Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Rahasia dan Teka-teki
Berita pernikahan mendadak antara Devan Alister, CEO Alister Group yang paling menutup diri dari media, dengan seorang gadis bernama Aisha seketika mengguncang jagat maya nanti siang. Foto pernikahan mereka yang dirilis oleh perusahaan memperlihatkan kemegahan yang dingin. Dalam foto itu, Devan berdiri tegap dengan aura penguasa yang dominan, sementara Aisha tampak anggun dalam kesederhanaannya.
Media menyebutnya sebagai "Pernikahan Dongeng Abad Ini," tanpa tahu bahwa di balik foto tersebut, ada transaksi darah senilai puluhan miliar rupiah.
Sore harinya, Devan pulang lebih awal dari kantor. Penampilan pria itu masih sekaku biasanya, namun ada ketegangan yang berbeda di garis rahangnya. Dia langsung memanggil Aisha ke ruang keluarga inti di lantai satu.
Aisha datang dengan langkah ragu. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun kasual berwarna biru muda yang lembut. Begitu masuk, dia mendapati Devan sedang berdiri di dekat meja kaca besar yang di atasnya sudah bertumpuk belasan kotak perhiasan mewah dari berbagai merek ternama di dunia, serta jajaran gaun malam rancangan desainer papan atas.
"Semua ini untuk apa?" tanya Aisha, menatap tumpukan barang mewah itu dengan kening berkerut.
Devan berbalik, melipat tangannya di dada sambil menatap Aisha datar.
"Besok malam adalah perayaan ulang tahun Alister Group yang ke-30. Sebagai istriku, kamu wajib hadir. Aku tidak ingin media atau relasi bisnisku berpikir bahwa aku menikahi seorang wanita yang tidak bisa merawat dirinya sendiri. Pilih gaun dan perhiasan yang kamu suka."
Aisha mendekati meja tersebut. Jemarinya menyentuh permukaan kotak beludru merah berisi kalung berlian yang harganya pasti bisa memberi makan satu desa selama setahun. Bukannya senang, dada Aisha justru terasa sesak.
"Apakah ini bagian dari sandiwara kita?" tanya Aisha lirih, menatap Devan dengan sepasang mata indahnya yang menyiratkan kepedihan.
"Menampilkan citra istri yang bahagia di depan kamera, lalu kembali menjadi barang sitaan begitu pintu mansion ini tertutup?"
Devan terdiam sejenak. Sorot matanya yang sedingin es sempat goyah saat melihat binar terluka di mata Aisha, namun dengan cepat dia menguasai diri. Pria itu melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Aisha bisa mencium wangi maskulin yang pekat dari tubuh suaminya.
"Jika kamu sudah tahu jawabannya, jalani saja dengan baik," ucap Devan, suaranya terdengar berat dan rendah di atas kepala Aisha.
"Di dunia luar, kamu adalah Nyonya Alister yang paling dipuja. Tapi di sini, tetaplah berada di tempatmu, Aisha. Jangan melewati batas."
Aisha menghela napas pelan, lalu mundur selangkah untuk memberi jarak.
"Saya mengerti, Devan. Saya tidak akan mempermalukan Anda besok malam. Saya akan memilih gaun yang paling tidak mencolok."
Gadis itu mengambil salah satu kotak gaun berwarna hitam satin yang sederhana namun elegan, lalu membawanya kembali ke kamar.
Devan hanya memperhatikan punggung mungil itu menjauh. Jari-jari tangan Devan yang berada di dalam saku celananya perlahan mengepal keras. Ada dorongan aneh di dalam dirinya untuk menahan gadis itu, untuk mengatakan sesuatu yang berbeda, namun ego dan rahasia besar yang dia pegang memaksanya untuk tetap membisu.
Malam harinya, jam digital di kamar utama Devan menunjukkan pukul sebelas malam. Lorong-lorong mansion sudah sangat sepi, hanya menyisakan keremangan lampu dinding.
Aisha yang belum bisa tidur memutuskan untuk turun ke dapur lantai bawah guna mengambil segelas air putih hangat untuk menenangkan perutnya. Dengan langkah tanpa alas kaki yang senyap, dia menyusuri anak tangga. Namun, saat melewati area ruang kerja Devan yang pintunya sedikit terbuka, dia mendengar suara erangan tertahan.
"Akhh..."
Suara itu terdengar sangat rendah, penuh dengan rasa sakit yang mendalam. Jantung Aisha seketika berdegup kencang. Itu suara Devan.
Didorong oleh rasa cemas yang mengalahkan rasa takutnya, Aisha memberanikan diri mendekati celah pintu yang terbuka. Dia mengintip ke dalam ruangan yang hanya diterangi oleh lampu meja yang temaram.
Di sana, Devan tidak sedang memeriksa berkas perusahaan. Pria itu terduduk di lantai, bersandar pada kaki sofa marmernya. Kemeja hitamnya terbuka lebar, menampakkan dada bidangnya yang kini dipenuhi oleh keringat dingin. Wajahnya yang biasa tampan dan tegas kini pucat pasi, matanya terpejam erat dengan urat-urat leher yang menegang menahan rasa sakit yang luar biasa.
Tangan kanannya mencengkeram kuat bagian dadanya sendiri, sementara tangan kirinya bergetar hebat saat berusaha meraih sebuah botol obat kecil di atas meja yang letaknya terlalu jauh dari jangkauannya.
Aisha memekik pelan dalam hati. Pria tak tersentuh yang tadi siang begitu kejam menundukkan Clara, kini terlihat begitu rapuh dan tak berdaya di lantai yang dingin.
Tanpa berpikir panjang tentang larangan Devan untuk jangan pernah memasuki ruang pribadinya, Aisha mendorong pintu kayu jati itu hingga terbuka lebar.
"Devan!" teriak Aisha panik.
Dia langsung berlari menghampiri pria itu dan berlutut di samping tubuh tegap Devan yang bergetar.
Mendengar suara Aisha, Devan membuka matanya yang mendadak memerah. Di tengah rasa sakitnya, tatapan mata pria itu masih memancarkan kilatan tajam yang berbahaya. Dia mencoba mendorong bahu Aisha dengan sisa tenaganya.
"K-Keluar... kubilang jangan... masuk..." erang Devan terbata-bata, napasnya memburu pendek.
"Tidak! Anda sedang sakit!" Aisha menghiraukan usiran itu.
Dengan cepat dia meraih botol obat kecil di atas meja kerja yang sempat diincar Devan tadi, lalu membukanya. Dia mengambil sebutir pil dari sana.
"Ini obatnya, kan? Minum ini, Devan!"
Aisha mendekatkan pil itu ke bibir Devan, sementara tangan kirinya dengan lembut menyangga tengkuk pria itu agar bisa mendongak. Devan yang sudah kehabisan energi untuk mendebat akhirnya membuka mulutnya, menelan pil tersebut dengan bantuan air putih yang buru-buru diambil Aisha dari teko di meja.
Setelah beberapa menit yang menegangkan, obat itu perlahan bekerja. Napas Devan yang tadinya memburu liar mulai berangsur-angsur tenang, meskipun tubuhnya masih terasa sangat lemas dan bersandar sepenuhnya pada dekapan ringkih Aisha. Kepala Devan terkulai di bahu kecil Aisha, membiarkan kehangatan tubuh gadis itu meredakan sisa-sisa badai rasa sakit di dadanya.
Aisha menghela napas lega, jemari tangannya tanpa sadar bergerak mengusap sisa keringat dingin di dahi Devan dengan sangat lembut.
"Sakit apa sebenarnya Anda ini?" bisik Aisha pelan, penuh dengan rasa iba yang tulus.
Namun, keheningan malam itu mendadak pecah oleh suara dering telepon genggam Devan yang tergeletak di atas karpet. Layar ponsel itu menyala terang di dalam kegelapan ruangan, menampilkan sebuah nama kontak yang membuat atmosfer di kamar itu seketika membeku.
Nama yang tertera di layar itu adalah: "Hendra"
Aisha terpaku menatap layar tersebut. Mengapa ayah angkatnya menelepon Devan di tengah malam buta seperti ini? Sebelum Aisha sempat berpikir lebih jauh, panggilan itu mati karena tidak terjawab, lalu disusul oleh sebuah notifikasi pesan singkat yang muncul di layar kunci.
"Tuan Devan, terima kasih karena sudah menerima anak adopsi si4lan itu sebagai pelunas hutang. Sesuai perjanjian rahasia kita sebelum pernikahan, Anda berjanji akan memberikan proyek investasi Alister Group di Jakarta Selatan kepada perusahaan saya setelah Aisha sah menjadi milik Anda. Kapan saya bisa menandatangani kontrak proyeknya?"
Mata Aisha membelalak sempurna. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat membaca deretan kalimat tersebut.
"Perjanjian rahasia sebelum pernikahan? Proyek investasi?" Gumam Aisha pelan.
Rasa hangat yang baru saja dirasakan Aisha mendadak menguap, berubah menjadi hawa dingin yang mencengkeram dadanya. Jadi, Devan tidak sekadar menerima jaminan hutang tapi ada sebuah kesepakatan rahasia yang sengaja dibuat Devan dengan Hendra jauh sebelum pernikahan ini terjadi.
Tepat saat Aisha masih syok, Devan perlahan membuka matanya. Rasa sakit di tubuhnya sudah mereda, dan kilatan matanya kembali menjadi setajam elang. Dia melihat ke arah ponselnya, lalu beralih menatap wajah Aisha yang pucat dan gemetar. Devan tahu, Aisha telah membaca pesan itu.
Bukannya panik karena rahasianya terbongkar, Devan justru menarik dirinya menjauh dari dekapan Aisha. Dia bangkit berdiri dengan tegap, kembali mengenakan topeng sedingin es dan tak tersentuhnya, seolah pria yang baru saja merintih kesakitan di pelukan Aisha tadi hanyalah ilusi.
"Kamu sudah melihatnya," ucap Devan, suaranya kembali berat, datar, dan sarat akan misteri.
"Kenapa...?" Suara Aisha bergetar hebat, menahan tangis yang siap pecah.
"Kenapa Anda membuat perjanjian itu dengan Papa? Kalau Anda membenci keluarga kami, kenapa Anda justru memberikan proyek besar pada Papa demi mendapatkan saya? Apa rencana Anda yang sebenarnya, Devan?!"
Devan berjalan mendekati meja kerjanya, mengambil ponsel tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku. Dia berbalik, menatap Aisha yang masih bersimpuh di lantai dengan pandangan yang sulit diartikan, ada kilatan dingin, namun tersembunyi sebuah tekad yang teramat besar.
"Aku sudah pernah bilang padamu, Aisha. Jangan pernah bertanya, dan jangan pernah melewati batas," jawab Devan dingin, membelakangi Aisha agar gadis itu tidak bisa melihat gejolak emosi di matanya.
"Aku memiliki alasan sendiri kenapa aku harus menarikmu ke dalam lingkaran hitamku. Dan untuk keluarga amatanya, proyek yang mereka minta itu, justru akan menjadi tiket menuju kehancuran total mereka."
Devan berbalik sedikit, melirik Aisha dari balik bahunya.
"Pernikahan ini bukan sekadar tentang hutang Clara, Aisha. Ada harga besar yang harus dibayar, dan kamu adalah kunci dari akhir permainan ini."
Aisha terpaku di lantai yang dingin. Jawaban Devan tidak membuat rasa sesak di dadanya berkurang, melainkan melemparnya ke dalam teka-teki yang jauh lebih gelap.
Siapa sebenarnya Devan Alister? Mengapa dia merencanakan ini semua sejak awal demi mendapatkannya?