Dika Nugraha seorang CEO di sebuah perusahaan besar. Saat ini dia sudah berusia 30 tahun namun dia belum juga mau untuk menikah. Karena sebuah kecelakaan dia mengalami kelumpuhan dan harus duduk di kursi roda.
Pak Nugraha sebagai papah Dika merasa kasihan pada putra nya itu. Akhir nya dia membeli gadis bernama Nisa Putri Surya yang masih berusia 19 tahun untuk Dika nikahi.
Dika di beri minuman oleh sang papah agar dia berhubungan badan dengan Nisa.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Tetap setia di sini😊😊😊
Terima kasih banyak 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diyah nur arroyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
"Aku hamil" Ucap Tia.
Ketika Huda mendengar ucapan Tia dia terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka akan secepat ini mendapat kan kebahagian yang begitu besar.
"Apa kamu serius?" Tanya Huda tanpa ekspresi karena dia masih terkejut.
Tia sedikit kecewa dengan respon yang di berikan Huda. Dia berfikir Huda akan sangat bahagia namun kini dia melihat wajah Huda yang datar datar saja.
Tia mendorong tubuh Huda menjauh dari diri nya. Dia berdiri ingin keluar dari kamar hotel tersebut namun tangan nya di cekal oleh Huda.
"Mau ke mana?" Tanya Huda lembut.
"Aku ingin menggugurkan nya" Jawab Tia tertunduk.
Huda kembali terkejut dengan ucapan Tia. Dia membalikkan tubuh Tia lalu menatap mata Tia yang nanar.
"Kenapa? Apa kamu tidak menginkan anak ini?" Tanya Huda lembut.
"Kamu yang tidak menginginkan nya" Sahut Tia menangis.
"Tidak sayang. Aku sungguh ingin memiliki anak dari kamu. Aku sangat bahagia dengan kehamilan kamu. Aku cuma bingung dan terkejut saja. Sungguh sayang aku sungguh bahagia mendengar kamu hamil" Ucap Huda memeluk Tia.
Tia menangis dalam pelukan Huda. Dia mengira kalau Huda tidak menginginkan anak dalam kandungan nya namun kali ini dia tau kalau Huda bahagia dengan kehamilan nya.
"Aku akan menikahi mu secepat nya sayang. Aku janji akan menikahi mu" Ucap Huda.
"Aku mau menikah tapi setelah anak ini lahir" Ucap Tia.
Huda melepaskan pelukan nya. Dia menatap mata Tia dalam dalam.
"Kenapa?" Tanya Huda.
"Tidak ada apa apa itu syarat yang aku berikan" Jawab Tia.
"Baik lah. Aku akan menuruti kemauan mu. Aku akan tetap menikahi mu apa pun yang terjadi" Ucap Huda serius.
Tia mengangguk dengan senyuman nya yang terlihat cantik. Huda meraih tengkuk leher Tia lalu mencium bibir Tia lembut.
Tia pun membalas ciuman Huda. Huda mengarah kan Tia kembali ke tanjang tanpa melepaskan ciuman nya.
"Aku merindukan kamu sayang" Ucap Huda lirih.
"Aku juga merindukan mu" Jawab Tia.
Huda mulai melakukan aksi nya pada Tia. Tidak seperti biasa nya yang Huda lakukan. Dia kini lebih pelan agar Tia nyaman karena Tia saat ini sedang hamil.
Dia juga tidak selama yang baisa mereka lakukan karena Huda berfikir Tia akan kelelahan jika menuruti ***** nya. Walaupun diri nya beluk puas dengan pergulatan nya dengan Tia. Demi kesehatan Tia dia memilih bermain sendiri di kamar mandi sedangkan Tia sudah mulai masuk ke alam mimpi nya.
🍀
🍀
Dika dan Nisa baru kembali ke rumah. Saat masuk mereka melihat hanya simbok yang masih terjaga menunggu kepulangan mereka.
"Lho mbok Tia ke mana?" Tanya Nisa.
"Non Tia pergi sama den Huda non. Tadi setelah menutup toko den Huda menjemput non Tia" Jawab simbok.
"Oh ya sudah bibik istirahat saja. Kita juga mau istirahat" Ucap Dika.
"Baik tuan, saya permisi " Pamit simbok.
Nisa dan Dika masuk ke dalam kamar. Nisa membuka jaket yang ia kenakan tadi. Dika melihat Nisa yang begitu cantik dari belakang.
"Sayang aku mengingin kan nya" Ucap Dika memeluk Nisa dari belakang.
"Aku mandi dulu ya mas. Badan ku lengket semua" Ucap Nisa.
"Baik lah" Jawab Dika.
Dika merebahkan tubuh nya di atas kasur. Namun karena badan nya yang lelah dia mulai menutup mata nya.
Ketika Nisa keluar dari kamar mandi. Dia melihat Dika yang sudah tertidur pulas dengan pakaian dan sepatu yang masih melekat di tubuh nya.
"Mas nggak mandi dulu" Ucap Nisa pelan.
"Aku lelah sayang. Biarkan akau tidur sebentar " Ucap Dika membalikkan tubuh nya memunggungi Nisa.
Nisa tersenyum mihat tingkah suami nya yang selalu menja jika mereka sedang berdua. Nisa membuka sepatu Dika dan kemeja Dika.
Kini Dika hanya memakai celana pendek dan kaos dalam saja. Setelah itu Nisa ikut tidur di sebelah Dika. Dika mendekatkan tubuh nya pada Nisa.
"Makaksih ya sayang. Maaf aku tidak jadi untuk yang tadi" Ucap Dika.
"Nggak papa mas. Sudah tidur gih" Ucap Nisa lembut.
Dika tersenyum lalu memeluk Nisa erat. Dia mengusap usap perut Nisa yang semakin besar. Dia merasakan pergerakan dari dalam perut Nisa.
"Dia menendang ku?" Ucap Dika.
"Iya mas. Dia sering bergerak saat kamu memeluk seperti ini" Jawab Nisa tersenyum.
"Baik lah sayang ayah akan memeluk kamu dan bunda mu semalaman" Ucap Dika.
"Iya ayah" Sahut Nisa tersenyum.
Mereka mulai menutup mata karena hari ini mereka memang lelah setelah berjalan jalan tadi.
Beberapa hari telah berlalu. Kini Dika dan Huda kembali ke pekerjaan mereka masing masing. Huda membawa berkas berkas yang harus di tanda tangani Dika hari ini. Termasuk berkas pembalikan kepemilikan perusahaan.
Huda sudah menyerahkan ke meja Dika. Dia menanda tangani beberapa berkas di atas berkas Huda. Jantung Huda bagai selesai lari maraton karena dia takut kalau Dika akan menyadari nya.
Namun derik itu juga ponsel Dika berdering. Dika melihat telfon rumah baru yang tertera di layar ponsel nya.
"Iya bil ada apa?" Tanya Dika dengan terus menanda tangani berkas berkas nya.
"Apa. Nisa akan lahiran. Ya sudah aku pulang sekarang ya bik. Bawa Nisa ke rumah sakit secepat nya bik" Ucap Dika berdiri dari duduk nya. Dia ingin keluar dari ruangan nya namun di cehag oleh Huda.
"Aduh apa lagi sih Da. Nisa mau lahiran gue harus pulang sekarang" Ucap Dika marah pada Huda.
"Tapi berkas berkas ini harus di tanda tangani sekarang juga" Ucap Huda.
"Hah baik lah" Jawab Dika mendengus kesal.
Dika kembali ke meja kerja nya. Dia menanda tangani semua berkas yang ada di atas meja nya tanpa membaca nya terlebih dulu.
"Nih sudah. Gue mau pulang sekarang" Ucap Dika dan Huda hanya mengangguk.
Setelah Dika keluar Huda bisa bernafas lega karena sedari tadi diri nya susah bernafas ketahuan oleh Dika.
"Maaf Dika. Di saat genting seperti ini aku malah menghianati mu" Ucap Huda lirih.
Dika mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi. Dia langsung menuju ke rumah sakit tempat Nisa akan melahirkan.
Di rumah sakit.
Dika berlari masuk ke dalam rumah sakit. Dia melihat Tia dan simbok yang kebingungan di depan ruang oprasi.
"Di mana Nisa?" Tanya Dika khawatir.
"Nisa sedang di tangani Dokter sekarang. Kamu tenang dulu" Jawab Tia.
Dika di ajak duduk oleh Tiara. Namun karena rasa khawatir nya dia berdiri mondar mandir di depan lintu ruang oprasi.
"Ayo lah Dika duduk dulu. Aku pusing melihat mu mondar mandir seperti itu" Ucap Tiara.
"Sudah lah Tia. Kalau elo nggak mau pusing jangan lihati gue" Sahut Dika emosi.
"Sudah non. Tuan Dika wedang cemas jadi wajar kalau dia tidak bisa menahan emosi nya" Ucap simbok lembut.
Tiara mengangguk mengerti ucapan simbok. Tak lama mereka mendengar suara tangisan bayi yang cukup keras dari dalam ruang oprasi.
Tiara berdiri dari duduk nya Dika juga tersenyum bahagia dengan suara tangisan bayi. Tiara berpelukan dengan Dika karena mereka sangat bahagia dengan kelahiran anak pertama Nisa.
# selamat membaca ya kak
# terima kasih banyak
🙏🙏🙏😊😊😊