Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. gadis menyebalkan
pagi itu terasa gerah di halaman SMA Cendekia. Jam pelajaran baru saja dimulai, tapi sekelompok siswa laki-laki sudah menyelinap lewat celah pagar belakang sekolah. Di barisan paling depan berjalan Arjuna Baskoro siswa kelas dua belas yang sudah terkenal di seluruh lingkungan sekolah sebagai ketua geng yang paling sering bikin onar, bolos, dan melanggar peraturan apa pun yang ada.
“Cepat, jangan lelet! Kalau ketahuan bisa brabe urusannya,” bisik Arjuna sambil melirik ke sekeliling dengan tatapan waspada.
Namun nasib sedang tidak berpihak pada mereka. Baru saja melangkah keluar setapak, terdengar suara berat dan lantang memecah kesunyian siang itu.
"HEI!! KALIAN MAU KEMANA?!”
Semua tertegun. Berdiri di ujung koridor depan ada Pak Ramlan, guru BK yang dikenal paling galak dan tidak pernah kompromi. Di sampingnya berdiri dua orang guru lain yang kebetulan lewat. Wajah mereka langsung memerah melihat kelompok siswa itu.
“kabur woy! Cepet kabur!” teriak Arjuna tanpa pikir panjang.
Mereka pun berhamburan ke segala arah. Beberapa temannya berhasil menerobos ke arah selatan dan menghilang di balik rimbunnya pohon. Sebagian lagi kurang beruntung langsung tertangkap dan ditarik kembali oleh guru-guru itu. Arjuna sendiri berlari sekuat tenaga menyusuri lorong kosong, napasnya memburu sementara keringat mulai membasahi dahi dan lehernya.
Di ujung lorong, matanya menangkap satu pintu yang sedikit terbuka. Tanpa berpikir panjang soal apa ruangan itu, ia melesat masuk dan langsung menutup pintu rapat-rapat sambil menyandarkan punggungnya di sana.
Napasnya terengah-engah, keringat bercucuran turun membasahi kemeja seragamnya. Namun justru di saat begini, ketampanannya makin terlihat...kulitnya yang sedikit berkeringat memantulkan cahaya, garis rahangnya tegas, dan sorot matanya tetap tajam meski baru saja kelelahan.
Setelah napasnya mulai teratur, Arjuna mengedarkan pandangan. Baru sadar, ia ternyata masuk ke dalam Ruang Usaha Kesehatan Sekolah. di pojok ruangan, duduk seorang gadis yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin dan tajam seolah sedang menilai makhluk asing yang baru saja menerobos masuk.
Arjuna yang biasanya percaya diri mendadak merasa kikuk sesaat. Namun ia segera menepis perasaan itu, kembali memasang gaya santai dan slengeannya. Ia melangkah perlahan mendekat, lalu menyugar rambut hitamnya yang sedikit berantakan dengan satu tangan gerakan yang biasa ia lakukan untuk memikat perhatian lawan jenis.
“Hai… sendirian aja di sini? Nama lo siapa?” tanyanya sambil tersenyum tengil, lalu menjulurkan tangannya seolah hendak berkenalan.
Belum sempat Arjuna melanjutkan kata-katanya, suara gadis itu terdengar datar tanpa nada ramah sedikit pun.
“Kalau tidak ada kepentingan kesehatan, tolong keluar dari ruangan ini.”
Mata Arjuna melotot kaget. Tangannya yang terulur terhenti di udara. Ia menunjuk dirinya sendiri, suaranya terdengar tak percaya.
“L-Lo… lo ngusir gue?!”
Tak lama kemudian, Arjuna terkekeh pelan. Baru kali ini ia bertemu gadis yang setegas dan sedatar ini. Biasanya gadis-gadis langsung salah tingkah atau tersipu melihatnya.
Namun percakapan mereka terhenti mendadak saat suara langkah kaki berat dan teriakan Pak Ramlan terdengar jelas dari luar pintu.
“Arjuna! Arjuna Baskoro! Di mana kamu bersembunyi? Keluar sekarang juga!”
Wajah Arjuna berubah tegang. Ia menatap pintu dengan panik, lalu menoleh cepat ke arah gadis itu. Di saat yang sama, ia melihat sudut bibir gadis itu sedikit terangkat membentuk senyum menyeringai tipis seolah tahu persis posisi Arjuna yang sedang terjepit.
Belum sempat Arjuna bereaksi, gadis itu langsung berdiri dan melangkah cepat ke arah pintu, seolah berniat membukanya dan memanggil guru itu. Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, tubuh mungil itu tiba-tiba terangkat ke udara.
Arjuna bergerak lebih cepat. Dengan postur tubuhnya yang menjulang 180 cm dan berotot padat khas anak SMA yang sering berolahraga, ia mengangkat gadis itu ringan saja. Tangannya langsung menutup mulut gadis itu rapat-rapat, lalu memojokkannya ke dinding agar tidak bisa berteriak atau melarikan diri.
Gadis itu berontak sekuat tenaga, kakinya menendang udara, tangannya memukul lengan Arjuna, tapi percuma saja. Tingginya hanya sekitar 150 cm dan tubuhnya yang mungil tidak ada sebanding tenaganya dengan Arjuna.
Dengan napas yang masih agak memburu, Arjuna membungkuk sedikit dan berbisik tepat di telinga gadis itu dengan nada rendah yang terdengar mengancam.
“Bisa diem nggak?! Kalau lo berani kasih tahu gue ada di sini… lo bakal rasain akibatnya, paham?!”
Setelah bicara, kepalanya terus menengok ke arah jendela, memantau apakah Pak Ramlan sudah mendekat ke depan ruangan.
Namun saat Arjuna sedikit lengah, gadis itu langsung menggigit telapak tangan yang menutup mulutnya sangat kuat sampai terasa nyeri menusuk tulang. Arjuna meringis kesakitan dan secara refleks melepaskan cengkeramannya.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, gadis itu langsung melesat ke pintu, membukanya lebar-lebar, lalu berteriak sekuat tenaga ke arah lorong.
“PAK! ARJUNA ADA DI SINI!”
Suara itu memecah keheningan. Tak sampai semenit, Pak Ramlan sudah tiba di depan . Arjuna hanya bisa menggaruk kepalanya kesal saat telinganya langsung dijewer kuat oleh tangan besar Pak Ramlan.
“Nah, ketahuan juga kamu, dasar anak bandel! Sudah kelas dua belas masih saja bikin ulah! Ayo, ikut Bapak ke ruang BK, hukuman buat kamu sudah menunggu!”
Arjuna berjalan menunduk menahan sakit di telinga, tapi matanya secara tak sengaja menangkap sosok gadis itu yang berdiri santai di ambang pintu ruang UKS. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menatapnya dengan wajah datar tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Dengan gaya sok berani dan nada keras, Arjuna berteriak menunjuk tajam ke arah gadis itu sebelum dibawa pergi.
“WOY, INGET BAIK-BAIK! MULAI SEKARANG LO RESMI BERURUSAN SAMA GUE!”
Gadis itu hanya mengangkat satu alis, tetap diam tanpa menjawab apa pun seolah tantangan itu sama sekali tidak berarti baginya.