Zan Munarga, dikenal sebagai si genius ulung dalam dunia perbisnisan dan elektronik, perusahaan anak cabang di mana ia memiliki saham tengah diambang pintu kebangkrutan, lalu pemilik perusahaan mencoba bernegosiasi padanya, dengan cara menukarkan keponakannya sendiri.
Dibalik kegeniusan Zan Munarga, ia memiliki kelainan otak dan didiagnosis tidak akan bertahan hidup lebih lama, maka dari itu dia membutuhkan seorang wanita untuk memberinya keturunan, sehingga tawaran itu pun ia terima.
Zan Munarga tak pernah menyangka bahwa anak yang dilahirkan oleh Sania Chen, istri kontraknya itu, merupakan bayi kembar, di mana saat itu dia hanya membawa satu anak, dan satu anak lagi dibawa oleh Sania.
Lalu bagaimana pada akhirnya Zan Munarga bisa mengetahui fakta sebenarnya? Dan mampukah ia sembuh dari kelainan otak yang dialami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marnii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesehatan Zan Memburuk
"Dia Sania Chen, kamu bisa panggil dia Sania," jawab Zan.
"Sania Chen? Tapi rasa-rasanya, aku pernah bertemu denganmu, apa kita saling kenal?" Kayra mendekati Sania perlahan, dengan mata yang penuh selidik.
"Bertemu? Mungkin Anda salah meengenali orang, Nona. Saya tidak pernah merasa pernah bertemu dengan Anda," jawab Sania berbohong.
"Begitukah? Lalu wanita yang bersama Sekertaris Wen waktu itu siapa jika bukan dirimu? aku bahkan masih ingat jelas bahwa dia mengatakan dirimu adalah asisten rumah tangganya, lalu kenapa kamu ada di sini?" Kayra mengerutkan alis curiga.
Sementara Sania mulai panik. "Dia menjadi asistenku mulai sekarang," sahut Zan tiba-tiba.
"Asisten dalam hal apa? Di rumah ini sudah ada begitu banyak asisten, lagian dia punya wewenang apa untuk masuk ke kamar Kakak?" bantah Kayra.
"Asisten pribadi, aku yang memberinya wewenang untuk keluar masuk kamar ini, tidak ada yang boleh melarangnya." jawab Zan datar.
"Oh, baiklah. Kuharap kau tidak melakukan hal bodoh di sini," cibir Kayra pada Sania.
"Kak, di mana Month? Masih sekolah?" tanya Kayra sembari duduk merapat di samping Zan.
"Hm, untuk apa kamu datang ke sini?" Zan balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Kayra.
"Aku ingin membahas masalah kamu, professor mengatakan bahwa."
"Tunggu." Zan memotong ucapan Kayra dan menatap Sania.
"Kamu bisa keluar sekarang, kerjakanlah apa yang ingin kamu kerjakan." Zan tidak ingin masalah kelainan otaknya diketahui oleh siapa pun, termasuk Sania.
"Baik, Tuan." Sania menunduk dan berlalu pergi.
"Sialan, sekarang dia mengusirku begitu saja, beberapa menit yang lalu dia memintaku untuk tetap di sana, tapi sekarang? Dia mengusirku setelah ada perempuan itu, bilang saja kau tidak ingin kemesraanmu bersamanya disaksikan olehku, jangan bilang dia juga mau melakukan hal asusila di dalam sana, iuh, menggelikan sekali." Sania terus menggerutu kesal sepanjang ia masuk ke kamarnya.
"Lanjutkanlah," titah Zan setelah memastikan Sania tidak akan mendengarnya.
"Professor mengatakan bahwa dia masih belum bisa memecahkan masalahnya, hingga saat ini bahkan dia masih belum bisa terfikir bagaimana caranya menyembuhkanmu, tapi dia mengatakan padamu untuk tetap tenang dan jangan ambil pusing, dia yakin akan memecahkan masalah ini dan membuatmu sembuh dan hidup normal seperti yang lain." Kayra tersenyum memberi semangat.
"Ck, aku sudah katakan, jika hanya ada informasi yang seperti ini, kau tidak perlu datang memberitahuku, aku juga tak peduli akan hal itu, aku hanya ingin kalian fokus menemukan sebuah obat yang bisa mempertahankan usiaku sampai 10 tahun lagi, hanya itu saja yang kumau, aku tidak masalah jika setelah 10 tahun kemudian aku akan mati, yang jelas sekarang aku masih belum bisa mengandalkan anak itu untuk mengurus semuanya," bantah Zan keras.
"Tapi, Kak. Ini tetap saja tidak bagus, kau hanya ingin hidup sepuluh tahun lagi, apakah tidak begitu egois? Kamu lupa masih ada Paman dan bibi yang sampai sekarang belum kamu kunjungi semenjak kamu memutuskan untuk pergi dari rumah, kamu tidak kasihan pada paman yang harus mengurus Tirtama Group di usianya yang sudah senja? Kamu anak mereka satu-satunya, Kak. Tolonglah jangan egois, setidaknya jika kamu bisa sembuh total, kamu bisa hidup normal seperti orang lain, saat Month sudah bisa mengurus perusahaanmu, kamu bisa kembali untuk mengelola perusahaan Paman, biarkan paman dan bibi istirahat di usia tuanya, pokoknya aku tidak mau tahu, meski Kakak mengatakan tidak butuh, aku juga akan tetap berusaha keras, atau perlu aku akan menyeret Papa dalam masalah ini." Kayra bersikeras tetap ingin membantu Zan untuk mendapatkan kembali kehidupannya.
"Setidaknya, jika kamu bisa sembuh, mungkin hatimu juga bisa kembali hidup dan menemukan wanita untuk menemanimu hingga ke masa tua," batin Kayra sambil menatap Zan dengan raut wajah yang sedih.
"Baiklah, aku mengerti, tolong tinggalkan tempat ini, aku butuh waktu sendiri." Zan memijit alisnya merasa pusing.
"Oke, kalau begitu aku pulang, kamu jangan terlalu banyak pikiran, sayangi kesehatanmu, Kak. Jangan sampai sakit." Kayra beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Zan sendiri di sana.
Saat Kayra ingin pulang, ia melihat Sekretaris Wen masuk ke rumah dengan membawa dua anak laki-laki. Alisnya seketika mengerut tak percaya dengan apa yang dia lihat. "Wen, k-kenapa wajah mereka bisa mirip begini? Lalu yang mana Month?" Kayra berjongkok di hadapan Star dan Month.
"Dia Month, Tante. Dan aku Star, salam kenal." Star tersenyum kecil pada Kayra.
"Wen, ada apa ini? Siapa anak ini?" tanya Kayra yang masih begitu bingung.
"Tuan kecil Star adalah adik Tuan kecil Month, mereka saudara kembar, Nona," jawab Sekertaris Wen.
"Hah? B-bagaimana mungkin? Apa Kak Zaza tahu ini?" tanya Kayra tak percaya.
"Beliau sudah tahu, Nona. Kalau begitu saya pamit untuk mengantar anak ini ke kamarnya, permisi." Sekertaris Wen pun pergi begitu saja demi menghindari pertanyaan-pertanyaan Kayra yang mungkin tidak akan bisa ia jawab.
"Tuan muda, saya sudah membawa anak-anak kembali, mereka sudah ada di kamarnya!" seru Sekertaris Wen sambil mengetuk pintu kamar Zan.
"Ya, kau kembalilah ke perusahaan, hari ini aku cuti." Zan balas berseru dari dalam.
Namun, Sania malah keluar dari kamarnya, membuat Sekertaris Wen sendiri terkejut dengan kehadirannya itu. "N-Nona Sania, Anda kenapa bisa ada di sini?"
"Tuan, bolehkah saya bertemu kedua anak itu, di mana kamarnya?" tanya Sania antusias.
"Mm ... kalau soal itu, bukan wewenang saya untuk menjawabnya, Nona. Anda bisa tanyakan langsung pada Tuan muda, saya permisi." Sekertaris Wen berbalik badan meninggalkan Sania.
"Sombong sekali," cibirnya kesal.
Sania akhirnya pun masuk ke kamar dan bertemu dengan Zan yang masih duduk di tempat yang sama dengan tatapan yang kosong. "Anda baik-baik saja?" tanya Sania merasa heran.
"Bukan urusanmu," jawab Zan tak peduli.
"Mmm ... itu, saya ingin bertemu dengan anak-anak, di mana kamar mereka?"
"Biarkan mereka istirahat, temuilah di hari berikutnya, saya ingin mandi, tolong ambilkan handuk di dalam lemari sana." Saat Zan ingin beranjak, tiba-tiba saja ia kehilangan keseimbangan, jatuh ke lantai dalam keadaan setengah sadar.
"Astaga, kamu kenapa? Apa merasa kurang sehat?" Sania segera membantu Zan untuk berdiri dan memapahnya ke tempat tidur.
"Sebenarnya ada apa? Kamu sakit? Apa ada yang tidak enak sekarang?" tanya Sania sembari menyelimuti Zan dengan perasaan panik.
"Saya baik-baik saja, bisa tolong ambilkan air putih sebentar?" pinta Zan.
"Baiklah, tunggu sebentar." Kebetulan stok air putih di gelas Zan habis, membuat Sania harus berlari ke dapur untuk mengambil segelas air lagi.
Namun, saat Sania kembali, ia dikejutkan oleh Zan yang tiba-tiba memuntahkan darah dari mulutnya.
"K-kamu kenapa?" pekik Sania yang semakin panik, Zan sendiri pun kesulitan untuk berbicara.
demi bonus sania ck ck ck