Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.
"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 INVASI KE DUNIA ATAS
Gerbang Istana Bawah Tanah terbuka dengan suara menggelegar yang mengguncang seluruh Gunung Lawu. Angin hitam keluar dari dalam, membawa bau belerang, darah, dan kutu kan yang sudah tidur 200 tahun.
Raka berdiri di tengah gerbang itu.
Mahkota Kala Raja menempel di kepala nya, tidak bisa di lepas. 9 keris melayang di sekeliling nya, membentuk lingkaran sempurna. Setiap keris berdenyut seperti jantung hidup, mengeluarkan cahaya hitam yang menyambar nyambar ke tanah.
Matanya sudah tidak coklat lagi.
Sekarang mata nya emas gelap. Seperti ada api neraka yang menyala di dalamnya.
Di belakang nya, Dewi Kala Sundari berlutut.
1000 arwah pengkhianat Majapahit juga berlutut. Semua menunggu satu perintah.
"Bangun," kata Raka. Suaranya berubah. Lebih berat. Lebih dalam. Seperti ada dua suara yang berbicara bersamaan.
"Saatnya kita naik."
Dewi Kala Sundari mengangkat kepala.
"Perintah mu, Kala Raja?"
"Bawa mereka semua ke permukaan. Aku ingin seluruh Jawa tahu... Majapahit belum mati."
---
Angin hitam menyembur keluar dari gerbang.
Dalam 10 detik, langit di atas Candi Cetho berubah gelap total.
Awan hitam ber gulung gulung, membentuk pusaran besar di atas gunung. Warga di 5 desa bawah gunung terbangun lagi. Mereka pikir gempa kemarin sudah selesai. Ternyata ini baru pembuka.
Dari dalam tanah, ratusan tangan kerangka keluar. Lalu ratusan tengkorak. Lalu 1000 arwah pengkhianat Majapahit muncul dalam wujud utuh. Mereka tidak menyerang warga. Mereka hanya berdiri berbaris, membentuk pasukan.
Rapi. Sunyi. Mencekam.
Di depan pasukan itu, Raka berjalan perlahan menuruni tangga batu menuju lereng gunung.
Setiap langkah nya membuat tanah retak.
"LIHAT ITU!"
Seorang warga berteriak dari kejauhan.
"ITU ANAK RAKA! DIA MASIH HIDUP!"
"DIA BUKAN RAKA LAGI!"
Seorang tetua menunjuk dengan tangan gemetar.
"ITU KALA RAJA! KUTUKAN ITU KEMBALI!"
Raka berhenti di tengah lapangan desa. Dia mengangkat tangan kanannya.
"AKU ADALAH RAKA WIRAATMAJA." Suara Raka bergema sampai ke desa sebelah.
"AKU ADALAH KALA RAJA TERAKHIR. AKU KEMBALI UNTUK MENGAMBIL APA YANG MILIK KU."
"MAJAPAHIT AKAN BANGKIT MALAM INI."
Warga langsung berlari tunggang langgang. Beberapa pingsan. Beberapa berlutut dan memohon ampun. Tapi Raka tidak peduli.
"DEWI," kata Raka tanpa menoleh. "Mulai dari sini. Jangan ada yang selamat."
Dewi Kala Sundari tersenyum di balik kain hitamnya. "Seperti yang kau perintahkan, Raja."
Dia mengangkat kedua tangannya. Angin hitam keluar dari telapak tangannya, menyambar ke arah desa.
BUAAAKKK!!!
Rumah rumah kayu hancur berkeping keping. 1000 arwah langsung menyerbu. Jeritan manusia memenuhi lembah Matesih.
Raka berdiri di tengah semua itu, diam. Dia tidak merasakan apa-apa. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada rasa senang. Hanya kekosongan.
Karena Raka Wiraatmaja yang dulu... sudah mati di dalam Istana Bawah Tanah.
---
2 jam kemudian. 5 desa sudah rata dengan tanah. Tidak ada yang tersisa kecuali abu dan darah.
Raka berdiri di puncak bukit, menatap ke arah kota Solo yang terlihat dari kejauhan.
Lampu lampu kota masih menyala terang. Orang orang di sana masih tertidur nyenyak, tidak tahu bahwa malam ini adalah malam terakhir mereka.
"Kota itu," kata Raka pelan.
"Dulu adalah pusat Majapahit baru. Sekarang... akan menjadi kuburan pertama."
Dewi Kala Sundari berdiri di sampingnya.
"Pasukan kita sudah siap, Raja. 1000 arwah, 200 siluman yang kutarik dari hutan Lawu, dan aku sendiri."
Raka mengangguk. "Bagus."
Dia mengangkat Keris Kala Naga. 9 keris lainnya langsung terbang dan membentuk lingkaran di atas kepalanya.
"DENGARKAN AKU, DUNIA ATAS!" Suara Raka bergema dengan kekuatan kutukan, sampai terdengar di seluruh Jawa Tengah.
"AKU ADALAH KALA RAJA! AKU DATANG UNTUK MENUNTUT KEMBALI KERAJAAN KU!"
"BERLUTUT LAH SEKARANG, ATAU MATI LAH BERSAMA KERAJAAN MU YANG BUSUK!"
Dari dalam kota, terdengar suara sirene polisi dan tentara. Helikopter mulai mengudara. Pemerintah sudah tahu.Tapi sudah terlambat.
"MAJU!" Raka menurunkan tangannya.
1000 arwah dan 200 siluman langsung berlari menuruni bukit menuju kota. Kecepatan mereka tidak manusiawi. Dalam 5 menit, mereka sudah sampai di pinggiran kota.
Pertempuran dimulai.
---
Di markas militer Solo, seorang jenderal berteriak ke radio. "APA MAKSUD NYA PASUKAN HANTU?! KIRIMKAN SEMUA PASUKAN ELIT! KIRIMKAN RUDAL!"
"TIDAK BISA, JENDERAL!" Suara operator bergetar.
"SENJATA KITA TIDAK MEMANGGAN MEREKA! PELURU TEMBUS SAJA!"
"LALU KITA GUNAKAN APA?!"
"HANYA ADA SATU ORANG YANG BISA MELAWAN DIA, JENDERAL!"
"SIAPA?!"
"KYAI WIRAJAYA! WALi TERAKHIR YANG MASIH HIDUP!"
Di sebuah pesantren tua di pinggiran kota, Kyai Wirajaya membuka mata. Dia sudah berumur 90 tahun. Tapi begitu dia mendengar nama Kala Raja, tubuhnya yang renta langsung berdiri tegak.
"AKHIRNYA..." Kyai itu berbisik.
"ANAK SANGKALA DATANG JUGA."
Dia mengambil tongkat kayu tua di sampingnya. Tongkat itu bergetar. Di ujungnya, terukir simbol 7 Wali yang sudah mati.
"SIAPKAN MOBIL!" Kyai itu berteriak. "AKU AKAN PERGI MENEMUI CUCU SANGKALA!"
---
Di jalan utama kota, Raka berhenti. Di depannya, berdiri barisan tentara dengan tank dan panser. Tapi mereka tidak menembak. Mereka tidak berani.
"KALA RAJA," kata seorang perwira dengan suara gemetar. "MENYERAH LAH! KAU TIDAK BISA MELAWAN NEGARA!"
Raka tertawa pelan.
"NEGARA?"
"NEGARA INI BERDIRI DI ATAS TANAH MAJAPAHIT. DAN SEKARANG, TANAH ITU MINTA DARAH NYA KEMBALI."
Dia mengangkat tangan. "HANCURKAN."
1000 arwah langsung menyerbu. Tank meledak. Panser hancur. Tentara berlari ketakutan. Dalam 30 menit, jalan utama kota sudah menjadi lautan mayat.
Raka berjalan melewati semua itu tanpa menoleh. Tujuannya hanya satu: Istana Negara Jawa Tengah. Di sana, gubernur dan seluruh pejabat tinggi sedang bersembunyi.
"Raka!" Sebuah suara tua memanggil dari belakang.
Raka berhenti. Dia menoleh Di belakangnya, berdiri Kyai Wirajaya. Tongkatnya bergetar. Matanya tajam.
"CUCU SANGKALA," kata Kyai itu.
"BERHENTI LAH. SEBELUM KAU MENJADI MONSTER YANG BENAR BENAR TIDAK BISA DI SELAMATKAN."
Raka menatap Kyai itu lama.
"KAKek... kau salah satu dari 7 Wali?"
"AKU ADALAH WIRAJAYA. PENJAGA PUSAKA TERAKHIR."
"LALU KENAPA KAU TIDAK MATI BERSAMA MEREKA?" Raka bertanya dingin.
"KARENA AKU HARUS MENUNGGU MU."
Kyai itu mengangkat tongkatnya.
"AKU HARUS MEMBERI MU PILIHAN TERAKHIR, RAKA."
"PILIHAN?"
"YA. LEPASKAN KUTUKAN ITU. KEMBALI LAH JADI MANUSIA." Kyai itu melangkah maju. "ATAU AKU AKAN MEMAKSA MU DENGAN NYAWAKU SENDIRI."
Raka terdiam. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari Istana Bawah Tanah, hatinya bergetar. Wajah ayahnya muncul di kepalanya.
Wajah ibunya muncul. Wajah Raka yang dulu, yang masih bisa tertawa.
"TERLAMBAT, KAKEK." Raka berbisik.
"GUE UDAH TIDAK BISA KEMBALI."
Dia mengangkat Keris Kala Naga. "MAAF."
SRRRAAAKKK!!! Keris itu menebas.
Tapi Kyai Wirajaya tidak menghindar. Dia malah tersenyum.
"AKHIRNYA... KUTUKAN INI AKAN BERAKHIR."
Tongkat kayu itu hancur. Tubuh Kyai Wirajaya hancur menjadi cahaya putih. Cahaya itu langsung menyambar ke arah Raka.
BUAAAKKK!!!
Raka terlempar 20 meter. Mahkota Kala Raja di kepalanya retak.
"APA ITU?!" Raka berteriak, memegangi kepalanya.
Suara Kyai Wirajaya bergema di kepalanya:
"ITU ADALAH DOA 7 WALI TERAKHIR, RAKA. KAMI MEMBERIMU KESEMPATAN TERAKHIR UNTUK MEMILIH."
"JADI MANUSIA... ATAU MATI SEBAGAI IBLIS."
Raka berlutut di tanah. Mahkota di kepalanya semakin retak. 9 keris di sekelilingnya mulai bergetar hebat.
"PILIH, RAKA!" Suara Kyai itu semakin pelan.
"WAKTU MU HABIS."
Di kejauhan, matahari mulai terbit. Cahaya pertama menyinari kota yang hancur. Raka menatap cahaya itu.
*[BERSAMBUNG KE BAB 31: "PILIHAN TERAKHIR KALA RAJA"]*