#DILARANG KERAS PLAGIAT CERITA INI#
Patricia Jessica Donovan selalu mengalami kejadian-kejadian mistis: tanpa sadar menghentikan hujan, mengutuk orang dan kutukannya benar terjadi, berkomunikasi dengan arwah, mengalami dejavu, meramal, bahkan bisa merasakan dengan tepat kapan seseorang akan "berangkat".
Sebastian Adrianus Verhoeven adalah sahabat baik Patricia dan hanya kepada Sebastian, Patricia bisa terbuka dan bercerita tentang semua kejadian termasuk kejadian di luar nalar.
Apakah Patricia akan mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya?
Apakah semua kejadian tersebut benar bakat alami atau berhubungan dengan kehidupan Patricia di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priskilawi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 : Rumah Kaca
Abraham Gilbert Morritz POV
Aku sangat bahagia pagi ini. Akhirnya aku bisa tersenyum lebar karena sangat bahagia, mengapa? Karena istriku akhirnya mulai ada inisiatif untuk menyentuh diriku terlebih dahulu.
Sebenarnya, aku sudah bangun ketika Patricia bangun lebih awal. Aku sengaja memejamkan mataku saat dia mulai menyentuhku rambutku.
Aku sengaja berpura-pura tidur agar istriku tidak sungkan melakukan apapun yang istriku mau.
Biasanya aku yang selalu berinisiatif dalam melakukan segala sesuatu seperti bergandengan tangan, berciuman bahkan bercinta. Dengan berpura-pura tidur, aku ingin agar istriku tidak merasa sungkan padaku.
Buatku, ini mukjizat karena istriku sudah mau menyentuhku. Apalagi saat istriku mulai menyentuh rambutku lalu turun ke wajahku.
Aku sangat senang, Sentuhlah aku dimanapun kamu mau sayang, aku tidak marah bahkan sangat senang, seruku dalam hati. Aku sudah nyaris berteriak tapi aku tahan. Aku tidak mau istriku mengetahui bahwa aku dari tadi berakting tidur.
Ketika sentuhan istriku turun ke bibirku, aku menahan eranganku.
Bagi seorang pria, sentuhan wanitanya adalah yang hal yang dinantikan dan walaupun kami tidak mengungkapkannya, percayalah kami sangat menantikannya dan sangat senang bila mendapatkannya.
Ketika aku menikmati sentuhannya, aku melirik istriku, dia tiba-tiba berhenti menyentuhku. Dia terlihat terdiam sesaat, lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali dan dia kembali berbaring di tempat tidur.
Aku sudah menikmati sentuhan istriku, aku tidak ingin istriku berhenti.
Aku mengecup bibir istriku lembut, ku buka mulut istriku dengan lidahku.
Dia nampak terkejut dan dia akhirnya membuka mulutnya dan lidah kami saling membelit, kami saling berpagut tidak berhenti.
Di saat ciuman panas kami, kami akhirnya bercinta.
"Aku mencintaimu, wifey." Kataku ketika kami sudah melakukan pelepasan berkali-kali.
Ku cium kening istriku lama ketika aku menanamkan benihku di dalam rahimnya.
"Aku juga mencintaimu, hubby." Ucap istriku yang membuatku terkejut.
Istriku akhirnya membalas perasaanku! Istriku mengatakan bahwa dia juga mencintaiku! Pekikku senang dalam hati.
Biasanya istriku tidak menjawab bila aku mengungkapkan perasaanku.
Selama ini aku berusaha membuat istriku jatuh cinta padaku tanpa Magick.
Aku selalu berusaha mencurahkan rasa cinta, sayang dan perhatianku kepadanya.
Aku ingin dia melihat, merasakan dan mengalami sendiri bagaimana sikapku padanya dan bagaimana sikap keluarga kami, keluarga Morritz padanya.
Sehari sebelum keberangkatan kami untuk honeymoon, papa memanggilku secara pribadi di ruang keluarga dan papa mengatakan sesuatu padaku:
"Abraham, berusahalah agar istrimu mencintaimu. Papa mendapatkan petunjuk, bila kamu bisa membuat istrimu mencintaimu, bahkan kalau kamu bisa membuat dia mengatakan dia mencintaimu, walaupun keluarga Verhoeven datang, istrimu tidak akan meninggalkanmu. Istrimu akan memilihmu."
Kini istriku sudah mengatakan padaku bahwa dia mencintaiku.
Ketika istriku membalas cintaku, aku langsung menyatukan diri kami kembali dan kami kembali memadu asmara.
Aku sangat bahagia dan tidak merasa lelah.
Ketika aku hendak melepaskan penyatuan kami karena aku tahu istriku pasti kelelahan dan dia belum makan apapun, istriku mencegahku.
"Jangan." Katanya dan dia memegang lengan kananku.
Aku terkejut, istriku biasanya tidak pernah ada inisiatif untuk meminta bercinta duluan ataupun minta tambah ronde, pikirku. Apakah sekarang dia muncul inisiatif akan meminta tambahan ronde? Tanyaku dalam hati.
"Kenapa, wifey?" Tanyaku, aku menatap mata coklatnya.
Juniorku masih menegang di dalam kewanitaannya. Aku ingin melepaskannya, namun aku dicegah istriku dan aku sedang menunggu jawabannya.
"Tetaplah di atasku, tetaplah di dalamku." Jawab istriku dan istriku memandangku dengan manik coklat mudanya yang dalam.
"Kamu bergairah, hm?" Tanyaku menggodanya. Aku kembali menatap manik coklat mudanya yang memesonaku.
"Ya, suamiku, aku menginginkanmu." Jawab istriku yang membuat aku bertambah bahagia.
Istriku menginginkanku! Tanpa membuang waktu, aku kembali bercinta dengannya sampai kami kelelahan dan tertidur.
Aku terbangun kembali. Aku melihat jam di ponsel yang sedang aku charge. Sudah jam 10:00 pagi.
Kami memulai bercinta jam 05:00 dan berakhir jam 09:00.
Aku sudah tertidur selama 1 jam rupanya, gumamku dalam hati.
Ku cium kening istriku, "Ayo bangun, wifey. Kita belum sarapan." Kataku lembut.
"Mmhhhh." Istriku menggeliat dari balik selimut.
Patricia terbangun dan terduduk di ranjang, matanya mengerjap beberapa kali dan dia menguap karena masih mengantuk.
"Selamat pagi, wifey." Sapaku dengan lembut.
"Selamat pagi juga hubby." Jawab istriku.
Kami berdua mandi bersama dan setelah mandi kami berpakaian.
Kami berdua turun ke dining room sambil bergandengan tangan. Ketika kami sudah di dining room, tidak ada orang. Kami melihat ada tudung saji di meja makan.
Terdapat notes di atasnya:
Abraham, berilah istrimu makan supaya dia fit, jangan hanya di kurung di dalam kamar. Kalau kalian mencari kami, kami ada di rumah kaca, di halaman belakang rumah.
Aku tersenyum membaca pesan ini dan aku tahu siapa yang menulis catatan itu: Paman Charles.
Ku ambil catatan itu dan ku buka tudung saji, sudah ada makanan.
Aku dan Patricia memakan sarapan kami yang tertunda.
Selesai makan, aku mencuci piring dan gelas kotor yang telah digunakan olehku dan Patricia. Setelah di cuci, aku meletakkannya di rak piring di samping lemari makanan.
Ketika mengingat rumah kaca yang dituliskan oleh paman Charles, aku teringat di sana banyak bunga cantik.
Aku belum pernah memberikan istriku bunga, apakah dia suka?
"Wifey, kamu suka bunga?" Tanyaku padanya.
"Bunga? Aku suka bunga, hubby." Jawabnya antusias.
"Ayo kita ke rumah kaca di halaman belakang. Paman Charles dan bibi Elisa sedang berada di sana. Di situ banyak bunga yang cantik. " Ajakku sambil menatap wajah istriku.
"Ayo kita ke sana, hubby." Kata istriku. Matanya bersinar.
Kami ke rumah kaca dengan bergandengan tangan. Kami akhirnya berjalan menyusuri taman belakang dan tak lama kami melihat ada rumah kaca di sana.
Aku mengetuk pintunya dan tak lama bibi Elisa membukakan pintunya.
"Selamat datang pengantin baru, silahkan masuk." Goda bibi Elisa. Lalu bibi menutup pintunya.
Kami berdua tertawa mendengar gurauan bibi Elisa.
"Terimakasih bibi Elisa." Jawab kami bersamaan.
Aku dan Patricia masuk ke dalam rumah kaca dan memasuki satu ruangan yang penuh dengan bunga Tulip.
"Deze tulpen zijn erg mooi." Kata Patricia ketika melihat bunga-bunga Tulip di sana.
* Bunga Tulip ini sangat indah.*
Aku mengerutkan dahiku, Patricia bisa berbahasa Belanda?
Aku kini fokus memperhatikan Patricia. Dia mengedarkan pandangannya dan dia bergerak maju ke satu bunga tulip berwarna pink dan dia menyentuh bunga tulip itu.
"Mijn moeder komt uit Harleem, Nederland. Maar ik ben nooit uitgenodigd in Nederland. Nederland is een land waar ik heel veel van hou." Ucapnya sambil menyentuh kelopak Tulip itu.
*Ibuku dari Harleem, Belanda. Tapi saya belum pernah diajak ke Belanda. Belanda adalah negara yang sangat saya cintai.*
Aku bersumpah bahwa Patricia terasa seperti orang lain dan dia pasti tidak dalam keadaan sadar saat mengatakan hal ini.
Paman dan bibi merasakan hal yang sama. Paman melihat ke arahku dan memberiku kode dan aku mengerti apa yang hendak pamanku lakukan.
Paman: "Waarom heeft je moeder je nooit in Nederland uitgenodigd?
*Mengapa ibumu tidak pernah mengajakmu ke Belanda?*
"Ik weet niet waarom mijn moeder me niet naar Belada heeft uitgenodigd, ook al is Nederland mijn geliefde thuisland." Jawabnya sambil tetap menyentuh kelopak bunga Tulip.
*Saya tidak tahu mengapa ibu saya tidak mengundang saya ke Belanda, meskipun Belanda adalah tanah air tercinta saya.*
Kami semua terdiam. Tatapan mata Patricia terlihat berbeda, suaranya menjadi lebih lembut. Ini bukan Patricia, yang muncul sekarang adalah bukan Patricia tapi kesadaran dia di masa lampau, kataku yakin dalam hati.
Paman bertanya kembali, "Wat is je naam, juffrouw?"
*Siapa namamu, Nona?*
Keheningan terjadi. Dia tak menjawab. Kami semua terus menunggu.
"Mijn naam in dit leven is Patricia. Mijn naam in het verleden is Charlotte." Jawabnya pelan dan lembut.
*Nama saya dalam kehidupan sekarang ini adalah Patricia. Nama saya di masa lalu adalah Charlotte.*
Dheg!
Charlotte? Aku merasa nyeri di dadaku. Aku merasa tidak aneh dengan nama itu, aku seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Tiba-tiba Patricia membalikkan badannya dan dia menatap kepadaku.
"Ik ben je vrouw Abraham. We zijn goochelaars. We sterven aan de galg omdat de mensen weten dat we goochelaars zijn. Toen ik stierf, was ik zwanger van je kind. In het vorige leven heb je beloofd mij te vinden en van mij je vrouw te maken." Ucapnya sedih dengan suara serak. Wajahnya sedih dan hampir menangis.
*Aku adalah istrimu Abraham. Kita adalah penyihir. Kita mati di tiang gantung karena penduduk mengetahui bahwa kita adalah penyihir. Saat aku mati, aku sedang mengandung anakmu. Di masa lalu kamu berjanji untuk menemukanku dan menjadikanku istrimu.*
Dheg!
Hatiku sangat nyeri, kami berdua pada masa lampau mati di tiang gantung karena diketahui sebagai penyihir dan pada saat itu Charlotte yang adalah istriku sedang mengandung anakku.
Aku: " Wat is mijn naam in een vorig leven, Charlotte?"
*Siapa namaku di kehidupan lampau, Charlotte?*
"Je naam in het vorige leven is Arjan." Jawabnya lagi kepadaku.
*Nama kamu di kehidupan sebelumnya adalah Arjan.*
Kecanggungan menguar setelah Charlotte di masa lalu menjawab pertanyaan terakhir dariku. Tidak ada siapapun yang berbicara.
Aku masih mencerna kejadian yang baru saja terjadi di depan mataku.
Hatiku sesak. Aku merasa tidak asing dengan nama Charlotte dan Arjan.
Aku jarang mendapatkan kilasan masa lampau namun aku tidak menampik hal-hal tersebut ada.
Apakah Charlotte adalah wanita dari kehidupan lampau yang selalu muncul di dalam mimpiku sebelum aku menikahi Patricia?
Charlotte mengatakan bahwa di masa lampau aku berjanji akan menemukan dia di sini dan menjadikannya istriku, apakah ini alasannya aku tidak menyerah dan berbuat nekat dengan menculik dan menikahi Patricia secara paksa karena aku tidak mau Patricia dinikahi oleh Sebastian? Pikirku lebih lanjut.
Tiba-tiba tubuh Patricia terjatuh tanpa bisa aku cegah.
Brugh!
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Mohon tinggalkan jejak dengan like, komen dan vote yaaa supaya author semangat menulis novelnya☺️☺️
Terimakasih ♥️♥️♥️
Sebagus itu guys