"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2. Aksi penulis jadi pahlawan dadakan.
Dengan napas yang dia tahan sebisa mungkin, Leon melangkah keluar dari balik pohon besar itu. Jantungnya berdebar rasanya mau copot, deg-degan parah banget. Di depan sana, keributan makin jadi. Kue raksasa itu mulutnya menganga lebar-lebar, krim cokelatnya meletup-letup kayak mau dimuntahkan ke mana-mana. Zarek masih sibuk bangun sendiri karena habis jatuh, sementara para prajurit cuma bisa mundur pelan-pelan, bingung harus ngapain menghadapi musuh yang bentuknya makanan manis begini.
“WOY! KALIAN NGAPAIN DI SINI?!” teriak Leon sekeras mungkin, sambil lari mendekat, tangannya melambai-lambai seolah-olah dia memang orang asing yang lagi lewat dan kaget melihat keributan.
Semua mata langsung menoleh ke arah Leon. Liora langsung mundur selangkah, tangannya siap memanggil sihir, sementara Zarek yang baru bangun langsung maju menghalangi Liora, pedangnya diacungkan ke Leon.
“Siapa kamu?! Mata-mata Valgus ya?!” bentak Zarek dengan suara lantang, tapi matanya melirik ke kue raksasa di belakang Leon, terlihat jelas dia lebih takut pada kue itu daripada pada keberadaan Leon.
Leon hanya tersenyum kaku, mengangkat kedua tangan tanda damai. dia mencoba mengikuti gaya bicara di sini. “Eh enggak enggak! aku cuma orang biasa yang lagi jalan-jalan nyari tanaman obat! aku dengar suara berisik, jadi aku cuma mau menolong saja kali!”
Liora menatap Leon dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapannya tajam, kayak sedang memeriksa benar atau tidaknya orang ini biasa saja. Bajunya kaos oblong sama celana pendek, sepatu kets, rambut agak berantakan pasti terlihat sangat aneh di dunia yang isinya orang memakai baju zirah dan gaun begini.
“Orang biasa pakai baju aneh begitu?” tanya Liora dengan nada curiga. “Asal kamu tahu, sekarang sedang sangat berbahaya di sini. Lebih baik kamu minggir saja, nanti malah terlibat masalah.”
Belum sempat Leon menjawab, tiba-tiba kue raksasa itu berbicara lagi, suaranya makin keras dan marah. “DIAM SEMUA! KALIAN TIDAK BOLEH PERGI! AKU KAN MAU DIMAKAN ATAU MAKAN! PILIH SANA!”
Seketika semua orang panik lagi. Kue itu mulai mengeluarkan tangan-tangan kecil yang terbuat dari adonan roti, lalu mulai memegang dahan-dahan pohon untuk maju makin dekat. Leon melihat wajah Zarek yang makin pucat; dia sudah bersiap menyerang tapi terlihat jelas bingung bagian mana yang harus dipotong. Kalau dipotong nanti malah hancur, krimnya tumpah ke mana-mana.
Batin Leon, Sialan… ini semua salah gue. Kalau dulu gue tulisnya lebih jelas atau setidaknya kasih aturan kalau benda aneh ini cuma ilusi atau cuma ada sebentar, nggak bakal ada kejadian konyol begini. Tapi gue cuma tulis “isinya apa saja ada”, ya sudah jadinya begini deh.
Leon teringat buku catatan yang ada di dalam tasnya. Dia harus menggunakannya, tapi tidak boleh terlihat. Kalau mereka tahu dia bisa mengubah keadaan hanya dengan menulis, tamat riwayatnya.
Leon menatap Liora, lalu berteriak, “Nona! Kalau musuhnya tidak biasa, kita tidak bisa lawan pakai cara biasa dong! Dengar aku, benda ini kan bentuknya makanan kan? Berarti dia lemah pada yang panas atau yang bisa membuat dia meleleh!”
Liora terlihat bingung sebentar, tapi matanya langsung berbinar. “Oh iya! Sihir api! Tapi… sihir api aku tidak jago, aku kan pengendali cahaya.”
Leon menatap Zarek yang masih melongo sambil memegang pedang. “Ksatria! kamu bawa minyak atau obor tidak di perbekalan? Bakar saja bagian bawahnya! Biar dia tidak bisa bergerak!”
Zarek mengedipkan matanya, lalu wajahnya cerah banget kayak baru menemukan jawaban soal matematika. “BENER JUGA! AKU KAN KUAT BANGET, BERARTI AKU YANG AKAN MEMBAKARNYA! PINJAM OBORNYA MANA!”
Para prajurit langsung menyerahkan obor yang masih menyala. Zarek mengambilnya dengan bangga, lalu berlari maju ke depan… tapi karena terlalu bersemangat dan otaknya memang tidak terlalu encer seperti yang Leon tulis, dia malah tersandung akar pohon lagi, terlempar ke depan, dan obornya terbang tepat ke arah tumpukan krim di badan kue raksasa itu.
“WOY! SALAH TANGKAP!” teriak Leon secara refleks.
Tapi kebetulan sekali… atau mungkin karena Leon adalah penulisnya, hal itu malah berjalan sesuai harapan. Api langsung menjalar cepat sekali mengenai krim yang mudah terbakar. Kue raksasa itu langsung berteriak histeris, suaranya makin melengking sampai bikin telinga terasa sakit. “ADUH! PANASSS! AKU MELELEH! AKU TIDAK MAU HANCUR!”
Kue itu mulai meleleh menjadi cairan manis yang lengket, makin lama makin mengecil, sampai akhirnya sisa terakhirnya menguap menjadi asap berwarna-warni yang baunya sangat harum.
Semua orang terdiam sejenak, menatap tempat kue raksasa itu tadi berdiri sekarang hanya tersisa noda cokelat lengket di tanah.
Zarek berdiri tegak lagi, napasnya agak terengah, lalu menepuk dadanya sendiri dengan rasa bangga yang meluap-luap. “Hah! Lihat tuh! aku kan bilang aku hebat! Musuh sebesar itu saja kalah sama aku! Padahal aku jatuh, tapi tetap menang dong! Begini lah ksatria sejati!”
Leon hanya bisa menepuk dahi dalam hati. Pikirnya, Ya ampun… dia memang benar-benar agak lambat tapi sangat beruntung. Persis kayak deskripsi yang gue tulis.
Liora berjalan mendekat ke arah Leon, tatapannya bercampur rasa penasaran dan kewaspadaan. Dia melihat pakaian Leon lagi, lalu wajahnya, seolah sedang mencari sesuatu yang terasa aneh.
“Terima kasih ya,” kata Liora pelan. “Kamu orangnya sangat cerdas ya. Tahu saja cara mengalahkan makhluk seaneh itu. Omong-omong, siapa namamu? Dan dari mana asalmu? Pakaian dan cara bicaramu… sangat berbeda, belum pernah aku lihat orang sepertimu di Kerajaan Cahaya ini.”
Leon tersenyum kaku, jantungnya berdegup makin kencang. “Eh… nama aku… Leon! Iya, Leon. aku… berasal dari daerah yang sangat jauh, di luar batas kerajaan. Di tempat aku memang pakaiannya berbeda, dan aku sering membaca banyak buku, jadi tahu sedikit banyak tentang sifat makhluk ajaib.”
Dia mengarang cerita sekenanya, berharap Liora mempercayainya. Untungnya karena Leon adalah penulis ceritanya sendiri, dia sangat paham sifat karakter ini. Liora orangnya baik, pemberani, dan tidak terlalu mencurigai orang yang baru saja menolongnya. Dia lebih mempercayai apa yang dirasakan hatinya.
“Leon…” ulangnya pelan, lalu tersenyum tipis. Senyumnya bikin dada Leon terasa berdebar dengan cara yang aneh. Sumpah, Leon sendiri yang menciptakan karakter ini, tapi saat melihatnya secara langsung, kecantikannya jauh melebihi apa yang pernah dia tuliskan. “Terima kasih banyak, Leon. Kalau kamu tidak ada tadi, mungkin kita masih bingung harus berbuat apa menghadapi kue itu. Namanya saja sudah aneh, apalagi makhluknya.”
“Itu salah Dewa Penulis sih…” celetuk Zarek sambil mengelap sisa krim yang menempel di baju zirahnya. “Memang Dia yang menciptakan kita, tapi kadang membuat hal-hal yang sangat aneh. Kayak kenapa harus ada monster kue? Emangnya mau dijadikan camilan saat perang?”
Semua prajurit tertawa kecil mendengar ucapan Zarek itu. Tapi Leon malah makin berkeringat dingin. Mereka membicarakan Dewa Penulis seolah-olah sedang mengobrolkan tetangga sebelah rumah yang kelakuannya aneh. Dan tetangga itu… ya dia sendiri.
Liora menoleh ke arah jalan yang harus mereka lalui. Wajahnya kembali berubah menjadi serius. “Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Siapa tahu makhluk aneh lain segera muncul. Ingat kata orang, daerah hutan ini paling kacau karena tulisan Dewa Penulis yang sering berubah-ubah atau belum selesai. Kita harus segera tiba di istana, menemui Raja, dan menyusun rencana menghadapi Lord Valgus.”
Dia kembali menatap Leon. “Leon, kamu orangnya cerdas dan sudah menolong kita. Mengapa tidak ikut saja bersama kami ke istana? Di perjalanan pasti masih banyak bahaya yang mengintai, dan kami butuh orang sepertimu yang punya ide cemerlang. Lagipula, tempat tinggalmu sangat jauh kan? Nanti aku akan memintakan tempat tinggal dan makanan dari Raja.”
Leon langsung berpikir cepat. Ini kesempatan emas! Kalau dia ikut mereka, dia tidak hanya aman, tapi juga bisa mengikuti jalannya cerita, memastikan mereka selamat, dan mencari tahu bagaimana cara dia bisa pulang. Lagipula, dia harus menyelesaikan konflik dengan Valgus yang sangat marah karena kelalaiannya sendiri.
Tapi risikonya juga sangat besar. Dia harus menjaga rahasia ini sangat ketat. Kalau sampai ketahuan bahwa dia adalah Dewa Penulis yang mereka bicarakan itu… entah mereka akan sujud memberi hormat atau malah marah besar ingin membunuhnya. Melihat betapa bencinya Valgus pada sosok itu, rasanya kemungkinan dibunuh jauh lebih besar.
Leon melirik buku catatan di dalam tasnya, lalu menatap Liora yang memandangnya penuh harap, dan melihat Zarek yang sedang sibuk mengelus pedangnya sambil bergumam sendiri, “aku ksatria terkuat, aku ksatria terkuat…”
“Baiklah,” jawabnya sambil tersenyum lebar, berusaha terlihat santai padahal di dalam hati rasanya sangat deg-degan. “aku ikut saja! Kebetulan sekali aku memang sedang mencari jalan menuju ibu kota juga. Lagipula, aku juga sangat penasaran dengan Kerajaan Cahaya yang konon sangat megah itu.”
“Bagus sekali! Ada teman baru!” seru Zarek dengan semangat, lalu menepuk pundak Leon sekuat tenaga. Bukan sekadar tepukan, rasanya hampir sama seperti ditabrak sepeda motor. “Tenang saja Leon! Ada aku Zarek, ksatria terkuat di sini! aku akan melindungimu! Meskipun otak aku tidak terlalu encer, tapi tenaga aku sangat besar! Dewa Penulis memang hebat, Dia membuat otak aku agak kosong tapi otot aku sangat kuat!”
Leon hanya bisa tersenyum kecut sambil memegang pundaknya yang terasa nyeri. “Iya iya, terima kasih banyak ya Zarek…”
Rombongan pun melanjutkan perjalanan. Leon berjalan di samping Liora, tepat di belakang Zarek yang berjalan paling depan sambil menyanyikan lagu perang ciptaannya sendiri isinya hanya “aku hebat, aku gagah, musuh kalah” yang diulang-ulang terus tanpa henti.
Sambil berjalan, Leon memperhatikan sekeliling hutan yang sangat aneh ini. Pohon-pohon yang daunnya bisa berubah warna setiap kali dilewati, sungai yang airnya kadang bening kadang berubah menjadi air soda, dan suara-suara aneh yang terdengar dari balik semak-semak. Semua ini benar-benar ciptaannya sendiri. Dunia yang dia tulis dengan asal-asalan, sekarang berubah menjadi tempat di mana dia harus berjuang untuk tetap hidup.
Leon membuka sedikit penutup tasnya, mengintip buku catatan bersampul hitam itu. Di halaman terakhir, tulisan yang dia ketik tadi masih terlihat jelas. “Tiba-tiba muncul bahaya besar, tapi…”
Dan sekarang, Leon sudah tahu kelanjutannya. Tapi bukan lagi dia yang hanya menulis di atas kertas… kali ini dia yang harus menjalani ceritanya sendiri.
Pikirnya, Bersiaplah saja Leon. Perjalanan ini pasti makin kacau, makin aneh, dan makin bikin pusing. Tapi gue harus memperbaiki semua ini. Gue harus memberikan akhir cerita yang adil buat mereka, dan juga buat diri gue sendiri.
Dan di kejauhan, di balik kabut tebal yang bahkan dia sendiri lupa menuliskan apa isinya, terlihat sosok tinggi besar mengenakan jubah hitam, dengan mata yang menyala merah menyala. Sosok itu sedang mengawasi ke arah rombongan mereka. Itu adalah Lord Valgus. Dan dia sepertinya sudah menyadari ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang asing, yang baru saja masuk ke dalam dunianya.
Leon merasakan seluruh tubuhnya merinding. Batinnya, Aduh… bahaya yang sesungguhnya baru saja dimulai.