NovelToon NovelToon
THE ECLIPSE PROTOCOL: THE ELEVENTH COORDINATE

THE ECLIPSE PROTOCOL: THE ELEVENTH COORDINATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Kentos46

Tiga abad lalu, "The Eclipse Protocol" diaktifkan—sebuah proyek rahasia umat manusia untuk mematikan matahari demi menghentikan perang global. Rencananya berhasil, tapi efek sampingnya jauh lebih mengerikan: dunia jatuh ke dalam kiamat es abadi.

Kini, sisa peradaban manusia hidup di sembilan "Sovereign Spires"—menara kota raksasa yang ditopang energi geotermal dan dikelilingi kubah pelindung. Di luar sana, "The Drowned Lands" menjadi kuburan bagi siapa pun yang berani keluar.

Kian Veyr adalah produk gagal dari sistem ini. Seorang jenius taktis yang dipecat dari pasukan elit karena menolak menjalankan perintah yang akan mengorbankan ribuan warga sipil demi "kebaikan yang lebih besar".

Dia kini hidup sebagai pemulung informasi, menjual data rute aman ke para pedagang gurun hitam. Hingga suatu hari, dia menemukan peta usang yang menunjukkan adanya "Koordinat Kesebelas"—wilayah yang tidak tercatat di peta resmi Dewan Menara.

Peta itu menyebut tempat itu sebagai "Titik Nol",

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA BELAS HARI MENUJU TITIK NOL

KRIIING! KRIIING! KRIIING!

Sirine interior dek belakang kapal induk terbang Dr. Sharon meraung memekakkan telinga, bersaing dengan suara decit pelat baja lambung kapal yang mulai terpelintir oleh tekanan badai dari luar. Pencahayaan darurat berwarna merah darah berkedip-kedip, memproyeksikan bayangan kepanikan yang nyata di dinding-dinding besi.

"Cepat masuk ke dalam Pod, Bocah!" bentak Dr. Sharon. Lengan mekanis perunggunya bergerak brutal, menghantam tuas hidrolik penutup kapsul pelarian berbentuk tabung silinder seukuran mobil tangki mini. "Jika kalian terlambat tiga puluh detik lagi, seluruh kapal ini akan tersedot ke dalam pusaran badai elektromagnetik!"

Viona melompat ke dalam pod pelarian, tas kulitnya didekap erat di dada. Detik berikutnya, Kian melesat masuk menembus pintu palka sekat yang mulai melengkung. Jubah hitamnya compang-camping, dan asap mikro masih mengepul dari sirkuit The Probability Lens V2.0 di pelipis kirinya.

"Sharon! Kau tidak ikut?!" teriak Viona dari dalam kapsul saat melihat Dr. Sharon justru melangkah mundur, meraih tuas peluncuran eksternal.

"Aku ini teknisi rongsokan, bukan pelancong gurun!" Sharon tersenyum sinis, noda oli di wajahnya berkilat di bawah lampu merah darurat. "Kapal induk ini punya bunker bawah tanah berlapis timbal. Aku akan aman di sana. Tapi kalian berdua... jika kalian mati sebelum memperbaiki menara itu, aku bersumpah akan mencari mayat kalian hanya untuk kujadikan suku cadang droneku!"

Sharon menghantam tuas peluncuran dengan lengan mekanisnya yang berat.

CLANK!

Pintu pod menutup kedap udara, mengunci Kian dan Viona di dalam ruang sempit yang hanya diterangi pendaran instrumen digital.

BOOOM!!!

Sistem dorong uap hidrolik di bawah pod meledak, melontarkan kapsul besi itu keluar dari perut kapal induk, melesat bebas jatuh ke tengah pusaran badai Sektor Utara.

Melalui jendela kaca tebal di langit-langit pod, Viona bisa melihat pemandangan luar yang menyerupai neraka fiksi ilmiah. Langit utara tidak lagi kelabu, melainkan hitam legam seperti tinta yang diaduk. Petir-petir vertikal berwarna ungu dan biru pekat menyambar-nyambar secara acak, menghantam gundukan rongsokan besi di bawah mereka hingga meledak menjadi bola api cair. Atmosfer bumi di wilayah ini telah robek total akibat resonansi balik dari sembilan menara.

Pod pelarian mereka berputar tak terkendali di udara, terombang-ambing oleh angin badai berkecapatan ratusan knot.

[Peringatan Sistem Pod: Kehilangan Kestabilan Aerodinamis.]

[Suhu Eksternal Meningkat: 180°C.]

[Hitung Mundur Resonansi Total Menara: 11 Hari, 23 Jam, 58 Menit.]

Kian merangkak ke kursi kendali darurat di bagian depan pod. Tangan kanannya mencengkeram tuas stabilizer, mencoba mengimbangi arah jatuh kapsul menggunakan insting manualnya. Mata mekanis kirinya yang menyala biru pekat terus berputar, memproyeksikan ribuan jalur probabilitas jatuhnya pod di layar kaca depan.

"Kian, bahumu berdarah lagi!" Viona berteriak menembus suara gemuruh angin luar. Dia mencoba meraih kain kasa di saku celananya, namun Kian menepis tangannya dengan gerakan yang sangat mekanis dan dingin.

"Abaikan luka itu, Viona. Persentase kematian kita akibat benturan tanah saat ini adalah 74%," kata Kian, suaranya terdengar sangat datar, hampa, dan tanpa emosi sedikit pun. Efek dari hilangnya ingatan masa kecilnya di Bab 12 mulai mengikis sisi kemanusiaan yang tersisa di dalam otaknya. "Fokus pada pelindung kepalamu. Jika pod ini menghantam batu obsidian di sudut 40 derajat, struktur pelat dada kita akan remuk."

Viona tertegun, menatap mata kiri Kian yang bercahaya biru pekat. Ada sesuatu yang menakutkan dari cara Kian berbicara sekarang. Pria di depannya tidak lagi terlihat seperti seorang kapten yang kejam namun peduli; dia bertingkah seperti robot organik yang hanya peduli pada angka kelangsungan hidup.

"Kian... kau benar-benar tidak mengingat apa pun tentang parit bawah?" tanya Viona pelan, suaranya bergetar di tengah guncangan hebat pod. "Tentang... mengapa kau memakai kalung peluru berkarat di lehermu itu?"

Kian melirik kalung besi di lehernya melalui pantulan kaca depan. Mata kirinya berdesis halus, memproses objek tersebut.

[Analisis Objek: Kalung Peluru Kaliber 9mm (Kosong).]

[Nilai Taktis: Nol.]

[Residu Memori: Tidak Ditemukan.]

"Itu hanya sepotong logam tanpa nilai fungsional," jawab Kian dingin, tangannya menghantam tuas rem udara pod dengan sentakan keras. "Bersiap untuk benturan!"

BRRRRRRR-BOOOM!!!

Pod pelarian mereka menghantam lereng bukit pasir besi dengan benturan yang sangat keras. Kapsul baja itu berguling ratusan meter, meremukkan pipa-pipa tua dan sisa rongsokan di sepanjang jalurnya, sebelum akhirnya berhenti dalam posisi miring setelah menabrak bangkai menara pengawas kuno yang tertanam di tanah.

Asap putih uap hidrolik menyembur dari sekeliling pintu pod yang kini macet total akibat distorsi benturan.

Kian adalah yang pertama bangkit. Mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dia menggunakan tombak titaniumnya sebagai pengungkit, menghantam engsel pintu pod berulang kali dengan teknik Internal Kinetic Resonance tingkat rendah.

CRACK! SHIIING!

Pintu pod terlempar keluar. Kian melompat turun ke atas tanah pasir hitam yang basah oleh hujan asam yang mulai turun dari langit badai. Viona merangkak keluar di belakangnya, terbatuk-batuk menghirup udara Sektor Utara yang terasa dingin dan tajam seperti silet di tenggorokannya.

Mereka kini berada di sebuah dataran luas yang sangat asing. Di depan mereka, kabut hitam pekat bergulung-gulung, namun di balik kabut itu, mata kiri Kian yang baru berhasil menangkap sebuah siluet geografi yang aneh.

Sebuah wilayah di mana tanahnya tidak lagi terbuat dari batu atau pasir, melainkan untaian kabel optik raksasa dan lempengan sirkuit kuno berukuran raksasa yang tertanam di bumi. Inilah gerbang masuk menuju wilayah suku kuno—The Silicon Valley Sages.

Namun, radar internal lensa Kian mendadak mendeteksi sesuatu yang membuat sirkuit matanya berkedip merah konstan.

[Deteksi Sinyal Energi Kinetik: 1 Mil di Belakang Posisi Anda.]

[Tanda Panas: Kendaraan Komando Inkuisitor Gideon.]

[Kalkulasi Kecepatan Mengejar: Musuh Akan Mencapai Koordinat Anda dalam Waktu 15 Menit.]

Gideon tidak mati di dalam kapal induk Sharon. Sang Inkuisitor, dengan keputusasaan yang sama besarnya untuk menghentikan hitung mundur dua belas hari kiamat menara, terus memburu mereka tanpa henti seperti bayangan maut yang enggan lepas.

Kian menoleh ke arah Viona, tombak titanium di tangannya mulai memancarkan pendaran biru pekat, bersiap menyerap sisa energi elektromagnetik dari badai di langit atas untuk pertempuran terakhir yang tidak bisa dihindari lagi.

"Waktu kita tinggal dua belas hari, Viona," kata Kian, matanya yang biru menembus kegelapan malam gurun pasir besi. "Dan dalam lima belas menit ke depan... salah satu dari aku atau Gideon harus menjadi tumbal di tanah utara ini agar sisa dunia bisa menentukan takdirnya sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!