NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 012

Teriakan itu datang dari gerbang belakang JIP.

Keira baru saja memasukkan Tiffany ke mobil ketika suara ban mencicit memotong udara. Ethan yang berdiri di sampingnya langsung menoleh. Di ujung jalan kecil dekat sekolah, sebuah van hitam berhenti terlalu mendadak.

Darren sedang berjalan bersama Pak Hadi.

Pintu van terbuka.

Dua pria bertopi turun.

Semua terjadi dalam kurang dari lima detik.

Satu pria mendorong Pak Hadi hingga jatuh, satu lagi mengangkat Darren dari belakang. Mulut bocah itu ditutup kain. Tas sekolahnya jatuh ke aspal. Pak Hadi berteriak memanggil penjaga, tetapi van sudah bergerak.

"Koko Ren!" Tiffany menjerit.

Keira tidak berpikir.

Ia mendorong Ethan dan Tiffany masuk ke mobil Rio. "Kunci pintu. Jangan keluar."

"Mommy!"

"Rio, jaga mereka."

Rio sudah bergerak, tetapi Keira lebih cepat. Ia berlari ke mobil cadangan di tepi jalan, melompat masuk, dan menyalakan mesin. Sepatu haknya menghantam pedal gas. Mobil melesat membelah jalan kecil.

Ethan membuka tablet dengan tangan gemetar. "Aku lacak CCTV jalan. Mommy ke arah timur. Van masuk jalan arteri."

Rio mengemudi mobil anak-anak di belakang, tetapi menjaga jarak aman. Ia menelepon Kevin.

Kevin sedang di ruang rapat ketika ponsel pribadinya bergetar. Nama Rio tidak tersimpan, tetapi pesan yang masuk hanya satu kalimat.

Darren dibawa van hitam.

Kevin berdiri begitu cepat hingga kursinya jatuh.

"Feng."

Feng melihat wajah Boss-nya dan langsung pucat.

"Siapkan semua mobil. Sekarang."

Tidak ada yang berani bertanya rapat bagaimana. Kevin sudah keluar sebelum direktur terakhir sempat berdiri.

Dalam lift menuju parkiran bawah tanah, Kevin menekan ulang nomor Pak Hadi. Tidak tersambung. Ia menekan nomor Darren. Tidak ada jawaban. Setiap nada tunggu membuat rahangnya mengeras.

"Lokasi terakhir?" tanyanya.

Feng menatap tablet. "Sinyal dari pelacak tas sekolah berhenti di kawasan gudang lama. Rio mengirim koordinat."

"Polisi?"

"Dalam perjalanan."

"Terlalu lambat."

Kevin masuk ke mobil sebelum sopir sempat membuka pintu. "Aku yang menyetir."

Feng tidak berdebat. Ia hanya memasang sabuk pengaman dan mulai berdoa dalam hati.

Di dalam van, Darren berusaha bernapas. Tangannya diikat longgar, tetapi cukup membuatnya sulit bergerak. Pria yang duduk di depannya, Hengky, berbau rokok dan keringat.

"Anak Hartono mahal sekali," kata Hengky sambil tertawa. "Tenang, Nak. Kami cuma butuh uang."

Darren tidak menangis. Matanya membesar, tetapi ia mengingat suara Keira: kalau takut, pegang ini.

Saputangan K masih ada di saku celananya.

Ia menggenggam kain itu diam-diam.

Hengky melihat gerakan itu dan tertawa. "Pegang jimat, ya? Percuma. Orang kaya seperti ayahmu pasti bayar."

Darren menunduk. Ia ingin Daddy datang. Ia ingin Mommy datang. Untuk pertama kali, ia menginginkan keduanya di tempat yang sama, bukan karena rencana Ethan, bukan karena gambar keluarga, tetapi karena ia takut jika salah satu datang terlambat, yang lain akan hilang lagi.

Van berhenti di gudang kosong dekat kawasan komersial lama. Hujan gerimis mulai turun. Keira memarkir mobil beberapa puluh meter dari sana, melepas sepatu hak, dan berjalan tanpa suara di atas lantai semen basah.

Di dalam gudang, Hengky sedang menelepon.

"Anaknya sudah di tangan. Transfer sisanya."

Keira mendengar cukup.

Salah satu anak buah melihat bayangannya. "Hei! Siapa kamu?"

Keira tidak menjawab. Ia bergerak.

Tendangan pertamanya mengenai pergelangan tangan pria itu hingga pisau kecilnya jatuh. Keira memutar tubuh, siku menghantam rahang, lalu lututnya naik ke perut lawan kedua. Pria itu ambruk sambil mengerang.

Hengky membelalak. "Gila, perempuan ini siapa?"

"Orang yang anaknya kau sentuh."

Ia menyerang dengan pisau. Keira mundur setengah langkah, menangkap pergelangan tangannya, memutar sampai terdengar bunyi sendi tertarik. Hengky menjerit. Keira menjatuhkannya dengan kuncian bahu, lalu menekan lutut di punggungnya.

"Siapa yang menyuruhmu?"

"Aku tidak tahu!"

Keira menekan lebih kuat.

"Aku cuma dibayar lewat perantara! Katanya ambil anak Hartono. Itu saja!"

Darren yang duduk di kursi rusak menatap Keira dengan mata basah. Kain di mulutnya masih terikat. Keira segera melepaskannya, memotong ikatan tangannya dengan pisau yang jatuh, lalu menariknya ke pelukan.

"Ren, Mommy di sini."

Darren menahan napas satu detik, lalu memeluknya sekuat mungkin.

"Mommy..."

Kata itu pecah.

Keira memejamkan mata. "Tidak apa-apa. Kamu aman."

Di luar gudang, suara mobil berhenti beruntun. Pintu terbuka keras. Kevin masuk dengan wajah yang belum pernah Feng lihat. Dingin, gelap, dan hampir kehilangan kendali.

"Darren!"

Kevin berhenti di ambang pintu.

Tiga pria tergeletak di lantai. Satu memegangi rahang, satu pingsan, satu lagi tertelungkup dengan tangan terpelintir. Di tengah gudang, Keira duduk di lantai, rambutnya sedikit berantakan, kaki telanjangnya kotor oleh debu, tetapi tangannya memeluk Darren dengan sangat hati-hati.

Darren menoleh kepada Kevin, tetapi tidak melepas Keira.

"Daddy," suaranya kecil.

Kevin melangkah mendekat. Matanya turun ke saputangan di tangan Darren, lalu ke wajah Keira.

"Kamu terluka?"

Pertanyaan itu keluar sebelum ia sempat menyusun amarah.

Keira menggeleng. "Darren hanya lecet sedikit. Perlu dokter."

Kevin berjongkok di depan anaknya. "Ren, lihat Daddy."

Darren menatapnya. Air matanya akhirnya turun. "Mommy datang."

Kevin membeku.

Mommy.

Bukan Pretty Mommy. Bukan salah panggil. Mommy.

Keira juga mendengar. Tubuhnya menegang, seolah siap menghadapi tuduhan. Namun Darren justru semakin memeluknya, wajahnya bersembunyi di leher Keira.

Kevin melihat tangan Keira yang gemetar saat mengusap punggung Darren. Itu bukan akting. Tidak ada perempuan yang bisa memalsukan ketakutan seperti itu setelah mengalahkan tiga pria bersenjata.

Feng masuk dengan beberapa pengawal. Ia hampir tersandung melihat keadaan lantai.

"Boss..."

Kevin berdiri pelan. Suaranya turun menjadi sangat datar. "Ikat mereka. Cari siapa yang membayar."

Hengky langsung merintih, "Pak, saya cuma orang kecil."

Kevin menatapnya. "Kamu menyentuh anakku."

Hengky langsung diam.

Keira mencoba berdiri sambil menggendong Darren, tetapi kakinya sedikit goyah. Kevin refleks menahan siku Keira.

Sentuhan itu singkat. Keira menatapnya.

Di mata Kevin tidak ada kemarahan kepadanya. Yang ada hanya ribuan pertanyaan yang ditahan.

"Kamu datang lebih dulu," katanya.

"Aku melihat van itu."

"Dengan sepatu hak?"

Keira baru sadar kakinya telanjang dan sedikit berdarah terkena pecahan kaca. Ia menarik napas. "Aku tidak sempat memilih alas kaki."

Darren mendengar itu dan melihat kaki Keira. Wajahnya langsung panik. "Mommy sakit?"

Keira tersenyum lembut. "Sedikit saja."

Kevin menatap anaknya, lalu Keira.

Kata Mommy itu menggantung di antara mereka seperti pintu yang sudah terbuka, tetapi belum ada yang berani masuk.

Ia melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Keira.

Keira terkejut. "Tidak perlu."

"Perlu."

"Pak Kevin..."

"Diam sebentar." Suaranya tetap rendah, tetapi tidak kasar. "Kamu baru menyelamatkan anakku."

Darren mengangkat wajah. "Anak Mommy juga."

Seluruh gudang terasa berhenti.

Feng pura-pura sibuk mengikat penculik. Rio yang baru masuk dari pintu belakang menahan napas. Keira memejamkan mata sesaat.

Kevin menatap Darren. "Ren, kenapa kamu bilang begitu?"

Darren memegang saputangan K. "Karena hati Ren tahu."

Keira hampir menangis.

Kevin berdiri di depan mereka, untuk pertama kalinya tidak punya jawaban. Pria yang bisa membaca laporan keuangan rumit, mematahkan lawan bisnis, dan mengendalikan ribuan karyawan, kini hanya bisa melihat perempuan yang memeluk anaknya seperti dunia akan runtuh jika ia melepaskan.

Suaranya berubah pelan.

"Keira."

Ia berhenti, seolah nama itu sendiri sudah membawa terlalu banyak rahasia.

"Kamu... sebenarnya siapa?"

Keira menatap Kevin. Di belakangnya, pengawal mulai menyeret penculik keluar. Sirene polisi terdengar jauh, terlambat seperti biasa. Darren masih memeluk lehernya.

"Saat ini?" Keira menjawab pelan. "Aku hanya orang yang datang ketika anakmu membutuhkan ibunya."

Kevin menegang.

Kata ibunya tidak bisa lagi pura-pura tidak terdengar.

Di luar gudang, hujan gerimis berubah lebih deras. Rio membungkus kaki Keira dengan saputangan bersih, tetapi darah tetap merembes dari luka kecil akibat pecahan kaca. Kevin melihat itu, lalu memerintahkan Feng membawa dokter pribadi ke lokasi.

"Aku bisa berjalan," kata Keira.

"Aku tidak bertanya."

"Pak Kevin."

"Darren sedang melihat kakimu."

Keira menunduk. Darren memang menatap darah itu dengan wajah pucat. Ia langsung berhenti membantah.

Kevin melepas satu tangan dari saku dan mengangkat Darren dari pelukan Keira dengan hati-hati. Bocah itu sempat menolak, tetapi Kevin berkata pelan, "Mommy perlu diobati."

Darren akhirnya menurut, tetapi tangannya tetap menggenggam ujung jas Kevin dan saputangan Keira sekaligus.

Pemandangan itu menusuk dada Keira.

Anak itu tidak ingin memilih.

Mungkin dari awal, anak-anak memang tidak seharusnya dipaksa memilih antara ayah dan ibu.

Ketika dokter pribadi datang, Darren menolak diperiksa sebelum Keira duduk di sebelahnya. Kevin melihat putranya menggenggam dua orang sekaligus: satu tangan pada Kevin, satu tangan pada Keira.

"Ren," kata dokter lembut, "boleh lihat lukanya?"

Darren menatap Keira dulu.

Keira mengangguk. "Boleh. Mommy di sini."

Baru setelah itu Darren mengulurkan tangan.

Dokter memeriksa denyut nadi, memar di lengan, dan bekas tekanan tali di pergelangan Darren. "Tidak ada tanda benturan berat, Pak. Tapi malam ini harus dipantau. Kalau muntah, demam, atau menangis tanpa henti, langsung ke rumah sakit."

Darren mendengar kata rumah sakit dan tubuh kecilnya menegang lagi.

Keira segera menyentuh pipinya. "Tidak ada yang akan membawamu sendirian."

"Mommy ikut?"

"Ikut."

Kevin menjawab hampir bersamaan, "Saya juga."

Darren menatap mereka bergantian. Untuk pertama kalinya sejak diculik, matanya tidak lagi kosong oleh takut. Ia mengangguk kecil, lalu menyandarkan kepala ke bahu Kevin sambil tetap menggenggam jari Keira.

Kevin menatap Keira. Kali ini, ia tidak bertanya siapa dia.

Ia mulai takut sudah tahu jawabannya.

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!