Dena adalah seorang wanita berusia 25 tahun yang sudah memiliki suami, namun tidak ada satu orangpun yang mengetahui kalau Dena sudah menikah bahkan sahabat baiknya sekalipun.
Kenapa bisa begitu? Pasti kalian akan berpikir seperti itu, tapi hal itu tentu saja bisa terjadi, karena Dena adalah seorang istri simpanan...
Bagaimana kisah Dena dan suami rahasianya? Apakah hubungan keduanya akan terjalin selamanya atau akan kandas di tengah jalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khintannia Viny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AHIS 28
Jadilah dirimu sendiri dan katakan apa yang kau rasakan, karena mereka yang peduli tidak penting, dan mereka yang peduli tidak keberatan.
***
Irham sudah bersiap dengan pakaian casualnya untuk menjemput Sita di bandara karena dia sudah hampir terlambat.
“Tuan Irham sudah mau pergi?” tanya bu Dewi yang sedang merapihkan meja makan sisa sarapan Irham tadi.
“Iya bu, aku sudah hampir terlambat, kalau Sita yang datang duluan dia bisa marah bu.” Ucap Irham.
“Kalo non Dena sih ga akan marah hanya karena hal sepele kayak gitu ya tuan.” Ucap bu Dewi.
“Bu Dewi… Jangan bandingkan mereka deh jelas Dena dan Sita berbeda jauh bu, Dena hanya istri kontrakku, dan Sita adalah istri masa depanku!” tegas Irham yang kesal karena semenjak mengetahui kedatangan Sita di Indonesia, bu Dewi beberapa kali membandingkan antara Dena dan Sita.
"Maaf tuan, ibu tidak bermaksud untuk membandingkan hanya bicara fakta saja." ucap Bu Dewi.
"Sudahlah aku mau pergi dulu, kalau nanti Dena datang suruh dia menungguku." ucap Irham yang di balas anggukan oleh Bu Dewi.
Setelah mengatakan hal itu kepada Bu Dewi, Irham segera keluar dari mansion dan berjalan ke arah mobilnya.
Dan saat Irham mau membuka pintu mobil, dia melihat mobil Dena yang memasuki parkiran mobil, dan akhirnya Irham memutuskan untuk menunggu Dena memarkir mobilnya dan keluar dari mobil.
Dena keluar dari mobilnya dengan anggun seperti biasnya, Dena bersikap seperti tidak terjadi apapun saat itu, bahkan den tersenyum ke arah Irham dengan manisnya.
"Hai kak Irham..." sapa Dena dengan manisnya.
"Dena? Kamu kemana aja hah?" tanya Irham.
"Yaelah orang baru sampe juga udh di interogasi." ucap Dena dengan malas.
"Aku serius Dena! Kamu ini sudah menikah tapi masih saja seperti anak gadis!" ketus Irham.
"Semua orang emang mengenalku masih gadis dan belum menikah kok, bukannya wajar kalau bertingkah sesuai dengan yang mereka lihat?" balas Dena.
"Dena ini masih pagi dan aku tidak mau berdebat."
"Kan yang ngajak berdebat kamu juga kak! Udahlah aku mau mengemasi barangku." ucap Dena.
Dena berbalik untuk menuju pintu utama, namun Irham langsung memegang lengan Dena membuat Dena kembali membalikkan tubuhnya menatap Irham.
"Apa lagi sih kak?" tanya Dena.
"Kamu bilang apa tadi Dena? Mengemasi barang? Kamu mau kemana?" tanya Irham.
"Bukankah aku harus pergi dari sini karena nyonya rumah ini sudah kembali? Kak Irham mau jemput dia kan? Aku yang sadar diri ini hanya ingin mengemasi barang dan segera pergi dari sini." jelas Dena dengan penuh sindiran.
"Tapi kamu ga tau di mana letak mansion barunya Den." ucap Irham.
"Barang-barangku aku titipkan di apartemen Ocha saat ini, lagi pula kamu bis bebas seminggu ini bersenang-senang bersama kekasihmu itu karena aku akan pergi berlibur dengan teman-temanku." ucap Dena.
"Berlibur? Kemana Dena?" tanya Irham.
"Kak mending kakak cepet jemput kekasihnya deh, masih banyak hal yang harus aku siapkan, intinya aku tidak akan mengganggu kemesraan kalian!" ketus Dena yang langsung menepis tangannya hingga terlepas dari genggaman Irham lalu dia berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menggubris Irham yang memanggilnya.
Irham awalnya mau mengejar Dena, hanya saja dia melihat jam sudah hampir pesawat Sita landing, akhirnya Irham memutuskan untuk segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju bandara.
Sedangkan di sisi lain, Dena yang sudah berada di ambang pintu menyempatkan untuk menoleh melihat Irham yang ternyata tidak mengejarnya dan memilih untuk menjemput kekasihnya.
"Aku benar-benar tidak di prioritaskan." gumam Dena yang langsung berjalan masuk ke dalam rumah.
Di dalam, bu Dewi yang sedang membersihkan rumah bersama pelayan yang lain terkejut melihat Dena yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah.
"Non Dena! Yaampun non kemana aja sih? tuan Irham nyariin nona sampe ga tidur semaleman loh." ucap bu Dewi yang sudah ada di hadapan Dena.
"Kak Irham tidak tidur?" tanya Dena memastikan.
"Iya non, ibu sampe di bangunin tengah malem non." jawab bu Dewi.
"Jadi ibu Dewi juga ga tidur? Yaampun bu lebih baik ibu istirahat saja sekarang." ucap Dena.
"Engga non ibu udah sempet tidur semalem, tuan yang ga tidur sama sekali." ucap bu Dewi.
"Dia mencariku karena membutuhkan teman tidur saja bukan karena benar-benar mengkhawatirkan aku." gumam Dena.
"Apa non? Tadi non Dena ngomong apa?" tanya bi Dewi.
"Eh engga bu, Dena ga ngomong apa-apa kok, Dena ke atas dulu ya mau beresin barang-barang yang lain." ucap Dena.
"Loh non Dena beneran mau pergi dari rumah ini?" tanya bu Dewi.
"Tentu saja harus pergi bu, nyonya di rumah ini sudah datang dan aku yang hanya menumpang harus sadar diri dan pergi dari sini." jelas Dena.
"Apa non Dena ga bisa bertahan di sini aja?"
"Engga bisa bu, Sita ga mau tinggal bersamaku."
"Kalo gitu dia aja yang tinggal di mansion baru."
"Dia hanya ingin tinggal di mansion utama bu, udah ah pokoknya aku akan keluar dari sini." ucap Dena.
"Kalo gitu ibu ikut non! Ibu udah bilang ke tuan Irham kalo ibu akan ikut kemanapun non Dena pergi!" tegas bu Dewi.
Mendengar ucapan bu Dewi membuat Dena terkejut namun dia juga senang karena bu Dewi mau terus bersamanya.
Dena hanya tersenyum lalu segera berjalan ke arah lift untuk pergi ke kamarnya.
"Ibu beneran loh non." ucap bu Dewi kembali saat Dena masuk ke dalam lift.
Dena tidak mengatakan apapun karena menurutnya ucapan bu Dewi hanya keinginannya semata, Irham pasti tidak mengijinkannya karena dia masih membutuhkan bu Dewi untuk mengurus semuanya.
"Si model itu ga mungkin mau mengurus rumah, jadi pasti kak Irham membutuhkan bu Dewi." gumam Dena.
Dena segera mengemasi semua barangnya karena dia tau kalau dia tidak punya waktu lagi, Sita akan segera datang dan dia tidak mau sampai berpapasan dengan wanita itu.
Drrtt,, drrtt... Dering telfon dari ponsel Dena membuat Dena menghentikan aktifitasnya dan mengambil ponselnya.
"Halo Cha.." ucap Dena saat mengangkat telfon.
"Dena, gimana? Lu ketemu tuan Irham?" tanya Ocha.
"Ketemu tadi dia lagi mau jemput kekasihnya di bandara." jawab Dena.
"Jadi dia hari ini datang? Lu butuh bantuan buat ngemasin barang ga Den?" tanya Ocha.
"Engga Cha, lagian walaupun gue butuh juga kak Irham ga pernah mengijinkan orang lain datang ke mansionnya selain keluarganya, itu aja mereka kalo mau nginep di usir terus." jelas Dena.
"Dih, nyebelin banget tuh jadi orang! Masa iya sahabat istrinya main ke rumahnya ga boleh!" ketus Ocha.
"Hahaha gue udah biasa sama peraturan yang ada di sini Cha, bayangin aja dua tahun gue kayak tinggal di kastilnya Rapunzel, untung masih boleh keluar." ucap Dena sambil tertawa, begitu juga dengan Ocha yang ikut tertawa.
"Yaudah kalo gitu lu cepetan beresin barang-barang lu, kalo mobil lu ga muat gue bisa jemput kok jadi sebagian barang lu masukin di mobil gue aja." Ucap Ocha.
"Siap bebeb!" seru Dena yang langsung mematikan telfonnya dan langsung kembali mengemasi barang-barangnya.
sudah biasa menolong orang di masa lalu dan nnti tergoda deh suaminya ocha seharusnya tidak satu atap juga kali Thor
kuharap alurnya berbeda Derian tetap mencintai ocha tidak menerima penghiatan
hadapi ya ocha dengan kepala dingin walaupun ada rasa cemburu, semangat ocha🥰🥰
semangat juga author up nya🥰🥰🥰❤❤❤