Terdengar suara tembakan yang begitu keras, terlihat beberapa orang sedang berlari membawa senapan di tangannya, sepertinya mereka sedang mengejar seseorang.
Terlihat seorang wanita yang menggunakan masker dan juga pakaian serba hitam mencoba untuk menolong seseorang yang dikejar itu.
Dari sinilah awal kisah mereka, pertemuan antara dua orang yang sama-sama hebat, berani dan sama-sama keras kepala dimulai.
Akankah ada kisah cinta diantara dua orang ini ? Ataukah mereka tetap menjadi musuh ? Cerita selengkapnya bisa dibaca di novel ini 😊😊😊
THE NEW STORY OF KIARA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clara Sety, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 : Keputusan Untuk Meninggalkan.
Nathan masih berada di kamarnya. Terlihat ia sedang berdiri tepat di hadapan jendela kamarnya yang terbuka. Mata Nathan sedang menikmati pemandangan kolam renang dan juga mini garden yang dimiliki oleh mansion nya. Bukan hanya itu, Nathan juga menikmati udara luar yang masuk melalui jendela itu yang langsung menerpa ke wajahnya. Walaupun udara yang dinikmatinya bukan udara pagi, namun Nathan tetap menikmatinya. Dengan melakukan ini semua Nathan bisa mencoba sedikit menenangkan diri setelah tadi ia sudah marah dengan sang adik, Claire.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang cukup kencang dari arah luar kamar Nathan. Nathan yang mendengar itu pun berjalan kearah pintu kamarnya dan membukakannya. Terlihat seorang Sebastian yang ada di hadapannya setelah pintu kamar itu terbuka.
"Kak," kata Sebastian sambil tersenyum.
"Ada apa ? Kenapa kau kemari ?" tanya Nathan tanpa berbasa-basi lagi.
"Ah, kak tak inginkan kamu mengajakku untuk masuk ? Ada yang harus ingin aku bicarakan denganmu tapi tidak di depan pintu seperti ini," jawab Sebastian.
"Jika kau ingin membujukku untuk memaafkan Claire, lebih baik kamu urungkan niatmu itu," kata Nathan.
Sebastian memang bukan adik dengan tipe penurut, tidak menghiraukan perkataan sang kakak, ia langsung menerobos masuk ke kamar sang kakak.
Sebastian yang sudah berada di dalam kamar sang kakak pun menempatkan tubuhnya untuk duduk di pinggir ranjang dari kamar itu.
"Kak, sudah berapa lama ya aku tidak pernah datang berkunjung ke kamar mu ? Banyak sekali yang berubah disini," ujar Sebastian.
"Kenapa kau selalu berbasa-basi ? Apa yang ingin kau katakan ? Aku tidak punya waktu banyak untuk mendengarkan ucapan basa-basi mu itu," kata Nathan dengan tegas.
"Baiklah," ucap Sebastian lalu melemparkan sebuah penthouse card kearah Nathan.
"Kenapa kau memberikan ini padaku ?" tanya Nathan penasaran.
"Kak aku adalah adik laki-laki terbaik yang kau punya. Aku bermaksud meminjamkan penthouse ku untuk kau tinggali sementara sampai kamu bisa memaafkan Claire," jawab Sebastian memberitahu.
"Aku bisa memesan kamar hotel," kata Nathan.
"Tidak perlu. Jika kamu melakukannya itu akan membuang-buang uang. Tinggallah di penthouse ku, aku akan tinggal di mansion ini dan akan menjaga Claire dan Amanda," ucap Nathan.
"Baiklah. Kali ini aku akan dengarkan ucapan mu," kata Nathan.
"Kak, ada satu lagi yang ingin aku tanyakan padamu mengenai nona Christy," kata Sebastian.
"Ada apa ? Kenapa kamu ingin bertanya tentangnya ?" tanya Nathan.
"Sebenarnya apa yang dilakukan nona Christy di mansion mu ?" tanya balik Sebastian penasaran dengan kehadiran sosok Kiara yang ada di mansion milik Nathan. Melihat Kiara tadi, membuat Sebastian memiliki spekulasi jika Kiara tinggal di mansion bersama sang kakak dan Sebastian menduga jika sang kakak sudah mulai menaruh rasa kepada Kiara
"Hanya bekerja," jawab Nathan singkat.
"Bekerja ? jawaban macam apa itu ? Bukannya bekerja di kantor juga bisa ? Tapi kenapa harus di mansion ini ? atau jangan-jangan kakak...," ucap Sebastian tidak melanjutkan ucapannya itu.
"Jangan berfikiran yang aneh-aneh. Aku menyuruhnya hari ini untuk bekerja di mansion ini. Ada sebuah berkas yang harus ia kerjakan disini," kata Nathan memberi alasan untuk sang adik.
"Ah, seperti itu. Aku kira kakak menyuruhnya tinggal disini," ujar Sebastian.
"Masih ada lagi yang ingin kamu bicarakan ? Jika tidak aku akan bersiap-siap untuk pergi," kata Nathan.
"Belum satu lagi. Aku harap kakak akan segera memaafkan Claire dan segera kembali ke mansion ini. Walaupun hari ini Claire melakukan kesalahan, tapi aku harap kakak bisa memaafkannya," kata Sebastian.
"Aku menyayangi Claire dan aku sudah memaafkannya," ucap Nathan jujur.
"Kalau begitu, tetaplah tinggal disini," ujar Sebastian.
"Tidak. Ini adalah hukuman yang harus dia tanggung. Selama ini aku begitu memanjakannya dan jarang sekali memarahinya tapi kali ini aku harus melakukannya. Dia harus belajar cara menghargai orang lain," kata Nathan.
"Baiklah kak, aku akan keluar dan segera bersiap-siaplah." pungkas Sebastian lalu melangkah ke arah pintu untuk keluar dari kamar milik Nathan.
Saat Sebastian membuka pintu kamar Nathan dan akan keluar, ia nampak terkejut karena ternyata diluar kamar Nathan tepatnya di depan pintu kamar terlihat Kiara yang berdiri sambil membawa tas miliknya sambil tersenyum.
"Nona Christy, kamu ada disini ? Apa mencari kakakku ?" tanya Sebastian.
"Iya benar. Apa tuan ada di dalam ?" kata Kiara.
"Dia ada di dalam. Dia sedang bersiap-siap," ucap Sebastian.
Nathan yang berada di dalam kamar dan menyadari kehadiran Kiara pun segera melangkah menuju kearah pintu kamar lalu ia berdiri dibelakang Sebastian adiknya.
"Apa kau mencari ku ?" tanya Nathan.
"Iya tuan, ada yang ingin saya bicarakan," jawab Kiara.
"Jika begitu aku akan pergi dulu ke dapur. Silahkan kalian berbicara berdua," kata Sebastian.
Sebastian pun meninggalkan sang kakak berdua dengan Kiara untuk berbincang-bincang.
"Ada apa ?" tanya Nathan.
"Ayo kita pergi dari sini. Aku sudah siap. Katamu kita akan meninggalkan mansion ini. Aku sudah sangat ingin pulang ke rumah ku," jawab Kiara.
"Siapa yang bilang aku akan membawa mu pulang ke rumah mu ?" tanya Nathan.
"Bukannya tadi kamu bilang kita akan meninggalkan tempat ini ? itukan berarti kamu akan membawa ku kembali ke rumah ?" jawab Kiara.
"Sepertinya kamu salah paham. Aku hanya bilang jika kita sementara akan keluar dari mansion ini. Aku sama sekali tidak bilang kalau akan memulangkan mu," ucap Nathan.
"Yah, ternyata aku kira keluar dari mansion ini sama berarti aku bisa kembali ke rumah," pekik Kiara pelan.
"Ada apa ?" tanya Nathan setelah melihat Kiara berbicara sendiri.
"Bukan apa-apa," jawab Kiara.
"Tunggulah di mobilku. Aku akan menyusul mu," perintah Nathan lalu ia segera kembali ke dalam kamar untuk bersiap-siap.
...****************...
Nathan dan Kiara sekarang sudah berada di dalam mobil Porsche Panamera milik Nathan. Tanpa berlama-lama lagi, Nathan pun melajukan mobilnya itu, meninggalkan mansion miliknya untuk sementara waktu.
Mobil yang dikendarai oleh Nathan melaju melewati jalanan di Milan yang begitu indah dengan banyak lampu yang menghiasi di malam ini. Suasana di dalam mobil pun begitu hening tapi ini tidak berlangsung lama.
Kiara yang sedari tadi diam sekarang mulai ingin bertanya kepada Nathan tentang semua hal yang sudah terjadi kepadanya. Kiara benar-benar ingin tahu, kenapa Nathan menyekapnya seperti ini ?
"Nathan," panggil Kiara.
"Ada apa ?" jawab Nathan singkat.
"Apa alasan kamu melakukan hal seperti ini ?" tanya Kiara.
"Hal seperti ini ? Maksud kamu ?" tanya balik Nathan karena tidak paham dengan pertanyaan yang diajukan oleh Kiara.
"Menyekap ku seperti ini. Aku sangat ingin kembali ke rumah," rengek Kiara.
"Tidak bisa. Untuk sementara kamu tidak boleh kembali ke rumah mu dan juga tidak boleh jauh-jauh dari pengawasanku," ucap Nathan tegas.
"Tapi kenapa Nathan ? Apa kamu sengaja melakukan ini karena tahu kalau aku adalah pegawai dari Joan's Group ? Oleh karena itu kamu menyekap ku ?" tanya Kiara.
"Bukan itu alasannya," jawab Nathan singkat.
"Lalu apa ?" tanya Kiara mendesak meminta jawaban.
"Aku hanya ingin menyelamatkan nyawamu. Ada seseorang yang ingin melenyapkan mu," jawab Nathan.
"Melenyapkan ku ? Siapa ?" tanya Kiara semakin penasaran.
"Tuan William, ayahku," jawab Nathan jujur.
"Ayahmu ? tapi kenapa ? aku bahkan tidak mengenalnya," kata Kiara.
"Aku tidak tahu alasannya," kata Nathan jujur.
"Nathan, aku bisa menjaga diriku sendiri. Kamu tidak perlu sampai melakukan hal ini kepadaku. Seharusnya kamu cukup untuk memberitahukan ku saja," ujar Kiara.
"Bukan hanya itu, aku melindungi mu karena aku juga membutuhkanmu," kata Nathan.
"Membutuhkan ku ? Maksud kamu ?" tanya Kiara penasaran.
"Ambil kertas yang ada di depan mu. Setelah itu bacalah," kata Nathan.
Kiara pun mengambil kertas yang ada dihadapannya sesuai dengan ucapan Nathan. Kiara membuka kertas itu dan membaca isinya. Ternyata kertas itu berisikan sebuah perjanjian untuk Kiara dan harus ditanda tangani.
Setelah Kiara membaca dengan cepat, Kiara masih tidak mengerti dengan isi surat perjanjian itu. Di dalam surat perjanjian itu ada tulisan mengenai menyelamatkan ibu Nathan yang disekap oleh Tuan William. Kiara benar-benar tidak mengerti apa yang sedang direncanakan oleh Nathan saat ini.
"Apa kamu mengerti isi dari surat perjanjian itu ?" tanya Nathan.
"Tidak," jawab Kiara singkat.
"Biar aku jelaskan intinya saja. Ibu ku disekap oleh ayah ku sudah tiga tahun, aku bahkan tidak bisa menemukannya. Ayah ku akan melepaskannya jika aku memberikan kamu kepadanya," kata Nathan mulai menjelaskan.
"Hellooooo, aku bukan barang yang bisa ditukar seenak jidat," protes Kiara.
"Aku tidak ingin melakukan itu. Aku sudah punya rencana lain," kata Nathan.
"Apa yang kamu rencanakan ?" tanya Kiara.
"Kamu tidak perlu tahu. Aku hanya ingin kamu menuruti semua yang aku ucapkan sampai ibu ku ditemukan dan bisa bebas dan juga ayah ku masuk penjara. Setelah itu aku akan melepaskan mu," jawab Nathan.
"Hanya melepaskan ku ? Keuntungan macam apa itu ?" kata Kiara.
"Maksud kamu ?" tanya Nathan.
"Bukan hanya melepaskan ku tapi juga melepaskan Joan's Group. Banyak sekali masalah yang dilakukan oleh The William Company selama beberapa tahun belakangan ini dan membuat Joan's Group hampir mengalami kebangkrutan," jawab Kiara.
"Aku mengerti. Aku akan melakukan yang kamu minta. Tapi sebelum ibu ku ditemukan dan ayah ku masuk penjara, aku bertanggung jawab untuk keselamatan mu," kata Nathan tegas.
"Baik, deal," pungkas Kiara lalu mengambil pulpen yang ada di dalam tas nya dan membuat tanda tangan di surat perjanjian itu.
"Sudah aku tanda tangani," ucap Kiara.
"Bukankah surat perjanjian itu adil ? Kita berdua sama-sama diuntungkan," kata Nathan.
Kiara hanya menjawab dengan anggukan kepala saja.
Bersambung...