NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel / Tamat
Popularitas:489
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Sakit Hati Pertama

Kini ia sudah menjelma jadi seorang gadis remaja, usianya sudah menginjak sebelas tahun. Melamun adalah hal yang sering ia lakukan di kelas ketika guru belum masuk kelas. Seperti saat ini, bahkan saat gurunya datang ia masih sibuk dengan lamunannya.

Namun saat nama itu disebut, lamunannya terganti oleh rasa terkejut.

"Halo temen-temen namaku Aguil Nathaniel, aku pindahan dari kota, salam kenal ya.."

Sepersekian detik mata mereka berdua beradu. Arinta mengenalinya, sedikit banyak wajah Aguil berubah.

Aguil duduk dibangku sebrang Arinta. Sepertinya Aguil tak lagi mengenalinya. Mungkin memang betul kata Ghifari, pasti di kota Aguil sudah mengenal banyak orang dan melupakannya.

"Arinta, punya tip-x ngga?"

Arinta malah salah tingkah sendiri ditengah pelajaran. Aguil memanggil namanya, panggilan itu seakan bukan yang pertama dari sekian purnama, akrabnya sangat terasa.

Mata mereka bersitatap lagi. Arinta langsung melengos sambil memberikan tip-x.

Sampai jam istirahat tiba, Aguil masih sering curi-curi pandang pada Arinta. Namun Arinta malah bersikap seolah tak kenal.

"Dia emang gitu. Aneh, Il," bisik teman sebangku Aguil, "Makanya ngga punya temen, sendirian mulu."

Aguil yang mendengar itu langsung menatap kawan sebangkunya tertarik dengan topik barusan, "Dia ngga punya temen? Kenapa emang? Aneh kenapa?"

"Ya gitu. Biasanya dia pelit banget, minjem ini itu ngga dikasih. Iya sih dia ngga pernah minjem apa-apa ke temen-temennya, tapi kan tetep aja ngga boleh pelit."

"Jadi karena dia pelit jadi ngga ditemenin?" tanya Aguil lagi.

"Bukan gara-gara itu doang. Dia juga ngga mau diajak main bareng, istirahat juga ngga mau bareng. Aneh kan? Guru-guru bilang ajakin Arin, padahal dianya yang ngga mau diajak."

Aguil angguk-angguk paham, "Tapi barusan dia mau tuh minjemin tip-x-nya ke aku."

Temannya itu mengedikan bahu, "Mungkin karena kamu anak baru, jadi dia mau caper."

Aguil kembali menoleh pada Arinta yang sibuk mencoret-coret buku dan bukan istirahat.

Mumpung lagi jam istirahat, Aguil duduk dibangku sebelah Arinta yang selalu kosong.

"Kamu ngga ngenalin aku?" tanya Aguil.

"Hmm.." Arinta hanya berdeham.

"Aku pindah kesini lagi kemarin. Tapi aku tinggal sama om Raka disini. Mama sama papa masih di Bandung. Sempet ketemu sama bang Ari juga, ngobrol sebentar. Terus dia bilang kamu sekolah disini, akhirnya aku maksa Om masukin aku kesini."

Arinta tak menggubris.

"Oh iya, sekarang kita tetep ngga tetanggaan, Ta. Aku pindahnya ke komplek deket jalan raya. Mungkin nanti kita sering ketemunya di sekolah aja."

Arinta masih diam.

"Oh iya, ayah sehat, Ta?" tanya Aguil coba memancing suara Arinta keluar, karena daritadi suaranya sama sekali belum terdengar.

Arinta hanya mengangguk.

Aguil ikut mengangguk, "Kamu kenapa sih, Ta? Suara kamu abis?"

Arinta menggeleng.

"Woi, Aguil! Jangan diajak omong! Bocah dablek begitu kaga bakal nyaut!" teriak temannya.

Aguil menatapnya sinis, "Apa? Dablek? Emang pantes sama temen ngatain begitu?"

"Lu anak baru jangan deket-deket dia, nanti ketularan!"

Suara itu disusul tawa dari gerombolan anak perempuan yang duduk di bangku paling belakang.

Arinta terlihat biasa saja, walaupun matanya sudah berkaca-kaca.

Aguil tanpa sadar menggebrak meja, "Maksud kalian tuh apa sih? Ini tuh udah masuk pembullyan tau!"

"Wah. Anak kota ngamuk nih. Kayaknya dia udah kena pelet bocah dablek itu tuh," sahut salah seorang dari geng meja belakang tadi.

Belum sempat Aguil membalas ucapan jahat itu, ia sudah melihat Arinta bangkit dari duduknya.

"Kemana, Ta? Ta?" Aguil berusaha mengikuti kemana perginya Arinta.

Toilet. Aguil tidak bisa mengikutinya lagi.

Aguil menunggunya didepan, ia dapat melihat sekilas kalau Arinta habis menangis.

"Ta.. Kamu udah sering diginiin? Kamu ngga lapor?" tanya Aguil.

Arinta masih enggan mengeluarkan suaranya. Namun Aguil tak patah semangat, ia terus membuntuti. Tak ia gubris lagi teman-temannya yang bermulut jahat itu. Karena semakin ditanggapi, semakin jahat pula kata-katanya. Ia juga tak menyangka kalau lapor ke guru ternyata tak membuahkan hasil apapun, yang ia dapat hanya, "Namanya juga berteman, nanti juga baikan lagi." WTF, Aguil sampai mengumpat dalam hati.

"Aku duduk sebelah kamu boleh ya?" tanya Aguil.

Arinta tidak menjawab, ia hanya mendorong tubuh Aguil dan menghalangi kursi itu dengan tangannya agar tak bisa diduduki.

"Oke oke kalo ngga boleh. Tapi nanti pulang bareng ya?" tanpa menunggu balasan, Aguil langsung berlalu ke kursinya lagi.

Aguil tak habis pikir dengan Arinta yang sekarang. Amat sangat aneh tingkahnya, tapi ia merasakan ada sedikit harapan kalau suatu saat Arintanya akan kembali ceria seperti waktu kecil dulu.

"Ta! Ta! Jalannya jangan cepet-cepet banget, aku ketinggalan loh ini," ucap Aguil yang berusaha mensejajari langkah Arinta.

"Tas kamu kayaknya berat, tapi jalannya kok bisa cepet banget sih," celoteh Aguil yang kelelahan.

Arinta semakin mempercepat langkahnya. Mereka berdua jalan saling balap-membalap.

"Jangan gini teruslah, Ta.. Kamu kenapa sih? Cerita aja," pinta Aguil sedikit pasrah.

Hari-hari berikutnya masih saja sama. Arinta masih tidak mau bersuara, suaranya hanya keluar ketika ada mata pelajaran yang mengharuskan dirinya menjawab dengan suara.

Aguil sudah sering mampir ke rumah Arinta lepas pulang sekolah. Karena Arinta tak mau bicara, jadi Aguil bertukar cerita dengan Ghifari.

Dari situ Aguil untuk pertama kalinya mengetahui latar belakang dan seluk beluk kehidupan Arinta, mulai dari kondisi keluarganya, sampai keadaan Arinta selama beberapa tahun terakhir.

"Arinta bener-bener cuma mau main sama abangnya dari kecil, katanya dia takut temennya dibawa pergi lagi," ucap Ghifari.

Aguil jadi ikut merasa bersalah. Ternyata ialah penyebab trauma dan sakit hati pertama dalam hidup Arinta.

"Kira-kira, Arin bisa kayak dulu lagi ngga, bang?"

"Bisa kali. Ya makanya, dia harus ngerasain punya temen lagi."

"Hmm.. Oh iya, aku pulang dulu ya bang. Om Raka udah neleponin aku nih, kelamaan maennya," ucap Aguil berpamitan pulang, "Titip salam aja sama Arin."

"Kalo udah berhasil buat Arin kayak dulu lagi, kamu jangan pergi-pergian lagi ya, Il. Takutnya nanti Arin malah jadi lebih parah lagi," bisik Ghifari.

"Siap!" Aguil memasang posisi hormat sambil tertawa sendiri melihat respon spontannya.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!