NovelToon NovelToon
Aku Yang Jatuh Cinta

Aku Yang Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:204
Nilai: 5
Nama Author: citaaaa

Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUJUHBELAS

Bio langsung menggeserkan makananya yang belum disentuh sama sekali. Dia lebih memilih menuntun Arun untuk duduk di sofa depan tv tersebut. Sedangkan Arun masih memejamkan matanya.

"Lo makan dulu, abis itu minum obat" ujar Bio.

Arun menggelengkan kepala, "enggak, gue pusing. Biar gue istirahat aja besok juga baikan kok" Arun berusaha untuk bangkit dari duduknya namun gagal akhirnya terjatuh dan duduk kembali.

"Dengerin gue! Makan abis itu minum obat!" bentak Bio.

Mendengar itu, Arun membuka matanya perlahan dan terlihat lah raut wajah Bio yang sedang dipenuhi amarah. Air mata jatuh begitu saja dari mata sebelah kiri Arun, melihat itu Bio sedikit tersentak.

Bio tidak menyangka bahwa kata-kata nya dengan nada keras tadi membuat Arun sampai menangis, "lo bisa gak sih gak usah bentak-bentak gue, gue lagi ngerasain sakit. Ngerti sedikit bisa gak sih?" ucap Arun sambil terus mengeluarkan air mata.

"Gue gak bermaksud buat bentak-bentak lo, gue ... khawatir sama lo" ucap Bio mampu membuat Arun menatapnya dengan intens.

Bio yang ditatap tersebut langsung bangkit dari duduknya menuju meja makan, "kalo lo sakit gue juga yang repot, nanti orang tua lo nanyain pertanggung jawaban gue sebagai suaminya" ujar Bio sambil mengambil makanannya yang sempat tertunda.

Bio kembali ke sofa sambil membawa makanan tersebut, "jadi gue gak mau tau, lo harus makan!" ujar Bio sambil menyodorkan makanannya didepan Arun.

Arun membuang wajahnya ke arah lain,  "enggak, gue males. Kepala gue juga pusing kalo matanya dibuka lama-lama. Lagian kan itu makanan lo, makan aja" ucap Arun terus menolak.

"Buka mulut lo! Aaa .."

Tanpa Arun sangka dengan mengintip dengan sebelah matanya yang dibuka Arun melihat Bio tengah menyodorkan sendok  berisi nasi dan suwiran ayam.

Bio akan menyuapinya?

"Lo ... mau ngapain?" tanya Arun dengan gugup.

"Isi dulu perut lo nanti abis itu lo bisa minum obat dan istirahat" jelas Bio.

"Satu suap aja" ujar Arun toh percuma menolak pun sudah tidak bisa.

"Semaunya gue lah! Kan gue yang nyuapin" balas Bio.

"Ya udah masukin aja ke mulut lo jangan mulut gue!" protes Arun.

"Sepuluh suap" tawar Bio.

"Dua suap".

"Lima suap".

Arun masih terus menggeleng dengan mata tertutupnya, "tiga suap, deal! Gue buka mulut" ujar Arun.

Bio tidak bisa memaksa lagi, "oke! Buka mulut lo" perintah Bio.

Mendengar persetujuan tersebut, Arun langsung membuka mulutnya dan menerima nasi tersebut.

Satu

Dua

Tiga

"Udah" ujar Arun menghentikan Bio saar akan menyuapinya kembali.

"Ckk, yaudah. Nih minum obatnya dulu"

Selama menunggu Arun mengunyah makanannya yang begitu lama. Bio sempat pergi ke dapur untuk mencarikan obat pereda sakit kepala yang bisa Arun minum.

Arun mengambilnya dan langsung meminum obat tersebut dengan segelas air yag sudah Bio siapkan pula.

"Handphone gue mana?" tanya Arun pada Bio.

Bio langsung memberikan tatapan sinis pada Arun, namun dirinya tetap berdiri untuk mengambilkan ponsel Arun yang tergeletak di meja makan.

"Nih! Cepat sembuh deh lo, nyusahin aja!" ujar Bio setelah berhasil memberikan ponsel tersebut.

"Makasih, lo kan bisa bilang kalo hp gue di meja biar gue ambil sendiri. Lagian gue gak nyuruh buat ambilin sama lo" balas Arun tidak kalah sinisnya.

Arun membuka aplikasi untuk memesan makanan secara online, "lo beli di tempat makan apa itu?" tanya Arun.

"Apa?".

"Itu makanan tadi lo beli dimana. Biar gue pesenin lagi, itu kan bekas gue".

"Gak usah".

"Lo kan belum makan. Lo mau makanan yang lain, ya udah apa gue pesenin. Itung-itung ganti makanan yang gue makan ini".

Bio langsung membawa makanan yang tadi menuju meja makannya, Bio langsung menarik kursi untuk duduk. Mendengar suara kursi tersebut membuat Arun membalikan tubuhnya melihat ke arah Bio masih dari posisinya di sofa, "gue makan ini aja" balas Bio sambil mengambil sendok baru dan menyuapkan nasi itu kedalam mulutnya.

"Ehh, jangan ...".

"Emang kenapa sih? Lagian ini juga masih banyak, sayang makanannya. Emang lo mau abisin?" tanya Bio.

Arun menggelengkan kepala artinya menolak bujukan Bio untuk menghabiskan makanan tersebut, "ya udah terserah lo, yang penting gue udah tawarin buat lo pesan makanan yang baru" gumam Arun sambil membalikan tubuhnya kembali menghadap depan tv.

Setelah minum obat semalam, pagi ini tubuh Arun terasa lebih sehat. Aktivitas pagi masih bisa dia lakukan seperti menyapu, mencuci dan membereskan setiap sudut rumah tersebut.

Lagi dan lagi!

Pagi ini Arun kembali dipusingkan dengan apa mereka berdua akan sarapan. Hidup dalam satu atap dengan orang lain ini sangat sulit, lebih baik Arun mengekost jika dia bisa memilih. Namun sayangnya waktu terus berjalan ke depan dan kesempatan untuk itu mungkin tidak akan ada lagi.

"Gue buat roti panggang aja kali ya?" gumam Arun saat melihat satu pack rotu tawar dan mesis disampingnya.

Bio baru saja turun ke bawah dengan rambut basahnya sehabis mandi dan menghampiri kulkas. Sedangkan Arun baru saja membuka segel dari plastik roti tawar tersebut, "lo udah sehat?" tanya Bio sambil memegang botol berisi air mineral ditangannya.

"Udah" balas Arun sambil menganggukan kepala namun pandangannya masih fokus pada roti yang ada dihadapannya.

Ting! Tong!

Bel rumah tersebut berbunyi, Arun yang baru saja akan menaburkan mesis diatas lembaran roti langsung menghentikannya. Dia memilih untuk membukakan pintu terlebih dahulu, "pagi-pagi udah bertamu aja, gak ada kerjaan apa nih orang?" gumam Arun.

Saat pintu terbuka, "pagi adik iparr" sapa Ilham khas dengan cengirannya.

Arun yang melihat itu langsung terdiam hanya membalas dengan senyuman sapaan dari Ilham, "silahkan masuk pak" ujar Arun sambil memberikan jalan pada Ilham.

Ilham melangkah masuk namun baru juga selangkah dia berhenti membuat Arun menatapnya dengan heran, "panggil gue bang Ilham aja, gue belum bapak-bapak kok" ujar Ilham sambil kembali melangkahkan kakinya.

Arun langsung mengerutkan dahinya. Namun langsung mengabaikannya, karena Arun belum selesai dengan rotinya maka Arun kembali lagi ternyata Ilham pun menuju dapur.

"Siapa?" tanya Bio sambil menutup pintu kulkas dan berbalik untuk menatap Arun.

Namun ternyata Bio salah, langkah kaki yang dia dengar bukan berasal dari Arun namun dari Ilham kakaknya. Sedangkan Arun berada dibelakang Ilham, "ciee, pengantin baru! Keramas terussss" ledek Ilham.

Bio menatap Arun seolah bertanya mengapa bisa Ilham ada disini. Namun Arun yang tidak peka hanya mengabaikannya begitu saja malah berjalan dengan santai kembali ke tempat awal dia berdiri tadi.

"Lo ngapain sih pagi-pagi ke sini?" tanya Bio dengan wajah kesal.

"Wihhh, santai dek. Lagian gue juga gak ganggu, ya kan Run?" Ilham mencoba mencari pembelaan.

Arun melihat ke arah Bio lalu Ilham dan tersenyum. Setelah itu dia kembali menuju kompor untuk memanggang roti tersebut. Setelah kompor tersebut hidup, Arun mengambil pan dan mengolesi permukaannya dengan butter. Agar bisa segera menyelesaikan pekerjaannya saat ini membuat sarapan.

Bio langsung berjalan menuju meja makan dan menarik kursi untuk duduk, "bang apa tujuan lo kesini?" tanya Bio kembali.

"Bosen gue di Jakarta, jadi gue ke Bandung aja. Sekalian jengukin keadaan lo" ujar Ilham sambil menaik turunkan alisnya.

"Enak banget hidup lo, kayak gak punya beban" komentar Bio.

Mendengar keluhan Bio membuat Ilham mengerti mengapa rumah ini terkesan sunyi bukan hanya dari luar namun ternyata dalamnya pun sama aja. Ilham tahu Bio dan Arun menikah tanpa rasa cinta, namun Bio tiidak seharusnya terus menyesali kejadian ini. Itu hanya akan membuat hati Arun terluka.

"Gimana dia?" bisik Ilham sambil menyenggol lengan Bio.

"Gak gimana-gimana! Emang lo berharap apa?" tanya Bio dengan sewot.

"Gak boleh gitu lo, gimana pun lo berdua sekarang udah suami istri. Gak baik lo kayak begitu sama istri sendiri" Ilham berusaha menasehati sang adik.

Bio mengurungkan niatnya untuk membalas perkataan Ilham karena mendengar suara langkah kaki Arun yang mendekat untuk menghampiri mereka.

Benar saja, satu piring roti panggang sudah siap dan terlihat masih panas karena uap masih terlihat, "silahkan di makan bang, soalnya gak ada apa-apa jadi cuma buat roti panggang aja" ucap Arun dengan sopan setelah meletakan piring tersebut di atas meja.

"Oh, iya Run gak apa-apa santai aja. Abang tadi udah makan di jalan kok" balas Ilham.

Bio yang memang turun tujuannya untuk mencari sarapan langsung saja mengambil roti tesebut dan di makannya dengan lahap, Arun hanya menatap datar kelakuan Bio.

"Lo berdua pisah kamar?" tanya Ilham.

Uhuk!

Uhuk!

Uhuk!

Pertanyaan tersebut membuat Bio tersedak dan dengan sigap Arun langsung menuangkan air putih pada gelas dan memberikannya pada Bio.

Bio hanya menatap Ilham dengan sinis, sedangkan Arun masih berpikir, "bagaimana bang Ilham bisa tau?" Batin Arun.

Tbc.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!