Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.
Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Jejak Lama yang Tak Bisa Hilang
Dua bulan berlalu sejak hari bahagia itu, saat keluarga-keluarga yang terpisah akhirnya bersatu kembali dan simbol persaudaraan didirikan di tengah desa. Perut Laras kini mulai terlihat jelas membuncit, menandakan kehadiran nyawa baru yang sedang tumbuh di dalam sana. Wajahnya tampak lebih lembut, matanya berbinar dengan cahaya baru yang belum pernah ada sebelumnya, namun ia tetap aktif bergerak—menyusuri kebun, membantu ibu-ibu mengolah hasil panen, atau duduk berjam-jam mendengarkan cerita warga dan memberikan nasihat dengan tenang.
Dika tentu saja selalu berhati-hati, kadang terlalu protektif. Setiap kali Laras berjalan agak jauh atau mengangkat beban sedikit berat, pria itu akan segera datang mengambil alih sambil tersenyum canggung. “Kau sekarang bukan hanya menjaga dirimu sendiri,” katanya lembut sambil menatap perut Laras. “Kau sedang menjaga dua nyawa sekaligus.”
Laras hanya tertawa pelan, namun ia juga mengerti. Tubuhnya memang mulai terasa lebih cepat lelah, dan insting perlindungan yang tajam kini terasa dua kali lebih kuat dari biasanya. Ia sering bermimpi—mimpi tentang anaknya, tentang masa depan desa ini, dan sesekali tentang bayangan masa lalu yang belum sepenuhnya pudar dari ingatan orang-orang di luar pulau Karimun.
Pagi itu, suasana damai sedikit terganggu. Seorang nelayan muda bernama Rian berlari tergesa-gesa dari arah pantai, napasnya terengah-engah dan wajahnya tampak cemas. Ia langsung menuju rumah Pak Harun tempat Laras, Dika, dan para penasihat desa sedang berkumpul.
“Kapal besar… ada kapal perang yang berlayar lambat menuju pantai kita!” seru Rian begitu sampai di depan pintu. “Bendera yang mereka kibarkan tidak aku kenal, tapi bentuk kapalnya kokoh dan besar. Mereka tidak tampak seperti pedagang biasa.”
Seketika suasana berubah tenang namun penuh kewaspadaan. Laras segera berdiri, meski Dika berusaha menahannya sebentar. “Aku harus tahu siapa mereka,” katanya tegas namun tenang. “Bukan untuk berkelahi, tapi untuk mengetahui niat mereka sebelum mengambil langkah apa pun.”
Mereka segera bergerak menuju pantai. Di sana, puluhan warga sudah berkumpul menjaga jarak aman, menatap kapal besar yang kini menurunkan jangkar tidak jauh dari bibir pantai. Kapal itu berwarna gelap, dengan ukiran naga di haluannya—simbol yang sangat Laras kenal baik: lambang Kerajaan Pusat yang dulu pernah berperang melawan Kerajaan Bayangan, dan yang paling menginginkan kepala Laras sebagai hadiah tertinggi.
Dua perahu kecil diturunkan, membawa sekitar sepuluh orang berpakaian seragam resmi berwarna merah keemasan. Di tengah mereka berdiri seorang pria paruh baya dengan janggut rapi, wajahnya tegas namun tidak terlihat bermusuhan seketika. Ia berjalan tegak ke darat, lalu menatap warga desa satu per satu sebelum akhirnya matanya berhenti pada Laras.
“Aku mencari seseorang yang bernama Laras,” ujarnya dengan suara lantang namun sopan, tidak ada nada ancaman. “Dulu ia dikenal dengan nama lain yang menakutkan, namun kami mendengar kabar bahwa ia telah berubah dan membangun kehidupan baru di sini. Aku adalah utusan dari Kerajaan Pusat. Namaku Pangeran Darma.”
Warga desa saling berpandangan cemas. Arga yang berdiri di samping Laras meremas tangannya erat, siap siaga jika terjadi apa-apa. Laras melangkah maju perlahan hingga berdiri beberapa langkah di depan utusan itu.
“Aku Laras,” katanya jelas. “Apa tujuanmu datang ke sini? Jika kau datang untuk menangkapku atau menuntut balas atas masa lalu, kau harus tahu bahwa orang-orang di sini tidak ada hubungannya dengan kesalahan yang pernah kubuat.”
Pangeran Darma tersenyum tipis, lalu menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat—sikap yang tidak pernah Laras bayangkan akan ia terima dari orang yang mewakili musuh bebuyutannya dulu.
“Aku tidak datang untuk menuntut balas,” jawabnya tenang. “Kami tahu banyak hal. Kami tahu bagaimana kau melindungi orang-orang tak bersalah, bagaimana kau membongkar pengkhianatan di dalam organisasimu sendiri, dan bagaimana kau memilih hidup sederhana daripada kekuasaan yang berdarah. Raja kami mendengar bahwa kau telah mengubah kekuatanmu menjadi pelindung, bukan penindas. Dan itulah alasan kedatanganku.”
Ia berhenti sejenak, menatap hamparan desa yang mulai terlihat makmur di kejauhan. “Di bagian selatan kerajaan, ada wilayah yang terancam bahaya besar. Pasukan perampok yang sangat kejam dan terlatih telah menguasai pelabuhan utama, memeras rakyat, dan menghalangi jalur perdagangan. Pasukan kerajaan berusaha mengusir mereka, namun taktik mereka terlalu licik—mirip sekali dengan cara yang dulu kau gunakan untuk melindungi wilayahmu. Raja kami percaya, hanya orang yang mengerti cara berpikir mereka yang bisa menghentikan mereka tanpa menimbulkan pertumpahan darah yang tidak perlu.”
Keheningan menyelimuti pantai itu. Laras terdiam, hatinya bimbang. Di satu sisi, ia ingin sekali membantu rakyat yang menderita—itu adalah hal yang paling ia inginkan untuk dilakukan sekarang. Namun di sisi lain, ia sedang mengandung, ia tidak bisa pergi jauh, dan ia tidak ingin meninggalkan desa ini yang sedang tumbuh makmur.
“Mengapa kau yakin aku mau membantu?” tanyanya pelan. “Dulu kita saling bermusuhan.”
“Karena kami melihat siapa kau sekarang,” jawab Pangeran Darma tulus. “Dan kami tidak memintamu pergi berperang secara fisik. Kami hanya memintamu memberi nasihat, menyusun strategi, dan mengajarkan cara membebaskan mereka dari ketakutan. Kami menjamin keselamatanmu, dan kau bisa kembali ke sini kapan saja kau mau.”
Sore itu, seluruh desa berkumpul di balai desa untuk membicarakan hal ini. Pendapat terbagi dua: ada yang mendukung karena ingin Laras membantu sesama manusia, ada yang menolak karena takut akan bahaya dan kelelahan bagi ibu hamil.
“Kita tidak boleh membiarkan ketakutan menghentikan kita berbuat baik,” kata Laras akhirnya memecah kebuntuan. “Tapi aku juga tidak akan bertindak sembarangan. Aku tidak akan pergi sendiri. Aku akan membawa Arga dan beberapa orang yang paham strategi, dan kita akan berangkat setelah kondisi tubuhku cukup kuat—paling cepat tiga bulan lagi.”
Arga yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. “Aku akan memimpin persiapan. Dan aku berjanji, jika ada bahaya sedikit pun, aku akan segera membawamu pulang.”
Bulan-bulan berikutnya menjadi masa persiapan yang sibuk namun penuh perhitungan. Laras tidak hanya menyusun strategi untuk menghadapi perampok, ia juga mengajarkan para pemilih jalan perdamaian—cara berkomunikasi, cara memberi pilihan kepada mereka yang tersesat, dan cara memulihkan wilayah yang hancur tanpa menindas penduduk setempat. Ia berdiskusi panjang lebar dengan Pangeran Darma yang tinggal beberapa hari di desa, menjelaskan bahwa kemenangan sejati bukanlah menghancurkan musuh, tapi mengubah mereka menjadi teman.
Pangeran Darma tampak sangat terkesan. “Selama ini kami hanya berpikir cara menang perang,” katanya suatu hari. “Kau mengajarkan kami cara memenangkan kedamaian. Itu jauh lebih berharga.”
Saat hari keberangkatan tiba, seluruh desa berkumpul di pantai untuk mengantar. Dika menggenggam tangan Laras erat, menatapnya dengan tatapan penuh cinta dan kepercayaan. “Pergilah dengan tenang. Aku akan menjaga rumah dan anak kita di sini. Aku tahu kau akan pulang membawa kebaikan.”
Laras mencium keningnya, lalu menempelkan telapak tangannya di perutnya. “Kita akan pulang. Dan suatu hari nanti, anak kita akan tahu bahwa kekuatan terbesarnya ada pada kebaikan hatinya.”
Perjalanan memakan waktu berhari-hari melintasi laut yang kadang bergelombang tinggi. Sesampainya di wilayah selatan, Laras melihat pemandangan yang menyedihkan: desa-desa yang kosong, sawah yang terbengkalai, dan rakyat yang berjalan menunduk ketakutan. Namun ia tidak tampil dengan senjata tajam atau pakaian megah. Ia tampil sederhana, mendengarkan keluh kesah penduduk, dan perlahan menyusun rencana yang tidak terduga.
Ia tidak langsung menyerang markas perampok. Sebaliknya, ia mengirim pesan bahwa mereka diberi pilihan: menyerah dan bergabung membangun kembali wilayah ini, atau diusir dengan tegas namun tanpa hukuman mati. Banyak yang menertawakan pesan itu, namun Laras tahu betul bahwa di antara para perampok itu banyak juga orang yang dulu tersesat karena keadaan—persis seperti pasukan Taring Hitam dulu.
Dan benar saja, beberapa hari kemudian ada perwakilan yang datang diam-diam untuk berbicara. Mereka ternyata juga lelah hidup dalam ketakutan dan kekerasan.
Babak baru ini mengajarkan bahwa tugas Laras belum selesai hanya di desa Karimun. Kedamaian yang ia temukan harus dibagikan, dan kebijaksanaan yang ia peroleh dari penderitaannya kini menjadi cahaya bagi orang lain yang sedang terperangkap dalam kegelapan. Dan meski jauh dari rumah, ia tahu hatinya selalu terhubung dengan desa kecil di pulau Riau itu, tempat di mana ia belajar arti menjadi manusia yang utuh.
bersambung...