NovelToon NovelToon
Halal Tapi Asing

Halal Tapi Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan di Balik Kertas Putih

Sinar matahari pagi yang mulai meninggi menembus celah-celah hiasan ukir pada jendela kamar, memantulkan bayangan garis-garis panjang di atas lantai semen yang dingin. Di atas sofa panjang, Gus Arsalan melenguh pelan. Kelopak matanya yang terasa seberat timah perlahan terbuka. Kepalanya berdenyut nyeri yang teramat sangat, efek dari hantaman badai emosi dan tangis penyesalan yang ia tumpahkan sendirian di sepertiga malam tadi.

Arsalan menyugar rambutnya yang berantakan dengan telapak tangan yang gemetar. Ia terduduk di tepi sofa, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat hilang terbawa mimpi buruk. Begitu pandangannya menyapu sekeliling ruangan, rasa sunyi yang tidak biasa langsung menyergap indramunya. Kamar itu terasa begitu kosong, sepi, dan kehilangan kehangatannya yang samar.

"Humaira..." panggil Arsalan lirih, suaranya serak dan parau khas orang bangun tidur.

Tidak ada sahutan. Pandangan mata elangnya segera beralih menatap ke arah ranjang besar di seberangnya. Sprei hijau tua itu tampak sudah tertata dengan sangat rapi dan bersih, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan sang pemilik di sana. Mukena dan sajadah yang biasanya tergantung rapi setelah fajar pun kini sudah berpindah tempat ke dalam lemari.

Arsalan bangkit dari sofa, berniat melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang kusut. Namun, tepat saat ia menoleh ke arah meja nakas kecil yang terletak di samping sofa tempatnya tidur, gerakan kakinya terhenti seketika.

Sebuah benda pipih berwarna perak jam tangan kulit miliknya tergeletak di atas meja. Dan di bawah jam tangan tersebut, terselip selembar kertas putih bersih yang dilipat menjadi dua bagian rapi.

Deg.

Firasat buruk mendadak menghantam dada Arsalan dengan begitu keras. Jantungnya berdegup cepat, memompa rasa cemas yang tak tertahankan ke seluruh aliran darahnya. Dengan tangan yang bergetar hebat, ia meraih jam tangannya, lalu mengambil kertas putih tersebut. Perlahan, ia membuka lipatan surat itu.

Aroma wangi parfum mawar khas milik Humaira yang lembut menyeruak dari permukaan kertas, seketika mengiris ulu hati Arsalan sebelum ia sempat membaca satu kata pun. Aroma itu mengingatkannya pada sosok wanita yang selama ini selalu ia zalimi di kamar ini.

Arsalan menarik napas panjang yang terasa sesak, lalu mulai membaca untaian tulisan tangan yang rapi dan tegak milik istrinya.

:Assalamualaikum, Gus Arsalan.

Sederek ingkang kawula hormati. Melalui surat ini, kulo ingin meminta izin untuk pulang ke rumah Abah dan Ummi di Jombang kota selama beberapa waktu. Kulo merasa butuh waktu dan ruang yang tenang untuk menata kembali hati dan pikiran kulo setelah semua kejadian yang menimpa kita.'

Membaca paragraf pertama, cengkeraman rasa bersalah langsung mencekik leher Arsalan dengan begitu kuat. "Sederek ingkang kawula hormati..." Panggilan itu terasa begitu asing, begitu formal, dan menciptakan jarak beribu-ribu kilometer di antara mereka. Humaira tidak lagi memanggilnya sebagai suami, melainkan sebagai orang asing terhormat yang harus ia patuhi secara hierarki sosial pesantren. Wanita itu memilih pergi, melarikan diri dari neraka dunia yang ia ciptakan di dalam kamar ini semalam.

Arsalan menahan napasnya yang mulai memburu, memaksa matanya untuk terus membaca baris demi baris berikutnya.

'Gus mboten usah khawatir, kulo sampun berpamitan secara halus kepada Umi Khadijah semalam sebelum beliau tidur, dengan alasan ingin membantu Ummi saya mempersiapkan acara khataman di pondok sepuh. Kulo mboten menceritakan satu patah kata pun mengenai masalah rumah tangga kita kepada Umi. Rahasia dan nama baik Njenengan sebagai seorang Gus tetap aman bersama kulo.'

'Astagfirullah...'

Arsalan meremas tepi meja nakas dengan tangan kirinya yang bebas, menahan hantaman rasa malu yang teramat besar hingga dadanya berdentum laksana dipukuli. Di saat dirinya menuduh Humaira berselingkuh dan menginjak-injak harga dirinya dengan keji semalam, wanita suci itu justru masih sempat memikirkan nama baiknya di depan Umi Khadijah. Humaira memproduksi kebohongan manis demi melindunginya, demi menjaga martabat seorang Gus Arsalan agar tidak cacat di mata sang ibu.

:Kenapa kamu begitu mulia, Humaira? Kenapa kamu tidak mengadu saja pada Umi agar aku dikutuk menjadi anak durhaka?' batin Arsalan menjerit frustrasi. Kebaikan Humaira yang tak bersyarat justru menjelma menjadi cambuk besi yang merobek-robek harga diri keangkuhannya.

Air mata yang sejak semalam ia tahan kini kembali merebak di pelupuk mata elang Arsalan. Setitik air mata jatuh menetes tepat di atas permukaan kertas putih tersebut, membuat tinta pena hitam milik Humaira sedikit pudar di bagian akhir kalimat. Dengan pandangan yang mulai kabur, Arsalan membaca paragraf terakhir yang menjadi gong dari kehancuran hatinya pagi ini.

'Mengenai tawaran... atau pertanyaan kulo semalam tentang perceraian, kulo mohon Njenengan berpikir dengan jernih tanpa emosi selama kulo mboten wonten di samping Njenengan. Apa pun keputusan yang terbaik bagi masa depan dan kebahagiaan Njenengan, kulo badhe ikhlas menerima

Maturnuwun atas segalanya. Wassalamualaikum.

Humaira.'

Brukh!

Arsalan kehilangan seluruh kekuatan di kedua kakinya. Tubuh tegapnya luruh, jatuh terduduk di atas lantai kamar yang dingin tepat di samping sofa. Surat dari Humaira didekapnya erat-erat di depan dada, sementara kepalanya menunduk dalam di antara kedua lututnya.

Isak tangis seorang pria dewasa akhirnya pecah dengan begitu hebat di dalam kamar yang sunyi itu. Bahu Arsalan bergetar hebat, napasnya tersedak-sedak menahan rasa perih dan penyesalan yang teramat sangat yang kini menguliti jiwanya hidup-hidup. Kata 'cerai' dan 'ikhlas menerima' yang ditulis oleh Humaira terasa laksana vonis mati bagi sisa-sisa kewarasan batinnya.

Selama ini, ia merasa menjadi korban paling malang dalam perjodohan ini karena hatinya tertinggal di London bersama Evelyn. Namun, surat ini menyadarkannya secara brutal bahwa korban terkutuk yang sebenarnya adalah Humaira—gadis suci yang tidak tahu apa-apa, yang ia nikahi hanya untuk ia telantarkan, ia abai, dan akhirnya ia fitnah dengan keji hanya karena ego cemburunya yang terlambat bangun.

"Maaf... Maafkan aku, Humaira..." bisik Arsalan di sela-sela isak tangisnya yang memilukan. Suaranya bergema hampa di ruangan yang kini tak lagi memiliki separuh jiwanya.

Satu jam berlalu dalam keputusasaan yang sunyi. Setelah membersihkan diri dan mencoba menstabilkan emosinya, Gus Arsalan melangkah keluar dari kamar dengan wajah yang tampak begitu kuyu dan mata yang sembap memerah. Ia berjalan lambat menuju ruang tengah *ndalem* sepuh, berniat mencari keberadaan sang ibu.

Di ruang tengah, Umi Khadijah tampak sedang duduk santai di atas sofa sembari merajut sebuah taplak meja rajut. Wajah sepuhnya terlihat jauh lebih segar. Begitu mendengar langkah kaki putranya mendekat, Umi Khadijah mendongak, namun senyumnya langsung memudar saat melihat penampilan Arsalan yang berantakan.

"Arsalan... Le, kamu kenapa? Wajahmu kok pucat sekali begitu? Matamu juga merah, kamu ndak tidur semalam?" tanya Umi Khadijah dengan nada suara yang sarat akan kekhawatiran seorang ibu.

Arsalan memaksakan dirinya untuk tersenyum tipis, lalu duduk bersila di atas lantai karpet tepat di samping lutut ibunya, menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada paha Umi Khadijah sebuah kebiasaan masa kecilnya saat ia sedang memikul beban berat.

"Arsalan ndak apa-apa, Umi. Hanya sedikit pusing karena kurang tidur," jawab Arsalan bohong, suaranya terdengar sangat parau. Ia memejamkan matanya, merasakan usapan lembut jemari ibunya di atas rambutnya.

Umi Khadijah mengembusen napas panjang, mengusap kepala putranya dengan penuh kehangatan. "Kalau pusing ya istirahat, Le. Jangan dipaksakan urusan bisnis terus. Oh iya, istrimu, Humaira, tadi subuh sekali sudah pamit ke Umi. Katanya mau pulang ke rumah Ummi Fatimah di Jombang kota untuk bantu-bantu acara khataman pondok sepuh. Kamu sudah tahu, kan? Tadi malam dia pamitnya sopan sekali, katanya sudah atas izinmu."

Mendengar betapa percayanya Umi Khadijah pada kebohongan Humaira, dada Arsalan kembali berdenyut ngilu. Sang Umi sama sekali tidak tahu badai hebat yang terjadi di dalam kamar semalam. Umi tidak tahu bahwa menantu kesayangannya telah terluka parah akibat kelakuannya.

"Enggeh, Umi. Humaira... Humaira sampun pamit dan meninggalkan surat kagem Arsalan," sahut Arsalan dengan tenggorokan terasa tercekat.

Umi Khadijah tersenyum senang, kembali melanjutkan rajutannya. "Alhamdulillah kalau begitu. Umi senang sekali melihat kalian berdua. Humaira itu perempuan yang teramat tulus, mandiri, dan penyabar. Selama menikah denganmu, dia ndak pernah sekalipun mengeluh. Dia selalu terlihat ceria, merawat pondok, dan merawat Umi tanpa pamrih. Umi benar-benar bersyukur punya menantu seperti dia. Kamu beruntung sekali punya istri sesempurna Humaira, Le. Jaga dia baik-baik, ya."

Pujian demi pujian yang mengalir tulus dari bibir sang Umi laksana belati yang kian menancap dalam di ulu hati Arsalan. Umi memuji Humaira setinggi langit karena sang Umi mengira rumah tangga putranya sedang bahagia-bahagianya. Umi tidak tahu apa-apa, dan ketidaktahuan ibunya justru membuat Arsalan merasa menjadi manusia paling munafik dan jahat di atas bumi ini.

Arsalan hanya bisa mengangguk pelan dengan mata yang memanas, menyembunyikan wajah piasnya di atas pangkuan sang ibu. Di dalam sudut hatinya yang paling dalam, sebuah tekad baru mendadak tumbuh dengan kokoh: ia harus menjemput Humaira. Ia harus memperbaiki retakan yang telah ia buat dan memohon ampun, meskipun ia harus membuang seluruh harga diri keangkuhannya di depan rumah orang tua istrinya. Pagi itu, Arsalan menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada istrinya sendiri sebuah rasa cinta yang terlambat mekar di atas hamparan luka yang teramat dalam.

1
Nita Kurniawati
kalo unt bahasake diri sendiri lebih tepat boten purun Thor, boten kersa itu unt yg lebih tua 😊
Hatnah Batulicin
preeett,ujung ujungnya cerita nya sihumaira luluh..mau maafin suaminya..semua cerita sama aja 😏
falea sezi
😒 ngapain lu ngemis maaf bukannya cerai bagus lu bisa. kejar tuh pacar lu🤣 anak kiyai g ada adab🤣🤣🤣 sprtnya cerai aja deh Thor najis amat laki munafik jahat😓
falea sezi
lanjut buat cerai thor
falea sezi
moga aja cerai😒 dan ma Reyhan aja biar gigit jari si sialan🤣 sebel liat dia tuh istri yda minta cerai kabulin dan susul belahan hatimu di london🤣 tinggal nunggu emak lu kena serangan jantung aja
falea sezi
cerai aja ning😒 percuma suami g bs move on 😒
Anonim
AGUS AGUS AGUS AGUS
Anonim
GUS GUS ?? AGUS AWOKAWOK AGUS AWOKAWOK
Ariani Sa
Lumayan
Ariani Sa
Luar biasa
Sarinah Quinn
di tunggu lanjutannya yah thor 🙏
Sarinah Quinn
di tunggu lanjutannya thor 🙏🙏
Keysa_Bom
maksudnya gini ya Allah 😭😭 Gus halal di hadapan mua😭 ih gemes aku😭
Keysa_Bom
Zulfa aku padamu 🤣
Keysa_Bom
rasanya sakit 😭 Humairah semangat 💪
Keysa_Bom
Gus..Guss.. awas bucin lo😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!