NovelToon NovelToon
Stranger From Nowhere

Stranger From Nowhere

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Petualangan / Roh Supernatural / Horor / Dokter Genius / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:6.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: juskelapa

(Buku ini sedang direvisi penulis untuk pengalaman membaca lebih baik)

*****

Shena yang baru ditinggal menikah oleh pacarnya pergi ke Afrika Selatan untuk bersafari menghibur diri. Dalam perjalanan, Shena satu pesawat dengan seorang dokter bedah tampan yang akan melamar pacarnya yang juga seorang dokter dan bekerja di Afrika.

Malangnya, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kerusakan dan mendarat darurat di hutan belantara sesaat sebelum mereka tiba di Johannesburg.

Firza, sang dokter bedah berhasil membawa Shena keluar dari pesawat.

Dan di tengah kekacauan dan kesulitan mereka untuk bertahan hidup sambil menunggu bantuan, ternyata ada sosok makhluk yang mengintai mereka.

Akankah para penumpang yang selamat berhasil bertahan hidup?
Mampukah Shena bertahan dari makhluk hutan dan pesona Firza yang telah memiliki pacar?


Originally Story by juskelapa
Insta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Let You Go

"Sayang... Kamu cuma mengalami syok dan trauma. Pikiran kamu dipenuhi soal hal-hal mengerikan yang terjadi di hutan. Aku tau berada 5 hari 4 malem di hutan dengan kondisi luka-luka itu ga mudah." Risa kembali mengelus-elus lengan Firza berusaha menenangkan kekasihnya.

"Kenapa coba ga ada satu pun petugas yang nanya soal rumah kayu yang hangus terbakar di tengah hutan itu? Padahal mereka nemuin kami semua persis di depan rumah yang udah jadi abu. Aneh bener tau gak? Kayaknya pemerintah sana tau sesuatu tapi berusaha nutup-nutupin. Aku dapet uang banyak lho dari pemerintah lokal, semacam kompensasi." Suara Firza semakin terdengar putus asa.

"Karena mereka emang gak ada yang ngeliat Fir.... Itu cuma ada dalam pikiran kamu aja. Ga ada satu pun korban yang ditemukan di hutan nyebutin soal itu. Dan uang yang diberikan itu bentuknya santunan untuk kalian yang naas waktu berkunjung ke negara mereka. Sesederhana itu Fir...." Risa juga mulai frustasi dengan bahan obrolan soal makhluk buas di hutan yang selalu diceritakan orang-orang di kota kecil Afrika Selatan yang berbatasan dengan negara Lesotho itu.

Dirinya merasa heran dengan orang-orang yang masih saja percaya akan cerita-cerita rakyat yang mengerikan. Dan sekarang pacarnya seorang dokter bedah yang berasal dari kota modern ikut membicarakan hal itu.

Tak berapa lama kemudian taksi yang mereka tumpangi tiba di tempat tujuan. Sebuah tempat makan yang ramai tetapi tenang di tepi jalan. Lampu-lampu yang dinyalakan pada malam hari menambah kesan romantis pada saat itu. Pemandangan alun-alun kota kecil terhampar tak jauh dari tempat mereka duduk. Risa memesan makanan lokal yang disukainya, dia meyakinkan Firza kalau pria itu juga pasti akan menyukai pesanannya.

Firza yang duduk di hadapan Risa kemudian menggenggam tangan kekasihnya. "Ris... Aku cinta kamu. Kita udah lama sama-sama, dan aku mau hubungan kita gak gini-gini aja. Hampir dua tahun kita ngejalani hubungan jarak jauh ini. Aku pengen ngajak kamu balik ke Jakarta dan kita segera menikah. Aku menyadari aku gak bisa hidup di sini Ris.... Lagian kontrak kerja kamu udah hampir selesai. Aku bisa batalin kontrak kerjaku dan kita bisa balik sama-sama. Kita bisa hidup di Jakarta kayak pasangan pada umumnya. Maaf kalo aku ngelamar kamu dengan cara kayak gini, karena cincin yang aku beli dari Jakarta hilang di dalam pesawat itu." Firza menatap lekat mata kekasihnya, mengharapkan kilasan respon positif dari wanita yang dicintainya.

Risa adalah wanita sempurna bagi Firza. Wanita yang selalu logis, realistis dan selalu memegang prinsipnya dengan teguh. Tidak pernah cemburu dan selalu percaya padanya. Jarang sekali mereka berbeda pendapat atau berselisih. Risa bahkan tidak pernah merajuk atau sering mengomel seperti wanita kebanyakan.

Mungkin karena mereka memiliki profesi yang sama, Risa selalu mengerti jika jam-jam operasi Firza sering berada di waktu yang tak wajar. Meski mereka jarang sekali melakukan hal-hal yang biasa dilakukan orang berpacaran pada umumnya, tapi mengetahui ada seorang wanita cantik yang mengerti dirinya dan profesinya itu sudah cukup bagi Firza.

Firza tak menuntut hal-hal aneh pada pacarnya itu. Dia bahkan mengerti jika Risa bukan seorang wanita yang rajin masak makanan kesukaan pacarnya seperti cerita teman-temannya selama ini. Risa terbiasa bekerja ke luar rumah, bergaul dengan banyak orang dan Firza mengerti akan hal itu.

Firza tidak keberatan ketika Risa menghilang berhari-hari tanpa kabar karena pergi ke pedalaman atau terlalu lelah untuk menelepon dan bertukar kabar dengannya. Firza juga sangat menghargai pilihan-pilihan yang dibuat kekasihnya. Meski berat berpisah dengan Risa dua tahun yang lalu tapi Firza menjalani hubungan mereka dengan rasa yakin bahwa hubungan mereka sudah matang. Relationship yang sesungguhnya.

Dan sekarang sudah saatnya dia kembali menanyakan hal itu pada Risa. Dua tahun yang lalu Firza pernah melamar wanita itu sebelum berangkat ke Afrika Selatan, tapi Risa menolak dengan alasan hubungan mereka masih seumur jagung. Malam ini dia kembali menanyakan hal yang sama.

Risa menatap lekat-lekat pria yang bersamanya tiga tahun terakhir ini. Pria yang memiliki kesabaran tinggi dan pengertian luar biasa. Pria yang selalu mengerti akan mimpi-mimpinya. Firza yang hampir setiap malam video call selama enam bulan pertamanya di Afrika Selatan untuk berbagi seluruh cerita keseharian yang dilaluinya di belahan benua lain.

Baginya memiliki Firza adalah merupakan sebuah anugerah. Pria yang dikenalnya semasa di kampus saat menjalani pendidikan spesialis, tapi kemudian mereka baru berpacaran saat bertemu dan bekerja di rumah sakit yang sama di Jakarta. Firza adalah teman sekaligus pacar baginya.

"Fir... Aku ngerti kamu masih trauma karena kecelakaan itu. Aku ngajak kamu kerja di negara ini biar kita bisa deket dan sama-sama terus. Rencana awal kamu ke sini kan emang untuk kerja deket aku. Untuk menikah aku rasa kita bisa menunda beberapa tahun lagi. Aku berencana ngambil tawaran untuk kerja di rumah sakit dekat perbatasan Lesotho. Banyak sekali anak-anak yang membutuhkan bantuan orang seperti kita. Mereka kekurangan gizi dan hidup di bawah garis kemiskinan. Dan rumah sakit di sana kekurangan tenaga medis. Aku merasa ini kesempatanku untuk menggunakan semua ilmu yang kumiliki untuk menolong mereka. Aku yakin kamu pasti bisa ngertiin aku. Aku juga cinta ama kamu Fir... aku udah terbiasa ada kamu. Aku udah biasa ngerasa kamu akan selalu ada untuk ngedukung aku." Risa menggigit bibir bawahnya dan mengalihkan pandangannya ke arah alun-alun.

"Tapi mimpi kita sekarang makin jauh beda Ris... kamu cuma terbiasa dengan keberadaan aku yang selalu ada untuk kamu. Begitu juga aku. Setiap hari saat bangun tidur, aku masih ngerasa punya pacar meski jauh di benua lain. Meski kadang aku ngerasa kesepian, tapi menyadari kalo kita masih sama-sama itu udah cukup buat aku. Tapi aku juga gak bisa menampik perasaan kalo aku pengen kita juga kayak pasangan lain Ris.... Hidup bersama berdampingan sebagai suami istri dan punya anak-anak sendiri." Firza masih menggenggam tangan wanita itu.

Angin bertiup kencang, suhu semakin melorot ke bawah 15 derajat dan makanan yang diantarkan pelayan sedari tadi sudah dingin.

"Aku cuma meminta kamu bersabar beberapa tahun lagi, kita bisa di sini sama-sama selama beberapa tahun itu. Aku sayang kamu Fir...." Risa kembali menatap wajah Firza.

"Maaf Ris... aku gak bisa di sini. Negara ini terlalu asing buatku. Kamu gak akan bisa ngebayangin apa yang udah terjadi denganku di dalam hutan sana. Aku bisa nemenin kamu nyelesaiin kontrak kerja kamu yang sebentar lagi selesai. Lagi pula berkas-berkasku dari kedutaan juga belum beres. Aku bisa kerja jadi tenaga lepas di rumah sakit mana aja dengan lisensi yang aku punya untuk beberapa bulan ke depan. Tapi untuk kerja di sini selama bertahun-tahun lagi aku gak bisa. Meski aku ga berharap kita bisa kayak pasangan normal lainnya, tapi setidaknya aku mau kita hidup di lingkungan yang biasa-biasa aja. Asal kita bisa sama-sama." Firza menatap Risa dengan pandangan memohon.

"Aku ngerasa belum cukup menjalani mimpiku Fir... aku masih pengen ngejar mimpiku. Aku pengen berguna bagi banyak orang, dan berada di kota kecil itu membuatku merasa dibutuhkan. Aku ngerasa belum cukup siap untuk ngebagi waktuku." Risa menarik tangannya dari genggaman Firza.

Firza kemudian memanggil pelayan untuk meminta bill dan membayar makanan yang bahkan belum mereka sentuh sama sekali. Hatinya terasa remuk, perjuangannya bertahan hidup di hutan seolah tak ada artinya sekarang. Dan yang paling parah, Firza bahkan tak tahu harus menyalahkan siapa. Wanita yang telah lama bersamanya seketika terasa menjadi orang asing sekarang.

"Aku kembali ke flat-ku aja Fir... barusan aku udah nge-chat Teresa bilang kalo malem ini aku bakal pulang kesana. Kalo berkas-berkas kamu udah beres, sebelum pulang ke Jakarta nanti jangan lupa kabari aku." Risa tersenyum manis ke arah Firza.

Risa tidak sakit hati atau pun marah pada Firza. Ia mengerti bahwa pria itu sudah sangat bersabar dan selalu berlapang dada dengan semua keputusan dan prinsip-prinsip hidupnya selama ini.  Risa hanya sedih karena di malam yang harusnya mereka bisa melepaskan rindu dan merayakan kesembuhan Firza tapi malah berubah menjadi malam di mana mereka saling melepaskan satu sama lain.

Tapi di balik kesedihannya malam itu, Risa merasa sebuah beban terangkat dari pundaknya. Ia merasa lebih ringan dan lega. Ia merasa bebas menyusun rencananya beberapa tahun ke depan di negara itu. Sekarang Risa merasa tidak ragu lagi untuk segera menandatangani kontrak kerja baru.

"Iya. Tapi aku akan tetep nganterin sampe kamu nyampe di pintu flat temen kamu itu." Firza memberhentikan sebuah taksi yang melintas, dan tetap membukakan pintu serta memegangi kepala mantan pacarnya saat masuk ke dalam mobil seperti yang biasa ia lakukan.

Pembicaraan panjang lebar tadi membuat perut Firza kenyang. Sesudah mengantarkan Risa sampai tiba di depan pintu flat temannya, perutnya mendadak sangat lapar. Tak heran karena memang dari siang tadi Firza memang belum ada makan apapun karena terlalu bersemangat pergi ke kantor maskapai.

Dalam perjalanan Firza menuju hotel, dalam pikirannya terbayang-bayang semangkuk seblak, ketoprak, mie ayam, gado-gado dan wanita pemilik syal pembalut lukanya.

...***...

...To Be Continued...

...Terimakasih telah mendukung karya ini dengan mengklik tombol like...

1
Eva Nurjanah
aku baca entah yg keberapa kali
Kerin Qodarina
kakk njuss sepertinya ada yg d rubah alur ceritanya yaa aku baca ulang lagi ini Ada yg beda 🤭
Uci Gibran
baca ulang lagi. jadi inget Tini Suketi 😂. bisa pingsan terus kamu tin kalau ikut
Anonim
Udah 10000 kali baca ga bosen2 ama ceritanya🤭
Tami Andriani
belum kerasa kehilangan tu bang pirja
Tami Andriani
hh... rindu emang gelap
Tami Andriani
risa terlalu seloww
Tami Andriani
sedihhhh
Tami Andriani
sabar mb shen
Tami Andriani
part sedih menurut q
Tami Andriani
selalu luar biasa karya kak njus... debest pokoknya
baca ini sudah ke 3 kalinya 😍😍
Tami Andriani
💪
kusgrisela
baru selesai baca yg kedua kalinya ,tapi kangen mereka dan pingin baca tambahan part nya
kusgrisela
aku baca ulang sudah yg ke 3 ini ,,,,gara" liat story' IG nya Njus jadi terlope lope sama kang pirja dan teh Shena lagi 😍😄
𝙌𝙤𝙧𝙞𝙨𝙮𝙖
bagus banget cerita nya,,bikin degdegan🤭
𝙌𝙤𝙧𝙞𝙨𝙮𝙖
tegang banget baca nya🤭
Alesha Binara
ini baca yang kesekian kian kian kali .. kakkk .. novel kakak ini . walaupun serem , komedi , romantis tetap aja bikin pembaca "kebawa"
sri wahyuni
sangat menarik
kejora
aku tuh dah baca Shena&Firza berkali-kali, tapi pas baca part ini mesti tetep nangis😭😭😭
kusgrisela
setelah sekian lama akhirnya baca lagi novel ini kangen sama seina dan mas farzah 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!