NovelToon NovelToon
AKAD TANPA CINTA

AKAD TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒

Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.

Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 20

Amara memalingkan wajah ke arah jendela, tak membiarkan sedikit pun wajah dan matanya menatap laki-laki yang duduk di balik kemudi. Bibirnya terkatup rapat, tangannya mere-mas kuat ujung kemejanya. Dengan dada yang naik turun menahan amarah yang terasa sesak menyiksa.

Begitupun dengan Abimanyu, pria itu meluruskan tatapannya ke depan. Tangannya mencengkram erat setir mobil, rasa khawatir yang memuncak sampai ke ubun-ubun karena ketiadaan Amara di apartemen kini berubah menjadi amarah.

Tak ingin lepas kontrol seperti kejadian semalam, Abimanyu memilih diam mengabaikan keterdiaman gadis di sampingnya. Ia memacu mobilnya di atas kecepatan rata-rata, tak hanya melampiaskan emosi tetapi ada waktu yang harus di kejar. Pekerjaan yang menumpuk, dan juga statusnya sebagai Direktur Operasional di sebuah Bank swasta ternama, memiliki tanggung jawab dan kesibukan di atas rata-rata.

Setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh lima menit, mobil yang dikemudikan Abimanyu berhenti di basement apartemen. Pria itu mematikan mesin mobil, sementara dirinya tetap duduk di balik kemudi tanpa merubah posisi.

Amara yang tak ingin berlama-lama duduk berdekatan dan menghirup udara dalam satu ruangan dengan suaminya segera beranjak. Tanpa menoleh, ia segera membuka pintu dan turun dari mobil disusul bunyi dentuman pintu yang ditutup setengah dibanting.

Abimanyu mendelik, namun tak urung pria itu segera turun mengikuti sang istri yang melangkah cepat masuk ke dalam lift.

Pintu lift menutup perlahan. Memutus riuh suara dari luar, menyisakan ruang sempit yang dipenuhi keheningan. Amara berdiri di salah satu sudut, memeluk tasnya erat di depan dada. Pandangannya lurus ke depan dimana angka-angka yang terus berganti di atas pintu, seolah benda itulah satu-satunya yang layak diperhatikan.

Di sisi lain, Abimanyu berdiri dengan kedua tangan terselip di saku celana. Tatapannya beberapa kali beralih kepada pantulan Amara di dinding lift yang mengilap, tetapi gadis itu tampak enggan menoleh, ia kembali menghela napas pelan. Banyak kalimat berdesakan di ujung lidahnya, namun tak satu pun bisa ia keluarkan.

Suara denting lift yang berhenti menyudahi keterdiaman mereka. Setengah melompat Amara bergegas keluar, entah disengaja atau tidak bahunya menabrak dada samping Abimanyu membuat tubuh pria itu sedikit terhuyung ke belakang membentur dinding lift.

Abimanyu mendengus jengkel, namun ia tetap melangkah keluar mengikuti Amara dengan langkah santai. Sesampainya di depan pintu Amara terlihat berdiri sambil bersedekap dada. Abimanyu pura-pura tak melihatnya, ia segera menempelkan ibu jarinya pada smart door lock yang terpasang di samping kusen. Terdengar bunyi bip singkat, disusul lampu hijau yang menyala. Kunci elektronik itu berdecit pelan sebelum pintu apartemen terbuka secara otomatis.

Amara melangkah sedangkan Abimanyu hanya berdiri diambang pintu, namun netranya menatap punggung gadis itu. "Aku melarangmu keluar sendirian, tapi kamu malah melanggarnya."

Suara dingin Abimanyu menghentikan langkah Amara yang hampir mencapai pintu kamar, ia berdiri tanpa menoleh namun memasang pendengarannya.

"Apa aku sejahat itu di matamu, melarang kamu bertemu ibu dan adik-adikmu sehingga kamu harus pergi diam-diam?" Desis Abimanyu berusaha menekan suara dan emosinya. "Meskipun kita nikah karena keterpaksaan, tapi semenjak akad itu terucap..." Abimanyu menjeda ucapannya, ia menarik napas dalam-dalam membiarkan kalimatnya menggantung di udara.

"Hidup dan matimu tanggung jawabku, ingat itu!" Pungkasnya dengan suara dalam. Ia melangkah ke arah sofa mengambil tas kerja yang tadi tidak sempat dibawanya ke mobil.

Tanpa berucap lagi pria itu membalikkan badan, ia berangkat kerja tanpa sarapan terlebih dulu sebagaimana biasanya.

Mendengar perkataan Abimanyu, Amara mematung. Otaknya berusaha mencerna setiap kata yang dilontarkan suaminya itu, "Hidup dan matimu tanggung jawabku"

'Apa maksudnya coba?' gumamnya pelan seraya melangkah ke arah meja makan. Matanya sedikit menyipit saat melihat meja masih rapi, letak tudung saji masih sama dengan tadi pagi. Tangan Amara bergerak segera membuka tudung saji. 'Eh kok!' gumamnya menatap beberapa lembar roti panggang dan telur rebus yang masih utuh. 'Dia gak sarapan berarti.'

-

-

Jarum jam perlahan merayap menuju waktu makan siang. Di luar ruangannya, suasana kantor yang semula dipenuhi bunyi ketikan keyboard mulai berubah, satu per satu karyawan meninggalkan meja kerja saling mengajak mencari restoran dan tempat makan lainnya di sekitar gedung.

Riuh obrolan dan tawa mereka terdengar samar dari balik pintu. Namun Abimanyu tetap bergeming di balik meja kerjanya, tatapannya terpaku pada layar laptop yang masih menyala tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana.

Berkas-berkas yang menumpuk di hadapannya hanya menjadi pajangan, sebab tak satu pun kalimat sanggup ia cerna. Perutnya sama sekali tidak memberi isyarat atau merasakan lapar. Sejak pagi ia hanya meminum beberapa teguk kopi pahit, sarapan yang telah disiapkan Amara masih utuh di meja makan apartemen ketika ia pergi.

Bayangan itu kembali memenuhi kepalanya, menghadirkan rasa sesak yang entah berasal dari penyesalan atau kerasnya ego yang belum juga luluh.

Ponselnya bergetar pelan, menampilkan beberapa pesan dari rekan kerja yang mengajaknya makan siang bersama termasuk Tya. Abimanyu hanya melirik sekilas, lalu membiarkan layar itu kembali gelap tanpa membalas satu pun.

Ia menyandarkan tubuh pada kursi, mengembuskan napas panjang sembari memijat pangkal hidungnya. Entah sejak kapan, rasa lapar telah kalah oleh penat yang menggerogoti hati. Baginya, siang itu mengisi perut terasa jauh lebih mudah daripada mengosongkan kepalanya dari bayang-bayang Amara yang terus datang tanpa diundang.

Tok tok tok... "Bi, boleh masuk gak?" Suara seorang perempuan menyudahi racauan Abimanyu, pria itu menarik napas panjang. "Masuk." Sahutnya singkat, tak lama kemudian pintu terbuka menampakkan wajah Tya yang kemudian melenggang masuk menghampirinya.

"Kenapa chatku gak dibuka? Ayo ikut aku makan!"

Abimanyu mengangkat wajah. "Aku bawa bekal." Dustanya berucap singkat kemudian kembali fokus pada layar laptop.

Mendengar jawaban Abimanyu mata Tya membesar. "Wuih pengantin baru, makan aja bawa bekal." Godanya, tanpa disuruh perempuan itu menarik kursi kemudian duduk berhadapan dengan Abimanyu. Ia terdiam sesaat, kemudian menatap Abimanyu.

"Sebenarnya..." Tya menjeda ucapannya, matanya menelisik wajah datar Abimanyu. "Bi, boleh aku ngomong? Kamu kenapa sih? Masih marah ya, gara-gara kemarin waktu di resto aku nelepon kamu?"

"Ngomong saja, pekerjaanku masih banyak."

Tya menarik napas, wajahnya berubah serius. "Sebenarnya, kemarin aku di ajak Jenny makan di situ karena lihat kamu masuk ke sana." Ucap Tya sedikit ragu-ragu. Sedangkan Abimanyu masih diam.

"Jenny sekarang mau buka cabang usahanya di sini."

Abimanyu mengangkat sebelah alisnya, "hubungannya sama aku apa?" tanya nya menohok. "Kamu tahu kan bagaimana dulu hubunganku dengannya? sejak dia mutusin buat menikah, aku sudah tidak peduli lagi." Tutur Abimanyu tegas.

"Tapi dia berniat untuk Kredit Investasi, aku harap kamu bisa profesional. Dia nasabah prioritas Bi, dan itu sangat menguntungkan bagi kita." Ucap Tya terus berusaha memberi pemahaman pada sahabatnya.

"Tidak bisa! Suaminya pengusaha, sudah pasti di setiap Ba-nk dia menjadi nasabah prioritas, kenapa harus berurusan denganku? Sorry aku gak bisa."

"Sebaiknya kamu pikirkan lagi, jangan terburu-buru memutuskan. Dia juga minta kita bertiga ketemuan, makanya aku ajak kamu makan soalnya dia sudah nunggu. Plis Bi, buang ego mu! mana Abi sahabatku yang profesional? hm." Ucap Tya bersamaan dengan ponselnya yang berdering.

"Bi, coba lihat! Ini Jenny, plis ayolah! Cuma makan saja, enggak apa-apa kalau kamu sudah makan setidaknya temui saja untuk bahas masalah tadi." Bisik Tya dengan tatapan yang memohon.

Lagi-lagi Abimanyu menarik napas. "Kamu dapat apa dari dia?" Tanya Abimanyu menohok. "Kamu yang berjanji tanpa bertanya dulu padaku, jadi sekarang selesaikan sendiri. Silahkan keluar!" Usir Abimanyu tegas membuat Tya seketika berdiri dengan wajah yang memerah menahan kesal.

1
Mimi Yoh
ayo...itu apa...😄😄😄
Mimi Yoh
kalau khawatir bilang aja...nggak usah banyak alasan ya 😁😁😁
Mimi Yoh
keluar diam-diam 😯😯 ..mara memangnya kalau mau keluar kamar sambil nyanyi atau teriak gitu..
Mimi Yoh
😯😯😆😆😆😆😆
Mimi Yoh
sama-sama ngegedein gengsi
Mimi Yoh
saking khusunya masak ya mara 😁😁
Mimi Yoh
hahahahah jadi mara bener-bener nggak nyadar kalau pak suami sudah pulang dan sudah jauh pindah ke alam mimpi 🤗🤗
Mimi Yoh
berasa ada yg hilang ya om 😁😁
Mimi Yoh
tahu masih punya suami...malah dibantu selingkuh...
Mimi Yoh
dasar matre
Mimi Yoh
oooh dijanjiin sesuatu kamu ya...
Mimi Yoh
sudah tahu kesalahan ada pada jenny, masih aja dibantu untuk deketin abi, tahu abi juga sudah menikah, terpaksa ataupun tidak, tetap abi sudah punya istri...kayak bukan sesama perempuan saja, dimana hatimu tya...
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
sama-sama gengsi... padahal saling mengkhawatirkan.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Yaa ampun demi hadiah liburan ternyata....
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Tya dimana hatimu sebagai sesama perempuan. Abi kan sekarang sudah punya istri, tapi kamu kok bisa²nya malah berusaha mendekatkan Abi dengan Jenny. Kalau posisimu sebagai seorang istri apa nggak sakit hati yaaa....
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ : keknya Tya itu mkkb masa kecil kurang bahagia 😅
total 4 replies
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Wahhh keren... begitu donk Bi, jangan mau dimanfaatkan lagi apalagi sama mantan. Semoga sikap tegasnya bisa terus dipertahankan yaa, ingat... ingat... kamu sekarang sudah bukan single lagi.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Iyaa iyaa ngerti om... tapi yaa jangan kasar² gitu donk. Seharusnya kamu lebih berpengalaman bagaimana meredakan amarah. Ini om mantan bujang lapuk beneran nggak tahu yaa caranya meluluhkan hati perempuan.
ms. yati74
🤣🤣🤣yg atu manta bujang lapuk yg atu bocah baru netes....angeeell tooo nyatu nyaa🤣🤣🤣🤣
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ
canggung dan sama" jaim yg bikin nagih, cukup buat ngilangin rasa kesel gegara Tya😥🤣
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
baguss kau Abi tegas begitu
Iper: Pasti
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!