NovelToon NovelToon
NIGHTMARE

NIGHTMARE

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Tamat
Popularitas:430k
Nilai: 4.8
Nama Author: Dewinisme

Slowly Update!!

Berkedok sebagai jaminan hutang ayahnya, Ruma berhasil dijerat menjadi tawanan abadi oleh Rico Dzadakun. Alih-alih menjadikan Ruma salah satu penari striptis di club malam miliknya, Rico justru merasakan jatuh cinta bahkan pada pandangan pertama pada gadis itu.

Sementara dibawah pengawasan Rico Dzadakun, diam-diam Ruma mendamba sebuah aksi balas dendam atas mimpi buruk yang selama ini ia dapatkan dari pebisnis kriminal tersebut.

Ditengah obsesi Rico terhadapnya, akankah Ruma berhasil melancarkan aksi balas dendam yang selama ini ia inginkan? ataukah Ruma justru semakin terjebak dalam jeruji-jeruji cinta yang Rico lilitkan dilehernya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Ruma berharap malam ini menjadi malam yang panjang baginya. Kepergian Rico membawa perasaannya terbang seperti seekor burung yang baru saja terlepas dari sangkarnya. Semacam perasaan lega yang menyenangkan melingkupi diri Ruma. Menggaungkan kebebasan yang telah lama terampas darinya.

Ruma tersenyum riang menapaki barisan anak tangga. Nalurinya menuntun Ruma untuk berjalan menuju dapur. Ini belum terlalu malam untuk menjejali perutnya dengan makanan. Ruma terus berjalan, ia melihat Viona tengah duduk di kursi meja makan. Pandangan keduanya bertemu. Viona langsung berdiri ketika mendengar tapak kaki majikannya semakin dekat.

"Anda memerlukan sesuatu, Nona?" tanya Viona seraya berdiri dari duduknya.

Ruma menggeleng sambil tersenyum. "Tidak, aku hanya ingin memakan buah saja"

Viona mengangguk. "Baik, sebentar akan saya--"

"Tidak perlu" Ruma mencegah gerakan Viona yang hendak berjalan menuju dapur. "Kau duduk saja disini. Aku ingin menyiapkan sendiri makananku" ucapnya.

"Tapi--"

"Ayolah Viona, kau pikir aku tidak bisa melakukan kegiatan ringan seperti mengupas buah?" ujar Ruma sambil berjalan menghampiri kulkas. "Aku tidak semanja itu" sambungnya seraya membungkuk di hadapan kulkas yang terbuka. Dan mengambil beberapa buah segar dari dalamnya.

Wanita tua itu tersenyum lembut. Ia membiarkan majikan mudanya melakukan apa yang ingin ia lakukan. "Dimana si kembar itu?" tanya Ruma sambil mengambil tempat di kursi depan Viona, setelah ia meletakkan mangkuk besar berisi buah yang sudah ia cuci, pisau kecil serta piring bermotif tulip di meja makan.

"Mereka sedang beristirahat. Apa perlu saya panggilkan?" tanya Viona dengan bola mata lekat memperhatikan wajah cantik Ruma yang tampak berseri.

"Tidak usah ... Biarkan mereka beristirahat, aku hanya ingin tahu saja" ujar Ruma sambil tersenyum hangat.

"Sepertinya sesuatu yang baik sedang terjadi pada diri Nona. Wajah Nona terlihat lebih cerah daripada biasanya" Viona mengatakan apa yang ia pikirkan.

Ruma melirik Viona dengan sedikit rasa malu. "Rico berkata ia akan pergi beberapa hari. Itu yang menyebabkan wajahku cerah" ucapnya sambil tersenyum. "Asal kau tahu, jika dadaku transparan mungkin kau akan melihat hatiku lebih cerah lagi" bisiknya dengan mata berbinar.

Viona menggeleng tak habis pikir. "Nona senang karena Tuan tidak berada disini?!" tanya Viona memastikan.

Ruma mengangguk cepat. Matanya bergantian menatap Viona dan buah yang sedang ia kupas, sementara bibirnya terus saja tersenyum senang. "Sejak dia menahanku. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan daripada ini" ujarnya menatap lawan bicaranya.

Viona dengan semua bentuk pengertiannya sepenuhnya mengerti apa yang dirasakan Ruma. Saat awal Ruma datang ke rumah Tuannya, wajah Ruma selalu tampak kaku dan sinis. Seolah dia tidak suka berada di rumah Tuannya itu. Seiring berjalannya waktu, Viona mulai bisa membaca bagaimana situasi yang sebenarnya terjadi antara kedua manusia itu. Hal itu bahkan diperjelas oleh ucapan Don sesaat sebelum ia dan Ruma dibawa pindah ke rumah Tuan Rico yang lain.

Viona tersenyum sambil meraih sebelah tangan Ruma yang memegang buah. Ia mengelusnya lembut sebelum meremasnya perlahan. "Tuan Rico tidak pernah berbuat hal seperti ini pada wanita manapun, Nona ... Jika ia sampai melakukan hal ini pada Nona" Viona diam sesaat. "Pasti karena ia memiliki alasan kuat untuk melakukannya" sambung Viona.

Ruma mendengus. "Dan alasannya adalah hutang. Ayahku berhutang besar padanya" Tiba-tiba wajah Ruma berubah sendu. Ia teringat kembali pada ayahnya.

Viona tidak berusaha memaksa Ruma untuk lebih mengerti tentang alasan yang lebih besar dan kuat daripada sekedar hutang. Ia mengingat dengan jelas, bahwa tatapan Tuan Rico pada wanita yang memberengut di hadapannya bukanlah tatapan biasa. Sorot mata legam itu tidak pernah menatap lembut pada wanita manapun sebelumnya, bahkan pada Nona Meggy yang berstatus sebagai kekasihnya. Siapapun yang mengenal baik Tuan Rico, pasti tahu bahwa lelaki itu memiliki perasaan khusus pada Ruma. Namun sayang, sepertinya hal itu justru tidak disadari oleh Ruma sendiri. Wanita cantik itu tidak tahu bahwa keberadaannya membuat langit kelam dalam hati Tuan Rico berubah cerah. Ya Tuhan, bahasa cinta mana lagi yang bisa membuat Ruma paham, bahwa Rico jatuh hati padanya.

"Sudahlah. Jangan membahas hal itu" ucap Ruma setelah jeda panjang antara mereka. "Lebih baik sekarang kau ceritakan tentangmu. Bagaimana kau bisa bekerja bersama lelaki itu? Berapa banyak hutangmu padanya?" tanya Ruma ingin tahu.

Viona tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Sangat banyak, Nona. Hutang kami bahkan mungkin tidak akan pernah bisa kami bayar meski kami bekerja seumur hidup pada Tuan," ungkap Viona melihat tatapan iba dari majikannya. "Sebelum bekerja dan tinggal di kediaman Tuan Rico, kami hanyalah gelandangan yang hidup dari tumpukan sampah. Hari itu--hari yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup, Tanpa sengaja Tuan Rico menemukan kami di jalanan tempat biasa kami mencari sisa-sisa sampah untuk kami jual" tatapan Viona berubah cerah ketika mengingat masa lalunya.

Ruma mengernyitkan dahi. "Menemukan?"

Viona mengangguk. Wajahnya yang berkeriput tampak lebih muda jika ia tersenyum lebar seperti saat ini. "Saya sangat bersyukur Tuhan menuntunnya menemukan kami" bisiknya. "Tuan Rico membawa kami ke rumahnya. Memberikan kami pekerjaan bahkan tempat untuk berteduh. Hal yang sebelumnya tidak kami miliki," ia cepat-cepat menambahkan.

Ruma menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia belum sepenuhnya mengerti arti dari cerita Viona yang justru terdengar seperti dongeng pangeran tampan nan baik hati.

Viona terlalu pandai untuk menebak keraguan yang tersirat jelas dalam bingkai wajah cantik majikannya. Ia tersenyum tipis menyadari bahwa mungkin bagi Ruma, Tuan Rico hanyalah lelaki bedebah yang tidak mungkin memiliki sisi baik dalam dirinya. Ruma sepenuhnya lupa, bahwa manusia tercipta dengan dua sisi yang bertolak belakang dalam dirinya. Nyatanya Tuhan tidak pernah menciptakan makhluk hanya dengan sisi baik atau buruknya saja. Tuhan Maha Adil dan keadilanNya tergambar dari dua sisi kebaikan dan keburukan yang Dia sematkan dalam diri hambaNya.

"Percayalah Nona, Tuan Rico tidak seburuk apa yang ada dalam imajinasi Nona. Bagi Nona mungkin Tuan hanyalah iblis yang ingin menjadikan Nona budaknya. Namun bagi kami--dan si kembar tentu saja, Tuan Rico adalah malaikat tanpa sayap yang Tuhan kirimkan untuk memberi kami kesempatan merasakan mujizatNya" Viona merasa tidak ingin berlebihan, namun itulah yang ia rasakan selama bekerja bersama Tuannya.

Keraguan dan rasa tidak percaya itu masih melanda diri Ruma. Hatinya seperti menolak kenyataan bahwa Rico bukanlah bedebah sialan yang hanya memaksakan seseorang untuk terikat padanya. "Aku merasa kau sedang mengarang cerita" sangkalnya sambil mengambil buah yang sudah ia kupas, lalu memakannya.

"Tanyakan hal yang sama pada si kembar ... Cerita mereka pasti lebih terasa seperti kisah-kisah dalam novel klasik" Viona tersenyum lembut menanggapi keraguan Nona Ruma dengan santai. "Siapapun yang mengenal Tuan Rico dengan baik, pasti akan mengatakan hal yang sama, Nona ... itulah mengapa kami bisa bekerja begitu lama padanya" tambahnya.

"Ah, sudahlah. Aku tidak tertarik untuk membahas tentang Tuan kalian di malam kebebasanku ini" Ruma berdiri dari duduknya. "Itu hanya akan merusak moodku yang sedang membaik" tambahnya

"Biar saya saja, Nona" Viona mencegah Ruma untuk membersihkan bekas cemilan malamnya.

Ruma menggeleng. "Aku yang membuat kekacauan ini, maka aku yang akan membersihkannya" ujar Ruma sambil menatap Viona yang membantunya.

Setelah meja makan rapi dari sampah buah, Ruma mencuci tangannya. "Aku akan kembali ke atas. Ini sudah malam, sudah waktunya kau beristirahat, Viona" ucapnya menciptakan kehangatan dalam hati wanita tua itu.

"Baik, Nona" sahut Viona masih berdiri menunggu Nona Ruma meninggalkan area ruang makan.

Ruma berjalan menaiki anak tangga. Benaknya terus saja memutar obrolannya dengan Viona tadi. Ruma berdecih mengejek ketika teringat pengandaian malaikat tanpa sayap yang Viona ucapkan padanya.

"Cih! Bagaimana bisa lelaki kejam itu disebut malaikat tanpa sayap? Jelas-jelas dia jelemaan iblis dari neraka"

Ruma terus menerus menggumamkan kalimat itu dalam benaknya. Hingga ia berada di dalam kamar dan bersiap untuk naik ke tempat tidur. Wanita cantik itu mendesah kesal, ketika bayangan seringai licik Rico mengusik bola matanya untuk terpejam.

🍁🍁🍁

Esok harinya di Olympus Palace.

Rico terbangun dengan rasa sakit di kepalanya. Lelaki itu beringsut dari tempatnya tertidur ketika dering ponselnya terdengar. "Shit! Dimana benda itu?" umpatnya ketika tangannya tak juga menemukan ponsel.

Ia mengangkat tubuh payahnya. Menggeser ke arah kiri kanan dan mencari sumber dari suara mengganggu itu. Rico merogoh ke dalam selimbut, dan tangannya berhasil menemukan si pengganggu tidur itu.

"Ada apa?" suara serak keluar dari mulutnya. Dengan mata masih terpejam, telinga Rico berusaha siaga mendengarkan.

"Tuan Abdul berada di Indonesia" ucap Don.

Mata terpejam itu langsung terbuka lebar. "Apa yang kau katakan?" tanyanya tak percaya seraya bangkit dari tidurnya.

Mendadak tubuh Rico menegang. Ia tidak bisa menyingkirkan rasa khawatir yang tetiba muncul ketika Don menceritakan bagaimana Abdul tiba-tiba mendatangi Nightmare dan menanyakan tentang Ruma. Ia merasa sudah melakukan hal bodoh dengan mengabaikan kemungkinan Saleh akan mengatakan perihal Rudi yang ingin menemui adiknya itu. Keberhasilannya mendapatkan Ruma, membuat lelaki tampan itu melupakan fakta bahwa sang adik bisa saja mencari tahu perihal Rudi yang kemudian akan menuntunnya pada Ruma. Wanita penebus hutang keluarganya.

"Apa yang kau katakan padanya?" selidik Rico.

"Saya mengatakan bahwa Nona Ruma hanya terlibat perjanjian hutang dengan Tuan, sama seperti wanita-wanita yang Tuan pekerjakan di club" tutur Don mengingat obrolan semalam dengan Abdul.

Rico diam sesaat. Ia memikirkan ucapan Don lama-lama. Perasaannya menjadi tidak nyaman ketika mengetahui keberadaan adik yang lama tidak ia temui berada di satu negara yang sama.

"Don. Kirimkan aku helikopter. Aku akan pulang hari ini juga" putus Rico akhirnya.

"Tuan akan kembali? Lalu bagaimana dengan bisnis Tuan disana? Bukankah acara itu masih berlangsung beberapa hari lagi?" Pertanyaan beruntun Don hanya menimbulkan kerutan di dahi Rico.

Sejujurnya, Rico pun memikirkan hal yang sama. Semalam ia dan beberapa pengusaha kenamaan mulai sepakat bekerja sama mendirikan perusahaan baru. Hari ini mereka berencana untuk mulai membahasnya, mengingat semalam hal tersebut tidak bisa mereka lakukan karena desakan jiwa hedonis membuat mereka menghabiskan malam untuk berpesta pora dengan lintingan barang haram Rico sebagai primadonanya.

Barang haram, minuman dengan wanita seksi sebagai tambahan, membuat semua orang dalam satu ruangan privat di Olympus Palace terbang bebas ke langit lepas. Rico memilih kembali ke penginapannya saat ia merasa sudah cukup membanjiri aliran darahnya dengan minuman. Ia menolak setiap wanita yang ditawarkan padanya. Saat itu ia hanya mengingat Ruma. Kilasan wajah Ruma membuat nafsunya untuk bermain dengan wanita lain lenyap. Rico bahkan lupa jika Meggy sedang menunggunya di kamar.

"Aku tidak peduli dengan bisnis itu" ucap Rico lugas. "Bagaimana bisa otakku bekerja, sementara Abdul berada dekat dengan milikku ... tidak akan aku biarkan adikku itu menemukannya" tambahnya.

Don mendengarkan tanpa menyanggah. Ia merasa perseteruan dua pangeran dunia hitam akan terjadi sebentar lagi. "Saya akan siapkan helikopter untuk menjemput anda, Tuan" ujar Don.

Rico berniat mematikan sambungan seluler itu sebelum benaknya kemudian mengingat sesuatu. "Don ... Aku bisa menoleransi apapun yang Abdul rebut dariku. Perusahaan ayah, barang-barang yang aku suka, bahkan wanita-wanitaku dahulu" ucap Rico. "Tapi demi Tuhan ... Ruma adalah milikku dan selamanya akan menjadi milikku. Aku tidak bisa menoleransi Abdul lagi jika dia berani merebutnya dariku" sambung Rico dengan rahang mengeras.

Don mengangguk pelan. Tangan kanan Rico itu mengerti arti dari ucapan majikannya. "Nona Ruma akan tetap aman Tuan. Adik anda tidak akan berhasil menemukannya" kata Don sebelum sambungan itu terputus.

🍁🍁🍁

1
Ita Listiana
sungguh aq suka banget sama semua novelmu yg tamat yg aq baca, aq suka bahasamu thor, gk bertele" gk kayak drama ikan terbang muter" gk jelas, tapi kenapa yg baca cuma dikit ya?? btw sukses terus buat othor semangat terus buat berkarya. dan novelmu yg ngegantung tolong dilanjutkan dong thor../Drool//Grin/
Greenenly
ya ampun..sangat menyedihkan sekali, aku menangis pilu😭
Made Ayu
Kecewa
Made Ayu
ini sdh kesekian x baca ulang tetep suka 😍
Fe☕
Alur cerita ringan , enak dibaca

bbrp kalimat yg digunakan memabukkan berasa baca karya sastra 👌

mksh Author
tetap semangat berkarya ✒️📱
Cia²
👍👍
sherly
terbaik
sherly
mantull
sherly
part ini paling mengelikan.. asli Thor sampai ngakak pas si Rico ngk mau nyamar malah komplain
sherly
woh
sherly
ini karyamu yg ke 3 yg aku baca Thor dan beneran smuanya bangus pakai banget .. kisah cinta dimana si cowok beneran sayang banget sama pasangannya.. msh blm bisa move on dr sabiel dan Laura, Raka dan raya eh ternyata Rico dan ruma ngk kalah bucin
sherly
keren thor
sherly
seru
sherly
keren banget
sherly
ceritanya bagus, penulisan dan kata2nya luar biasa..
sherly
ngeri ya
sherly
bahasamu Thor sungguh luar biasa
Sang Dewi: terima kasih kaka.. aku baca setiap komen kaka, dan terharu hihi.. makasih banyak sudah mampir 🙏😉
total 1 replies
sherly
ini yg ke 3 karyamu yg aku baca thorr... semoga keren juga seperti yg lain
Hanifah Ifah
rico kamu hrs hati2 jg sm meggy dan ayahnya lucas..... mreka ingin balas dendam
Wanda Sukma
aku yakin ini novel bagus, karna bs dilihat dr pemilihan kosa katanya autor memiliki wawasan luas.
tp aku heran dg algoritma noveltoon ini, knp novel2 receh yg alur ga jelas arahnya mau kemana dan blundet ga masuk akal justru bisa di up, sdngkan novel yg rata2 bagus sprti ini justru ga di up.

krn sblm aku baca aku paasti lihat dulu komen2 jika ada 1 komen yg buruk sdh pasti alurnya emng buruk. tp dikomen ini baik dan menarik jd aku baca.

sejauh ini masih suka sih, semangat thor meski ga trending yg penting ttep berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!