Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Berani
Rombongan mobil mewah keluarga Gilbert berhenti di lobi VIP rumah sakit. Davin turun membuka pintu
Kayden keluar sambil menggendong Deana, sementara Vivian yang berada di dalam tubuh Arini berjalan di samping Alex dengan langkah tenang dan dagu terangkat, mengawasi situasi secara profesional. Aura anggunnya tetap terpancar kuat meski ia berada dalam balutan fisik Arini yang sederhana. Baby Elvano tetap di rumah dijaga oleh Lastri.
Mereka menyusuri koridor sepi menuju ruang nomor satu. Dua pengawal berjas hitam langsung menghadang, namun urung menarik senjata karena melihat Deana.
“Tuan Kayden Gilbert, area ini dijaga atas perintah Tuan Marvis. Kami dilarang mengizinkan siapapun masuk ke dalam," ucap salah satu pengawal tegas.
Kayden tak mundur. Ia menaikkan posisi gendongan Deana ke depan wajah mereka. “Minggir. Anak saya mau menjenguk neneknya.”
Deana langsung memajukan tubuhnya. “Paman Pengawal minggil! Dea mau ketemu Nenek! Kalo nda dikasih masuk, Dea hukum kalian sekalang! Deana jewel-jewel kalian belduaaa…”
Kedua pengawal itu saling lirik, lalu memilih mengalah mundur demi menjaga ketenangan di dalam.
Cklek!
Belum sempat masuk, pintu tiba-tiba terbuka. Nicolas Marvis muncul dengan wajah lelah. Begitu melihat Kayden, raut wajahnya seketika masam.
“Mau apa lagi kamu ke sini, Kayden? Belum puas membuat putriku meninggal?” tembak Nicolas tajam.
Kayden hendak membalas ketus, namun Vivian dengan gerakan yang sangat halus dan terukur, menyentuh lengan suaminya—sebuah kode non-verbal yang elegan agar Kayden tetap tenang.
Deana menepuk pundak Kayden keras. “Papa! Katanya mau jadi olang baik! Minta maap!”
Kayden menarik napas lalu mengembuskannya perlahan. Sambil tetap menggendong Deana, ia menundukkan kepalanya di hadapan Nicolas.
“Kedatangan saya ke sini bukan untuk berdebat, Pa. Deana ingin melihat kondisi Neneknya. Dan saya… ingin meminta maaf atas semua sikap saya selama ini.” Ucapnya sesopan mungkin.
Nicolas tertegun sangsi. Matanya beralih pada Deana yang tersenyum lebar sambil mengacungkan dua jempol, didampingi Alex yang mengangguk setuju.
Dari dalam kamar, terdengar suara lemah wanita dari balik tirai.
“Papa… siapa di luar? Apa itu suara Deana?”
Vivian mengepalkan tangannya kuat-kuat mendengar suara ibunya. Jantungnya berdesir tajam. Namun, sebagai seorang sosialita yang terbiasa mengontrol emosi di depan publik, ia menghela napas dalam-dalam, menegakkan bahunya, dan kembali memasang ekspresi tenang yang tak terbaca.
“Ck!” Nicolas mendecak lidah, lalu memberi jalan.
"Masuk.”
“Nenek…” Deana langsung berlari kecil menuju ranjang Aletha.
Aletha tersenyum tipis mendengar suara itu. “Deana… cucu Nenek kenapa bisa ada di sini? Datang sama siapa, Sayang?”
“Papa, Abang Cendol sama Auntie Alini, Nek,” jawab Deana, hampir kelepasan memanggil Mama sesuai pesan Vivian sebelumnya agar Deana tidak panggil "Mama" di hadapan orang tuanya.
“Baby El tidak ikut?”
“Nda, Nenek. Adik El suka ngompol, bikin Deana lepot ganti popok jadi Dea tinggalin aja di lumah.”
Alex memutar bola matanya malas. Faktanya, Deana hanya sibuk bermain dan yang repot mengurus bayi adalah Vivian.
“Nenek, itu… matanya napa dipelban? Habis teluka di mana?” tunjuk Deana pada mata Aletha.
“Nenekmu habis operasi mata,” sahut Nicolas.
“Opelasi mata? Maksudnya… mata Nenek dicopot telus dipasang ulang?"
Aletha terkekeh gemas. “Tidak begitu juga… Deana, Sayang.”
“Semoga mata Nenek cepat sembuh dan bisa melihat lagi,” timpal Alex di sebelah Deana.
“Amin. Terima kasih kalian sudah datang kemari,” ucap Aletha tersenyum senang.
Melihat anak-anak menemani Aletha, Nicolas memberi isyarat kepada Kayden dan Vivian untuk ikut keluar kamar.
Begitu pintu tertutup, Nicolas langsung bertanya sinis, “Apa sebenarnya tujuanmu datang kemari? Aku yakin kau bukan datang cuma untuk minta maaf, kan?”
Kayden diam sejenak sambil melirik Vivian. Vivian memberikan anggukan kecil yang sarat akan ketegasan, mengizinkan suaminya bicara.
“Soal Vivian… sebenarnya…”
“Kau mau memberitahuku soal putriku yang kau sandera selama ini? Bajingan!” Nicolas tiba-tiba menerjang dan mencengkeram kuat kerah kemeja Kayden dengan mata merah penuh kemarahan.
“Bagaimana Papa tahu?” tanya Kayden, berusaha tetap tenang karena Vivian memberikan tatapan tajam yang mengunci gerakannya agar tidak membalas orang tua itu.
“Arsen! Lima menit sebelum kalian datang, dia menghubungi dan mengatakan kalau putriku masih hidup dan jadi tahanan di rumahmu!” seru Nicolas emosi.
“Bukan tahanan, tapi pasien koma. Vivian sampai sekarang masih koma dan aku berusaha menjaga dia tetap hidup. Aku tidak pernah menjadikannya sandera. Tolong jangan salah paham,” ralat Kayden kesal pada Arsen yang memutarbalikkan cerita.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Kayden. Vivian tersentak, kilat amarah sempat melintas di matanya melihat suaminya dipukul. Namun, ia menahan diri demi menghormati posisi Nicolas sebagai ayahnya. Kayden hanya diam menerima hantaman itu sebagai penebusan masa lalunya.
“Keparat! Selama ini kami menangisi kematiannya, tapi ternyata kau malah membuat kematian palsu putriku! Sekarang kembalikan dia pada kami!” bentak Nicolas sambil mendorong kasar tubuh Kayden.
Dengan gerakan tangkas dan elegan, Vivian maju selangkah, menahan punggung Kayden sebelum suaminya itu menghantam tembok. Nicolas yang sudah kepalang emosi langsung berbalik masuk ke dalam kamar rawat, menutup pintu dengan dentuman keras tanpa mau mendengar penjelasan apa pun lagi.
Vivian mengusap lengan Kayden, memberikan kekuatan emosional yang menenangkan. “Jangan berkecil hati. Reaksinya sangat wajar untuk seorang ayah yang baru tahu putrinya disembunyikan. Berikan beliau waktu, Kay. Kita akan luruskan ini bersama.”
Kayden mengangkat wajahnya yang lesu, menatap lekat raga Arini. Kedewasaan dan ketenangan wanita di hadapannya ini benar-benar mencerminkan jiwa Vivian seutuhnya.
“Aku ke toilet sebentar,” ucap Vivian dengan nada santun, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.
“Aku temani…”
“Tidak usah, tetap di sini dan pastikan anak-anak aman.” Vivian memberikan senyum tipis yang menenangkan sebelum berbalik pergi.
Kayden menatap kepergian Vivian. Rasa kagum sekaligus tekad kuat bergolak di dadanya. “Baiklah, aku harus melakukan sesuatu supaya dia secepatnya kembali ke raganya sendiri!”
Kayden merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang untuk menyiapkan rencana pertama.
Sementara itu, setelah selesai dari toilet, Vivian berjalan kembali menyusuri koridor dengAn langkah yang anggun dan berirama. Namun, langkahnya mendadak terhenti saat berpapasan dengan Arman yang baru keluar dari poli kandungan bersama seorang wanita yang berpenampilan menor.
Wanita selingkuhan Arman itu seketika bersedekap, menatap Vivian dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. “Oh, bukankah ini mantan istrimu, Mas? Kok bisa kebetulan bertemu di rumah sakit berkelas seperti ini? Jangan-jangan kamu sengaja menguntit kami karena belum bisa move on, ya?” sindirnya dengan senyum sinis.
Vivian tak terpancing sama sekali, tak membalas dengan teriakan, melainkan hanya berdiri tegak, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap wanita itu dengan tatapan dingin, datar, dan sangat merendahkan seolah sedang melihat seonggok debu di sepatunya.
Vivian menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sarkasme. “Rumah sakit ini memang berkelas, tapi sayang... sistem filtrasinya kurang baik, sampai-sampai sampah domestik sejenis kalian bisa lolos masuk ke area VIP.”
“Kamu—! Kurang ajar ya!” wajah wanita itu seketika memerah, tersinggung berat oleh intonasi Vivian yang begitu tenang namun menusuk. “Sadar diri sedikit! Kamu itu cuma wanita miskin buangan yang tidak punya harga diri!”
Vivian terkekeh rendah. Suara kekehannya terdengar sangat elegan, seolah sedang mendengarkan lelucon bodoh dari seorang anak kecil.
“Bicara soal harga diri di depan seorang pelakor?”
Vivian maju satu langkah, membuat wanita itu refleks mundur karena terintimidasi oleh aura dominan yang mendadak menguar dari tubuh Arini.
Vivian menatap riasan tebal di wajah wanita itu dengan pandangan geli. “Sebelum Anda mendikte hidup saya, saya sarankan Anda membeli cermin yang lebih mahal. Lipstik murah dan barang tiruan yang Anda pakai dari ujung kepala sampai kaki sama sekali tidak bisa menutupi fakta bahwa Anda hanyalah opsi kedua yang dipungut dari tempat sampah.”
“ARINI, CUKUP!” bentak Arman dengan rahang mengeras, merasa harga dirinya ikut diinjak-injak.
Vivian mengalihkan pandangan matanya yang dingin kepada Arman. Sorot matanya beralih ke arah mulut mantan suami Arini tersebut.
“Ah, Tuan Arman,” ucap Vivian dengan nada bicara yang sangat formal namun dipenuhi penghinaan yang pekat. “Saya lihat gigi Anda sudah lengkap lagi. Berapa biaya yang Anda habiskan untuk memasang gigi palsu itu? Kuharap kualitasnya lebih baik dari moral Anda yang sudah rontok sejak lama.”
Arman membeku seketika. Wajahnya memerah padam, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Sialan… sejak kapan Arini memiliki tatapan sekejam ini? Mengapa wanita di hadapannya ini sama sekali tidak terlihat seperti mantan istrinya yang lemah dan penakut, melainkan seperti seorang nyonya besar dari kalangan atas yang siap menghancurkan mereka dalam satu kedipan mata?
tp makasih yx kak buat cerita ny ,,
cerita ny baguuus ,,
kirain sampe si davin nikah ma arini kak ,,
padahal udh dtggu2 looo🤭😁😁😁😁,,
semangat trus menulisny kak ,,
sehat2 selalu ,,