Season 1 (tamat)
Farida tak menyangka, keputusan terlalu cepat yang diambilnya ternyata sangat mempengaruhi kehidupannya di masa depan. Yaitu menikah dengan pria yang sudah menikah sebelumnya dan telah mempunyai anak.
Sifat alpha suami istri yang masing-masing selalu ingin mendominasi juga terkadang menjadi problema. Ditambah lagi dengan usia yang terpaut jauh sehingga mereka harus berhadapan dengan karakter yang berbeda.
Mampukah pernikahan mereka bertahan dengan segala pelik permasalahan di dalamnya?
...
Season 2 (On going)
Segala bentuk keplagiatan bisa dilaporkan ya!
Area dewasa 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menantu, kita bernasib sama
"Dad, sudah sesiang ini kamu kok belum sarapan? Kamu muntah dari kemarin. Nanti bisa sakit kalau perutnya terus-terusan dibiarin kosong." Ucap Farida. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan suaminya.
"Iya, nanti aku makan." Jawab Vano, dia sedang menatap layar laptopnya, melanjutkan pekerjaannya yang tersisa.
"Daddy, boleh nggak sih turun dari bed, aku ingin duduk disitu."
"Nggak boleh banyak bergerak. Nggak perlu dijelasin ulang, sudah tahu kan jawabannya." Jawab Vano tanpa menoleh. Ugghhh... greget sekali, ingin rasanya Farida mencium paksa sampai habis wajah seram itu.
Farida mengusap-usap perutnya. "Dek, kuat di dalam perut Mida ya! Mida bosan bobok disini terus, Mida sudah ingin berkelana."
Vano sedikit melirik saat mendengar Farida sedang bergumam sendiri. "Berat sekali,"
"Apanya Dad?" Perempuan hamil sangat sensi, pikirnya.
"Bahasamu."
"Oh, kirain berat badanku."
"Iya, itu juga. Jangan kamu pikir badanmu nggak berat."
"Aku sadar diri kok, tapi ya jangan terlalu jujur. Menyebalkan." Gerutu Farida.
Tok..tok..tok..
Vano menyudahi pekerjaannya. Dia menutup laptopnya kemudian membukakan pintu.
"Assalamualaikum..." Ucap semua tiga bocah tanggung berjamaah di belakang Pak Darsa dan Bu Sonya.
"Waalaikumsalam..." Vano menjawab salam.
Selamat datang keluarga pasar burung, ucap Vano dalam hati. Siap-siap kena semprot, semalam saja waktu Vano memberi Pak Darsa kabar tentang Farida, beliau sudah terdengar meninggi.
Kelimanya masuk melewati Vano setelah semuanya salim tangan bergantian.
"Kakaaaak!!" tante kecil berteriak histeris saat melihat dan memeluk Farida dengan gemas.
"Jangan teriak-teriak ini dirumah sakit Billa..." Ucap Bu Sonya pelan.
Bergantian dengan Doni dan terakhir Om gendut Riski. Mereka berdua berbisik mesra di telinga Farida. "Kakak berhasil disengat lebah berkepala hitam Don!" Ucap Riski.
"Sebentar lagi bengkak tengahnya." Balas Doni terkekeh.
Farida menoyor kepala keduanya. "Dasar adik-adik kurang ajar! Gini-gini nanti jadi keponakan kalian. Edan!"
"Eh, sudah-sudah! Malah bercandaan saja kalian." Pak Darsa menyingkirkan Doni dan Rizki didekat Farida. "Gantian Ayah sama Ibu," ucap Pak Darsa.
"Kenapa putri Ayah bisa sampai begini? Coba kalau terjadi apa-apa sama cucu pertama Ayah?" Pak Darsa peluk cium putrinya. "Kamu banyak pikiran?"
Farida menggeleng, "enggak Yah, emangnya mikirin apa?"
Vano mengusap dadanya sedikit lega, ternyata istrinya pintar menyembunyikan aib rumah tangga.
"Kakak nggak tahu lagi hamil memangnya Kak?" Tanya Bu Sonya.
"Nggak Bu, kalau nggak pendarahan Ida juga nggak akan tau kalau Ida lagi hamil... Kan belum telat juga." jawab Farida.
"Kenapa bisa sampai pendarahan Kakak?" Tanya Pak Darsa. "Ini pasti gara-gara kamu!" Tunjuknya kepada Vano.
Sudah diduga, pasti kena marah.
"Yang punya badan saja nggak tahu dirinya lagi hamil Yah, " jawab Vano tenang.
"Ini pasti--" Pak Darsa menatap sekeliling, ada ketiga anak-anaknya belum cukup umur. Beliau tak melanjutkan kata-katanya yang mengarah kesana.
"Sudah-sudah Ayah, jangan menyalahkan siapa-siapa. Dulu juga Ibu waktu hamil Fitri tau-tau sudah tiga bulan. Sudah dibawa ngapain aja, kerja berat malahan. Tapi syukur nggak apa-apa, anaknya brojol sehat. Kondisi orang kan beda-beda Yah..." Ucap Bu Sonya memberi pengertian. "Sudah berapa minggu Kak, usianya?" Tanya Bu Sonya kepada Farida.
"Empat minggu Bu,"
"Tuh kan masih kecil banget, pantas belum kentara."
Saat sedang melanjutkan obrolan, terdengar gaduh diantara mereka bertiga.
"Berisik!" Hardik Pak Darsa. "Orang kok gak bisa diam kalau ada orang tua lagi ngomong. Mau gaduh sana diluar!"
"Ini Yah, katanya gendut lapar. Tapi nggak ada makanan." Jawab Bila, yang di tunjuk malah memberengut.
"Namanya dirumah sakit mana ada makanan Ki?" Jawab Farida. "Dad, tolong pesenin makanan dong. Apa aja yang penting makanan berat." Ucapnya pada Vano yang kini sedang berada disampingnya. Kemudian Vano mengangguk patuh.
"Tunggu sekitar dua puluh menitan ya." Ucap Vano setelah beberapa saat. Dia memesankan banyak makanan, sekalian buat dirinya sendiri juga yang belum sempat sarapan.
"Maaf ya Nak, bikin repot saja. Padahal dirumah tadi sudah dibikinin sarapan." Ucap Bu Sonya merasa tidak enak.
"Nggak merepotkan Bu, hanya tinggal pesan saja." Jawab Vano singkat.
"Kan itu pagi-pagi, sebentar lagi jam makan siang." Gerutu mereka bertiga. "Iya cacing-cacingku sudah berdemo juga di dalam sana."
"Mual nggak Kak?" Tanya Bu Sonya kepada Farida.
Farida terkekeh. "Dia yang mual muntah Bu," Menatap suaminya. "Sering ribut cari mangga juga."
"Uhukk uhukk..." Pak Darsa terbatuk-batuk. "Uwalah kulup-kulup, kawus mesakne kamu hahaha... Mangkane ojo metengi hahahaha..." kata Pak Darsa terbahak. Yang ditunjuk tak kuasa menahan senyum, baru kali ini Vano diejek dan ditertawakan banyak orang. Hancur sudah reputasinya sekarang ini. Memang benar apa kata Reyhan waktu lalu. Sekarang makin tambah saja predikatnya, dia bukan hanya Presdir yang miskin, tapi juga ngenes. Entah nanti apalagi, apa bisa bucin juga?
Satu jam berlalu.
Baru saja makan-makan selesai, keluarga pasar burung itu kedatangan anggota baru lagi.
"Assalamolekum, Daddy, Mida.. Jajam pulang sama Oma!" terdengar suara gemas anak gembul yang pipinya bersemu merah. Anak badung itu masuk bersama Bu Nuning yang membuat suasana semakin terasa ramai.
"Waalaikumsalam…" jawab mereka bersamaan.
"Eh ada Pak Besan sama Bu Besaaan!" Teriak Mama Nuning. Keduanya peluk cium dan mulai bercerita panjang lebar.
James bergabung dengan Om-Om dan tante kecilnya setelah berganti pakaian. Dan mungkin akan sedikit ditulari virus-virus gesrek.
Vano yang tidak terlalu suka dengan keributan segera menelungkupkan badannya di karpet bawah. Dia berusaha memejamkan matanya dan menutup telinganya dari kebisingan dunia. Tapi kali ini di susul oleh Pak Darsa "Menantu, rupanya kita sekarang bernasib sama," ucapnya sebelum terbaring di sebelahnya.