Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Hakam mengambil alih situasi sepenuhnya. Ia melompat ke kursi kemudi, menghidupkan mesin dengan kasar, dan menginjak pedal gas sedalam-dalamnya.
Mobil melesat dengan kecepatan penuh, membelah jalanan kota yang padat, menerobos beberapa lampu merah demi berkejaran dengan malaikat maut.
Di kursi belakang, Adrian duduk dengan tubuh gemetar hebat.
Ia memangku tubuh Fatma yang terkulai tak berdaya.
Kedua tangan Adrian mendekap erat pergelangan tangan istrinya yang dibalut seadanya dengan kain penahan darah, namun cairan merah itu tetap merembes keluar, membasahi pakaian mereka berdua.
"Fatma, tolong jangan tinggalkan aku. Maafkan aku, bertahanlah, demi Abah dan Umimu..." bisik Adrian parau.
Air mata penyesalan yang belum pernah ia teteskan sebelumnya kini mengalir deras, membasahi wajah pucat Fatma yang bersandar di dadanya.
Di tengah guncangan mobil dan kepanikan yang mencekam, jilbab dan baju muslimah Fatma yang basah kuyup tersingkap di bagian bahu dan punggung.
Pemandangan itu seketika membuat napas Adrian tercekat.
Di balik kain yang basah, terlihat dengan sangat jelas bilur-bilur bekas cambukan ikat pinggang semalam yang membiru, membengkak, dan beberapa di antaranya pecah mengeluarkan darah.
Adrian dipaksa berhadapan langsung dengan bukti kebiadaban yang telah ia lakukan sendiri.
Setiap garis luka itu seolah menampar egonya, meneriakkan betapa monsternya ia selama ini kepada wanita suci yang seharusnya ia lindungi.
Adrian memeluk tubuh itu dengan rasa bersalah yang menggunung, dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas.
Hakam melirik dari spion tengah dengan rahang yang mengatup rapat.
Napasnya memburu, fokusnya terbagi antara jalanan dan kondisi di kursi belakang.
"Bagaimana, Mas?!" teriak Hakam memecah keheningan, suaranya sarat akan kepanikan dan kemarahan.
"Bagaimana kondisinya?!"
Adrian dengan gemetar mendekatkan dua jarinya ke leher Fatma, mencoba mencari sisa-sisa kehidupan di sana. Kulit Fatma terasa sedingin es.
"Nadinya lemah, Kam. Sangat lemah..." suara Adrian bergetar, hampir hilang karena ketakutan yang teramat sangat.
"Cepat, Kam! Tolong cepat sedikit...!"
Sesampainya di halaman depan IGD rumah sakit, Hakam mengerem mobilnya dengan mendadak hingga ban berdecit keras.
Adrian langsung membuka pintu belakang dan menggendong tubuh Fatma keluar.
Beberapa perawat dengan sigap berlari membawa ranjang dorong.
Adrian membaringkan tubuh ringkih istrinya yang basah kuyup dan berlumuran darah di atas ranjang tersebut.
Petugas medis segera mendorong ranjang itu dengan cepat masuk ke dalam ruang penanganan darurat.
Langkah Adrian yang hendak ikut masuk seketika ditahan oleh perawat. Ia terpaksa mundur, berdiri terpaku di depan pintu kaca IGD yang tertutup rapat, menatap tangannya yang merah karena darah Fatma.
Bugh!
Hakam mencengkeram kerah jaket Adrian dari belakang dan menyentakkannya ke dinding lorong rumah sakit dengan kasar.
Mata Hakam menyala-nyala dipenuhi kemarahan yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Sudah puas kamu, Mas?! PUAS?!" teriak Hakam dengan suara bergetar menahan tangis.
"Kamu hampir membunuhnya! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Mbak Fatma, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Mas! Tidak akan pernah!"
Adrian tidak membalas. Ia hanya diam, tertunduk lesu dengan air mata yang terus mengalir.
Keangkuhannya sebagai seorang suami yang berkuasa telah runtuh sepenuhnya di depan pintu IGD.
Hakam melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
Mengabaikan Adrian yang masih syok, Hakam berjalan menjauh ke sudut lorong yang agak sepi.
Dengan tangan yang gemetar hebat, ia merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Pertama, ia menghubungi orang tuanya sendiri untuk memberi tahu situasi darurat ini.
Setelah itu, dengan berat hati dan napas yang sesak, Hakam mencari nomor kontak Abah.
Ia tahu berita ini akan memukul hati orang tua suci itu, namun Abah dan Umi berhak tahu.
Di sebuah rest area di pinggir jalan tol menuju pesantren, Abah baru saja hendak meluruskan kakinya di masjid setelah menunaikan salat zuhur.
Ponsel di saku jubahnya bergetar. Melihat nama Hakam yang tertera di layar, firasat buruk yang sempat mereda pagi tadi mendadak kembali mencuat. Abah langsung menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum, Hakam," ucap Abah, suaranya terdengar cemas.
"Waalaikumsalam, Abah..." sahut Hakam. Suara pemuda itu terdengar serak, dan Abah bisa mendengar isak tangis yang ditahan di seberang telepon.
"Abah, tolong kembali ke kota. Abah dan Umi tolong langsung ke rumah sakit sekarang..."
Jantung Abah rasanya seperti berhenti berdetak mendengarnya.
Umi yang duduk di dekatnya langsung menatap Abah dengan wajah pias.
"Ada apa, Hakam? Apa yang terjadi dengan Fatma? Kenapa di rumah sakit?!" tanya Abah bertubi-tubi, suaranya meninggi karena kepanikan yang teramat sangat.
Hakam memejamkan matanya rapat-rapat, air matanya luruh membasahi pipi.
Ia menoleh ke arah pintu IGD yang masih tertutup.
"Hakam tidak bisa bicara sekarang, Abah. Hakam mohon, Abah dan Umi cepat kemari..." ucap Hakam lirih sebelum akhirnya memutus sambungan telepon karena tidak sanggup lagi membendung tangisnya.
Hakam duduk di depan ruangan sambil menatap pintu yang masih tertutup.
Langkah kaki yang tergesa-gesa menggema di lorong rumah sakit.
Papa dan Mama Adrian tiba lebih dulu setelah menerima telepon darurat dari Hakam.
Begitu berbelok ke arah bangsal IGD, pemandangan tragis langsung menyambut mereka.
Hakam berdiri bersandar di dinding dengan pakaian basah, sementara Adrian terduduk lemas di lantai, tatapannya kosong, dengan kemeja yang berlumuran darah pekat.
Papa Adrian, sosok pria paruh baya yang tegas, berwibawa, dan selalu menjunjung tinggi kehormatan serta moralitas keluarga, melangkah lebar mendekati putra sulungnya. Atmosfer di sekitar mereka seketika mendingin.
"Adrian! Apa-apaan ini?!" tuntut Papa dengan suara berat yang menggelegar di koridor sepi itu.
"Jelaskan pada Papa, apa yang terjadi pada Fatma? Kenapa menantuku bisa masuk ke dalam sana?!"
Mama Adrian sudah terisak, menutup mulutnya melihat noda darah yang begitu banyak di baju Adrian.
Namun, Adrian yang ditanya hanya bisa diam membeku.
Bayangan punggung Fatma yang hancur dan genangan darah di kamar mandi terus berputar di otaknya, melumpuhkan seluruh kemampuannya untuk membela diri.
Hakam yang melihat kepura-puraan kakaknya sudah mencapai batas kemuakan.
Ia melangkah maju, berdiri di antara Papa dan Adrian dengan dada yang naik turun menahan amarah.
"Adrian tidak akan bisa menjawab, Pa. Karena dia tahu dirinya adalah seorang pengecut!" seru Hakam dengan suara bergetar hebat.
"Hakam, jaga bicaramu! Apa maksudmu?" tanya Papa, beralih menatap anak bungsunya.
"Semalam, Mas Adrian menyiksa Mbak Fatma habis-habisan, Pa!" bongkar Hakam tanpa ragu sedikit pun.
Air matanya menetes mengingat kekejaman yang ia saksikan.
"Mbak Fatma mencoba mengakhiri hidupnya di kamar mandi karena sudah tidak tahan diperlakukan lebih rendah dari binatang!"
Mama Adrian terkesiap, hampir saja tumbang jika tidak berpegangan pada kursi koridor.
"Dia mengikat dan menyumpal mulut istrinya sendiri, Pa! Dia mencambuk punggung dan lengan Mbak Fatma sampai melepuh dan berdarah!" teriak Hakam, meluapkan seluruh kebenaran yang selama ini tersimpan di bawah atap rumah terkutuk itu.
"Tadi pagi, di depan Abah dan Umi, Mbak Fatma dipaksa tersenyum dan menyembunyikan semua lukanya di balik baju muslimahnya karena diancam oleh Mas Adrian! Setelah Abah pulang, Mbak Fatma memilih memotong urat nadinya sendiri karena jiwanya sudah dihancurkan oleh anak sulung Papa ini!"
Mendengar penuturan Hakam yang begitu runtut dan mengerikan, wajah Papa Adrian seketika memerah padam.
Rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol.
Sebagai seorang laki-laki, seorang ayah, dan seorang pemimpin keluarga, ia merasa gagal total mendidik putra yang digadang-gadang menjadi penerusnya.
Kehormatan yang selama ini ia jaga, runtuh seketika oleh kebiadaban darah dagingnya sendiri.
PLAKKK!!!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Adrian.
Sentakan fisik yang begitu kuat itu membuat kepala Adrian terlempar ke samping, meninggalkan bekas merah keunguan di kulitnya yang pucat.
Adrian tidak melawan, ia tetap bergeming di lantai, menerima kemurkaan sang ayah.
"Binatang kamu, Adrian!" bisik Papa, suaranya bergetar hebat bukan karena rapuh, melainkan karena amarah yang teramat sangat.
Di depan umum, di koridor rumah sakit itu, Papa Adrian menunjuk wajah putranya dengan tangan gemetar.
"Papa tidak pernah mengajarimu menjadi seorang pengecut yang menggunakan otot untuk menindas seorang wanita! Fatma itu diserahkan oleh orang tuanya dengan cara yang terhormat melalui kalimat syahadat dan ijab kabul yang sakral! Dan kamu, justru menodai pernikahan sakral itu dengan perbuatan biadabmu!" kutuk Papa dengan napas memburu.
"Mulai detik ini, jangan pernah sebut dirimu sebagai anakku jika menantuku tidak bisa selamat dari maut yang kamu ciptakan sendiri!"
lanjut thor🙏
bikin jengkel aja thor 😡😡