NovelToon NovelToon
BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalau Bertemu, Hindari Dia!

Kinara berdiri di depan pintu ruang kerja Renald. Jantungnya berdetak cepat—bukan karena gugup, melainkan karena marah. Setelah memindahkan semua barang-barangnya dari meja kantor lama, kini ia diminta datang ke ruangan pria itu.

Begitu pintu terbuka, ia melangkah masuk tanpa pikir panjang.

“Renald! Apa maksud dari ini semua?!” seru Kinara lantang.

Ia bahkan tidak sempat memperhatikan ada orang lain di ruangan itu. Suasana mendadak hening.

Di hadapan meja besar dari kayu mahoni, Renald duduk dengan wajah datar, sementara di depannya berdiri seorang pria dengan setelan rapi. Pria itu menoleh ke arah Kinara, kaget sekaligus terkejut mendengar nada suaranya.

Feri. Asisten pribadi Renald yang baru kembali dari luar negeri.

Dalam hati, Feri mendesah. "Luar biasa… seumur hidupku aku tak pernah melihat ada seorang perempuan yang berani membentak Renald Dirgantara seperti ini."

Kinara pun baru sadar ada orang lain di sana. Matanya melebar, lalu buru-buru menunduk dengan wajah merah padam. “Oh, maaf…” ucapnya gugup, kemudian ia membungkukkan badan ke arah Feri.

Renald mengangkat alis. “Kenapa kau begitu sopan padanya? Kau tahu siapa dia? Dia hanyalah asistenku. Di sini aku yang menjadi bosnya. Tapi entah kenapa, setiap kali bertemu denganku, sikap sopanmu itu menghilang.”

Nada suaranya dingin, tapi ada semburat kesal yang disembunyikan.

Feri hanya bisa tersenyum tipis, tak berani menanggapi. Namun Renald menoleh padanya, suaranya penuh ancaman.

“Feri, dengarkan. Mulai hari ini, kalau kau bertemu wanita ini, hindari dia. Kalau tidak, akan kukirim kau ke Kutub Utara. Kau bisa mengawasi beruang kutub di sana!”

Feri terperangah. Beruang kutub? Bisa-bisanya dirinya—pria yang selama ini paling berjasa di sisi Renald—diancam akan dipindahkan keluar negeri hanya untuk mengawasi binatang itu. Hatinya merintih, tapi bibirnya terpaksa menahan diri.

“Oh Tuhan… apa salahku,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.

Namun, dalam hati ia mendadak tersadar. Sepertinya… bos besar ini benar-benar mulai jatuh hati pada perempuan bernama Kinara yang berdiri tak jauh dari itu.

Kinara yang mendengar ancaman absurd itu hanya bisa memegangi kening. Bibirnya berkedut, tapi ia memilih diam. Melawan perkataan Renald percuma saja.

Tak lama, Feri pamit keluar, meninggalkan ruangan hanya untuk dua orang itu.

Renald lalu berdiri, menatap Kinara dengan sorot mata penuh kuasa. “Kau sudah tiba. Tugas pertamamu sekarang, bersihkan kamar pribadiku yang ada di ruangan ini.”

“Apa?” Kinara memprotes, “Kau belum menjelaskan semuanya! Kenapa aku tiba-tiba jadi sekretaris pribadimu? Bukankah sudah ada sekretaris lain? Berapa banyak sekretaris yang kau butuhkan, dan kenapa harus aku?”

Renald tersenyum tipis, lalu menjawab tenang, “Sudah? Hanya itu pertanyaanmu? Baiklah. Akan kujawab dalam delapan kata: Supaya aku lebih dekat denganmu ketika kubutuhkan.”

Kinara terdiam. “A-apa maksudmu?”

“Oh, berpikirlah sedikit, Kinara.” Renald mendekat, jaraknya hanya beberapa langkah darinya. “Dengan begini, aku tidak perlu lagi meneleponmu atau mencari-cari. Saat aku ingin bersamamu, kau sudah ada di sini.”

Nada suaranya tegas, membuat Kinara kehilangan kata-kata.

“Dan satu lagi,” tambahnya. “Selain semua urusan pribadiku, kau juga harus menyiapkan keperluan kerjaku. Jadi, jalankan tugasmu baik-baik.”

Kinara menarik napas panjang. Melawan ucapan Renald hanya akan membuatnya kalah. Pada akhirnya, ia memilih diam, lalu melangkah menuju kamar pribadi pria itu.

Kamar itu luas, berdesain modern dengan dominasi warna abu-abu dan hitam. Ada ranjang besar dengan sprei rapi, lemari kaca, hingga sofa panjang.

Tanpa berkata-kata, Kinara mulai bekerja. Ia mengganti sprei, melepas sarung bantal, lalu menata ulang selimut. Tangannya cekatan meski hatinya dipenuhi rasa kesal.

Saat selesai merapikan bantal terakhir, tiba-tiba ia merasakan hembusan napas di belakang telinganya.

Kinara tersentak. Ia menoleh, dan di sana Renald berdiri tepat di belakangnya.

“Oh, kau baik sekali, Kinara,” ucap Renald pelan, nadanya terdengar lebih intim. “Kau sudah mengganti semuanya. Supaya aku lebih nyaman… terutama ketika bersamamu.”

Kinara hendak melangkah mundur, tapi Renald lebih cepat. Ia memegang bahunya, lalu memutar tubuh Kinara hingga terjatuh ke atas ranjang.

“Renald! Apa yang kau lakukan?!” Kinara berusaha bangkit, tapi tubuh Renald menahannya.

“Sstt…” bisik pria itu di telinganya. “Tenanglah. Nikmati saja.”

Sentuhan tangannya membuat tubuh Kinara merinding. Kulitnya terlalu sensitif, mudah bereaksi pada setiap gesekan. Ia menggeliat, wajahnya memerah, lalu refleks menutupi wajah dengan kedua tangan.

Renald tersenyum, menyingkirkan tangan Kinara dengan lembut. “Kau harus terbiasa melihatku seperti ini. Karena mulai sekarang, dan seterusnya, kau akan sering melihatku demikian.”

“Re-Renald…” suara Kinara bergetar, tapi tak sempat ia melanjutkan kalimatnya.

“Diamlah. Rasakan saja, Kinara…”

Entah berapa lama waktu berlalu. Saat semuanya usai, Kinara terkulai lelah di ranjang. Napasnya teratur, tubuhnya pasrah. Renald bangkit, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan handuk kecil basah. Ia mengelap tubuh Kinara dengan air hangat, berhati-hati seakan takut melukainya. Wanita itu tetap tertidur pulas, tidak terbangun.

Setelah selesai, Renald menyelimutinya, menatap wajah polos itu sebentar, lalu kembali ke meja kerjanya.

Saat Kinara membuka mata, hari sudah gelap. Lampu jalan menyala di luar jendela kaca besar. Ia mengucek matanya, lalu menoleh ke jam dinding. Pukul tujuh malam.

Ia baru sadar pakaiannya telah berganti. Kemeja putih longgar melekat di tubuhnya.

“Ini… bukan punyaku.” Kinara panik, bangkit dari ranjang, mencari-cari pakaiannya. Namun tak ia temukan.

“Pakaianmu basah oleh keringat,” suara Renald terdengar tak jauh darinya. “Jadi aku memakaikan punyaku padamu.”

Kinara membalikkan badan, menatapnya dengan tatapan tak percaya. “Kau… memakaikan bajumu padaku?”

Renald hanya mengangguk ringan.

“Bagaimana aku bisa pulang begini?! Ini kebesaran. Dimana pakaianku? Aku akan tetap mengenakannya meski basah, asalkan bukan pakaianmu!” Kinara bersuara panik.

“Tidak.” Renald berdiri, nadanya tegas. “Pakaian itu tidak layak lagi kau gunakan. Dan… aku tidak mau orang lain melihat lekuk tubuhmu karena kain basah.”

Kinara terdiam. Ada nada posesif yang tidak bisa ia pahami.

“Tenang saja,” lanjut Renald. “Aku sudah menyuruh bawahanku membawakan pakaian baru untukmu.”

Tak lama kemudian, ketukan pintu terdengar. Renald berjalan ke sana, menerima sebuah kantong belanja, lalu kembali ke Kinara. “Ini. Pakailah.”

Kinara menerima pakaian itu dengan ragu.

“Kamar gantinya ada di sebelah. Tapi kalau kau mau berganti di sini pun tak masalah,” ucap Renald sambil tersenyum nakal.

“Renald!” Kinara mendelik, buru-buru pergi ke kamar ganti.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan dress sederhana berwarna biru tua. Namun, meski sederhana, potongannya elegan, menonjolkan sisi anggun yang jarang ditampilkan Kinara.

“Renald…” ucapnya pelan, “aku rasa pakaian ini terlalu berlebihan? Aku hanya mau pulang, bukan pergi ke pesta dansa.”

Renald yang baru saja menoleh ke arah suara itu terdiam. Tatapannya tak bisa lepas. Kinara tampak begitu memukau dengan gaun itu. Sesaat ia menyesali pilihannya—ia tak ingin siapapun di luar sana melihat wanita itu secantik ini.

Namun, ia cepat-cepat menguasai diri. “Kau belum makan kan sejak siang? Kita makan malam di Geranium Resto.”

“Apa? Tapi aku harus pulang. Lalu motorku?”

“Sudah kuatur. Bawahanku akan mengantarkannya nanti. Jadi, bersiaplah.”

Kinara menghela napas panjang. “Terserahmu saja.”

Untunglah, ia selalu membawa bedak dan lipstik kecil di tasnya. Ia cepat-cepat merapikan wajah—menepuk bedak tipis, lalu mengoleskan lipstik agar bibirnya tidak pucat. Rambutnya ia ikat seadanya, membiarkan beberapa helai jatuh di sisi wajah.

Hasilnya sederhana, tapi justru mempertegas kecantikannya. Renald kembali terdiam, matanya tak bisa berpaling.

Wanita ini… bagaimana bisa terlihat sesempurna ini hanya dengan persiapan sesederhana itu?

1
sandi sanda
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!