NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Duda / Tamat
Popularitas:272.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: ranimut

Ini kisah cinta yang rumit. Antara seorang duda labil bernama Arfan Rahardian dan gadis mini bernama Rea Kusuma.

Di tahun sebelumnya, sepasang kekasih ini pernah batal menikah. Dan dua tahun setelahnya mereka kembali dipersatukan dalam ikatan pernikahan.

Ego, salah faham, dan tinggi hati, mewarnai hari-hari dalam pernikahan Rea dan Arfan. Sikap dingin dan keras kepala dalam diri Arfan sangat bertolak belakang dengan Rea yang super hangat serta perhatian.

Bagaimanakah kisah mereka? Baca saja di episodnya:)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ranimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyebalkan

Setelah mendapat nasihat dari Adit, Arfan menyusun rencana untuk menyatakan perasaannya pada Rea. Hatinya sangat tak sabar menantikan malam ini.

Arfan menyiapkan kata-kata indah untuk Rea. Berulangkali saat ada kesempatan waktu luang, ia selalu gunakan untuk berlatih didepan kaca. Kayak bocah belajar publick speaking aja ya!

Arfan terus memandangi rupanya didepan cermin. Kacak! pikirnya. Terkadang mesem-mesem sendiri saat mengingat perilakunya ini. Malu, itu yang ia rasakan. Namun mau bagaimana lagi? Ini demi Rea, demi rumah tangganya.

"Udah Fan, nanti pecah kacanya!" Tegur Adit.

"Sewot aja loe!" Ketus Arfan.

"Dah buruan pulang, liat tuh langit udah berubah warna, biar kerjaan gue yang kerjain." Kata Adit.

"Bener ya!"

"Iya, sudah sana pergi!" Perintah Adit. Sudah seperti bos saja ya!

Arfan keluar dari kantornya, berjalan dengan senyum yang terus terpancar dari sudut bibirnya. Para karyawati klepek-klepek dibuatnya.

Langit hitam bertaburan gemintang tak lupa bulan yang bundar sempurna. Menambah rasa bahagia dalam hati Arfan saat ini. Ia sudah sangat tidak sabar untuk pulang kemudian menyatakan perasaannya pada Rea.

Kini sambil mengemudi, Arfan terus melatih lisannya supaya tidak keseleo saat mengutarakan perasaannya pada Rea.

"Rea ... akuuu mensintaimuuuu." Lanturnya sambil tertawa pelan didalam mobil, memikirkan kebodohan yang telah ia lakukan barusan.

Akhirnya mobil Arfan sampai dipekarangan rumahnya. Matanya melihat lampu dalam ruangan yang memancar keluar. Tidak terlalu terang ataupun redup. Namun cukup indah saat dipandang dari luar.

Tiba-tiba hatinya berdegub. Arfan menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya lagi. Ia terus saja melakukan hal itu sampai hatinya tenang. Sudah seperti mau lahiran saja ya!

Arfan membuang nafasnya dengan kasar, kemudian menghampiri pintu rumah. Jemarinya ingin menekan bell rumah, tetapi ragu.

Jika nanti saat Rea membukakan pintunya, ia harus berkata apa? Semua kalimatnya hilang, hanya karena menyiapkan satu kalimat spesial untuk istrinya itu.

Tiba-tiba telapak tangan beserta jemarinya menggigil hebat. Hatinya semakin berdegub tak karuan. Segera ia menggosok telapak tangannya itu untuk menghangatkan kembali. Dan syukurlah, kali ini hatinya sudah mantap dan siap.

"Bissmillah," Sambil menekan bell rumah.

Dua menit, tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Arfan kembali menekan bell rumahnya.

Sudah dua menit lagi namun masih belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Kali ini senyum Arfan mulai memudar. Ia sudah tidak sabar, akhirnya ia tekan berkali-kali.

Ting, tung, ting, tung, ting, tung, ting, tung.

"Iya sabar! Gak sabaran banget." Teriak Rea dari dalam. Arfan tersenyum kuda diluar sana saat mendengar suara Rea.

"Kakak! Kenapa tidak langsung masuk saja? Malah ribut sendiri!" Kata Rea. Arfan hanya tersenyum.

"Rey ... em, em aku ... aku!" Lantur Arfan dengan mimik wajah gerogi.

"Sini aku bawain jasnya." Kata Rea sambil menarik jas dilengan bawah Arfan.

Rea berjalan duluan, Arfan mengikuti dari belakang. Entah mengapa hatinya sangat berdegub kali ini. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu saat ia melamar Rea blak-blakan didepan orang banyak.

Saat Arfan termemenung memikirkan bagaimana caranya memulai pembicaraan, tiba-tiba Rea berhenti.

"A ... ada apa?"

"Mau makan atau mandi dulu?" Tanya Rea saat sudah memutar tubuhnya menghadap Arfan.

"Mandi aja dulu." Kata Arfan.

"Yasudah aku siapin airnya dulu ya?"

"Tidak perlu, kau siapkan makanannya. Nanti temani aku makan." Ucap Arfan kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar. Sedangkan Rea menuju dapur untuk menyiapkan makananya.

lima belas menit sudah berlangsung, kini Arfan turun dengan pakaian yang sudah berganti dengan tubuh yang lebih fresh tentunya.

Nampak Rea sudah duduk menunggunya. Arfan semakin tak sabaran ingin menyatakan perasaanya itu. Ia segera menggeser kursi dan duduk. Setelah itu menata piringnya, tetapi sebuah tangan menghalanginya saat akan mengambil sesauk nasi.

"Biar aku ambilkan." Kata Rea sambil tersenyum manis.

Hati Arfan berdegub, senyum manis itu kembali meluluh lantak kalimatnya.

"Terima kasih." Ucap Arfan.

Setelah itu Rea kembali duduk sambil memandangi suaminya yang tengah melahap makanan. Rea terus berpikir, haruskah ia beritahu masalah penyakitnya ini atau tidak.

"Sudah selesai?" Kata Rea saat melihat Arfan meneguk minumannya. Arfan mengangguk dan tersenyum.

Pria berkumis tipis itu sudah bersiap-siap untuk mengucapkan kalimatnya, tetapi gagal. Rea mengambil piring kotor bekas Arfan makan, kemudian membawanya kearah wastafel.

Arfan memandangi Rea yang nampak sibuk mencuci piring kotor itu. Arfan menghela nafasnya untuk mentralisir perasaan gugupnya, kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Rea.

"Rey?" Panggil Arfan dengan nada lembut.

"Hemm,"

"Aku ingin mengatakan sesuatu."

"Katakanlah!" Jawab Rea, namun tangnnya masih sibuk membersihkan piring yang kotor.

Arfan memutar tubuh Rea agar menghadap dirinya.

Rea terdiam, ia terkejut dengan tindakan Arfan.

Arfan nampak menundukkan wajahnya sejenak, seperti menghilangkan rasa canggungnya pada Rea. Setelah itu membuang nafasnya secera perlahan, mencoba menenangkan degub jantungnya.

"Rey, aku ... aku mencintaimu."

Set ...

Hampir saja piring yang sedang dipegang Rea jatuh ke lantai, beruntung Rea dengan cepat menahannya.

Rea nampak gelapan, seharunya ini membahagiakan hatinya, tetapi mengapa malah sebaliknya. Ini semua akibat penyakitnya itu. Mengapa Arfan menyatakannya diwaktu yang tidak tepat seperti ini?

Saat ini Rea sama sekali tidak bicara untuk basa-basi ataupun membalas pernyataan suaminya itu. Ia bingung dengan dirinya sendiri. Ia memilih berbalik dan membilas piring kemudian menaruhnya dirak. Kemudian pergi meninggalkan Arfan tanpa jawaban.

Arfan kecewa, Rea meninggalkannya begitu saja. Apa firasatnya benar, kalau wanita itu sudah tidak mencintainya lagi?

Arfan mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh, ini malam yang buruk. Ia segera melangkahkan kakinya menyusul Rea.

Ia menaiki tangga dan ingin masuk ke kamar istrinya tersebut. Namun tertutup, Arfan membuang nafasnya dengan kasar kemudian masuk kedalam kamarnya dengan sedikit membanting pintu.

Arfan membanting semua barang yang terpajang dikamarnya. Ia frustasi dadakan. berulangkali ia mengacak rambutnya dengan kasar. "Menyebalkan!" Umpatnya.

Sedangkan dikamarnya, Rea menangis histeris didalam kamar mandi. Ia duduk disudut ruangan itu. Ia terus membenturkan kepalanya ke dinding berlapis keramik berwarna biru tersebut.

"Ibu Vera benar, Kau memang tidak pernah adil Tuhan!" Teriaknya.

"Mengapa Kau beri aku ujian seperti ini hah! Kenapa disaat hidupku sudah tidak lama lagi, Kau berikan aku harapan untuk mendapatkanya kembali, kenapa! Kau tidak adil Tuhan, aku membenciMu!" Teriak Rea disana. Beruntung kamar mandi itu kedap suara, hingga Nathan yang sudah terlelap tidak terjaga dibuatnya.

.

.

.

Begitulah nafsu, ia selalu meracuni hati sampai melupakan mana yang baik dan buruk. Nafsu seringkali membuat kita terlena pada sesuatu yang bersifat sementara. Rea lupa, bahwa disetiap rencana Tuhan selalu ada kebaikan didalamnya.

Rea lupa, ia terlalu memikirkan cinta dunianya dan melupakan siapa yang telah memberimya cinta. Rea banyak melupakan sesuatu yang seharusnya selalu ia ingat.

Semoga saja gadis mini ini segera sadar akan keterpurkan yang menguburnya secara perlahan kedalm lembah yang menyesatkan.

Bersambung ...

Hahaha wkwkwk aku kehabisan kalimat manteman😌. Selamat hari kamis, semoga lancar yang lagi puasa😊. Salam manis author bucin☺.

1
文华亮
ikut baca di karya baruku yok, 'i found you' makasih
Siti Maryam
mulai ada nyium bawang Bombay thor
Alimvia
Hallo kk aku udh mampir
ceritanya bagus bangettt,,,semangat ya kk😁
Hafista
emang arfan egois, tp hrsnya rea jg jg sikap dong udh tau jd istri orang msh sering ketemuan sm temen cowox apalagi cowok itu pernah suka sm dia, hrsnya kan dia jaga perasaan suaminya, siapa orangnya enggak cemburu klo pasangan kita sering ketemu sm cowok lain atau cewek lain,
Titin Sumarni
kalau mini berarti kaya bang Ucok. Karena mini dan oendek beda lho kak...
Larti Astuti
suka ma cerita nya thor
文华亮: Alhamdulillah kalo suka
total 1 replies
Syifaa N
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
hai teman teman ayo mampir di novel ku yang berjudul "ANA UHIBBUKA FILLAH USTADZ" ayo vote dan like yaa kakak kakak adik adik supaya saya bisa semangat up ceritanyaa
Adelia
tamat
Windi Lestari Windiati
si Adit aya2 wae 🤣🤣🤣
文华亮: aaa terimakasih atas votenya, tapi jangan repot repot kak. kakak baca, like dan komen aku udh seneng kok
total 1 replies
Asmanu Khair
Kyknya seru...
Mulya Dewi
mantep wewejang nya sangat baik
Siti Mudrikah
nah..beginikan aku ikut seneng,thor😘
Siti Mudrikah
kamu jahaat thoor.
mataku samoek bengkak 😭😭😭
Siti Mudrikah
hwuuuaaaaa😭😭😭😭😭😭😭😭
Siti Mudrikah
tisuuu...mana tisuuu...😭😭😭
Siti Mudrikah
thor..kenapa kamu nyebarin bawang disini..bikin mataku pediih😭😭😭
Siti Mudrikah
semangat thor👍😘
Lizye Zahier
aq suka visualnya,,, bollywood
文华亮: terimakasih kak, mungkin bisa mampir juga di karyaku yang lain "Pangeran Senja"
total 1 replies
RiinjsdhwdmaX
Nice
Ummu Sakha Khalifatul Ulum
Ceritamu bagus thor 👍👍👍 semangat terus dalam berkarya 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!