Seorang duda beranak dua harus menikah demi kedua anaknya.
Arbaaz Raonar nama lelaki itu, pemilik perusahaan Arbaaz Studio. Perusahaan dengan lambang elang itu bergerak di bidang animasi.
Syazani Nur Albiru atau yang sering di panggil Biru karena memiliki mata yang kebiruan. Biru seorang pendongeng dengan teknik bayangan tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon faiz bellzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Mengundurkan diri
Biru masuk ke kamar anak-anak, melihat apa yang sedang di kerjakan mereka.
Terlihat Erina sedang mendengarkan musik dan Juri sedang menonton video dari YouTube di ponsel sambil tiduran.
Biru menghampiri Juri "main hp nya sudah dulu ya, sekarang waktunya tidur"
Mendengar ucapan Biru Juri menurut langsung mematikan ponselnya. Biru mengajak Juri ke kamar mandi terlebih dahulu untuk sikat gigi dan pipis.
"Juli mau dengel celita dulu mommy" pinta Juri, mereka sedang tiduran di kasur Juri.
"Baiklah mommy akan mendongeng tapi setelah selesai mendongeng Juri harus tidur ya" ujar Biru menyetujui pembangunan permintaan Juri. Tentu saja hal itu membuat Juri kegirangan.
"Aciikk" Juri bersorak.
Biru melihat ke arah Erina yang mendengarkan musik sambil memejamkan mata pun memutuskan untuk mematikan lampu utama dan mengganti dengan lampu tidur.
Tangan Biru mulai bergerak di depan lampu membuat bayangan terlihat di sisi tembok.
Biru mulai bercerita, Erina membuka mata ikut melihat dan mendengar cerita Biru.
Melihat anak-anak sambungnya sudah tidur Biru memutuskan untuk ke kamarnya, ia membuka kerudung instan yang menutup kepalanya dan melemparnya asal. Matanya mulai tertutup dan tertidur.
🌻
Pagi hari Biru lalui seperti hari kemarin, setelah Erina dan Juri berangkat sekolah Biru akan berangkat kerja bersama Raon.
Di kantor Biru menyerahkan surat pengunduran diri yang sudah ia buat tadi pagi pada Bu Farrah, Biru sudah memikirkan matang-matang tentang pekerjaannya.
Walaupun ia sangat berat meninggalkan pekerjaan dan mimpinya, tapi Biru tidak bisa berbuat apa-apa.
Menikah adalah keputusannya jadi ia harus menerima konsekuensi yang harus ia terima, salah satunya keluar dari tempat ia bekerja.
Mengetahui tentang pengunduran diri Biru, membuat teman-teman Biru merasa sedih karena akan berpisah dengan junior yang cantik dan ceria, bukan hanya itu Biru juga junior yang pintar dan rajin sehingga membuat target penyelesaian proyek 'film Putri dan Pangeran katak' menjadi lebih cepat.
Gani yang paling sedih karena belum berani mengungkapkan perasaannya pada Biru. Walaupun ia tahu Biru sudah menikah, tapi ia tetap ingin Biru tahu tentang perasaannya agar tidak menyesal dikemudian hari.
"Kenapa keluar?" Tanya Bu Farrah pada Biru saat berada di ruangannya.
"Ada urusan pribadi Bu" jawab Biru.
Bu Farrah mengangguk mengerti "apa tidak bisa di pertimbangkan kembali?" Bi Farrah masih mencoba membujuk Biru.
"Tidak bisa Bu" jawab Biru singkat.
"Baiklah kalau begitu nanti saya berikan pada pihak HRD" ujar Bu Farrah sambil menyimpan surat pengunduran diri Biru ke laci nya.
"Terimakasih Bu" Biru pamit undur diri.
🌻
"Kenapa keluar sih Bi" keluh Gia.
Mereka kini sedang berada di kantin, menikmati makan siang sambil bercanda gurau.
"Iya mba maaf ya jika saya banyak salah" jawab Biru merasa tidak enak.
"Gak ada yang salah Bi dari semua pekerjaan mu" jawab Nafisa.
Gia mengangguk membenarkan perkataan Nafisa "lagi pula paling cepat di acc 1 bulanan lagi karena harus mencari pengganti kamu dulu"
"Itu artinya kita bisa happy-happy saat acara piknik kita nanti" ujar Nafisa dengan penuh semangat.
Mendengar ucapan Nafisa Biru baru ingat jika ia belum meminta izin pada Raon untuk ikut ke acara piknik tahunan dari perusahaan.
Biru belum pernah mengikuti hal semacam itu dan ia ingin sekali mengikuti acara itu, kata senior bilang di sana mereka akan senang-senang dengan beberapa game yang di adakan perusahaan.
Waktu pulang kerja telah tiba, kali ini Biru tidak mendapatkan pesan apapun dari Raon. Mungkin Raon sedang sibuk.
'Assalamualaikum pak, apa bapak sibuk? Saya izin pulang duluan pak' isi pesan yang di kirim Biru pada Raon.
Tidak ada jawaban atau tanda pesan sudah di baca membuat Biru yakin jika Raon sedang sibuk, ia tidak tahu kapan Raon akan pulang. Menghampiri Raon ke ruangannya pun akan membuat Biru merasa tidak enak karena takut mengganggu.
Akhirnya Biru memilih pulang duluan.
Di dalam lift tanpa sengaja Biru bertemu dengan Raon yang akan turun ke bawah, Biru menganggukan kepala memberi hormat pada Raon seperti apa yang sering karyawan lalukan pada atasan mereka.
Raon tidak menanggapi.
Saat lift akan tertutup tiba-tiba Gani masuk dengan nafas terengah-engah.
"Buru-buru mas?" Tanya Biru saat melihat Gani.
"Iya Bi, ada yang ingin saya sampaikan" jawab Gani setelah nafasnya normal.
"Mau bicara apa mas? Apa ada yang salah dengan pekerjaan saya?" Tanya Biru bingung.
Dari belakang ada sepasang mata yang melihat keakraban mereka berdua dengan tatapan yang sulit di artikan.
Apa lagi saat mendengar ucapan Gani selanjutnya membuat mata Raon memincing seperti ada kilatan di matanya.
"Bukan soal pekerjaan Bi, ini masalah pribadi" jawab Gani dengan berbisik tapi masih bisa di dengar oleh Raon.
Biru menyerngit merasa bingung dengan jawaban yang di berikan Gani "soal apa mas?".
"Apa kamu ada waktu nanti ma....." Ucapan Gani terpotong dengan suara deheman Raon. Gani menoleh, ia terkejut ternyata ada Raon suami Biru di sana. Ia tidak menyadari kehadiran Raon tadi.
Ting...
Lift tiba di lantai satu. Biru cepat-cepat turun karena tidak tahan dengan suasana canggung "saya duluan pak, mas"
Gani hanya membalas dengan anggukan kepala. Ingin rasanya Gani mengejar Biru dan mengatakan maksud kalimat yang terpotong tadi.
Saat akan menuju halte bus tiba-tiba lengan Biru di tarik Raon, kemudian Raon mendorong sang istri masuk ke dalam mobil dengan sedikit kasar.
"Apa-apaan sih pak" protes Biru pada perlakuan Raon.
"Kamu yang apa-apaan, kecentilan banget sama laki-laki lain. Murahan" ujar Raon dengan emosi membuat Biru bingung juga sakit hati dengan ucapan Raon.
"Maksud bapak apa bilang saya murahan?" Tanya Biru dengan suara bergetar menahan tangis. Seumur-umur baru sekarang ia di katai perempuan murahan.
Raon tidak menjawab, pandangan matanya lurus kedepan dengan satu tangan memegang kemudi dan satu tangannya lagi memegang tuas transmisi. Kakinya menginjak pedal gas dalam hingga mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Biru yang sudah tidak tahan dengan kelakuan Raon memilih meminta turun.
"Berhenti pak... Berhenti" ujar Biru dengan nada tinggi. Air matanya sudah menganak sungai, membasahi pipi mulus Biru.
Biru masih trauma dengan mobil yang melaju kencang. Pikirannya melalang buana ketiga tahun silam, dimana Biru mengalami kecelakaan hingga harus kehilangan satu ginjalnya.
Mendengar suara Biru yang tinggi, menyadarkan Raon dengan tindakannya. Refleks ia menginjak rem secara mendadak membuat Biru yang tidak siap harus terbentur dashboard. Untung saja jalanan sedang tidak ramai, membuat mereka bisa terhindar dari kecelakaan tak terduga.
🌻
Terimakasih sudah mampir...jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman.
keren thor
sukses
semangat
mksh