Arunika Safana terpaksa menurut ketika kedua orang tua angkatnya memintanya untuk menikahi Bratasena Arka Sadajiwa, karena kakak angkatnya -Bianca- kabur tepat di hari pernikahannya dengan Sena. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Aruni menyetujui permintaan kedua orang tuanya meskipun Aruni dan Sena terpaut usia yang cukup jauh yaitu 12 tahun.
Sena; "Semua orang kek anj*ng! semua gara-gara Lo, Bii! kenapa Lo harus kabur di hari pernikahan kita! dan gue harus menikah dengan bocah ini?!"
Arunika; "Astaga kayak mimpi! Nggak ada yang tau, kalau selama ini aku memang suka sama Mas Sena. I have loved him since the first time we met, 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus menggantikan Kak Bi jadi pengantin Mas Sena? absolutely I do!"
Gimana ya, keseruan Arunika untuk mendapatkan hati Sena? berhasilkah dia? yuk ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh cinta -lagi.
“Ayo kita nikah, Bii…”
Bianca menoleh ke samping kirinya, di mana sang kekasih –Sena- berbaring dengan bertelanjang dada. Mereka baru saja menghabiskan malam yang panas bersama. Ya, sejak lulus kuliah –sejak bisnis Sena mulai berkembang pesat, sejak Sena menginjak usia tiga puluh –entah sudah berapa kali Sena meminta menikah, tapi Bianca tak juga mengabulkan keinginannya.
Kali ini dengan lasan umur Bianca sudah mencapai 3o tahun, Sena kembali meminta ‘menikah’
“Memang kenapa kalau umurku 30?” tanya Bianca sinis. Dia bangun dari tidurannya –menyambar bra ukuran jumbonya dan memasangkannya untuk menutupi asetnya yang begitu menggiurkan dimata lelaki.
“Kamu pengen punya anak? Kamu tau kan, aku nggak mau punya anak.” Bianca duduk di tepi ranjang, menghadap Sena yang saat ini sudah terduduk bersandar di headboard, kedua tangannya menyilang di belakang kepala.
“Ini harganya lima ratus juta!” Bianca menunjuk payudaranya yang montok sempurna, “Masa mau dipakai buat menyusui bayi? Enak aja!”
Sena menghela, “kan bisa pakai sufor- tapi nggak apa-apa juga kalau kamu nggak mau punya anak. Aku Cuma khawatir aja sama kamu, Bii… kalau kita menikah, kan, nggak ada orang yang bakal ngejelekin kamu.
Aku juga nggak enak sama Om dan Tante, dikir aku Cuma mainin kamu, nggak mau ajak kamu menikah padahal kita sudah pacaran sepuluh tahunan.”
“Ck! Aku nggak pernah peduliin omongan orang!” ketus Bianca, lalu bangun dan mengambil cd-nya yang teronggok di ujung ranjang. Tanpa malu-malu dia memakainya di depan Sena.
Sena kembali menghela, “Mama ku juga ingin melihat aku menikah-“
“Ya udah nikah aja sana!” sentak Bianca.
“Ya sama kamu! Ngapain aku bertahan pacaran sepuluh tahun kalau ujung-ujungnya nikah sama orang lain!” kesal Sena. Dia yang biasanya sabar, akhirnya meledak juga emosinya.
Bianca mengerucutkan bibirnya, “kalau kamu mengikatku hanya gara-gara uang lima ratus juta ini-“ ucapnya sambil menunjuk payud4ranya, “aku bakal kembalikan semuanya!”
Lagi-lagi Sena menghela panjang, “ini bukan tentang uang Bianca!”
Bianca menatap Sena yang juga sedang menatapnya, “Oke! Oke!…” desahnya panjang. “Ayo nikah! Waktunya kamu yang tentukan, aku nurut aja.”
*
*
Turbulensi kecil membangunkan Sena dari tidurnya. Dia menghela panjang sambil mengusap wajah. Kenapa kejadian sebulan yang lalu sebelum perencanaan pernikahan itu, malah muncul dalam mimpinya. Sena baru sadar, mungkin Bianca memang tak mau menikah, Sena terlalu memaksanya. Tapi kenapa? Kenapa dia tak mau menikah? Apa alasannya?
“Waoow…”
Mendengar pekikan lirih Aruni, Sena segera menoleh.
Aruni duduk di kursi sebelah jendela. Matanya menatap lekat pada awan-awan putih di luar, seperti anak kecil yang baru pertama kali naik pesawat. Padahal ini memang pertama kali baginya..
Sena menggeleng pelan, senyum tipis tersungging di bibirnya.
Berusaha melupakan mimpi menyebalkannya, Sena mengambil laptop lalu membaca laporan proyeknya. Ya, bekerja memang obat paling mujarab untuk membuang perasaan dongkolnya pada Bianca. Sesekali matanya mengerling ke samping, memperhatikan Aruni yang tersenyum kecil setiap kali pesawat melewati gumpalan awan.
"Belum pernah naik pesawat juga?" tanya Sena tanpa menoleh.
"Belum."
Sena meletakkan laptopnya. "Ceritakan padaku."
"Cerita apa?"
"Tentang hidupmu. Sebelum diangkat keluarga Bianca."
Aruni terdiam lama. Jari-jarinya menggenggam sandaran tangan kursi. "Aku tidak suka mengingatnya, Mas."
"Aku tidak akan memaksamu." Jawab Sena, lalu kembali mendekatkan laptopnya.
Tapi Aruni merasa ini saat yang tepat. Atau mungkin karena Sena terlihat serius. Atau karena di ketinggian 30.000 kaki, tidak ada yang bisa kabur saat bosan karena ceritanya. Jadi dia mulai bercerita.
"Ayahku... pecandu alkohol. Setiap malam dia pulang mabuk, kadang bawa teman-temannya yang juga mabuk. Rumahku kecil, Mas. Hanya dua kamar. Jadi aku dan Mama tidak punya tempat bersembunyi. Kadang kami tidur di kamar mandi kalau ayah sedang sangat marah."
Sena mendengarkan. Tidak menyela. Entah sejak kapan, laptop sudah ditutup olehnya.
"Aku tidak pernah diizinkan sekolah dengan nyaman. Sering bolos karena wajahku lebam. Mama... Mama selalu berusaha melindungiku. Tapi dia juga sering menjadi sasaran. Suatu malam, ayahku marah karena Mama tidak mau memberinya uang untuk minum. Dia memukul Mama dengan kursi."
Aruni berhenti. Napasnya tersendat. Tapi dia lanjutkan.
"Mama jatuh. Kepalanya membentur ujung meja. Aku berteriak minta tolong, tapi tetangga sudah takut dengan ayahku. Tidak ada yang datang. Mama... selamat waktu itu. Tapi lukanya parah."
"Ayahmu?"
"Meninggal beberapa bulan kemudian. Kecelakaan mobil dalam keadaan mabuk. Mama... menyusul enam bulan setelahnya. Dokter bilang karena komplikasi cedera kepala yang dulu tidak ditangani dengan baik."
Air mata Aruni akhirnya jatuh. Dia segera menyeka dengan punggung tangan. “Mungkin Mama tau jika waktunya tak lama lagi, sehingga dia langsung menghubungi Mama Melati untuk merawatku. Dan benar saja, beberapa hari setelah Mama meninggal, Mama Melati datang bersama Papa Bastian. Mereka membawaku ke kota dan merawatku dengan baik sampai sekarang,” Aruni tersenyum, walaupun air matanya sudah menggantung di ujung mata.
Sena tidak berkata apa-apa. Tapi tangannya—tanpa sadar—mengepal erat di atas pangkuannya.
"Aruni."
"Ya?"
"Aku tidak tahu."
"Tidak ada yang tahu, Mas. Aku tidak pernah cerita ke siapa pun. Bahkan ke Kak Bianca pun tidak."
"Mengapa kamu cerita padaku sekarang?"
Aruni menoleh ke jendela, menatap awan yang bergerak lambat. "Karena Mas Sena bertanya. Dan... aku lelah menyimpan sendiri."
Mereka terdiam cukup lama. Hingga pilot mengumumkan pesawat akan segera mendarat di Bandara Ngurah Rai.
Sena akhirnya bersuara. Pelan. Hampir tidak terdengar.
"Aku akan mengajakmu ke pantai sebanyak yang kamu mau."
Aruni menoleh cepat. "Serius?"
Sena menaikkan alisnya sambil mengangguk.
Senyum Aruni mengembang lebar. “Jujur, Mas Sena adalah suami idaman semua wanita. Aku beruntung banget jadi istri walaupun hanya kontrak, pokoknya… saranghaeyo Sena oppa- eh\, salah\, harusnya ahjussi, ya?“
“Diam! Jangan ngomong terus. Kita mau mendarat!” Sena membuang muka.
Tapi Aruni bisa melihat ujung telinga Sena memerah. Dan dia tersenyum lebar untuk pertama kalinya tanpa rasa canggung.
Jatuh cinta pada pandangan pertama dua tahun lalu? Terasa menyakitkan. Tapi jatuh cinta lagi sekarang, terasa sangat indah.
.
Tidak seperti pasangan pengantin baru lainnya, Sena dan Aruni memang tak terlihat mesra sama sekali. Mereka berjalan sendiri-sendiri, membawa kopernya masing-masing dan langsung memesan taksi untuk langsung menuju Vila.
Ketika taksi berhenti tepat di halaman Vila, Sena tersenyum puas melihat pemandangan Vila yang sesuai ekspektasinya. “Nggak rugi bayar mahal…” gumamnya.
“Aruni, pandangi laut sepuasmu!" ucapnya lagi.
Aruni yang baru keluar dari mobil pun ternganga melihat Vila yang dipesan Sena dan Bianca. Benar-benar Vila impian pasangan pengantin baru. Vila yang sangat indah dengan view laut yang langsung bisa dilihat dari teras.
Saat masuk pun Aruni tampak terkagum-kagum. Vila mewah dengan satu kamar tidur dan ada private pool yang langsung menghadap laut, benar-benar membuatnya takjub. Dan setelah meletakkan koper besarnya -sembarangan di dalam Vila, Aruni segera berlari menuju pantai dengan bertelanjang kaki.
Dia berhenti, berdiri di tepi pasir.. Kaki telanjangnya menyentuh pasir putih untuk pertama kali dalam hidupnya.
"Mas," bisiknya.
Sena yang tadi perlahan mengikutinya dari belakang, kini berdiri di sampingnya, tangan di saku celana pendek. "Apa?"
"Pasirnya... lembut."
"Pasir memang lembut."
"Tapi aku tidak tahu akan selembut ini." Aruni menunduk, memungut segenggam pasir, lalu membiarkannya jatuh perlahan di sela jarinya. Matanya berbinar.
Sena memperhatikan. Dia benar-benar belum pernah ke pantai sebelumnya.
"Besok pagi kita lihat matahari terbit," kata Sena tiba-tiba.
"Bisa?"
"Kita sedang di Bali, Aruni. Bisa apa saja."
Aruni menoleh, senyumnya lebar seperti bulan sabit. "Mas Sena."
"Apa lagi?"
"Terima kasih... tidak membatalkan perjalanan ini."
Sena membuang muka. "Jangan lebay."
"Tapi ini pertama kalinya aku-"
"Iya, aku tahu. Pertama kali lihat laut, pertama kali naik pesawat, pertama kali joget di pesta pernikahan, pertama kali-"
"Juga pertama kali jatuh cinta," potong Aruni pelan.
Sena membeku.
Udara di sekitar mereka tiba-tiba terasa lebih berat.
"Apa?" tanya Sena lirih.
Aruni tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca lagi. "Tidak usah dipikirkan, Mas. Aku hanya... bersyukur."
Dia berjalan menuju vila, meninggalkan Sena yang berdiri kaku di tepi pantai dengan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh ombak sekalipun.
Jatuh cinta? Siapa? Kapan?
Tapi jantung Sena berdegup tidak karuan.
Dan itu tidak bisa dibohongi.
pantes kalo malem suka kluyuran 🤭🤣🤣🤣
tak tunggu bgt ms brot bucin akut sama runi kk tam
emang mas brot ngeri juga vi kalo mode posesip .....
sampe ngaku kalo do'i jelose kalo perlu🤭🤣🤣🤣
kayake adit sama vivi satu frekuensi dah kk
..... asbun 🤭🤣🤣🤣🤣
kpn lagi numpak mobil mahal .......
trik mu emang siiip lah...👍
dalam benak mas broot ....
mbok yo kira kira lah vi . mosok macak cantik . mbahenol secara lo kan milih dress merah menyala ada belahanya dandan cetar membahana kok naik motor awut awutan loh nanti pas turun 🤭
padamu
bnyak tiponya
berasa godaan setan yang terkutuk itu run 🤭🤣🤣🤣
ternyata diam " jutek" ada rasa yang mulai menjalar tumbuh di hati mas brot..... gass lah mas brot runi kan hallal🤭
mungkikah.. mas brot jatuh cinta dgn runi ....?????
kk tam iki pie .......?
🤭🤭