follow igku @zariya_zaya
Kasus pembullyan yang terjadi disebuah kampus ternama hingga ada salah satu korban bully mengalami koma, membuat Valexa ingin mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Valexa, si gadis tangguh adalah mahasiswi baru yang langsung dibully dihari pertama dia masuk universitas bergengsi karena penampilannya dianggap cupu dan kampungan.
Keteguhan Valexa menghadapi para pembully membuat Ravelo, sang pangeran kampus mengincar Valexa untuk dijadikan kekasihnya. Para kaum hawa idola Ravelo, langsung menyalakan api permusuhan pada Valexa karena dianggap merebut idola mereka. Namun, dibalik itu semua, ada sebuah rahasia yang dimiliki seorang Valexa dan hanya Ravelo saja yang mengetahuinya.
Apa rahasia itu? Dan apa tujuan Valexa datang ke kampus elit? Bisakah dia menghadapi para musuh-musuh yang membully dan mengincar nyawa Valexa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 28 flashback 2
Selain berusaha meredakan amarah beberapa pengendara akibat kemacetan yang sengaja pamannya buat, Ronan juga memberikan penjelasan alasan kenapa mobil yang ia dan pamannya tumpangi tak kunjung berjalan meski lampu sudah menunjukkan warna hijau. Pria tampan itu menunjuk anak-anak difabel yang sedang digendong satu per satu oleh seorang gadis manis bernama Shakila menyeberang jalan.
Kendala yang Shakila dan anak-anak disabilitas itu alami sehingga membuat mobil Ronan standby ditempat adalah, jalan yang dilewati Shakila banyak berlubang sehingga gadis itu harus ekstra hati-hati saat menyeberang agar tidak ada yang jatuh digendongannya.
Melihat hal itu, beberapa warga mulai simpati pada usaha keras yang dilakukan Shakila seorang diri demi bisa membantu anak-anak difabel itu ke seberang. Alhasil mereka semua termasuk Ronan sendiri, ikut turun tangan dan membantu Shakila menyeberangkan anak-anak difabel tersebut sampai ke tujuan.
Kesempatan emas ini, tentu tak disia-siakan oleh Ronan. Dosen muda tampan itu mencoba mengenal siapakah Shakila dan ia baru tahu, kalau gadis baik hati itu adalah mahasiswi di kampus tempat Ronan mengajar. Dengan kata lain, Shakila adalah mahasiswinya sendiri.
"Bukankah ini jam kuliah? Kenapa kau ada di sini?" tanya Ronan penasaran. Ia sengaja tak mengatakan pada Shakila kalau ia adalah salah satu dosen tempat gadis itu kuliah.
"Aku sengaja bolos, karena aku takut dibully dan dihukum. Aku tidak tahu ada apa dengan kampus itu? Kenapa rektor dan dosen di sana diam saja melihat kami diperlakukan semena-mena? Entah mereka tahu atau pura-pura tidak tahu, harusnya mereka melakukan tindakan dan memberikan keadilan pada kami sebagai mahasiswa baru di kampus itu, meski kami berasal dari strata rendahan. Kalau aku bertemu dengan salah satu dosen atau rektor di kampus itu, aku bersumpah akan aku tonjok mukanya!" Seru Shakila melampiaskan kekesalannya meskipun ucapannya itu tidak serius sambil menggendong anak difabel dipunggungnya begitu pula dengan Ronan yang berjalan di sisi Shakila.
Gadis manis itu sungguh tidak tahu kalau dosen yang ia bicarakan ada disebelahnya dan sedang menatapnya sambil senyam-senyum sendiri. Bagaimana Ronan tidak merasa lucu? Rektor yang gadis itu bicarakan adalah Paman Ronan. Entah apa yang terjadi jika Shakila tahu siapakah Ronan sebenarnya.
Anehnya, dosen tampan itu sama sekali tidak marah dan malah mengumbar senyum melihat emosi Shakila tentang dirinya dan juga pamannya. Ronan merasa, gadis baik hati ini terlihat sangat cute dan menggemaskan kalau marah.
"Apa kau juga seorang mahasiswa baru? " ganti Shakila yang bertanya pada pemuda disampingnya.
Kebetulan, Ronan meninggalkan jas hitamnya di mobil sehingga penampilannya sekarang mirip anak kuliahan ditambah wajahnya yang awet muda bak usia belasan.
"Oh, iya ... aku baru ..." jawab Ronan ngasal, maksudnya ... ia adalah dosen baru di kampus Shakila.
Tapi Ronan tak ingin memberitahu mahasisiwinya tentang siapa dia sebenarnya. Biarlah Shakila mengira kalau ia adalah seorang mahasiswa.
Akhirnya, tugas menyebarangkan seluruh anak-anak difabel selesai juga, berkat bantuan Ronan dan para pengendara lainnya. Seluruh anak-anak menggemaskan itu sampai ditujuan. Tak lupa, mereka semua langsung mengucapkan terimakasih pada sang penolong mereka dan Shakila memeluk anak-anak itu bersama-sama.
Gadis itu sangat senang karena ia juga banyak belajar dari perjuangan dan semangat yang dimiliki anak-anak disabilitas ini. Meski kondisi fisik mereka tidak sempurna, semangat mereka terus membara dan tak pernah putus asa dengan ketidaksempurnaan yang anak- anak ini miliki.
Menyadari hal itu, timbullah tekad kuat di hati Shakila untuk terus melanjutkan studynya walau apapun yang terjadi. Tak peduli betapa sulit dan kejamnya rintangan yang akan ia hadapi selama berada di kampus elit itu. Ia tidak akan menyerah dan maju pantang mundur.
Shakila akhirnya bermaskud kembali ke kampus setelah melihat anak-anak disabilitas memasuki sekolah mereka. Gadis itu sudah siap sedia menerima hukuman apapun yang diberikan karena sudah melanggar peraturan kampus, yaitu bolos kuliah tanpa izin.
"Terimakasih sudah membantu anak-anak ini menyeberang jalan, aku harus kembali ke kampus dan bersiap mendapat hukuman karena sudah bolos kuliah tanpa izin. Kau kuliah di mana?" tanya Shakila pada Ronan.
"Di unversitas Rejasa," jawab Ronan sambil memerhatikan mobil pamannya. Ronan mengirim pesan pada pamannya agar meninggalkannya karena ia bermaksud pergi ke kampus dengan Shakila.
"Hah? Yang benar? Itu kampusku juga ... kita satu kampus dong ... senang bertemu dengan rekan sendiri." Shakila sangat gembira karena menemukan teman baru, refleks ia menepuk pelan lengan Ronan dan bersikap sok akrab padanya tanpa tahu kalau pria yang ia tepuk lengannya itu adalah dosennya sendiri.
"Senang bertemu denganmu juga," ujar Ronan sambil terus tersenyum melihat betapa polosnya Shakila.
Mereka berdua akhirnya memutuskan pergi ke kampus bersama-sama dengan berjalan kaki. Momen itu Ronan gunakan untuk menatap wajah cantik Shakila sepuasnya. Dan Shakila sendiri, ia merasa aman berjalan dengan Ronan meski mereka berdua baru saja bertemu.
Sejak datang ke kampus, ini pertama kalinya gadis itu bicara banyak hal pada rekan sesama kampus. Sebelumnya, ia tak berani buka suara karena takut pada seluruh seniornya.
"Oh iya ... namamu siapa?" tanya Shakila disela-sela perjalanan mereka menuju kampus.
"Ron," panggil saja Ron.
"Oh, Ron ya? Kau pasti bosan karena sejak tadi aku nyerocos terus tanpa henti," aku Shakila agak sedikit malu sendiri.
"Tidak juga, aku senang. Aku malah baru tahu kalau keadaan kampus sekejam itu." Ronan berkata jujur,
Setelah ini, ia bermaksud untuk mengajukan program baru yang menghapuskan tindak kekerasan dalam bentuk apapun dikampusnya, agar gadis seperti Shakila bisa tenang menimba ilmu tanpa takut dibully atau dibeda-bedakan hanya karena status sosialnya berbeda dengan yang lainnya. Itulah hal pertama yang akan dilakukan Ronan sebagai seorang dosen baru. Dan itu semua demi Shakila.
Begitu memasuki gerbang kampus, Ronan sengaja memisahkan diri agar identitas aslinya tak diketahui Shakila. Tanpa curiga, gadis itupun setuju dan ia memang langsung mendapat hukuman keras karena telah melanggar peraturan kampus.
Sejak saat itu, Ronan terus memerhatikan Shakila dari kejauhan tanpa kentara. Bahkan bila tak ada yang melihat, pria tampan itu selalu datang menghampiri Shakila dan menyapanya. Shakila sendiri juga masih tidak menaruh curiga akan siapakah sosok teman barunya itu. Ia terus menganggap Ronan sebagai mahasiswa dari fakultas lain karena ia tak pernah melihat Ronan di fakultasnya.
Suatu ketika, Shakila datang terlambat karena ia bangun kesiangan. Hari ini ia mengambil mata kuliah baru, yaitu tentang teori sastra. Sebelumnya, ia pernah mendengar desas-desus yang menyatakan kalau dosen Sastra itu sangat killer dan tegas pada muridnya.
Sebab itulah Shakila ragu apakah ia lanjut masuk ke dalam atau tidak karena ia sudah terlambat 10 menit dari jadwal. Kalau masuk, pasti ia bakal dihukum seberat-beratnya, tapi kalau tidak, nilainya bakal berkurang. Shakila benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan.
"Aduh ... bagaimana ini?" tanya Shakila cemas dan hanya bisa mengintip keadaan di dalam kelas dari balik jendela pintu luar. Namun, ia tak melihat seperti apa wajah dosen killernya itu.
"Kau sedang apa?" tanya seseorang dari balik punggung Shakila. Tentu saja gadis itu terkejut melihat Ronan tiba-tiba saja ada di belakangnya.
"Aduh, kau ini bikin aku kaget saja, untung aku nggak punya penyakit jantung," ujar Shakila sambil memegangi dadanya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Shakila malah balik bertanya. Baru kali ini ia melihat Ronan memakai pakaian resmi layaknya seorang asisten dosen.
"Aku ada kelas di dalam? Kenapa kau tidak masuk?" tanya Ronan heran.
"Ssssssttt ... jangan keras-keras." Shakila menempelkan satu jari telunjuknya di depan mulutnya sendiri memberi tanda pada Ronan untuk mengecilkan volume suaranya agar tak didengar orang lain. "Apa kau tidak tahu? Dosen kelas ini sangat killer. Kita berdua sudah terlambat 10 menit dari jadwal kuliah. Jika kita masuk, kita bisa dihukum," bisik Shakila dan Ronan malah tertawa.
"Siapa yang mengatakan itu padamu?" tanya Ronan setelah tawanya mereda.
"Banyak yang bilang begitu," jawab Shakila bingung melihat tawa Ronan.
"Kau dibodohi oleh mereka, dosen sastra di kelas ini sangat tampan, ramah dan baik hati. Bahkan ia jadi idola para kaum hawa dikelasnya. Masuk saja kalau kau tidak percaya." Roman masih tertawa melihat wajah bingung wanita yang sudah berhasil menarik perhatiannya ini. "Ayo masuk," ajak Ronan.
BERSAMBUNG
***
mampuslah lo caittin