Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.
Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.
Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.
Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.
Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Puncak Art Center berdiri di area SCBD seperti kotak cahaya raksasa.
Fasad kacanya memantulkan langit sore dan deretan mobil mewah yang berhenti bergantian di pintu depan. Begitu Keira masuk bersama Wulan, udara dingin dari lobi langsung menyentuh kulit. Aroma parfum mahal, bunga segar, dan logam yang dipoles bercampur halus.
Wulan berhenti tiga langkah setelah pintu.
"Kei," bisiknya, "ini pameran atau lokasi syuting drama konglomerat?"
"Jalan," kata Keira.
"Aku cuma mau memastikan sepatu murahku nggak langsung diusir security."
Keira menahan senyum.
Di dalam venue, lampu dibuat rendah. Setiap karya perhiasan berada dalam kotak kaca berlatar hitam, disorot cahaya tipis yang membuat berlian tampak seperti bintang kecil tertangkap di dalam malam. Para tamu bergerak pelan, suara mereka ditahan karpet tebal dan musik instrumental.
Di telinga Keira, suara benda-benda mulai muncul.
"Akhirnya ada orang lihat aku dari sisi kanan. Cahaya kiriku jelek," keluh sebuah bros.
"Jangan napas dekat kaca, dong. Embunmu merusak martabatku," gumam kalung mutiara.
Sebuah gelang safir terdengar sendu. "Aku rindu tangan manusia. Kotak ini dingin sekali."
Keira melirik gelang itu sekilas. "Sabar."
Wulan menoleh. "Lo ngomong sama aku?"
"Nggak."
"Oke. Sudah masuk mode benda."
Mereka berjalan melewati koleksi mahasiswa, karya dosen tamu, lalu area utama yang dijaga lebih ketat. Di atas pintu lengkung hitam, tertulis: Lumina Private Collection.
Langkah Wulan melambat.
"Liora ada di sini?"
Keira menatap tulisan itu, lalu menjawab datar, "Karyanya."
"Gila, kalau aku bisa foto satu aja..."
"Dilarang flash."
"Aku tahu. Aku masih punya etika miskin."
Di depan etalase terbesar, banyak orang sudah berkumpul. Keira melihat Seline dan Anya di sisi kanan, Alvin agak jauh di belakang, sibuk memindai tamu VIP. Seline mengenakan gaun biru muda, senyumnya lembut, tetapi matanya terus mencari-cari.
Mencari putri Tanuwijaya.
Tidak sadar putri itu berdiri beberapa meter darinya, memakai blazer sederhana dan tas kampus.
Keira berhenti di depan etalase.
Di dalamnya, Winter Blossom berbaring di atas beludru hitam.
Kalung itu dibuat dari platinum yang dipoles dingin, rantainya tipis seperti embun beku. Di bagian tengah, cabang-cabang mikro terukir menyebar, seolah ranting musim dingin yang baru ditempeli bunga pertama. Berlian putih es disembunyikan di sela ukiran, tidak langsung memamerkan kilau, melainkan muncul ketika penonton bergerak.
Wulan menahan napas.
"Gila," katanya sangat pelan. "Ini sih mahakarya."
Seline di sisi lain juga sedang menatap kalung itu dengan mata berbinar. "Liora memang beda. Setiap garisnya hidup."
Anya mengangguk cepat. "Nggak heran Cicely selalu memuji Liora di kelas master. Ini level yang nggak mungkin dicapai mahasiswa biasa."
Keira mendengarkan komentar itu seperti seseorang mendengar review makanan yang ia masak sendiri.
Winter Blossom berbisik dari dalam kaca, suaranya anggun tapi agak kesepian.
"Penciptaku datang."
Keira menatapnya.
"Kau tumbuh baik," batinnya.
Kalung itu seolah berkilau sedikit lebih lembut.
Wulan masih terpana. "Kalau disuruh nilai dari satu sampai sepuluh, ini berapa?"
Keira memiringkan kepala. "Tujuh setengah."
Wulan tersedak udara. Seline dan Anya langsung menoleh.
Anya menatap Keira dari atas sampai bawah. "Tujuh setengah? Lo siapa sih berani-beraninya menilai Liora?"
Seline cepat memasang wajah lembut. "Kak Keira, karya Liora itu sudah diakui internasional. Kritik memang boleh, tapi harus punya dasar."
"Ada dasar," kata Keira.
Anya tertawa sinis. "Dasar apa? Menang Piala Gemilang sekali langsung merasa bisa menghakimi maestro?"
Beberapa tamu di sekitar mulai memperhatikan.
Wulan maju setengah langkah. "Anya, mulut lo bisa istirahat nggak?"
Keira mengangkat tangan kecil, menahan Wulan. Ia menatap Winter Blossom lagi.
"Komposisi cabangnya bagus, tapi ritme berlian di sisi kiri agak terlalu aman. Kalau pencahayaan redup seperti ini, bagian tengah terlihat lebih berat. Masih bisa dibuat lebih hidup."
Seline terdiam.
Anya ingin membantah, tapi dua tamu tua di sebelah mereka justru saling menatap.
"Analisisnya masuk akal," gumam salah satu.
Keira tersenyum tipis.
"Nggak ada orang di dunia ini yang lebih berhak menilai karya Liora selain gue."
Anya memerah karena marah. "Sombong banget."
Seline menatap Keira lebih lama daripada biasa. Ada sesuatu di matanya, bukan curiga penuh, melainkan rasa tidak nyaman yang belum menemukan nama.
Keira tidak memberinya waktu.
Ia menarik Wulan berjalan ke etalase berikutnya.
Di sepanjang galeri, benda-benda terus berbicara. Sebuah cincin berlian bangga karena difoto sosialita. Sebuah bros tua mengeluh ingin dilelang ke orang yang tidak suka menyimpannya di brankas. Sebuah jam saku antik diam saja, tapi detiknya terdengar sedih.
Dari lantai atas, di balik kaca VIP, Ko Darren berdiri bersama seorang staf Puncak Art Center. Ia melihat Keira dari kejauhan. Di tangannya ada katalog lelang yang sudah diberi tanda di beberapa halaman.
Keira belum menyadarinya.
Wulan masih menoleh ke belakang. "Kei, kalimat lo tadi bisa bikin Anya mimisan emosi."
"Dia terlalu sering emosi. Badannya sudah terlatih."
"Tapi serius, lo kok bisa tahu detail begitu?"
Keira berhenti di depan satu etalase kecil. "Karena gue suka belajar."
"Jawaban aman."
"Jawaban benar."
Wulan tidak percaya, tapi belum sempat menggali lebih jauh.
Suara interkom lembut memenuhi ruangan.
"Para tamu undangan, sesi lelang tahunan Gemilang akan dimulai dalam tiga puluh menit. Silakan menuju ruang lelang."
Keira menatap arah ruang lelang.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Ia punya rencana.
semangat thor💪