Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJEBAK HUJAN,PULANGNYA DITUNDA
Setelah selesai memperbaiki motor tadi, Bang Rian sudah menyuruh Bima dan Ojak mencoba jalankan sebentar. Benar saja, suaranya halus lagi, tarikannya ringan, dan tidak mati mendadak seperti kemarin.
“Nah, udah normal lagi. Ingat ya, lain kali jangan ada barang yang nyelip ke tempat sembarangan,” pesan Bang Rian sambil melap tangannya.
“Siap Bang! Makasih banyak, kalau gak ada abang kami pasti bingung sendiri,” jawab Ojak lega.
Sementara itu, Sari dan Rara yang menunggu di depan melihat langit mulai berubah. Awan yang tadinya terang perlahan jadi kelabu gelap, angin bertiup makin kencang menerpa pepohonan.
“Wah, kayaknya sebentar lagi hujan nih. Tadi masih cerah, kok cepat banget berubahnya,” kata Sari sambil menunjuk ke atas.
“Memang begini kalau udah mulai masuk musim hujan, hujannya datang mendadak,” timpal Bang Rian.
“Kalau mau pulang, cepat sebelum turun, nanti kehujanan di jalan.”
Mendengar itu, Bima dan Ojak langsung menyalakan mesin. “Baiklah, kami pamit dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa mampir lagi.”
Mereka berangkat, Sari dan Rara berjalan menyusuri pinggir jalan. Baru sekitar dua ratus meter, langit seolah pecah. Suara guruh bergemuruh, lalu air turun deras sekali bukan rintik, tapi seperti dituang dari ember besar.
“Waduh! Cari tempat berteduh cepat!” teriak Bima sambil mengerem mendadak.
Kiri kanan cuma ada pagar kebun dan pohon besar. Tidak ada warung atau rumah yang dekat. Mau balik lagi ke bengkel juga sudah terlanjur kena air. Akhirnya mereka menepi di bawah pohon yang rindang, berharap air tidak tembus lewat dedaunan.
Belum semenit, terdengar suara motor dari belakang. Ternyata Bang Rian menyusul sambil membawa payung besar dan selembar terpal.
“Sudah Aku duga pasti terjebak!” serunya sambil tersenyum.
“Pindah ke sini saja, pohon cuma bertahan sebentar. Kalau angin makin kencang, air tetap tembus juga.”
Mereka segera berpindah. Bang Rian membentangkan terpal di atas kepala, lalu mengajak kembali ke bengkel dengan langkah pelan. Sesampainya di sana, sebagian badan sudah basah, terutama kaki dan ujung baju.
“Sudah dibilang tadi, masih saja nekat,” kata Bang Rian sambil tertawa, lalu menyerahkan kain lap kering.
“Maaf Bang, kirain cuma gerimis biasa. Untung abang cepat nyusul, kalau tidak udah kedinginan di jalan,” jawab Ojak sambil mengelap wajah.
Di dalam bengkel yang agak sepi karena hujan, mereka duduk menunggu sambil mengobrol. Bang Rian membuatkan teh hangat untuk semuanya agar badan terasa nyaman.
“Selama saya jarang ketemu, banyak juga kejadian lucu ya? Mulai dari salah baca doa, disangka hantu, sampai salah bagi makanan,” kata Bang Rian sambil mendengar cerita mereka.
“Abang kira hari-hari kalian cuma tenang-tenang saja di kantor.”
“Tenang itu cuma harapan aja Bang. Pasti ada aja yang terjadi, meskipun akhirnya jadi bahan ketawa,” jawab Bima sambil ikut tertawa.
Hujan turun terus hampir satu jam, tidak berkurang derasnya. Sambil menunggu reda, mereka melihat jalan di depan mulai tergenang air, ada yang sampai setengah roda sepeda motor.
Ojak langsung melongo melihat itu. “Wah, untung saja kita balik lagi! Kalau tadi terus jalan, bisa-bisa mesinnya kemasukan air lagi. Baru saja diperbaiki, sudah rusak lagi nanti bisa bikin Bang Rian pusing sendiri!”
Mendengar itu, semua tertawa lebar. Bang Rian mengangguk sambil tersenyum: “Iya juga, kalau sampai begitu aku suruh kalian bawa pulang aja, biar diperbaiki sendiri!”
Tak lama kemudian, hujan perlahan mereda, cuma tersisa rintik-rintik kecil. Langit mulai terang lagi, meski tanah masih basah dan becek.
“Sudah mulai reda, kalian boleh pulang sekarang. Hati-hati jalanannya licin dan banyak genangan air,” pesan Bang Rian.
“Siap! Makasih sekali sudah ditampung dan dibuatkan minum. Kalau tidak ada kamu, entah jadi apa kami tadi,” kata Bima sambil melambaikan tangan.
Mereka pun berangkat lagi, kali ini lebih pelan dan berhati-hati. Sepanjang jalan, mereka masih membahas kejadian hari itu.
Dalam hati Bima berpikir:
Ternyata hujan mendadak bukan selalu hal yang menyebalkan. Malah jadi alasan bertemu lagi sama Bang Rian, ngobrol santai sambil menikmati teh hangat. Hari yang tadinya direncanakan cuma bawa motor pulang, berubah jadi hari yang lebih seru dan tak terlupakan.