NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eksekusi

Pengamen yang biasa disapa Bang Ucok itu tengah bersiap menjalankan tugasnya. Setelah memastikan penampilannya cukup rapi, ia melangkah menuju pangkalan ojek yang berada tak jauh dari terminal.

Sambil berjalan, ia mengomel sendiri.

“Tuh anak gimana sih. Udah tahu handphone gue jadul, cuma bisa buat nelpon sama SMS, malah nyuruh gue pesen ojek online,” gerutunya kesal.

“Ucok!” seru seseorang dari arah pangkalan.

Ucok menoleh.

“Woi!”

Seorang tukang ojek bernama Tyo melambai ke arahnya.

“Mau ke mana lu? Tumben rapi begitu.”

Tyo menatap Ucok dari ujung kepala sampai kaki dengan heran. Biasanya lelaki itu hanya mengenakan kaus tanpa lengan yang mulai pudar warnanya dan celana jins robek di beberapa bagian. Namun pagi itu penampilannya jauh berbeda. Ia mengenakan celana panjang, jaket hitam, topi, serta masker kain yang menutupi sebagian wajahnya.

“Anterin gue ke Jalan Cendana Nomor 20.”

Tyo menyipitkan mata curiga.

“Mau ngapain lu ke sana?”

Ucok memasang wajah sok serius.

“Ngapelin pacar lah.”

“Preeet!” Tyo langsung tertawa terbahak-bahak.

“Gue nggak percaya!”

Ucok ikut nyengir.

“Serius, lu mau ngapain ke sana?”

“Ada pekerjaan.”

Kali ini nada suara Ucok terdengar lebih meyakinkan.

Tyo mengangkat sebelah alis.

“Pekerjaan apaan?”

Ucok menggeleng pelan.

“Ada deh. Pokoknya komisinya lumayan gede.”

Mata Tyo langsung berbinar.

“Wah! Berapa?”

“Sudah ah! Kamu nanya terus!"

Ucok tertawa lalu menepuk bahu temannya.

“Ayo, kita berangkat sekarang.”

Tyo tetap duduk lalu menengadahkan tangannya.

“Bayar dulu.”

“Besok bayarnya kalau komisi gue udah cair.”

“Ah, elah...”

“Mau nggak nih nganterin gue?” tanya Ucok.

“Iya deh, iya. Tapi janji ya, bayar.”

Ucok mengacungkan jari telunjuknya.

“Tenang, gue pasti bayar.

Tyo menggeleng sambil terkekeh. Meski mulutnya terus menggerutu, ia tetap menyalakan mesin motor.

Motor pun melaju meninggalkan terminal.

Di sepanjang perjalanan, Ucok beberapa kali teringat ucapan Yudha. Semakin dipikirkan, semakin aneh pula pekerjaan yang ditawarkan bocah itu.

Ia hanya diminta masuk ke sebuah kamar.

Sesederhana itu. Namun entah kenapa, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.

“Semoga itu cuma perasaan gue, gumamnya.

“Stop!”

Ucok menepuk punggung Tyo dari jok belakang motor.

Tyo mengerem perlahan lalu menoleh heran.

“Lho? Jalan Cendana Nomor 20 masih di depan sana,” protesnya.

“Gue mau turun di sini aja.”

Meski bingung, Tyo tetap menepikan motornya ke pinggir jalan.

Ucok turun lalu merapikan jaket dan topinya.

“Nah, sekarang lu boleh pergi,” ujarnya.

Tyo masih memandangnya dengan tatapan curiga.

“Nanti minta dijemput nggak?”

“Nggak usah.”

“Ya udah deh. Tapi ingat ya, lu masih punya utang.”

“Iya!” sahut Ucok kesal.

Tyo terkekeh lalu memutar gas motornya dan pergi meninggalkan lokasi.

Setelah temannya menghilang dari pandangan, Ucok mulai mengamati keadaan sekitar. Matanya menyapu sepanjang Jalan Cendana dengan waspada.

Tak lama kemudian, pandangannya tertuju pada sebuah rumah dua lantai bercat biru. Dari informasi yang diberikan Yudha, itulah rumah Pak Keenan.

Ucok berdiri di bawah rindangnya pohon sambil terus memperhatikan keadaan. Rumah itu terlihat tenang. Namun yang membuatnya ragu adalah rumah-rumah di samping kanan dan kirinya.

Kedua pintu rumah itu terbuka. Artinya, kemungkinan besar ada penghuni yang sedang berada di dalam.

“Waduh... kalau ketahuan bisa repot nih,” gumamnya.

Ia memutuskan menunggu beberapa saat.

Beberapa menit berlalu. Kesabarannya akhirnya membuahkan hasil. Seorang pria keluar dari rumah sebelah kanan sambil menuntun sepeda motor. Tak lama kemudian pria itu pergi meninggalkan rumahnya.

Ucok tersenyum tipis, namun ia belum berani bergerak.

Beberapa menit berikutnya, seorang wanita keluar dari rumah sebelah kiri. Saat wanita tersebut hampir melewati tempatnya berdiri, Ucok buru-buru bersembunyi di balik batang pohon besar. Ia menahan napas sampai wanita itu benar-benar menjauh.

Setelah keadaan dirasa aman, Ucok mengeluarkan ponsel jadul dari saku jaketnya. Dengan cekatan ia menekan nomor Yudha.

Tak lama kemudian panggilannya tersambung.

[[Gue udah di dekat rumah lo. Gue juga udah mengamati sekitar. Aman]]

Suara Yudha terdengar dari seberang sana.

[[OK. Sekarang juga Bang Ucok ke sini. Di rumah juga aman]]

[[Siap!]]

Panggilan pun terputus.

Ucok memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Entah kenapa, jantungnya mulai berdebar lebih cepat.

Ia memang sering melakukan berbagai pekerjaan aneh demi mendapatkan uang.

Namun kali ini rasanya berbeda. Ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang.

Sayangnya, bayangan tiga lembar uang seratus ribuan yang dijanjikan Yudha jauh lebih kuat daripada suara hati yang mencoba memperingatkannya.

Ucok menarik napas panjang. Lalu dengan langkah cepat, ia mulai berjalan menuju rumah Keenan.

Yudha sudah berdiri di teras sejak beberapa menit yang lalu. Wajahnya tampak tegang dan gelisah. Matanya terus mengawasi ujung jalan, khawatir Ucok tersesat atau, lebih buruk lagi, berubah pikiran.

Begitu sosok pria itu terlihat berjalan mendekat, Yudha langsung melambaikan tangan.

“Bang! Ke sini!”

Ucok mempercepat langkahnya. Tanpa membuang waktu, Yudha segera mengajaknya menuju halaman belakang.

Setelah tiba di belakang rumah, Yudha mulai menjelaskan denah rumah secara singkat. Ucok mengangguk paham.

“Di rumah cuma ada lo, kan?” bisiknya.

“Ada adik gue.”

“Hah?!” Mata Ucok langsung membelalak.

“Tenang aja. Dia lagi tidur.”

Ucok menghembuskan napas lega.

“Jadi sekarang gue langsung masuk ke kamar utama?”

Yudha menggeleng cepat

“Jangan. Bang Ucok ngumpet dulu di kamarku. Kalau waktunya sudah pas, baru masuk ke kamar utama.”

“Oke!”

Keduanya segera masuk ke dalam rumah dengan hati-hati. Yudha membawa Ucok menuju kamarnya lalu menutup pintu rapat-rapat.

Ucok mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

“Wah... besar juga kamar lo.”

Ia menepuk-nepuk kasur empuk milik Yudha. “Kasurnya juga enak.”

Lalu tanpa malu-malu ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

“Gue jadi ngantuk. Hooaaam...”

Ucok menguap lebar tanpa menutup mulut. Yudha spontan memalingkan wajah. Bau napas pria itu membuat perutnya terasa mual. Namun ia memilih diam. Bagaimanapun juga, pria itulah yang akan membantu menjalankan rencananya.

Beberapa menit kemudian, suara dengkuran mulai terdengar.

Awalnya pelan. Lalu semakin lama semakin keras.

“Grrrkkkhh... ngooorrhhh...”

Yudha memejamkan mata kesal. Karena tak tahan mendengar suara dengkuran itu, ia akhirnya keluar dari kamar dan menutup pintu. Ia berjalan ke ruang tengah lalu menyalakan televisi.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu depan dibuka.

“Assalamualaikum.”

Yudha tahu itu suara Kinanti. Namun ia memilih tidak menjawab salam dan tetap memandang layar televisi.

“Daffa mana?” tanya Kinanti setelah meletakkan rantang yang dibawanya.

“Mana kutahu,” sahut Yudha ketus tanpa menoleh.

Kinanti menghela nafas pelan. Pandangannya lalu tertuju pada meja makan. Piring Daffa masih berada di sana. Nasi dan opor ayam di dalamnya bahkan masih tersisa cukup banyak.

Keningnya berkerut heran. Namun ia tidak bertanya apa-apa. Ia membereskan meja makan terlebih dahulu, lalu berjalan menuju kamar Daffa. Perlahan ia membuka pintu. Bocah itu tampak tertidur meringkuk di atas ranjang.

Melihatnya, hati Kinanti sedikit lega. Ia menutup kembali pintu kamar itu dengan hati-hati lalu masuk ke kamar utama untuk beristirahat sejenak.

Waktu terus berlalu. Acara televisi yang sejak tadi ditonton Yudha mulai terasa membosankan. Kelopak matanya semakin berat. Beberapa kali ia menguap.

Hingga tanpa sadar kepalanya terkulai di sandaran sofa. Tak lama kemudian, ia tertidur pulas.

Sementara itu, Daffa yang sudah tidur cukup lama perlahan membuka mata. Tenggorokannya terasa kering. Ia turun dari ranjang dan keluar kamar dengan langkah malas. Bocah itu berniat mengambil minum di meja makan.

Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat melewati kamar Yudha. Dari balik pintu terdengar suara dengkuran yang sangat keras.

“Grrrkkkhh... ngooorrrhhh...”

Daffa mengerutkan kening.

“Mas Yudha ngoroknya kok kenceng banget?”

Ia sempat mengabaikannya dan melanjutkan langkah. Namun beberapa detik kemudian, pandangannya beralih ke ruang tengah. Di sana, Yudha terlihat tertidur pulas di atas sofa. Sementara televisi masih menyala.

Daffa berkedip beberapa kali. Lalu menoleh ke arah kamar Yudha. Kemudian kembali menoleh ke arah sofa.

“Loh…kalau Mas Yudha tidur di sofa, terus siapa yang di dalam kamarnya?”

Rasa penasaran langsung mengalahkan rasa hausnya. Dengan langkah pelan, Daffa mendekati pintu kamar sang kakak.

Tangannya meraih gagang pintu. Perlahan, ia memutarnya. Saat pintu terbuka, Daffa mengintip ke dalam. Dan saat itulah matanya terbelalak lebar. Di atas ranjang Yudha, seorang pria asing sedang tertidur pulas sambil mendengkur keras.

Tubuh Daffa seketika menegang. Jantungnya berdegup kencang. Ia belum pernah melihat pria itu sebelumnya. Untuk sesaat, bocah itu hanya berdiri mematung di ambang pintu.

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!