannya. 

Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya 🙏 terimakasih

1
Antoni Indri
seru ceritanya...
bagas muhammad
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
bagas muhammad
apa lastri melangar pantangan.di teror terus
Dwi Ratih
ceritanya bagus singkat GK bertele2 aku suka sekali
👑Meylani Putri Putti: makasi kk 🥰
total 1 replies
Ajeng Sripungga
Luar biasa
Krisna Adhi
/Facepalm//Facepalm/
siscapucinoo
ayu nih
Santi Rizal
good... mksh Thor
Santi Rizal
syukurlah Lastri selamat
Santi Rizal
makin seru dan menegangkan
Santi Rizal
sereeerrm Thor
Santi Rizal
tegang banget nih
Santi Rizal
lumayan deh ga terlalu horor...ada ngakakny
Santi Rizal
seperti nya ayu pelakunya
Santi Rizal
msh banyak keganjilan...othor bisa banget bikin penasaran
Santi Rizal
kok JD serem iihh
Santi Rizal
ternyata Nilam jahat
Santi Rizal
apa karena susuk Lastri JD di teror mahluk astral
Santi Rizal
Lastri polos banget
Santi Rizal
bullying sangat berpengaruh PD mental seseorang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!