NovelToon NovelToon
ILMU PENGLARIS

ILMU PENGLARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tipu daya di balik kabut

BAB 3 - Tipu Daya di Balik Kabut

Setelah mangkuk kosong didorong ke tengah meja, keheningan di antara mereka terasa makin menebal. Udara di dalam kios kecil itu mendadak berubah menjadi sangat berat dan sulit untuk dihirup, seolah-olah ada kabut tak kasat mata yang sedang mengikat leher mereka. Rahmat dan Ratna hanya bisa menatap tanpa berkedip, menahan napas demi menunggu kalimat apa yang akan keluar dari mulut lelaki tua di hadapan mereka.

Namun, setelah beberapa menit berlalu dalam ketegangan yang menyiksa, Mbah Cahyo tetap bergeming. Lelaki tua itu tak kunjung melanjutkan obrolannya yang sempat terputus tadi. Ia hanya diam, jemari rentanya mengetuk-ngetuk pinggiran meja kayu secara teratur, menciptakan irama konstan yang makin merusak ketenangan jiwa Rahmat.

Tak tahan lagi terus-terusan digantung oleh ketidakpastian, Rahmat akhirnya nekat mengambil langkah.

"Maaf, Mbah... terus gimana solusinya supaya tempat ini bisa ramai lagi?" tanya Rahmat, memecah keheningan sore yang sempat membeku kaku di antara mereka. Suaranya terdengar serak, bergetar menahan beban keputusasaan yang sudah mencapai puncaknya.

Mbah Cahyo tidak langsung menjawab. Lelaki tua itu hanya diam sejenak, membiarkan pertanyaan Rahmat mengambang begitu saja di udara. Detik berikutnya, sorot mata tuanya yang tajam perlahan bergeser, melirik jauh ke luar kios—tepat ke arah kedai bakso yang tampak sangat ramai di ujung jalan sana.

Dari kejauhan, asap putih dari dandang besar kedai saingan mereka itu masih mengepul tinggi ke udara. Begitu tebal dan pekat, seolah-olah gumpalan asap itu sengaja merayap naik demi menutupi langit sore di desa tersebut dengan keheningan yang mistis.

"Dadi, kuwi sing nggawe kios iki sepi..." *(Jadi, itu yang membuat kios ini sepi...)* ujar Mbah Cahyo dengan suara lirih sembari menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan.

Lelaki tua itu kembali menatap Rahmat, lalu melanjutkan bicaranya dengan nada yang penuh teka-teki, "Ada banyak hal yang mata telanjang tidak bisa lihat, Le. Kamu lihat mereka tertawa, makan dengan lahap, dan antre dengan sabar di sana... tapi kamu tidak bisa melihat apa yang sebenarnya ada di dalam kepala dan hati mereka. Dan yang paling penting... kamu tidak tahu apa yang diletakkan di dalam bumbu itu."

Mendengar perkataan si Mbah yang merujuk pada hal-hal tak kasat mata, Ratna seketika tersentak kaget. Jantungnya berdesir aneh.

"Maksud si Mbah... pripun?" potong Ratna cepat, mengabaikan rasa sungkannya demi menuntaskan rasa ingin tahu yang kini mulai membakar hatinya.

Mbah Cahyo tidak langsung menjawab pertanyaan Ratna. Ia justru terkekeh pelan—sebuah tawa lirih yang terdengar begitu dingin dan mengundang bulu kuduk berdiri. Sepasang mata tuanya yang sayu bergerak lambat, menatap Rahmat dan Ratna bergantian dengan pandangan yang seolah bisa membaca setiap inci kerapuhan di wajah mereka.

Mbah Cahyo tahu, akal sehat suami-istri di hadapannya ini sudah lama terkikis habis oleh jeratan utang. Keduanya sudah berada di titik nadir, tipe manusia yang akan dengan mudah menggenggam bara api asalkan bisa selamat dari jurang kemiskinan. Dan bagi Mbah Cahyo, itu adalah celah sempurna untuk menanamkan racunnya.

"Le, Nduk... di zaman sekarang ini, kelurusan hati saja tidak akan bisa memberi kalian makan," Mbah Cahyo memajukan tubuhnya sedikit lebih dekat ke meja, lalu berbisik dengan nada rendah seolah-olah sedang membagikan rahasia paling terlarang di dunia. "Kamu lihat kedai di ujung jalan itu? Mereka bisa sewangi dan seramai itu karena ada 'sesuatu' yang dilarutkan ke dalam kuahnya. Sesuatu yang membuat lidah manusia terkunci dan terus-terusan ingin kembali ke sana."

Mbah Cahyo menjeda kalimatnya sejenak, sengaja memberi ruang agar racun fitnah yang baru saja ia embuskan mulai merasuki kepala pasangan suami istri itu.

"Kiosmu sepi bukan karena baksomu tidak enak, Le. Tapi karena tempat ini sudah 'ditutup' secara gaib oleh mereka. Kalau kamu cuma bisa diam dan nerimo, selamanya kamu hanya akan jadi penonton kesuksesan orang lain yang curang," lanjut si Mbah, sukses menyiramkan minyak ke dalam api kecemburuan di hati Rahmat.

*Benar dugaanku. Mereka tidak menjual rasa enak semata! Mereka pasti menaruh sesuatu yang lain... sesuatu yang membuat orang-orang itu jadi kecanduan, lupa diri, dan rela antre berjam-jam. Bukan karena bakso mereka lebih enak dari buatanku, tapi karena jiwa para pembeli itu sudah terikat!* gumam Rahmat dalam hati.

Di bawah meja, kedua tangan Rahmat seketika mengepal amat erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan letupan amarah dan iri dengki yang kini sepenuhnya menguasai akal sehatnya.

"Terus iki piye, Mbah? Apa yang harus kami lakukan agar kios ini bisa ramai lagi? Tolong kami, Mbah..." tanya Rahmat, suaranya gemetar, benar-benar siap melakukan apa saja demi membalikkan keadaan.

Mbah Cahyo tidak langsung menjawab. Lelaki tua itu hanya menatap Rahmat dengan tatapan datar yang dingin, seolah sedang mengukur seberapa jauh pria itu bersedia melangkah ke dalam kegelapan.

Melihat suaminya sudah memohon, pertahanan diri Ratna yang semula dipenuhi rasa ragu akhirnya ikut runtuh berkeping-keping. Rasa lelah, bayang-bayang utang yang menumpuk, dan ketakutan akan kemiskinan mendadak mengubur dalam-dalam akal sehatnya. Ia memajukan duduknya, ikut menatap Mbah Cahyo dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Iya, Mbah... apa yang harus kami lakukan? Kami sudah tidak ingin terus-terusan hidup sengsara seperti ini," tambah Ratna, suaranya parau, mempertegas kepasrahan suaminya.

Mendengar kekompakan sepasang suami istri yang sudah sepenuhnya terhasut itu, sudut bibir Mbah Cahyo perlahan terangkat. Sebuah senyuman puas yang mengerikan terukir di wajah rentanya. Umpan telah ditelan habis, dan kini saatnya jerat itu ditarik kencang.

BERSAMBUNG

1
Mega Arum
sebenarnya kasihan Ratna,..
Mega Arum
kemungkinan itu anak setan 🤨
HERMAWAN 505: bisa jadi karena pak Rahmat itu mandul
total 1 replies
Mega Arum
kasihan Ratna...
Mega Arum
mampir lagi kak.. semoga lbh menarik dr novel sebelumnya,...
HERMAWAN 505: makasih banyak Mega Arumi, mohon dukungannya yah semoga bisa membuat kamu senang dengan hasil akhirnya.👍
total 1 replies
miilieaa
tulisan nya bagus banget😍
HERMAWAN 505: makasih kakak, semoga terhibur yah
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
halo kak....udah aku like y
jangan lupa like back ke ceritaku 😁
HERMAWAN 505
cerita lokal yang menerik
HERMAWAN 505
makasih sudah mau mampir di novel ku. 🙏🙏🙏
Ara putri
Hay kak, saling dukung yuk. Mampir juga keceritaku TUAN AYAZ TOLONG BERHENTI!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!