NovelToon NovelToon
SANGKAR DERITA WANITA MALAM

SANGKAR DERITA WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / TimeTravel
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

​Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
​Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
​Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENIH BENIH SIASAT

Pagii hari di Distrik Amethyst selalu menyisakan pemandangan yang kontras. Ketika matahari mulai meninggi dan menyinari jalanan beraspal mulus Kota Valerion, sisa-sisa kemegahan malam runtuh digantikan oleh kesunyian yang dingin. The Velvet Rose tampak meremang dari luar; lampu-lampu neon marun dan emasnya telah padam sejak pukul enam subuh tadi. Di dalam, bau alkohol yang tumpah dan asap cerutu yang melekat pada sofa beludru perlahan memudar, digantikan oleh aroma karbol pembersih lantai yang menyengat.

​Kirana duduk di ambang jendela kamar 303, menatap pemandangan kota dari balik celah gorden yang sengaja dibukanya sedikit. Tubuhnya dibungkus oleh jubah tidur satin berwarna perak yang longgar. Matanya yang sayu menatap gedung-gedung pencakar langit di kejauhan dengan pandangan yang sulit diartikan.

​Kehadiran Juragan Jaya semalam telah mengubah sesuatu di dalam diri Kirana. Jika selama dua bulan ini ia bertahan hidup hanya demi mengumpulkan lembaran rupiah untuk ditransfer ke desa, kini ia memiliki bahan bakar baru yang jauh lebih membakar jiwanya: pembalasan dendam.

​Musuh keluarganya telah melangkah masuk ke dalam sarang serigala tempat ia bernaung. Juragan Jaya mengira dirinya adalah raja di desa, namun di Kota Valerion, pria tua bangka itu hanyalah orang asing bertumpuk uang yang buta akan kejamnya dunia malam. Kirana tahu, ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh ia lewatkan. Namun, untuk menghancurkan pria sekuat Juragan Jaya, ia tidak bisa mengandalkan kemarahan semata. Ia butuh jaringan, ia butuh sekutu, dan yang terpenting, ia butuh informasi yang valid mengenai bisnis baru pria itu di Distrik Utara.

​Tok, tok, tok.

​"Kirana, ini sarapanmu," suara Bi Surti terdengar dari balik pintu, disusul dengan bunyi gemerincing mangkuk di atas nampan.

​"Masuk saja, Bi, tidak dikunci," sahut Kirana lembut.

​Bi Surti, seorang wanita paruh baya bertubuh tambun yang rambutnya selalu digelung asal-asalan, melangkah masuk dengan senyum hangat yang tulus. Di antara semua penghuni The Velvet Rose, Bi Surti adalah salah satu dari sedikit orang yang memandang Kirana sebagai manusia, bukan sebagai barang dagangan yang bernilai jutaan rupiah.

​"Ini, Mbak, bubur ayam hangat sama teh manis. Tadi Mbak Lastri pesan agar Mbak Rana harus menghabiskan sarapannya. Katanya semalam Mbak Rana kerja keras sampai subuh," kata Bi Surti sembari meletakkan nampan di atas meja nakas di dekat ranjang.

​Kirana berjalan mendekati meja, memberikan senyuman tulus—sebuah kemewahan yang hanya ia tunjukkan pada orang-orang tertentu di kelab ini. "Terima kasih banyak, Bi. Maaf merepotkan setiap pagi."

​"Ah, ndak repot sama sekali, Mbak. Justru Bibi senang melihat Mbak Rana sehat. Jujur ya, Mbak... Bibi itu setiap malam selalu mendoakan Mbak Rana di musala belakang. Bibi tahu Mbak Rana anak baik yang terpaksa di sini demi keluarga," bisik Bi Surti, matanya berkaca-kaca menatap wajah ayu Kirana.

​Mendengar ucapan Bi Surti, dada Kirana berdesir hangat. Di tengah dasar neraka yang penuh tipu daya ini, ternyata masih ada secercah ketulusan yang tersisa. Ia memegang tangan Bi Surti yang kasar karena sering mencuci piring. "Doa Bibi adalah kekuatan saya di sini, Bi. Terima kasih."

​Setelah Bi Surti keluar dari kamar, Kirana tidak langsung menyantap buburnya. Ia duduk di kursi meja rias, mengambil sebuah buku catatan kecil berukuran saku yang sengaja ia sembunyikan di bawah lipatan baju kurung usangnya di dalam lemari. Buku itu adalah tempat ia mencatat setiap detail informasi yang ia dapatkan dari para tamu mabuk—mulai dari Adrian, putra kepala dinas, hingga desas-desus tentang proyek-proyek di Distrik Utara.

​Ia membuka halaman baru, memegang sebuah pena, lalu menuliskan satu nama dengan guratan tinta hitam yang tegas: Juragan Jaya - Bisnis Beras Distrik Utara.

​Di bawah nama itu, Kirana mulai merancang siasat. Ia mengingat kembali ucapan Tuan Bramanto semalam. Pria tambun itu adalah kunci. Dialah yang membawa Juragan Jaya ke kelab ini, dan dialah yang memiliki koneksi bisnis properti serta pergudangan di Distrik Utara. Untuk mengetahui kelemahan Juragan Jaya, Kirana harus terlebih dahulu masuk ke dalam lingkaran informasi Tuan Bramanto.

​Sore harinya, sekitar pukul empat, Kirana turun ke lantai dua menuju ruang istirahat para pekerja kelab. Ruangan itu dipenuhi oleh beberapa wanita malam senior yang sedang merokok, memakai cat kuku, atau sekadar bergosip tentang tamu-tamu mereka semalam. Suasananya riuh, penuh dengan tawa renyah yang terdengar dipaksakan untuk menutupi kepedihan hidup masing-masing.

​Saat Kirana masuk, keheningan sempat terjadi selama beberapa detik. Mereka semua tahu bahwa Kirana adalah primadona baru kesayangan Mami Rosa, dan beberapa di antara mereka menaruh rasa iri yang kental. Namun, Kirana mengabaikan pandangan-pandangan sinis itu. Ia melangkah menuju sudut ruangan, tempat Wiwin sedang duduk sendirian sembari memijat pergelangan kakinya yang tampak bengkak.

​Wiwin, gadis sedesanya yang turun dari bus mikro yang sama dua bulan lalu, tidak seberuntung Kirana. Karena tidak memiliki kecantikan yang menonjol dan pembawaan yang terlalu penakut, Wiwin hanya ditempatkan di aula bawah sebagai pemandu lagu biasa dengan bayaran yang jauh lebih kecil. Ia sering menjadi sasaran kemarahan para penjaga jika tidak berhasil membuat tamu memesan minuman.

​"Wiwin," panggil Kirana pelan, duduk di samping gadis itu.

​Wiwin mendongak, matanya yang sembap langsung berbinar saat melihat Kirana. "Mbak Rana..." bisiknya ketakutan, melirik ke arah wanita-wanita lain di ruangan itu. "Mbak Rana kok turun ke sini? Biasanya kan istirahat di atas."

​"Aku mau melihat keadaanmu. Kakimu kenapa?" tanya Kirana, menatap pergelangan kaki Wiwin yang memar.

​"Semalam... semalam ada tamu mabuk di aula bawah yang tidak sengaja menjatuhkan botol bir ke kakiku, Mbak. Lalu saat aku mengeluh sakit, penjaga malah membentakku karena dianggap merusak suasana tamu," cicit Wiwin, air matanya mulai mengalir perlahan. "Aku mau pulang, Mbak Rana... aku kangen Emak di desa. Tempat ini kejam sekali."

​Kirana merangkul pundak Wiwin, menarik gadis malang itu ke dalam pelukannya. Di dalam hati, Kirana merasakan kepedihan yang luar biasa. Wiwin adalah cerminan dari dirinya jika ia tidak memilih untuk menjadi keras dan kejam di kota ini. Jika ia tetap menjadi Kirana yang lugu, nasibnya mungkin akan jauh lebih tragis di bawah siksaan para pelanggannya.

​"Dengar aku, Wiwin," bisik Kirana tepat di dekat telinga gadis itu, suaranya mengandung ketegasan yang menghipnotis. "Jangan pernah menangis di depan mereka. Semakin kamu menangis, mereka akan semakin menginjak-injakmu. Kita tidak bisa pulang sekarang, Wiwin. Pintu kita sudah tertutup. Satu-satunya cara untuk keluar dari sini hidup-hidup adalah dengan mengumpulkan uang dan menjadi kuat."

​Kirana merogoh saku jubahnya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah yang ia ambil dari tipsnya semalam, lalu menyelipkannya ke dalam genggaman tangan Wiwin yang gemetar. "Ini untuk membeli obat salep dan jamu hangat. Simpan baik-baik, jangan sampai ketahuan penjaga atau Mami."

​Wiwin menatap uang di tangannya dengan tidak percaya. "Mbak Rana... terima kasih banyak... Mbak Rana baik sekali..."

​"Aku butuh bantuanmu, Wiwin," potong Kirana cepat, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Wiwin. "Mulai malam ini, jika kamu melayani tamu di aula bawah, terutama rekan-rekan atau anak buah dari Tuan Bramanto, aku ingin kamu mendengarkan setiap obrolan mereka. Apa saja tentang proyek pergudangan di Distrik Utara atau tentang rekan barunya yang bernama Juragan Jaya. Jika kamu mendengar sesuatu, langsung beri tahu aku. Bisa?"

​Wiwin terdiam sejenak, mencerna permintaan Kirana. Rasa takut sempat melintas di wajahnya, namun saat melihat ketulusan dan ketegasan di mata Kirana, serta bantuan uang yang baru saja diterimanya, Wiwin akhirnya mengangguk mantap. "Bisa, Mbak Rana. Aku pasti akan mendengarkannya untukmu."

​Malam kembali turun membungkus Kota Valerion, dan bersamaan dengan itu, The Velvet Rose kembali membuka gerbang kemaksiatannya. Musik bas mulai berdentum rendah dari lantai bawah, menandakan jam kerja jahanam telah dimulai.

​Kirana berdiri di kamarnya, menatap gaun malam yang akan dikenakannya malam ini. Sebuah gaun beludru berwarna hijau zamrud dengan potongan dada rendah yang elegan namun tetap berkelas. Saat ia sedang memoles lipstiknya di depan cermin, pintu kamar terbuka tanpa ketukan, dan Mami Rosa melangkah masuk dengan senyum lebarnya yang khas.

​"Kirana, Sayang," panggil Mami Rosa, mendekat dan memegang kedua pundak Kirana dari belakang, menatap pantulan wajah gadis itu di cermin. "Malam ini kamu beruntung lagi. Tuan Bramanto meneleponku sore tadi. Dia sangat puas dengan pelayananmu yang mendampingi temannya semalam, meskipun kamu tidak banyak bicara. Malam ini, dia memesan Ruang VIP 3 khusus untuk menemuimu sendirian."

​Jantung Kirana berdesir, bukan karena takut, melainkan karena gembira. Umpannya telah dimakan. Tuan Bramanto datang menemuinya, dan itu berarti kesempatan untuk menggali informasi tentang Juragan Jaya kini terbuka lebar di depan matanya.

​"Benarkah, Mami? Saya sangat tersanjung Tuan Bramanto ingin bertemu lagi dengan saya," jawab Kirana dengan nada suara yang dibuat sedikit manja, memasang topeng wanita malamnya yang paling sempurna di depan sang mucikari.

​"Tentu saja. Ingat ya, Kirana, Bramanto itu adalah pejabat penting yang punya banyak saham di Distrik Utara. Buat dia senang, layani dia seperti raja, dan pastikan dia menghabiskan banyak uang untuk memesan minuman terbaik kita malam ini," pesan Mami Rosa sembari mencubit pipi Kirana dengan gemas sebelum melangkah keluar kamar.

​Begitu pintu kamar tertutup, senyuman di wajah Kirana seketika lenyap, digantikan oleh tatapan mata yang sedingin es kutub. Ia mengambil tas kecilnya, memastikan buku catatan kecilnya tersimpan rapi di sana, lalu menarik napas dalam-dalam untuk memantapkan hatinya.

​"Malam ini, Tuan Bramanto..." bisik Kirana ke arah cermin, jemarinya mencengkeram tepi meja rias dengan kekuatan yang penuh dendam. "Kamu akan menjadi jembatan yang akan membimbingku untuk menyeret Juragan Jaya dan kalian semua masuk ke dalam jurang kehancuran yang terdalam."

​Dengan langkah kaki yang ditegakkan dan kepala yang terangkat tinggi, Mawar Hitam dari The Velvet Rose melangkah keluar kamar, siap menari kembali di atas duri-duri siasat yang telah ia tebar di dasar kegelapan Kota Valerion.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!