Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Agra
Agra tersenyum kecil dan berjongkok di depan kedua kembar itu. "Papa Leon memang papa kalian, tapi di sini Om Agra akan berusaha menjadi Papa sambung kalian walau kalian tidak suka pada Om."
"Apa maksudnya?" tanya Farid dengan mata membulat.
"Emh... kamu coba tanya Mama kalian saja," jawab Agra sambil memandang ke arah Alya.
Alya merasa bingung menjelaskan apa yang terjadi kepada anak-anaknya jika ia sudah ada hubungan dengan pria di depannya ini, dia seolah belum siap memberitahu mereka jika ia lebih memilih Agra dari pada Leon.
"Mama? Ada apa?" tanya Fared sambil menggoyangkan tangan sang mama.
"Pak Agra, bukankah ini terlalu cepat jika kita bicarakan ini pada anak-anak?" tanya Alya.
"Lebih cepat lebih baik 'kan? Kita bisa menikah lebih cepat dan Leon tidak akan mengganggu kalian lagi," jelas Agra berdiri dan mengelap jasnya yang masih kotor.
"Bukan ini yang aku inginkan, aku menerimamu supaya Leon tidak berharap padaku lagi dan untuk ke jenjang pernikahan, aku belum siap apalagi di media mereka menghujat ku karena aku hanya seorang wanita pembantu yang direbutkan dua orang pria kaya," ucap Alya.
Agra tersenyum sambil merangkul Alya.
"Saat ini memang terlalu cepat karena kita juga baru berpacaran, aku akan memberimu waktu untuk memikirkan segalanya."
Setelah itu mereka melanjutkan makan sementara Alya masih melamun tidak jelas, Fared dan Farid pun juga seolah tidak senang pada situasi ini, hanya Farad yang sangat dekat dengan Agra.
Saat bersamaan Alya mendapatkan pesan singkat dari seseorang, ia membukanya dan mendapatkan kabar jika Leon kecelakaan setelah dari kosnya kemarin, tentu saja hal ini membuat Alya sangat terkejut.
"Leon kecelakaan dan mobilnya sampai separah ini?" gumam Alya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Agra.
"Leon kecelakaan, kamu sudah tahu?"
"Oh itu, aku baru mendengarnya tadi sore. Kenapa wajahmu begitu khawatir?"
"Leon kemarin baru pulang dari kos kami dan setelah itu mengalami kecelakaan, dia juga kemarin membantu anak-anak untuk memberi kado kejutan untukku. Aku merasa bersalah padanya," jelas Alya dengan wajah khawatir.
Agra masih terlihat santai. "Oh, kemarin kamu ulang tahun, ya? Leon baik-baik saja, aku sudah mendapat kabar dari papanya dan sekarang kamu fokuslah padaku karena kamu adalah kekasihku. Tidak usah membicarakannya lagi karena aku merasa tersinggung. Paham?"
"Tapi Pak Agra, ini salahku..."
"Alya Renatha, bukankah kita sepakat untuk tidak membicarakan Leon?" tanya Agra menatapnya tajam.
Alya tersentak kaget, ia kembali menunduk dan menikmati makanannya. Sekarang suasana menjadi agak tenang, mereka menikmati makanan masing-masing sampai habis tak tersisa. Agra membayar bill-nya kemudian mengantar mereka pulang ke kos.
Anak-anak lebih dulu masuk ke dalam mobil sementara Alya masih melamun di luar mobil.
"Sayang, yakinlah Leon tidak kenapa-napa. Dia hanya luka ringan dan kamu tak perlu cemas. Ingatlah jika dia pernah melukaimu dan dia tak peduli padamu," ucap Agra sambil merangkulnya.
"Baiklah," jawab Alya lalu masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil masih hening, anak-anak yang tadinya ceria mendadak murung setelah mendengar sang papa kecelakaan.
"Sudah kenyang jadinya diam?" tanya Agra memandang mereka."Maaf, sepertinya anak-anak mulai capek," jawab Alya.
"Haha... mereka sangat aktif sekali. Oh iya Farad, nanti ke kos Om Agra bentar, ya?"
Farad menatap ke arah sang mama dan
Alya mengangguk.
"Oke, Om Agra," jawab Farad.
Sesampainya di kos, Farad mampir ke kamar kos Agra untuk belajar lagi masalah coding. Sementara yang lainnya masuk ke kamar kos mamanya, Alya langsung terduduk di sofa sambil memikirkan Leon.
"Mama, Papa Leon apakah mati?
Seharian dia tidak kelihatan," tanya Farid.
"Hussst... mulutnya jangan begitu," jawab Alya.
"Walau aku nggak suka pada Papa Leon, tapi aku lebih nggak suka Om Agra," sahut Fared.
"Nanti kita cari kabar Papa Leon sama-sama, ya? Sekarang kalian mandi dan setelah itu belajar dulu!"
Alya mengajak mereka mandi sementara anaknya yang satu ikut bersama Agra, entah kenapa dia malah yakin pada Agra bisa menjaga Farad dengan baik.
Di sisi lain.
Kamar kos Agra berantakan dengan berbagai gadget dan peralatan elektronik berserakan di mana-mana. Di tengah kamar, Farad dengan rambut acak-acakan, duduk bersila di lantai sambil menatap layar laptop dengan serius.
"Farad, coba kamu lihat bagian kode yang ini," kata Agra sambil menunjuk layar laptop. Ia duduk di samping Farad, matahari sore menyinari wajah mereka melalui jendela kecil.
Farad mengerutkan dahi, matanya bergerak cepat membaca baris kode.
"Ini yang buat loop-nya, kan, Om?"
"Betul sekali! Kamu cepat sekali mengerti," Agra tersenyum lebar. "Sekarang, coba tambahkan fungsi untuk menyimpan datanya. Ingat, kamu harus berhati-hati. Kita nggak mau ketahuan orang lain."
Farad mengangguk penuh semangat dan mulai mengetik cepat. Jari-jarinya yang kecil lincah bergerak di atas keyboard.
"Kayak gini, Om?" Farad menoleh, menunjukkan kode yang telah dimodifikasi nya.
Agra membungkuk lebih dekat untuk memeriksa. "Hmm, hampir sempurna. Tapi kamu lupa menutup loop-nya di sini." Dia menunjuk bagian tertentu di layar. "Coba tambahkan bracket penutup."
"Oh iya!" Farad cepat-cepat menambahkan bracket dan menyimpan perubahannya.
"Kayaknya sekarang udah bener, deh."
"Keren! Kamu ini memang hacker cilik yang jenius, Farad!" Agra tertawa, menepuk-nepuk punggung Farad lembut.
Farad tersenyum bangga. "Aku suka hacking, Om! Rasanya kayak main puzzle, tapi lebih cool! Oh ya, kemarin aku sempat masuk ke salah satu data perusahaan."
Agra mengernyitkan dahi, tiba-tiba suasana menjadi serius.
"Tunggu, kamu bilang kamu sudah meretas data perusahaan itu, Farad?"Farad yang masih berseri-seri dari kegembiraan sebelumnya, kini terlihat sedikit gugup.
"Iya, Om. Kemarin aku iseng-iseng coba-coba. Tapi aku cuma liat-liat aja kok, nggak ngapa-ngapain."
"Lain kali jangan melakukan itu jika Om belum menyuruh. Paham?" tanya Agra.
"Oke," ucap Farad tersenyum.
Anak ini memang sangat cerdas sekali, kemampuannya bisa menghancurkan papanya sendiri. Batin Agra.
"Baiklah, Om Agra, aku mau pulang dulu, makasih ya hari ini," ucap Farad.
"Sama-sama, jangan lupa bujuk saudara-saudaramu untuk suka sama Om," pinta Agra.
"Hahahaha... mereka memang begitu. Aku pulang dulu ya, Om Agra."
Keesokan harinya.
Leon duduk termenung di tepi ranjang rumah sakitnya, menatap keluar jendela dengan pikiran yang berkecamuk. Suara pintu yang terbuka perlahan menarik perhatiannya.Dia menoleh dan terkejut melihat Alya berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Alya, benarkah rumor yang beredar? Kamu dan Agra?"
"Iya, itu benar."
"Kenapa? Kenapa dia?"
Alya melangkah mendekat, duduk di tepi tempat tidur.
"Aku tidak ingin ini membuatmu terluka karena memberikanmu harapan sejak awal aku sudah bilang tidak bisa menerimamu lagi," katanya lembut, menyesal.
"Terluka? Kenapa harus Agra? Kamu tahu sendiri jika dia sepupuku dan sainganku selama ini," ucap Leon marah.
"Aku... aku..."
"Aku tahu kamu masih menyimpan perasaan padaku," ucap Leon.
Alya hanya diam menunduk.
"Rasa trauma mu memang besar tapi rasa cintamu padaku lebih besar. Benar kan?" tanya Leon.
"Kamu memang memikirkan itu saja tanpa memikirkan mentalku yang sudah hancur karena mu. Luka fisik dan luka batin yang kamu berikan padaku itu sangat menyakitkan," jelas Alya.
"Aku mencintaimu. Kamu harus tahu ini," ucap Leon.
"Semudah itukah mulutmu mengatakan cinta setelah apa yang terjadi padaku di masa lalu?" tanya Alya.
"Aku tidak akan mengatakan ini jika tidak mencintaimu, Agra bukan orang yang baik dan dia penuh siasat licik, aku yakin kamu dan anak-anak kita hanya sebagai alat untuk menghancurkan ku," jelas Leon.
Alya menggelengkan kepalanya. "Justru kamu yang jahat dan Pak Agra pria yang baik. Sudah cukup! Jangan mengatakan cinta lagi padaku!"
Alya hendak pergi tapi Leon menarik tangannya bahkan tubuhnya sampai jatuh ke lantai, Alya kaget dan menolong. Wajah Leon terlihat sangat kesakitan."Aku sudah mendapatkan karmaku, dilengserkan di perusahaan dan sekarang aku kecelakaan. Apa ini tidak cukup, Alya?"
tanya Leon sangat sedih.
Riana datang dan terkejut saat putranya berada di lantai, Alya didorong dan Riana lekas membantu Leon untuk naik ke atas tempat tidur.
"Kamu sengaja ingin menyakiti Leon?" tanya Riana.
"Mah, aku yang terjatuh sendiri, jangan salahkan Alya lagi!"
Leon memandang Alya. "Aku benar-benar menyesal atas perbuatanku dulu, aku ingin mendapatkan kesempatan darimu lagi. Aku sayang padamu dan anak-anak kita, usahaku selama ini untuk mendekatimu apa masih belum cukup?"
Alya hanya hanya diam saja, ia pun bingung dengan perasaannya.
"Alya, jika kamu menolak ku tak masalah, aku hanya tidak ingin kamu terperangkap dengan Agra," ucap Leon.
"Selamat tinggal, Leon."Alya melangkah keluar dari gedung rumah sakit dengan wajah murung dan tatapan kosong. Pikirannya serasa kacau balau seolah-olah terombang-ambing di tengah badai. Beban yang dia rasakan begitu berat setelah menerima Agra menjadi kekasihnya dan ia harus menjauhi Leon.
Di tengah lamunannya, langkah Alya terhenti sejenak. Dia merasa bingung dan bertanya-tanya apakah keputusannya yang telah diambil adalah yang terbaik. Alya merasa hatinya begitu gundah dan gelisah, seolah ada sesuatu yang mengganjal di dalam dada.
Dengan perasaan bercampur aduk, Alya menatap langit yang mulai mendung. Dia merasa seolah-olah langit pun ikut merasakan kesedihannya. Tanpa sadar, air mata mulai mengalir membasahi pipinya yang semula kering.
"Apakah aku benar-benar serius dengan Pak Agra?" gumam Alya dalam hati. "Apa aku benar-benar jatuh cinta lagi pada Leon?"
Alya berdiri di pinggir jalan. Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang mendekat kearahnya. Dengan refleks cepat, Alya melompat ke belakang menyelamatkan diri dari tabrakan yang hampir saja merenggut nyawanya. Tubuhnya terasa sakit karena terjatuh keras, namun mobil itu terus melaju kencang tanpa berhenti seolah tak peduli akan keselamatan orang lain.
"Aduh!" teriak Alya jatuh tersungkur.
Agra yang lewat lantas menolongnya dan membantu membangunkan Alya.
"Alya, kamu tak apa?"
"Aku gapapa...."
"Kenapa kamu di sini?" tanya Agra melihat gedung rumah sakit. "Kamu menemui Leon?" tanya Agra kesal.
"Aku hanya menjenguknya."
Agra menarik tangan Alya dengan kasar dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Pak Agra?" tanya Alya terkejut.
"Aku sudah baik padamu, apa susahnya untuk tidak mendekati Leon?" tanya Agra.
Alya ingat betul bagaimana Leon memperlakukannya dulu sama seperti saat ini Agra memperlakukannya.
Agra menarik leher Alya dan mendekati wajahnya.
"Ingat! Jangan sok ketika dua pria mengejar mu! Kamu tak lebih dari janda yang beruntung," ucap Agra.
"Apa maksudmu?" tanya Alya kaget.
Agra mendorong Alya untuk bergeser tempat duduk, Agra memaksa Alya untuk melepaskan pakaiannya.
"Pak Agra, apa yang kamu lakukan?" tanya Alya memberontak.
Agra membenamkan wajahnya ke dada Alya, nafas Alya tersengal-sengal karena traumanya kambuh. Agra menghentikan aksinya dan menatapnya tajam.
"Ikuti perintahku jika ingin anak-anakmu selamat," ancam Agra.
"Apa maksudmu? Pak Agra tadi benar-benar mengantar mereka ke Fairy Care kan?" tanya Alya.
"Oh ya?" ucap Agra dengan senyum menyeringai.
"Pak Agra, jangan bercanda! Di mana anak-anakku!" teriak Alya.
knp Fared kesetanan liat badut itu 😡😡😡