Novel romance pernikahan
Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka biarkan diriku pergi dari kehidupanmu. Selamat tinggal.
Olivia meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika beginilah nasib pernikahannya. Lima tahun bersama seakan tiada berarti apa-apa. Kebahagiaan dan perjuangan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya telah berakhir. Saatnya Olivia melangkah pergi, meninggalkan segala kenangan yang ia ukir bersama suaminya di rumah itu.
Derai air mata mengiringi langkahnya. Bagaimanapun kepedihan itu terjadi. Olivia harus mampu bertahan, demi janin yang dikandungnya.
Bagaimana Olivia dan calon anaknya menapaki hidup selanjutnya? Mampukah ia bangkit dari keterpurukan yang dialaminya? Atau, malah menyerah dan memilih kembali kepada kehidupan yang sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Delapan
Rupanya, kesedihan itu belum juga ingin enyah dari keduanya. Pelukan dan kata-kata manis kali ini tiada mampu menghalau sesak dari dada Olivia.
Vino berulang kali juga mengucapkan kata maaf untuk sang istri, berharap agar wanitanya itu mau sedikit berdamai dari rasa bersalahnya. Benarlah apa yang dipikirkan Vino sejak tadi, Olivia menyalahkan diri sendiri atas musibah yang telah menimpa keduanya. Padahal, dari sudut pandang Vino, dialah yang paling bertanggung jawab atas musibah tersebut.
"Bukan salahmu, Sayang ... bukan salahmu. Semuanya murni karena kesalahanku." Vino kembali mencoba mengungkapkan apa yang ada dalam dadanya. Bukan, bukan karena ia ingin meringankan beban tersebut melainkan ingin memberikan sedikit ketenangan pada hati wanita yang sedang terguncang itu.
Vino memeluk tubuh Olivia yang tengah berbaring itu dengan erat. Ia menyurukkan kepalanya di leher wanita itu. Berbisik di sana.
"Kalau saja aku tidak memintamu naik ojek, tentulah tidak akan ada yang terjadi sekarang. Semua salahku ... semua salahku."
Olivia semakin tergugu, hingga beberapa menit kemudian keduanya masih berkubang dalam kesedihan. Maka, biarkan saja mereka begitu. Mungkin dengan cara menumpahkan tangis lah sepasang suami istri itu mampu melepaskan sedikit beban dari dada mereka.
***
"Kak, aku lupa minta izin ke ibunya Nadia. Tidak hadir hari ini." Olivia sedang duduk di kursi roda, ia baru saja buang air kecil ditemani Vino.
"Nanti aku izinkan ya. Enggak apa-apa 'kan telat?"
"Enggak apa-apa, yang penting Nadia tahu aku belum bisa mengajar beberapa hari ini. Jadi dia enggak perlu mencari ku." Olivia menjelaskan.
Sesampainya di ruangan, Vino membopong Olivia untuk naik ke atas ranjang.
"Padahal aku bisa sendiri, Kak. Aku tidak selemah itu tauk," keluh Olivia.
Vino terkekeh pelan. "Iya, kamu memang wanitaku yang kuat dan hebat. Tapi sekarang, aku sedang ingin menggendong kamu, Sayang," ujarnya riang yang dibalas cibiran oleh Olivia.
"Eh, hp mu di mana, Yang?" tanya Vino kemudian setelah meletakkan Olivia dengan posisi nyaman di ranjang pasien.
"Hm ...." Olivia tampak berpikir sejenak mengingat-ingat di mana ia meletakkan benda pipih itu. Nihil. Ia tidak mengingat sama sekali keberadaan benda penting itu. "Aku tidak tahu."
"Nah, setelah lelaki itu menghubungiku diletakkan di mana hp mu itu?" Vino bertanya dengan kening berkerut.
"Coba di tas, Kak," kata Olivia kemudian.
Vino bergerak cepat menuju lemari kecil di samping ranjang istrinya untuk meraih tas yang tergeletak di sana.
Tangan Vino merogoh dan mengacak-acak isi tas milik Olivia.
"Ini dia!" seru lelaki itu. Lantas mengembuskan napas kasar karena ponsel tersebut dalam keadaan mati.
"Ya udah, besok saja aku hubungi nomor Nadia ya. Sekarang lebih baik kamu habiskan dulu makan malam mu. Banyak makan, cepet sehat, cepet pulang. Oke." Vino berkata lembut penuh penegasan, sehingga setiap katanya seakan terdengar tidak bisa dibantah.
Olivia pasrah. Ia pun mengangguk menuruti perintah sang suami.
Vino menyuapi Olivia dengan sabar.
"Udah, kenyang." Olivia menggeleng setelah beberapa suap nasi masuk ke mulutnya. Ia tahu, jika suaminya tersebut belum makan sama sekali.
"Dikit lagi." Rupanya, Vino masih bersikeras menyuapi Olivia.
"Kenyang," tolak Olivia dengan menggeleng pelan.
"Gimana mau cepet sehat kalau makannya dikit begini," gerutu Vino.
"Aku tadi kan diinfus, Kak. Jadi masih ada asupan yang masuk," sahut Olivia. "Sekarang gantian aku yang siapin suamiku karena dia belum makan apa pun dari siang." Lantas, ia pun meraih sendok yang terisi penuh oleh nasi dari tangan Vino.
Vino sempat menahan sendok tersebut dari tarikan tangan Olivia. Namun, tentu saja ia mengalah setelah mendapatkan pelototan dari wanita itu.
"Aku enggak mau suami aku sakit yaa," kata Olivia dengan tatapan mendelik.
"Oke aku makan. Tapi ada syaratnya," putus Vino kemudian. Ada seringai tipis di senyum yang tersungging di wajahnya.
"Apa?" tanya Olivia dengan alis menyatu.
"Panggil aku sayang."
"Ih, apaan?" protes Olivia.
"Kalau enggak mau, aku enggak akan makan."
*Dasar, bisanya ngancem doang," gerutu Olivia sebal.
"Biarin."
"Kekanakan."
"Biarin."
"Nyebelin."
"Biarin."
"Sayangnya aku."
Vino mendelik. "Apa? ulangi!" ujarnya.
"Dih, ogah. salah sendiri enggak denger." Olivia memalingkan wajahnya, menyembunyikan semburat merah di kedua pipi karena malu.
"Bukan enggak denger. Tapi butuh penegasan. Coba ulang sayangku," ledek Vino selanjutnya.
Hening. Keduanya saling diam. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan terlontar dari lisan Olivia.
Duh, jantung. Begini saja udah blingsatan. Vino menatap lekat wajah Olivia yang semakin tampak cantik walaupun pucat.
"Sayangku ...." Bibir Olivia bergetar. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak pernah berpikir jika begini reaksi tubuhnya saat mengucap kata sayang untuk lelaki di hadapan. Padahal mereka telah menikah beberapa bulan lamanya. Namun, dirinya memang belum terbiasa menyebut suaminya itu dengan panggilan sayang.
Vino lah yang selama ini sering memanggil dirinya dengan panggilan manis itu. Ya, Olivia harus mengakui jika panggilan itu terdengar sangat manis di telinganya.
"Sekali lagi." Vino tersenyum seraya mengacungkan jari telunjuk.
"Kakak ngerjain aku ya," protes Olivia.
Kemudian keduanya saling terdiam dan terkikik geli kala mendengar teguran dari ranjang sebelah.
"Tuh kan, kita ditegur pasien sebelah karena berisik. Kakak sih," gerutu Olivia.
"Kok Kakak sih. Kamu tuh yang enggak mau panggil suami sendiri dengan panggilan sayang," sahut Vino tak mau kalah. Ia memang suka berdebat dengan Olivia, dengan begitu dirinya bisa memastikan jika wanita di hadapannya telah baik baik saja.
"Iya, Sayangku," ujar Olivia kemudian.
"Terima kasih." Sedetik kemudian Vino telah bergerak mengikis jarak di antara keduanya.
Apa yang bisa dilakukan Olivia meghadapi tingkah suaminya yang sangat mengejutkan? Tentu tidak ada, sebab dirinya memang sedang membutuhkan itu. Pengakuan dan perlakuan penuh cinta uang diberikan Vino kepadanya sedikit banyak mampu mengikis kesedihan dari hatinya.
Pergerakan keduanya terhenti kala mendengar nada dering dari ponsel Vino.
Olivia memalingkan wajah, tetapi segera di tangkap oleh kedua tangan besar nan kasar Vino. Lelaki itu menghapus jejak basah di bibirnya seraya tersenyum tipis.
"Aku angkat telepon dulu ya. Kamu bisa siapin aku," ujar Vino lembut.
"Halo, Ma," sapa Vino kemudian menjawab panggilan dari Sekar, sang mama, dengan mulut penuh.
"Kamu lagi makan?" tanya Sekar.
"Iya, ini aku lagi makan. Ada apa, Ma?"
"Kamu di mana? Ada temen Mama yang lihat kamu di rumah sakit. Emang siapa yang sakit?" Pertanyaan sang mama sontak membuat Vino tersedak nasi di mulutnya.
Cepat-cepat Vino mengambil air di atas nakas lalu memberikannya kepada Vino.
"Vino! Vino! kamu denger suara Mama enggak?"
"Iya ... iya, Ma.
"Siapa yang sakit?"
"Olivia, Ma. Dia kecelakaan dan sekarang di rawat. tapi kondisinya udah baik baik aja kok," jelas Vino.
"Mama ke sana sekarang. Kirim alamat nya. Ada-ada saja istrimu itu."
Sambungan pun diputus sepihak oleh Sekar.