NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Inspeksi Mendadak Ibu Mertua!

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, membiarkan seberkas cahaya keemasan jatuh tepat di atas kelopak mata Rani. Perlahan, kesadaran wanita itu kembali pulih. Kepalanya masih terasa sedikit pening, namun rasa terbakar yang menyiksa tubuhnya semalam telah jauh berkurang. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan segar.

Rani mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar. Namun, saat dia berniat menarik lengannya untuk meregangkan badan, dia merasakan sebuah kehangatan yang kokoh mengunci tangan kanannya.

Rani menolehkan kepalanya ke samping ranjang. Detik itu juga, napasnya tertahan.

Riko ada di sana. Pria itu tertidur dalam posisi duduk di lantai marmer, dengan kepala yang bersandar di tepi kasur, tepat di samping lengan Rani. Dan yang membuat jantung Rani mendadak berdegup kencang adalah tangan kanan Riko yang masih menggenggam erat jemari tangannya, seolah enggan melepaskannya barang sedetik pun.

Di atas meja nakas, baskom berisi air yang sudah mendingin dan selembar handuk kecil menjadi saksi bisu apa yang terjadi sepanjang malam.

Rani terpaku. Monolog batinnya bergolak hebat antara rasa gengsi yang tinggi dan kehangatan yang perlahan menjalar ke dadanya. Pria egois yang dulu sangat dia benci, semalam telah menjelma menjadi pelindung yang menjaganya tanpa lelah. Rani menatap wajah tidur Riko yang tampak kelelahan, menyadari ada lingkaran hitam tipis di bawah mata elang pria itu. Secara tidak sadar, sudut bibir Rani terangkat kecil, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat tulus.

Namun, momen magis itu tidak berlangsung lama.

Ting-tong! Ting-tong! Ting-tong!

Suara bel rumah di lantai bawah mendadak berbunyi berkali-kali dengan intensitas yang sangat tidak sabaran, disusul oleh suara kegaduhan samar dari arah ruang tamu.

Suara bising itu seketika membuat Riko tersentak bangun. Mata elangnya langsung terbuka waspada, mengedarkan pandangan ke sekeliling sebelum akhirnya tatapannya beradu dengan mata Rani yang sedang memperhatikannya.

Riko buru-buru melepaskan genggaman tangannya dengan canggung, berdeham pelan untuk mengusir rasa salah tingkahnya. "K-kamu sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?"

Belum sempat Rani menjawab, suara ketukan sepatu hak tinggi yang sangat familier terdengar menggema menaiki anak tangga menuju lantai dua, disusul suara Bi Inah yang terdengar panik mencoba menahan sang tamu.

"Tapi Ibu... Ibu Rani dan Bapak masih beristirahat di dalam kamar... mohon tunggu sebentar di bawah, Nyonya Besar..."

"Minggir, Inah! Aku ini ibunya, aku berhak melihat bagaimana kehidupan putriku setelah menikah dengan pria pilihan anehnya itu!"

Mendengar suara melengking yang sangat otoriter itu, wajah Rani yang semula sudah mulai merona mendadak berubah menjadi pucat pasi dalam sekejap. "Ibu... Ibu datang!" bisik Rani dengan nada panik yang luar biasa.

Riko ikut melebarkan matanya. Dia menoleh ke arah sofa kulit sudut kamar—tempat selimut, bantal, dan beberapa dokumen bisnisnya masih tergelak berantakan. Jika Bu Siska masuk dan melihat tatanan kamar seperti itu, wanita paruh baya yang sangat teliti itu pasti akan langsung tahu bahwa putri dan menantunya tidur terpisah. Kontrak pernikahan mereka akan terbongkar hari ini juga!

"Riko! Bereskan sofamu! Cepat!" perintah Rani setengah berbisik sembari melompat bangun dari kasur.

"Tidak akan sempat! Langkah kakinya sudah di depan pintu!" balas Riko tak kalah panik. Dengan otak bisnisnya yang biasa bekerja cepat dalam kondisi darurat, Riko mengambil keputusan nekat.

Dia menyambar bantal dan selimutnya dari sofa dalam satu gerakan kilat, melemparkannya ke atas ranjang king size milik Rani. Riko kemudian menarik tubuh Rani untuk kembali naik ke atas kasur, lalu dalam sekejap, Riko ikut melompat ke atas ranjang yang sama, menyusup di balik selimut tebal yang sama dengan Rani.

Gubrak!

Riko menarik selimut hingga menutupi dada mereka berdua. Karena gerakan yang terlalu terburu-buru, tubuh Riko berakhir sangat rapat dengan Rani. Lengan kekarnya secara tidak sengaja melingkari pinggang ramping Rani, menarik tubuh wanita itu hingga dada bidangnya menempel sempurna pada punggung Rani.

Rani terkesiap, tubuhnya mendadak kaku bagai patung akibat kontak fisik yang teramat intim dan mendadak ini. Napas hangat Riko menerpa tengkuknya, mengirimkan sengatan listrik yang membuat bulu kuduknya merinding. "R-Riko... terlalu dekat..." bisik Rani memprotes dengan wajah yang memerah sempurna.

"Diam dan pejamkan matamu! Ikuti alurku!" bisik Riko tepat di telinga Rani.

Cklek! Brakk!

Pintu kamar utama terbuka dengan kasar. Bu Siska melangkah masuk dengan anggun namun dengan wajah yang tertekuk masam, mengenakan kacamata hitam yang langsung dia turunkan ke ujung hidung. Di belakangnya, Bi Inah berdiri dengan wajah menunduk takut.

Bu Siska menghentikan langkahnya di tengah ruangan, matanya yang tajam bak elang langsung memindai seluruh sudut kamar, mencari celah atau kejanggalan. Pandangannya akhirnya tertuju pada ranjang besar di tengah ruangan.

Di atas kasur itu, Riko dan Rani tampak sedang berbaring bersama di balik satu selimut yang sama. Riko dengan sengaja menggeliat pelan, membuka matanya dengan pura-pura mengantuk, lalu menoleh ke arah pintu dengan ekspresi terkejut yang dibuat sangat natural.

"I-Ibu?" Riko bersuara dengan nada serak khas orang baru bangun tidur. Dia perlahan mendudukkan tubuhnya, namun tangan kirinya tetap sengaja dibiarkan melingkar protektif di atas bahu Rani yang kini terpaksa ikut membalikkan badannya menghadap sang ibu.

Rani memasang wajah lemas—yang untungnya didukung oleh sisa demamnya semalam—sembari menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya. "Ibu... kenapa datang sepagi ini tanpa memberi kabar? Dan kenapa masuk ke kamar kami tanpa mengetuk pintu?"

Bu Siska melipat kedua tangannya di depan dada, menatap menantunya dengan pandangan menilai yang sangat dingin. "Ibu hanya ingin memastikan apakah rumor yang beredar di luar itu benar atau tidak. Kemarin di media, kalian berdua tampak sangat mesra. Ibu ingin melihat dengan mata kepala sendiri, apakah di dalam rumah kalian memang sehangat itu atau cuma sandiwara demi saham Rani Group."

Bu Siska melangkah mendekati ranjang, matanya melirik ke arah sofa sudut kamar yang kini tampak bersih dan kosong (karena bantalnya sudah pindah ke kasur). Dia kemudian menatap ke arah Riko.

"Riko, Ibu dengar dari kolega Ibu kalau perusahanmu, Pratama Corp, sedang mengalami pembekuan aset oleh bank. Tapi kenapa kemarin Rani bilang kamu pria mandiri dengan visi besar?" Bu Siska menguji, nada suaranya penuh selidik yang intimidatif. "Sebagai ibunya, Ibu tidak akan membiarkan Rani menghidupi seorang pria parasit yang hanya memanfaatkan kekayaan putriku."

Mendengar kata "parasit" ditujukan langsung pada Riko, rahang Rani mendadak mengencang. Dia berniat membuka suara untuk membela, namun genggaman tangan Riko di bahunya mendadak merapat, memberikan kode lembut agar Rani tetap diam dan membiarkan suaminya yang mengambil alih.

Riko menatap langsung ke dalam mata ibu mertuanya tanpa ada rasa takut atau minder sedikit pun. Aura kepemimpinan seorang CEO yang tegas kembali terpancar dari dirinya, meski dia hanya mengenakan kaos oblong putih polos di atas ranjang.

"Ibu, terima kasih atas perhatian Anda yang begitu besar pada masa depan Rani," ujar Riko dengan suara yang berat, tenang, dan penuh penekanan yang berwibawa. "Rumor tentang pembekuan aset itu memang benar terjadi minggu lalu akibat kendala teknis kelayakan proyek terdahulu. Namun, jika Ibu memperbarui informasi bisnis Ibu pagi ini, Ibu akan melihat bahwa Pratama Corp telah dinyatakan lolos verifikasi tahap pertama untuk tender proyek infrastruktur baru di Cikarang senilai satu setengah miliar."

Riko tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sarat akan kepercayaan diri. "Saya menikahi Rani bukan untuk meminta suntikan dana, melainkan karena kami memiliki komitmen. Saya memiliki otak dan strategi saya sendiri untuk bangkit, Ibu. Dan dalam waktu dekat, saya pastikan Pratama Corp akan kembali berdiri di posisi yang setara dengan perusahaan putri Anda."

Bu Siska tertegun selama beberapa detik. Dia tidak menyangka pria yang sedang dikabarkan hancur ini masih memiliki sorot mata senyalah ini dan harga diri yang tidak bisa diinjak-injak. Keangkuhan Riko bukan bualan kosong, melainkan didasari oleh kompetensi yang nyata.

Sementara itu, Rani yang berada di samping Riko mendadak merasakan dadanya bergemuruh hebat. Monolog batinnya berbisik egois, mengagumi bagaimana cara Riko melindunginya dan harga diri mereka di depan ibunya yang otoriter. Genggaman tangan Riko di bahunya terasa begitu nyata, hangat, dan mendadak membuat Rani merasa... benar-benar memiliki seorang suami yang bisa dia andalkan.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!